Adhi masuk ke dalam kamar hotel ketika jam sudah menunjukkan pukul 2 malam. Pria itu berjalan mendekati ranjang dan melihat Shaniya yang tertidur menghadap ke arah pintu kamar.
Dengan pelan, ia duduk di sisi ranjang sebelah Shaniya yang kosong. Lalu ia berbaring, tangan kanannya ia simpan di atas kening, matanya terus menatap langit - langit hotel yang sudah diubah menjadi sebuah kamar pengantin yang bagus. Bahkan tempat tidur yang ia gunakan kini, masih ada banyak kelopak mawar merah diatasnya.
Tiba - tiba saja ia merasakan ada sebelah tangan yang memeluk perutnya, dilihatnya ke samping dan ia langsung menemukan wajah damai Shaniya yang tertidur dengan pulasnya. Adhi mengubah posisi tidurnya hingga berhadapan dengan Shaniya, lalu tangan kanan Shaniya semakin ia eratkan di pinggangnya, seakan gadis itu tengah memeluknya seperti guling.
Adhi meneliti wajah Shaniya, tangan kirinya yang menganggur ia gunakan untuk mengelus pipi lembut milik istrinya. Adhi merasa tidak asing dengan Shaniya, seperti ia pernah bertemu dimasa lalu dengan gadis itu. Tapi pria itu bingung, dimana? Dan kapan ia bertemu dengan gadis yang sudah menjadi istrinya itu?
Kantuk sudah mulai datang, pria itu menguap sebentar, lalu ia mengecup pelan kening Shaniya dan menarik gadis itu ke dalam pelukannya.
"Selamat malam dan mimpi yang indah, istriku," ucap Adhi sebelum ia memejamkan matanya.
•••••
Pagi ini, Shaniya terbangun dengan wajah terkejutnya. Ia kaget karena tiba - tiba saja ada seorang pria yang tidur di sebelahnya. Dan ia baru menyadari bahwa kini, dirinya sudah menjadi seorang istri, dan itu adalah hal wajar.
Dengan pelan, Shaniya memindahkan tangan Adhi yang kini memeluk pinggangnya. Sedikit pergerakan dari pria itu tapi tidak membangunkannya membuat Shaniya bernapas lega. Cepat - cepat ia berjalan menuju kamar mandi untuk bersih - bersih.
Kali ini ia menggunakan dress panjang bermotif bunga - bunga dengan dasar berwarna hitam. Tidak lupa ia memakai pashmina berwarna merah marun untuk menutupi rambutnya. Shaniya menatap tampilan dirinya di cermin. Lalu gadis itu tersenyum kecil.
Dilihatnya Adhi yang masih bergelung di atas kasur.
Tiba - tiba saja pintu diketuk, Shaniya segera membukanya dan mendapati seorang pelayan hotel yang membawakannya sarapan. Setelah mengucapkan terima kasih, Shaniya kembali menutup pintunya.
"Mas Adhi ..." ucap Shaniya sambil menggoyangkan lengan Adhi agar pria itu terbangun. Hanya suara geraman saja yang terdengar.
Gadis itu memutar bola matanya kesal. "Mas Adhi, bangun ..." ucap Shaniya sambil menepuk - nepuk pipi Adhi. Dan akhirnya pria itu terbangun juga.
Adhi langsung terduduk sambil menyenderkan punggungnya di kepala ranjang. "Jam berapa?" tanya pria itu.
"Jam 5 lewat 30 menit," ucap Shaniya. Gadis itu masih setia berdiri di samping ranjang. Sungguh ia bingung harus berbuat apa untuk suaminya kini. Oh, ia tahu!
Dengan cepat Shaniya mengambil sarapan yang ia taruh di atas nakas, dan menyodorkannya ke arah Adhi. Pria itu mengernyit bingung.
"Aku biasa mandi dulu baru sarapan, Ya."
Shaniya ber'oh'ria. Dan sekarang ia tau satu kebiasaan suaminya.
Tanpa diduga, Adhi langsung menarik tangan Shaniya hingga gadis itu terbaring di atas ranjang dengan paha Adhi sebagai alasnya. Shaniya mengerjap lucu ketika wajah Adhi tepat berada di atasnya.
"Ada satu sarapan yang harus menjadi ritual setiap pagi," ucap pria itu sambil tersenyum miring. Shaniya mengerutkan dahinya bingung.
Tiba - tiba saja Adhi menunduk dan menempelkan bibirnya dengan bibir merah Shaniya. Gadis itu membulatkan matanya. Kedua tangannya ditahan oleh tangan kanan Adhi yang begitu kuat memegangnya.
Hingga beberapa saat kemudian Adhi melepaskan ciumannya. Dan terkekeh melihat Shaniya yang masih memejamkan matanya sambil mengerucutkan bibir seakan ingin dicium lagi.
Shaniya membuka matanya ketika mendengar kekehan dari bibir Adhi, wajahnya langsung memerah. Dengan cepat ia bangkit.
"Kamu mau lagi ya?" ucap Adhi dengan nada menggoda. "Sini, mendekatlah Ya."
Shaniya menatap datar suaminya yang tampak tersenyum. Gadis itu memilih untuk pergi keluar kamar hotel meninggalkan Adhi yang mengernyit bingung.
Ada apa dengan Shaniyanya?
•••••
Adhi yang sudah rapi mengenakan celana jeans berwarna hitam panjang dengan kaos polos putih dipadukan dengan jaket kulit hitam terlihat sangat cool ketika berjalan mendekati Shaniya yang tengah duduk sambil bermain ponsel di lobby hotel.
Pria itu tersenyum ketika melihat istrinya yang berdiri.
"Kenapa nggak tunggu di kamar aja, hm?" ucap Adhi sambil melingkarkan tangannya di pinggang Shaniya. Shaniya menggeleng pelan dengan wajahnya yang datar. Mereka berjalan beriringan menuju resepsionis.
"Kamu kenapa? Bilang ke Mas kalau kamu ada masalah."
Shaniya kembali menggeleng. Sesampainya di meja resepsionis, mereka langsung checkout.
Adhi langsung mengajak Shaniya keluar dari hotel, dengan tangannya yang masih berada di pinggang gadisnya. Lalu datanglah sebuah mobil SUV termahal tahun ini, yaitu AUDI Q8 berwarna hitam. Adhi membelinya dengan harga 2,45 miliar rupiah. Bukan dia ingin menghamburkan uang, tapi memang karena ia memiliki hobi mengoleksi mobil dan juga ia jatuh cinta pada pandangan pertama kepada mobil itu, akhirnya ia pun membelinya.
"Ayo," ucap Adhi sambil menggiring Shaniya menuju mobil. Pria itu membuka pintu penumpang dan mempersilahkan gadisnya masuk dan duduk nyaman di mobil itu.
Setelah itu Adhi berjalan mengitari setengah mobil dan mengambil kunci dari supirnya.
"Pak Suryo tidak apa naik taksi?" ucap Adhi kepada supirnya itu. Lelaki paruh baya itu tersenyum sambil mengangguk.
"Tidak apa - apa, Pak."
"Terima kasih ya Pak, kalau begitu saya duluan," pamit Adhi dengan senyuman ramahnya yang langsung diangguki oleh Pak Suryo.
Adhi langsung membuka pintu pengemudi dan duduk di sebelah Shaniya. Ia menatap wajah Shaniya yang kini berpaling menatap kaca mobil. Adhi menghela napas pelan, ia menutup pintu mobil kemudian mengemudikannya menjauhi pekarangan hotel.
Sudah lima belas menit mereka menghadapi macetnya jalanan Ibukota. Lalu terdengar suara perut yang keroncongan, dan pria itu tau bahwa itu bukan suara perutnya, karena tadi ia sudah sarapan di hotel. Dia menatap ke arah istrinya yang tengah menatap jalan raya yang tampak ramai.
"Kamu belum sarapan Ya?" tanya Adhi sambil memegang dagu Shaniya dan mengarahkan wajah cantik itu agar menatapnya.
Shaniya menggeleng pelan. Lalu tangannya menepis tangan Adhi yang menyentuhnya. Adhi mengernyitkan dahinya bingung.
"Kamu kenapa? Marah? Bilang Ya?! Apa karena di hotel tadi kamu marah? Lagian kenapa? Kita kan sudah sah," ucap Adhi sambil menggertakkan giginya, tangannya mencengkeram erat pada stir mobil.
Dia tidak ingin seperti ini, seharusnya pengantin yang baru menikah saat ini tengah romantis - romantisnya bukan? Tidak seperti ia dan Shaniya yang sekarang... entahlah Adhi bingung untuk menjelaskannya.
"Kita berhenti dulu di restoran, kamu harus makan, perjalanan kita masih cukup jauh ke Puncak, Ya."
Shaniya menoleh menatap suaminya itu. Keningnya berkerut, "Mau ngapain ke Puncak?"
"Kamu lupa, sayang? Kita kan sudah planning sebelum menikah kalau nanti bulan madunya di Puncak aja," ucap Adhi dengan tangan kirinya yang mengelus lembut kepala Shaniya.
Shaniya meringis pelan. Ya Tuhan, ia sampai melupakan itu.
"Eh, gak usah aja ya Mas? Kita pulang aja ke rumah kamu, aku ... aku kangen Abi hehe," ucap Shaniya sambil terkekeh pelan.
"Loh? Aku udah minta villa di sana untuk dibersihin sama Bibik, kasihan kan, Ya. Empat hari aja deh, habis itu kita pulang, oke?" tanya Adhi lagi.
"Aduh!"
Tiba - tiba saja Shaniya memegang perutnya dengan kencang, dengan bibir yang mengeluarkan suara ringisan khas orang kesakitan. Adhi panik, pria itu langsung menghentikan mobil di samping jalan.
"Kenapa?!"
"Perut aku sakit, kayaknya aku maag deh, Mas."
"Kamu sih, telat makan! Nanti gak boleh gini lagi! Ayo cari restoran, kita gak jadi ke Puncak, mending kamu di rumah, ada Ibu sama Adisti yang bakalan jagain kamu."
Shaniya tersenyum kecil. Setidaknya ia bisa mengulur waktu. Dia masih tidak ingin terjebak dalam permainan yang Adhi buat, dia ingin mencari tahu kebenarannya dulu sebelum ia benar - benar menyerahkan hati dan dirinya kepada Adhi.
Salahkah dirinya melakukan hal seperti ini?