Part 7 : Jujur.

1342 Kata
Nn Adhi menepuk-nepuk p****t anak lelakinya yang sedang menyusu dengan mata yang sudah ingin terpejam. Jemari kanannya menyusuri wajah Abi dengan pelan. Benarkah Abi anaknya? Itulah yang ada dibenak pria itu sekarang. Botol berisikan s**u formula itu terlepas dari mulut kecil Abi. Adhi segera mengambilnya agar tidak tumpah dan menaruhnya di nakas. Sekarang, Abi tertidur dengan nyenyak, sesekali bibir mungilnya bergerak seperti sedang menyusu. Adhi tersenyum kecil. Lucu sekali anaknya itu. Sekarang, mau bagaimanapun juga, Abi adalah anaknya, Adhi yakin itu. Dan ia akan merawat Abi dengan benar. Dan tidak akan ia berikan Abi kepada wanita iblis itu. Tidak akan pernah. "Mulai sekarang, Abi tinggal sama Ayah ya," ujar pria itu sambil mencium pelan kening putranya. Dan ia mulai memejamkan mata, hari semakin larut, hanya terdengar suara detik jam ditengah sepinya malam. Sedangkan di sisi lain, seorang gadis tengah berbaring sambil terus mengecek ponselnya. Dan tidak ada tanda-tanda kehidupan di sana. Gadis itu mendesah pelan. "Kenapa Pak Adhi—eh Mas Adhi gak ngabarin aku ya?" ucapnya pada dirinya sendiri. Tiba-tiba ia mengingat perkataan Rina di kampus tadi siang. "Wajarlah, cowo mateng dewasa kayak Pak Adhi itu ngebet ngajak lo kawin, lo bilang dia duda kan? Duda tuh berpengalaman, cowo tuh ya, paling gak bisa nahan hasrat, apalagi bokap lo bilang dia udah 2 tahun ngeduda, yakali gak pernah dipake 'barangnya' itu, nanti bisa layu, makanya dia ngebet ngajak lo nikah, biar gak perlu lagi jajan di luar." "Apa mungkin... Mas Adhi suka jajan di luar?" Lalu ia menggelengkan kepalanya. "Nggak, nggak. Jangan berpikiran buruk dulu Ya, kali aja dia sibuk." Lalu gadis itu kembali menatap ponselnya, dan hanya ada notifikasi dari grup dan juga teman-temannya saja. "Ah, tapi sesibuknya Mas Adhi, dia pasti ngabarin aku kok." Tangan kanannya mengambil bantal di sisi kirinya. Lalu ia menaruh bantal itu tepat di atas wajahnya. "Kenapa jadi mikirin dia sih Ya?!" ••••• Semangat Shaniya pagi ini benar-benar hilang. Bayangkan saja, semalaman dia menunggu kabar dari Adhi, tapi lelaki itu tidak mengabari apapun padanya hingga pagi ini. Ingin dia duluan yang memulainya, entah kenapa gengsinya terlalu besar. Selalu saja ia urungkan niatnya itu. Dan pagi ini, Shaniya benar-benar kehilangan semangatnya. "Kenapa muka ditekuk gitu sih Ya?" ucap Mamanya sambil menyiapkan menu sarapan. Shaniya menggeleng pelan. "Selamat pagi," sapa Papanya yang baru saja keluar dari kamarnya. Pria paruh baya itu sudah rapi dengan pakaian kantornya. "Kamu gak ke kampus Ya?" lanjut Rega sambil menatap putrinya. "Agak siangan Pa.." Tiba-tiba saja suara bel membuat mereka saling berpandangan. Bik Endah langsung berlari menuju pintu utama. Dan kembali lagi ke ruang makan untuk memberitahu siapa yang datang. "Pak.. Bu.. di luar ada Pak Adhi, katanya ingin bertemu." Shaniya langsung bangkit dari bangkunya membuat Rega dan Kayla kaget. "Suruh masuk Bik!" ujar Shaniya dengan semangatnya. Dengan tergesa-gesa gadis itu berlari menuju kamarnya.  Saat sampai, Shaniya langsung menutup pintunya dengan kencang. Ia berlari menuju meja rias yang berisikan banyak peralatan make upnya. Dengan gerakan cepat, gadis itu mengambil pensil alis, lalu membuat bentuk kepada alisnya sehingga terisi penuh. Memakai moisturizer, sunscreen, lalu bedak, setelah itu ia sedikit memberikan blush on agar tidak pucat. Ia tersenyum menatap dirinya di cermin, lalu ia mengambil sebuah lipstik kesukaannya, memoleskan benda itu di bibir, Shaniya menatap bangga hasil dandannya. Sekarang dia lebih percaya diri untuk bertemu dengan Adhi. Untung dia selalu mandi pagi, jadi tidak perlu membuang waktunya untuk itu. Membenarkan letak hijab marunnya, Shaniya lantas bangkit dari bangku. Baru selangkah ia menjauh, tiba-tiba ia berbalik dan mengambil botol parfumnya. Ia menyemprotkan sedikit saja, agar wanginya tidak terlalu berlebihan. Sekarang, ia siap bertemu dengan Adhi. Dengan pelan Shaniya membuka pintu kamarnya. Dapat terdengar suara pembicaraan dari ruang tamu. Jarak ruang tamu dan kamarnya hanya terhalang oleh tembok, sehingga kini Shaniya memilih untuk menguping sebentar. "Shaniyanya ada Pak?" ucap Adhi yang membuat Shaniya tersenyum di balik tembok. "Tadi baru aja mau sarapan, tapi tiba-tiba langsung ngibrit aja ke kamarnya," jawab Rega dengan senyuman yang tidak bisa disembunyikan. "Memang kamu mau ngajak Yaya jalan ya?" Kali ini Kayla yang bertanya. "Eh, bukan Bu, ada yang ingin saya bicarakan dengan kalian dan juga Yaya," jawab Adhi dengan wajahnya yang sudah kaku. Ia sungguh bingung untuk mengatakannya. "Apa? Katakan saja Dhi, bukan hal yang penting kan?" "Ini hal penting, Pak." "La, panggil Yaya," ucap Rega kepada istrinya. Kayla pun mengangguk. Tapi sebelum ia melangkah, tiba-tiba saja Shaniya muncul dengan senyuman manisnya. "Nah, itu dia. Sini duduk, Ya," ucap Kayla sambil menarik tangan Shaniya dan mengajaknya duduk berdampingan. "Katakan Dhi, sekarang sudah ada Yaya di sini," ucap Rega. "Sebelumnya, saya minta maaf yang sebesar-besarnya kepada kalian." Shaniya mulai merasakan ada hal yang janggal dari kata-kata Adhi barusan. "Saya ingin membatalkan lamaran saya kepada Yaya." Deg. Bagai tersambar petir di pagi hari, Shaniya tidak bisa bernapas beberapa detik. Benarkah? Apa yang dikatakan Adhi adalah nyata? Tidak mungkinkan? Apa ia melakukan kesalahan? "Apa? Apa yang membuat kamu ingin membatalkan lamaran kamu sebelumnya? Bukankah kita sedang membahas masalah pernikahan dengan keluargamu?" Ucap Kayla meminta penjelasan. "Saya... saya punya anak, dia berusia satu setengah tahun." "Jangan bercanda! Kamu bilang kamu itu duda tanpa anak?!" ucap Rega menahan kekesalannya. "Itu benar, Pak. Tapi kemarin, mantan istri saya datang, dan memberikan Abi kepada saya, saya pun tidak tau kalau saya punya anak darinya." Tanpa kata Shaniya bangkit dan berlari menuju kamarnya. Semua itu tidak luput dari pandangan teduh milik Adhi. Maafkan saya, Ya. "Saya hanya takut Shaniya tidak bisa menerimanya, jadi saya putuskan saya harus mundur, mungkin Shaniya bisa mendapatkan pria yang lebih baik dari saya," ujar Adhi dengan kepala yang tertunduk. "Sekali lagi saya minta maaf." "Sudah? Kamu bisa pergi sekarang," ucap Rega dingin. "Pak, saya tidak bermaksud untuk menyakiti Shaniya—" "Saya akan membicarakannya dengan Yaya, kamu bisa pulang dulu, Dhi." "Tapi saya ingin bertemu dengan Shaniya, Pak." "Lebih baik kamu pulang dulu, biar itu urusan kami," jawab Kayla sambil tersenyum kecil. Adhi pun mengangguk, dengan langkah lesunya ia pamit dan keluar dari rumah itu. Sebelum masuk ke dalam mobil, Adhi melihat ke arah kamar —yang ia pikir itu adalah kamar Shaniya—karena jendelanya terbuka dan memperlihatkan seorang gadis yang tengah menangis. Dengan langkah cepat Adhi mendekatinya, namun Shaniya yang melihat Adhi langsung menutup jendelanya dan membuka kaitan gorden sehingga menutupi jendela itu. "Ya... tolong... kita harus bicara," ucap Adhi sambil mengetuk kaca jendelanya. "Shaniya..." ucap lelaki itu lesu. "Baiklah, saya pamit, jangan menangis lagi ya, maafkan saya," ucapnya sebelum melangkah pergi. Shaniya terisak. Mengapa begitu sulit? Apa benar jodohnya begitu jauh sehingga setiap lelaki yang melamarnya pasti akan membatalkannya? Apa akan terus berlanjut seperti ini? ••••• "Please Ya, Pak Adhi udah terima lo apa adanya, masa karena tiba-tiba dia punya anak lo bakalan mundur?" Shaniya menggigit bibirnya mendengar ucapan Rina lewat telepon. Gadis itu sedikit curhat tentang masalahnya kali ini. Hanya Rina yang bisa ia percaya. "Tapi kenapa dia langsung batalin gitu aja?" jawab Shaniya pelan. Lalu terdengar decakan dari seberang sana. "Dia mungkin berpikir lo gak bakalan mau terima anaknya, secara lo nya aja masih agak jutek sama dia, please Ya, kalau lo beneran mau sama Pak Adhi, jangan biarin dia berusaha sendiri, lo juga harus ikut andil dong." Shaniya terdiam sesaat. "Tapi kalau dia ada niatan buat balikan sama mantannya gimana? Secara kan mereka udah punya anak." "Lo gak bakalan tau jawabannya kalau lo sendiri gak nyari tau, sekarang mending lo bicarain baik-baik sama Pak Adhi, oke? Kapan lagi dapet paket lengkap Ya? Bapaknya ganteng, ditambah langsung dapet anaknya yang lucu, imut, masa lo mau tolak?" Shaniya mengangguk pelan. "Oke. Thanks ya Rin." "No problem, lo bisa kapan aja cerita sama gue ya?" "Oke, dah." Setelah itu telepon dimatikan. Shaniya berpikir sebentar, apa yang harus ia lakukan sekarang? Semur jengkol. Oh Tuhan, ia baru ingat jika Adhi pernah berkata bahwa ia menyukai makanan itu. Mungkin Shaniya harus pergi ke rumah pria itu. Untuk bertemu dengan pria itu dan juga anaknya mungkin. Shaniya tidak bisa memikirkan seberapa lucu anak Adhi. Pasti ganteng deh kayak bapaknya. Shaniya langsung memukul pelipisnya sendiri. Oh Tuhan, apa yang ia pikirkan tadi? Dengan cepat Shaniya bangkit dari kasur. Ia harus segera memasakkan makanan kesukaan Adhi, dan langsung bertemu dengan pria itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN