Setelah mampir sebentar ke kantornya, Adhi langsung mengendarai mobilnya dan kembali ke rumah. Entah kenapa dirinya begitu ingin menemui Abi di rumah. Secara, tadi pagi dia langsung pergi ke rumah Shaniya untuk membicarakan hal penting itu.
Adhi merasa tidak tenang, melihat gadis itu menangis rasanya ingin sekali ia memeluk gadis itu. Tapi ia tahu diri, tidak mungkin gadis secantik dan semuda Shaniya mau menjalani pernikahan dengannya yang notabenenya sudah memiliki anak.
Ada rasa dihatinya yang sesak ketika kalimat pembatalan lamaran itu terucap, sungguh ia pun tidak rela jika Shaniya dimiliki orang lain.
Ia keluar dari mobil setelah memarkirkannya. Ada satu hal yang berbeda, terdapat mobil sedan berwarna merah terparkir di depan rumahnya.
Ia berpikir mungkin ada tamu.
Langsung saja Adhi berjalan masuk ke dalam rumahnya, namun ketika ia membuka pintu, terdengar suara alunan merdu piano.
Ia tau ini adalah instrumen Cannon in D – Pachelbel yang sering dimainkan oleh Ayahnya dulu. Dan sekarang, ada lagi yang memainkannya? Sedangkan ia tahu bahwa Adisti dan Ibunya saja tidak bisa bermain piano.
Dengan langkah lebarnya, Adhi berjalan menuju ruang tengah, di sana terdapat seorang gadis berhijab marun tengah memainkan piano dengan seorang anak lelaki di pangkuannya.
Hati Adhi berdetak lebih cepat ketika ia berjalan mendekati objek itu. Dan betapa terkejutnya ia melihat Shaniya yang duduk dengan Abi di pangkuannya. Walau sedikit sulit, tapi gadis itu tetap menekan tuts piano dengan lihainya.
Jantung Adhi berdetak dengan cepat ketika gadis itu menoleh ke arah dirinya dan tersenyum kecil.
Adhi takjub dengan kemampuan Shaniya, pasalnya dirinya saja tidak bisa memainkan piano walaupun Ayahnya dulu sering sekali mengajarinya, tapi kini, Shaniya memainkannya dengan benar, tanpa ada nada yang salah sedikitpun.
Dan ketika gadis itu selesai memainkan pianonya. Ia langsung berdiri dengan Abi digendongannya.
"Maaf, tadi Abi menangis, aku bingung harus bagaimana, Ibu sedang buang air besar, Adisti ke kampus, Bibik juga tidak bisa menenangkannya, ya sudah aku ajak dia bermain piano," ucap Shaniya dengan wajah tertunduk. Jujur, dia merasa gugup sekali.
Adhi masih tidak bisa mencerna ucapan Shaniya, menurutnya kini gadis itu terlihat sangat memesona dan aura keibuannya muncul saat ia menggendong Abi.
"Sebenarnya, ada yang ingin aku bicarakan." Shaniya yang kesal karena terus diperhatikan langsung menepuk lengan pria itu. "Mas Adhi dengar gak sih?!" kesalnya.
"Eh? Apa?" ucap pria itu yang tersadar dari lamunannya.
"Ada yang ingin aku bicarakan."
Rasanya ada kupu-kupu yang berterbangan dihatinya. Adhi masih terpaku ketika gadis itu berubah menjadi lembut, apalagi tadi dia mengatakan dirinya sebagai 'aku'? Karena biasanya gadis itu selalu menyebut 'saya'.
"Apa?" ucap Adhi.
Tiba-tiba saja Ibu datang dari arah dapur. "Wah, Abi anteng banget diajakin sama kamu, sini biar dia sama Ibu, katanya mau yang ada dibicarakan dengan Adhi."
Shaniya mengangguk, ia lalu memberikan Abi kepada Ibu. Dan wanita paruh baya itu langsung berjalan menjauhi mereka dengan Abi di gendongannya.
"Sini..." ucap Adhi sambil menarik tangan Shaniya dan membawanya menuju taman belakang.
Shaniya memandang takjub danau buatan yang terpampang jelas di hadapannya. Pantas saja rumah Adhi begitu besar, dan danau ini tidak kelihatan dari luar, karena memang terhalangi oleh tembok pagar yang menjulang tinggi. "Wahh keren banget," ucap Shaniya.
Lalu Adhi menarik tangan Shaniya agar duduk bersamanya di sebuah kursi kayu.
"Kamu mau bicara apa?" ucap Adhi ketika mereka sudah duduk bersebelahan.
Shaniya yang gugup tidak bisa berhenti memilin rok yang ia pakai. "Aku... aku... bawa semur jengkol untuk Mas Adhi."
Adhi menahan tawanya. Kenapa Shaniya begitu menggemaskan?
"Makasih ya."
Shaniya tiba-tiba saja ingin menangis, ia menunggu pria itu menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya. Tapi pria itu malah diam saja.
"Gak ada yang mau dibicarakan lagi? Kalau begitu saya masuk dulu ya, udah lapar, pengen makan semur jengkol buatan kamu."
Ketika pria itu bangkit, dengan cepat Shaniya menarik tangannya dan pria itu pun terduduk lagi di sebelahnya.
"Katanya ada yang mau Pak Adhi bicarakan?! Kenapa malah diam saja sekarang?!" ucap Shaniya ketus.
"Bukannya tadi kamu yang bilang kalau kamu ingin bebricara sesuatu?" ucap Adhi sambil menahan tawanya.
"Ya, aku pikir kamu bakalan menyelesaikan masalah ini."
Adhi menghela napasnya pelan. "Ayo tanyakan apa yang ingin kamu ketahui."
"Kenapa.. kenapa membatalkan lamaran itu? Kalau yang Pak Adhi pikirkan aku tiidak bisa menerima Abi, itu salah, seburuk itukah aku di mata Pak Adhi."
Shaniya berusaha menghalau air mata yang ingin tumpah. Kenapa ia jadi cengeng sekali?
"Tidak, bukan seperti itu, saya hanya berpikir kalau kamu pasti berat menerima Abi sebagai anakmu nantinya, apalagi usiamu yang masih muda, Ya."
Shaniya menggeleng pelan. "Apa Pak Adhi masih menganggapku seperti itu?"
"Tidak, setelah tadi melihat kamu dengan Abi yang begitu dekat, bolehkan saya menginginkan kamu lagi?"
Shaniya menggigit bibirnya. "Aku pikir, Pak Adhi akan kembali dengan mantan istri."
Adhi menggertakkan giginya kesal. Dengan cepat ia menangkup wajah Shaniya, dilihatnya mata gadis itu yang berkaca-kaca dengan hidung yang sudah memerah. Adhi langsung menghapus air mata yang jatuh di pipi Shaniya dengan begitu lembut.
"Kamu salah, untuk apa saya kembali ke masa lalu?" ucap Adhi tegas. "Saya ingin kamu memanggil saya dengan Mas Adhi lagi, coba sekarang."
"Gak mau." Shaniya menggeleng pelan.
Adhi menghela napasnya pelan. "Jadi apa mau kamu sekarang?"
Ingin rasanya Shaniya memukul pria dihadapannya kini. Kenapa pria itu tidak peka juga? Shaniya ingin kembali dengannya, dia ingin Adhi kembali memperjuangkannya.
Dengan perlahan Adhi melepaskan tangannya dari wajah Shaniya.
"Apa kamu menerima Abi? Kamu mau menganggapnya sebagai anakmu?" ucap Adhi dengan penuh rasa penasarannya.
Shaniya mengangguk pelan, "Abi anak yang lucu, bagaimana bisa aku menolaknya?"
Adhi tersenyum lebar, dengan lembut ia memegang tangan Shaniya. "Mulai sekarang, saya tidak akan melepaskanmu lagi, apapun alasannya."
Shaniya tersenyum senang sambil memangguk.
"Sepertinya kita harus segera merencanakan pernikahan, Ya."
"Untuk apa buru-buru?"
"Karena saya butuh kamu untuk menjadi istri saya, sebagai ibu untuk Abi? Apa kamu tidak ingin?"
Shaniya terharu, gadis itu pun mengangguk pelan.