Part 9 : Pernikahan yang (Tidak) Diimpikan.

1707 Kata
Tak terasa, waktu begitu cepat berlalu, dua bulan bagaikan hitungan detik saja. Ya, itu yang Shaniya rasakan. Kini, gadis itu tengah berdebar dihari pernikahannya. Pernikahannya diadakan di sebuah ballroom hotel yang berbintang lima. Dan saat ini, adalah waktunya akad. Shaniya tengah berada di sebuah ruangan khusus untuk pengantin. Dan tiba-tiba saja Mama dan adiknya datang. "You're so beautiful, Kak," ucap seorang remaja lelaki dengan stelan jas berwarna hitam dan kemeja putihnya. "Baru tau lo punya kakak cantik kayak gue?" ucap Shaniya dengan sebelah alis yang terangkat. "Iye, lo cantik kalau dandan doang, kalau di rumah ileran dimana-mana." "Wah parah lo! Jangan buka kartu dong!" geram Shaniya sambil mencubit lengan Radja. Remaja itupun tertawa kencang. Sudah 4 minggu ini Radja kembali ke Indonesia. Setelah hampir 2 tahun menetap di London. Dan ia pulang karena alasan Shaniya ingin menikah, jika tidak, dia tidak akan mau kembali ke Indonesia. Sebab, di sinilah tempatnya masa lalu kelam itu. Dan ia sangat senang, melihat keadaan Kakaknya yang sangat ceria dan baik. Ia merasa lemah sendiri, padahal Kakaknya lah yang mengalami kejadian mengenaskan itu, namun kenapa ia yang mengasingkan diri ke benua lain? "Masih mau ngobrol Ja? Nanti aja, oke? Kita ajak Kakakmu ini keluar dan bertemu dengan calon suaminya," ucap Kayla dengan senyuman yang menggoda. Kayla menyentuh tangan Shaniya yang terasa dingin. Dibantunya putrinya itu agar bisa berdiri. Lalu ditatapnya dengan kasih sayang. "Aku takut, Ma." "Kenapa?" ucap Kayla sambil mengelus tangan putrinya. "Aku takut gak bisa menjadi istri yang baik." "Mama tau, itu pas hal baru buat kamu, tapi Mama yakin kamu akan terbiasa, dan kamu juga akan menikmatinya, Ya." "Aku gak tau sejak kapan, tapi aku sadar kalau aku sudah mulai mencintai Mas Adhi, apalagi setelah adanya Abi, rasanya aku benar-benar senang ketika berada di dekat mereka." Shaniya tersenyum membayangkan beberapa hari yang lalu ketika mereka berjalan bersama di Taman Mini. "Ehm! Ada yang jatuh cinta nih," celetuk Radja. "Hm, gue liat i********: lo banyak foto berdua sama cewek rambut blonde? Lo suka bule ya?" tanya Shaniya dengan nada menggoda. Tiba-tiba Kayla yang mendengar itu langsung menatap putranya tajam. "Beneran? Kamu pacaran?" tanya Kayla penuh intimidasi. Radja menggaruk tengkuknya, "Nggak, Ma. Itu teman doang, namanya Alyssa, kebetulan dia itu mualaf, dan dia sering cerita sama Radja tentang kehidupannya setelah dia menjadi muslimah." "Wah, bisa tuh kenalin ke Kakak?" "Iya, tahun baru monyet gue bawa dia ke Indo, oke?" Shaniya memutar bola matanya malas. Tiba - tiba terdengar suara pintu yang diketuk, dan muncullah Gista di baliknya. "Sebentar lagi akad, kamu tunggu di sini dulu ya," ucap Gista sambil berjalan mendekatinya. Shaniya mengangguk sambil tersenyum, tangannya saling menaut dan mulai terasa dingin, pertanda ia sedang gugup. Kayla tersenyum kecil melihat, ia duduk di sebelah putrinya, menggenggam erat tangan kanan Shaniya. "Mama tau kamu gugup kan? Berdo'a ya? Semoga semuanya dilancarkan." Lalu mereka semua mengamini. Suara Rega terdengar begitu tegas mengucapkan kata demi kata untuk menikahkan putrinya itu. Lalu dengan satu tarikan napas, akhirnya Adhi berhasil mengucapkan ijabnya. Semuanya mengucapkan kata 'sah'. Shaniya meneteskan air matanya, ia tidak percaya, sekarang ia sudah resmi menjadi seorang istri, akan ada banyak tanggung jawab yang harus ia lakukan nantinya. "Selamat, sayang..." Kayla memeluk tubuh putrinya sambil tersenyum. "Congratulations, Kakakku. Be the good wife and mother, oke?" Shaniya mengangguk pelan. "Selamat Yaya! Sekarang tidur udah ada yang temenin," ucap Gista sambil menyeka air matanya. Shaniya terkekeh pelan mendengarnya. "Ayo keluar..." Kayla membawa Shaniya berdiri, di samping kanannya ada Radja dan di samping kirinya ada Mama dan Tante Gista yang menggiringnya menuju tempat akad. Semua mata tertuju padanya ketika ia memasuki ballroom hotel, beberapa orang memujinya begitu cantik mengenakan pakaian adat Sunda, tidak lupa siger yang ada di kepalanya menjadi hiasan yang begitu cantik. Adhi berdiri, pria itu membalikkan tubuhnya untuk melihat wanita yang sekarang sudah menjadi istrinya. Dan kemudian mereka berdua saling menatap, ketika Shaniya sudah sampai di meja akad, Gista membuka kursi untuk Shaniya duduk, lalu disusul Adhi duduk di sebelahnya. Shaniya menatap wajah sang Papa yang terlihat sembab, sepertinya pria paruh baya itu habis menangis. Ya, karena bagaimanapun Shaniya merupakan putri satu - satunya, setiap orang tua pasti bersedih—dalam artian bahagia—dihari pernikahan anaknya. Lalu penghulu memberikan berkas - berkas untuk ditandatangani, kemudian memberikan mereka buku nikah, setelah itu Adhi memasangkan cincin ke jari manis Shaniya, Shaniya pun melakukan sebaliknya. Penghulu menyuruh Adhi untuk mencium kening Shaniya, sambil tersenyum Adhi mendekatkan tubuhnya ke gadis itu. Diciumnya dengan penuh khidmat sambil memejamkan mata dan berdoa untuk kebaikan mereka berdua kelak. Dan akhirnya selesai sudah acara akad, semua melakukan foto bersama dengan sang pengantin. ••••• Hari semakin larut, sebentar lagi acara resepsi pernikahannya akan segera usai. Shaniya merentangkan seluruh tubuhnya karena merasa pegal, dari kusri pelaminan, ia dapat melihat tamu - tamu sedang bercengkerama satu sama lain, dan ada juga yang baru sampai. Kebanyakan dari mereka adalah teman Adhi dan juga kolega Papanya. Sedangkan teman - teman Shaniya hanya beberapa saja. Shaniya melihat Adhi yang sedang mengobrol dengan beberapa koleganya. "Kamu mau kemana?" tanya Kayla ketika melihat Shaniya yang berdiri dari kursi pelaminan. "Aku mau buang air kecil." "Mama antar." "Eh gak usah, nanti aku minta Rina buat anterin." Kayla mengangguk pelan, "Hati - hati ya." Shaniya mengangguk. Lalu ia mendekati Rina yang menajadi pager ayu penerima undangan. Rina mengangguk senang menyetujui permintaan Shaniya untuk mengantarkan gadis itu ke toilet. Setelah selesai buang air kecil. Shaniya mengajak Rina kembali ke tempat resepsi. Namun, ketika melewati bagian belakang ballroom hotel, di sana ia melihat Adhi yang sedang menerima telepon, entah dari siapa. Shaniya mencekal tangan Rina yang ingin berjalan, lalu menuntunnya menuju balik tembok untuk mendengarkan apa yang dibicarakan suaminya itu sampai harus sembunyi - sembunyi seperti ini. "Tidak apa - apa, Ganindra. Saya tau kamu sedang di luar negeri, dengan ucapan selamat dari kamu saja saya sudah senang. Ya, dia gadis yang cantik... bahkan sangat cantik." Ucap Adhi sambil memegang ponsel di telinga kanannya. Shaniya tersenyum kecil mendengarnya. Rina pun ikut tersenyum melihatnya. "Hanya beberapa bulan saja, akhirnya kami menikah. Awalnya saya mengajak Shaniya menikah karena Talia terus - menerus mengatakan bahwa saya masih terpaku dengannya, oleh karena itu, saya mengajak Shaniya menikah untuk membuktikan bahwa saya sudah melupakan Talia sebagai mantan istri saya," ucap Adhi yang membuat Shaniya tersentak kaget. Jadi, selama ini Adhi hanya memanfaatkannya? Tapi mengapa? "Dan Shaniya juga gadis yang baik, bahkan sangat baik, dia bisa menerima Abi begitu cepat," lanjut Adhi. "Ayo kita pergi," lirih Shaniya sambil menyentuh tangan Rina. "Tunggu sebentar, Ya, kita harus mendengarkan sampai selesai," ucap Rina. "Apa?! Mendengarkan apa?! Bahwa dia cuma mau main - main sama gue begitu?! Dia mengaku cinta sama gue juga cuma omong kosong!" "Gak Ya, kita harus dengerin sampai selesai, kali aja lo salah paham," bisik Rina. "Terserah lo! Gue mau pergi!" Dengan tergesa Rina mengikuti Shaniya kembali menuju pelaminan. Dan di sana ia melihat gadis itu yang sedang memasang wajah dinginnya. Di sisi lain, Adhi yang sedang menelepon teman kuliahnya dulu tertawa geli mendengar lelucon yang dibuat oleh Ganindra. "Tapi kamu cinta sama dia Dhi?" tanya Ganindra yang nada bicaranya mulai serius. "Ya, awalnya saya mengajak dia menikah hanya spontan karena memikirkan ucapan Talia yang begitu membekas dipikiran saya, namun seiring berjalannya waktu, ya, saya mengakui kalau saya mencintainya." "Bagus, jangan sia - siakan dia, jadikan Shaniya wanita terakhirmu." Adhi tersenyum sambil mengangguk. "Kalau begitu, sudah dulu, saya harus kembali ke tempat resepsi, kasihan istri tercinta sedang menunggu." Di seberang sana terdengar suara tawa Ganindra yang membuat Adhi terkekeh pelan. Langsung saja pria itu mematikan teleponnya, dan berjalan menuju tempat resepsi lagi. Di pelaminan ia melihat Shaniya begitu bersinar dibawah lampu - lampu yang begitu terang. Gadisnya kini memakai gaun berwarna rosegold dengan sedikit aksen bunga pada bagian bawahnya. Gaun itu berupa jumpsuit yang sederhana, namun karena seorang designer terkenal, jumpsuit itu diubah menjadi gaun yang begitu cantik, sehingga sangat cocok dipakai oleh Shaniya. Adhi mendekati Shaniya, lalu duduk di sebelah gadis itu. "Apa saya sudah berkata bahwa kamu terlihat sangat cantik?" ucap Adhi sambil menyentuh dagu Shaniya dan mengarahkan wajah cantik itu agar menatapnya. Dilihatnya tatapan mata Shaniya yang mengarah ke arah lain.  "Sudah makan?" tanya Adhi lagi. Shaniya menghembuskan napasnya pelan, lalu mengangguk. Adhi tersenyum kecil, lalu mencium gemas pipi istrinya itu. Sedangkan Shaniya, tidak ada respon apapun darinya. Gadis itu masih memasang wajah dinginnya. "Sebentar lagi acara selesai, kamu ke kamar saja, pasti lelahkan?" Shaniya mengangguk lalu ia berdiri, mendekati Kayla dan meminta Ibunya untuk mengantarkannya ke kamar hotel yang sudah dipesan. Di kamar, setelah Kayla selesai membantu Shaniya melepaskan tatanan hijab dan juga gaunnya, akhirnya gadis itu bisa leluasa dengan baju tidurnya. Rambutnya yang hitam bergelombang ia biarkan tergerai. "Kamu kenapa? Kok jadi diam gini?" "Ma, Mama keluar dulu ya, Shaniya mau istirahat." Kayla yang mengerti, akhirnya tersenyum sambil mengangguk. "Istirahat yang cukup ya? Pasti nanti kamu bakalan capek," ucap Kayla. Shaniya mengangguk pelan. Setelah Mamanya keluar, Shaniya langsung menutup pintu dan berbaring di ranjang. Perkataan Adhi masih terngiang - ngiang di telinganya. Seharusnya ia curiga, bagaimana bisa seorang pria tampan dan mapan seperti Adhi begitu cepat menginginkannya untuk menikah dengan pria itu. Shaniya masih asik dengan pikirannya sendiri, hingga ia tidak sadar bahwa Adhi sudah masuk ke dalam kamar. Adhi yang melihat Shaniya terbaring membelakanginya memilih untuk berganij baju terlebih dahulu. Ia memakai kaos oblong berwarna putih dan juga celana tidur satin berwarna hitam. Lalu ia ikut bergabung dengan Shaniya di atas ranjang. Shaniya yang belum tertidur membalikkan tubuhnya menatap Adhi. Mereka berdua sama - sama canggung. Tapi Adhi, ia terpukau. Melihat rambut hitam Shaniya yang begitu halus. Dan ia merasa seperti pernah melihatnya. Adhi mendekatkan tubuhnya kepada Shaniya, tangannya mengelus surai rambut itu. "Jangan biarkan orang lain melihat rambutmu!" ucap Adhi. Mereka tidak sadar, sekarang posisi Adhi yang berada di atas Shaniya. Shaniya terdiam, menatap mata tajam Adhi. Lalu ia merasa wajah pria itu semakin dekat dengannya. Kemudian, ia merasakan bahwa Adhi menciumnnya. Shaniya memejamkan matanya, lalu sekelibat bayangan muncul, teriakan, tangisan dan kesakitan terbayang dibenaknya. Napas Shaniya memburu, gadis itu langsung mendorong tubuh Adhi hingga pria itu terbaring di ranjang. "Saya keluar dulu, kamu bisa istirahat," ucap Adhi sambil mengelus puncak kepala Shaniya. Adhi yang mengerti bahwa Shaniya masih butuh beradaptasi lebih memilih pergi keluar kamar. Meninggalkan Shaniya yang terdiam, dengan air mata yang mulai mengalir. Ia seperti de javu, ia pernah merasakan sentuhan itu!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN