Sudah tiga hari ini Shaniya dan Adhi rutin bercengkerama lewat sosial media. Seperti i********:, Line ataupun w******p, keduanya seperti remaja yang sedang dimabuk asmara.
Walaupun tak jarang Shaniya membalasnya dengan cuek, namun Adhi selalu saja mencairkan suasana. Memang seperti itulah sifat Shaniya. Dan kali ini, Adhi berniat untuk menjemput Shaniya di kampusnya. Sebelumnya memang mereka sudah membuat janji jika akan menghabiskan waktu bersama.
Mobil Fortuner hitamnya sudah terparkir rapi, lalu ia keluar dan berdiri sambil menyender di mobilnya mengamati keadaan sekitar.
Beberapa mahasiswi yang lewat menatapnya secara terang-terangan, bahkan ada yang sampai menggodanya.
Tanpa menunggu lama, ia menelepon Shaniya, dan gadis itu berkata bahwa sedang dalam perjalanan menuju parkiran. Langsung saja ia mencari keberadaan gadis itu. Bibirnya langsung melengkung ketika melihat seseorang yang dicarinya sedang berjalan menuju ke arahnya.
Adhi menatap tampilan Shaniya dari atas hingga bawah, membuat gadis itu risih dan sedikit menaikkan totebag yang dibawanya di bahu kiri.
"Apasih liat-liat?" ucap Shaniya dengan nada juteknya.
Adhi langsung tersenyum kecil. "Setiap hari kamu ke kampus begini?" tanya Adhi yang membuat Shaniya mengernyitkan dahinya.
"Ya ganti-ganti dong, masa pakai ini terus. Emang kenapa sih?"
"Nggak, saya lihat-lihat kamu itu orang yang mentingin style."
"Astaghfirullah, saya kira kenapa, gak penting juga, Bapak gak liat, pakaian Bapak juga stylish banget loh, sampai banyak mahasiswi yang liat kita berdua ngobrol di depan mobil sambil berbisik-bisik, saya gak tau gosip apa yang bakal menyebar setelahnya," ucap gadis itu.
"Shaniya mempunyai pacar yang tampan, kelihatannya enak didengar jika gosipnya seperti itu."
Shaniya memutar bola matanya kesal. "Yang ada tuh gini, Shaniya ketauan dijemput sama om-om di parkiran kampus."
Adhi terkekeh pelan. "Memang saya om-om?"
"Aduh, Bapak liat deh sendiri, pakai kemeja udah acak-acakan gitu, celana bahan, sepatu pantofel, keliatan banget kalau bapak tuh—"
"Saya kenapa?" tanya Adhi penasaran akan kelanjutan dari ucapan gadis di hadapannya kini.
"Gak jadi, udah ayo Pak, katanya mau jalan-jalan."
Dengan senang hati Adhi langsung membukakan pintu penumpang untuk Shaniya. Setelah ia rasa gadis itu duduk nyaman di tempatnya, pria itu pun segera masuk ke dalam mobil. Dan dengan cepat ia mengemudikan mobilnya menuju pusat perbelanjaan di Jakarta.
•••••
"Apa yang biasa orang pacaran lakukan ketika mereka berkencan?" ucap Adhi sambil melihat sekitar Mall yang tampak ramai dengan anak remaja yang sedang berduaan.
"Kayak gak pernah abg aja deh," jawab gadis itu.
"Sudah 18 tahun yang lalu, saya tidak ingat apa saja yang dilakukan waktu itu."
"Termasuk mantan pertama Bapak? Bapak gak ingat?" tanya Shaniya.
"Bagaimana kalau kita nonton saja?" Adhi berusaha mengalihkan pertanyaan Shaniya. Gadis itu pun mengangguk.
Setelah memesan tiket, Adhi dan Shaniya harus menunggu setengah jam lagi sebelum film itu diputar. Karena itu, mereka lebih memilih untuk makan di sebuah restoran Jepang.
Shaniya dan Adhi sama-sama memesan ramen. Ketika pesanannya datang, mereka lantas menyantapnya dengan senang hati. Saat dirasa perut sudah terisi, mereka berdua pun berjalan menuju bioskop, karena sebentar lagi film akan ditayangkan.
Mereke duduk di pojok kanan barisan tengah. Tampak beberapa remaja pun mulai memenuhi area bioskop.
"Sepertinya kita salah memilih judul film," ucap Adhi berbisik di telinga Shaniya.
Shaniya meringis pelan, lalu mengangguk.
"Saya ingin seperti lelaki itu," ucap Adhi sambil menunjuk seorang lelaki muda yang menyender di bahu seorang gadis di sampingnya.
"Jangan berani-berani dekat saya ya Pak!" ucap Shaniya berusaha menjaga jarak dengan Adhi.
"Tidak, nanti saja setelah menikah. Baru kita bisa melakukan lebih."
"Pak Adhi!" geram Shaniya dengan wajah yang sudah memerah.
"Kenapa? Kan sudah saya bilang, panggil saya Mas, Shaniya."
"Belum terbiasa," jawab gadis itu pelan.
"Harus dibiasakan mulai saat ini." Tiba-tiba jari-jari tangan kekar menyusup di sela-sela jari lentik milik Shaniya. Gadis itu langsung menatapnya dengan tajam.
Adhi tersenyum kecil. "Saya hanya ingin seperti ini, tidak lebih." Dan saat itu pula Shaniya menghela napas pelan.
•••••
Saat perjalanan pulang, tidak henti-hentinya senyuman terukir manis di bibir pria itu. Pikirannya selalu berputar membayangkan wajah Shaniya. Baru saja ia mengantarkan gadis itu pulang, tapi rasanya sudah rindu saja.
Benar kata Dilan, rindu itu berat ternyata. Buktinya sekarang ia merasakan sendiri, ingin rasanya ia cepat-cepat menikahi gadis itu, agar selalu ia lihat setiap harinya.
Tiba-tiba saja ponselnya berbunyi, dengan cepat ia mengangkatnya. "Halo, kenapa Dis?" tanya Adhi.
"Cepat pulang Mas."
"Kenapa?" ucap Adhi penasaran, karena tidak biasanya adiknya itu meneleponnya dan berkata seperti itu.
"Ada Mbak Talia di rumah... dan dia... membawa seorang anak."
Tiba-tiba saja Adhi memberhentikan mobilnya. Untung saja jalanan lumayan lenggang, hanya beberapa kendaraan yang lewat, karena jalan itu bukanlah jalan raya yang besar. Perasaanya mulai terasa tidak enak.
"Lalu apa urusannya dengan Mas?"
"Mending Mas pulang dulu, ditungguin sama Ibu juga ini."
Dengan cepat Adhi mematikan panggilannya. Dan ia pun menjalankan mobilnya dengan kecepatan penuh agar bisa cepat sampai di rumah.
Beberapa menit kemudian, ia sampai di rumahnya. Tampak sebuah mobil sedan hitam asing yang terparkir di halaman rumahnya. Dengan langkah tergesa, Adhi pun masuk.
"Assalamualaikum," ucapnya dengan pelan. Sudah ada mantan istrinya dan juga Ibunya yang tengah duduk di ruang tamu.
Adhi menatap tajam ke arah Talia.
"Waalaikumsalam, duduk dulu, Dhi."
"Ada apa ini Bu?" ucap Adhi sambil menatap Ibunya.
Ma..ma..ma...ma...ma.
Adhi menoleh ke arah dapur dan mendapati Adisti yang tengah menggendong anak lelaki. Anak itu tampak berceloteh dengan kata-kata yang tidak terlalu jelas. Adhi menelan salivanya dengan susah payah ketika mata anak itu menatapnya.
"Ibu ini kenapa?"
"Dia anak kamu, Dhi," ucap wanita berpakaian modis dengan rambut bergelombang itu kepada Adhi.
"Apa?!" Adhi kaget, tentu saja.
"Dia Abimana, anakmu. Satu bulan setelah perceraian kita, aku tidak tau kalau aku sedang hamil 3 bulan."
Saat itu pula Adhi terduduk di sofa sambil meremas rambutnya kasar. "Katakan ini bohong, Talia!"
"Untuk apa aku bohong Adhi?! Kalau perlu tes DNA saja, aku tidak takut." Ucap Talia lantang.
"Kenapa... kenapa kau tidak bilang?!"
"Karena saat itu aku dan kamu sudah tidak terikat apapun, jadi untuk apa?! Dan saat itu pun aku bersama Daren, dia yang merawatku selama ini."
Adhi tersenyum miring. Daren, ya, nama itu sudah tidak asing lagi di telinganya.
"Lalu apa maumu sekarang?" ucapnya.
"Karena aku yang sudah mengandungnya selama sembilan bulan, dan aku juga yang sudah merawatnya sampai saat ini, aku hanya ingin memberikan hak asuhnya padamu, karena aku tidak bisa melakukan itu semua lagi," ucap Talia. Adhi mengernyit.
"Kamu akan meninggalkannya di sini?"
Talia mengangguk pelan. Lalu dia menunjuk koper besar di pojok ruangan. "Itu semua pakaian dan kebutuhan Abi, aku tidak bisa merawatnya lagi, karena keluarga Daren tidak bisa menerima Abi, kumohon padamu Adhi, kau adalah ayahnya, jadi rawatlah Abi."
Adhi tersenyum miring. "Sudah?"
"Ya, sudah itu saja."
"Baik, saya akan merawatnya. Dan sekarang pergi dari rumah ini!" usir Adhi dengan kasar.
Dengan cepat Talia bangkit dan melangkah begitu anggun menuju Abi yang ada digendongan Adisti.
"Abi tinggal sama Ayah ya? Mama pergi dulu sayang, dah.."
Tanpa ada rasa sedih sedikitpun, Talia berjalan keluar rumah. Lelaki kecil itu menangis sambil menggapai-gapai Mamanya, berusaha untuk ikut, namun Talia tidak menghiraukannya, saat ini, ia hanya ingin bersama dengan pria yang ia cintai, Daren.
Suara mobil pun terdengar, setelah itu perlahan mulai menghilang.
Adhi tau wanita itu sudah pergi. Pria itu mendongak menatap anak lelaki yang ada di gendongan adiknya dengan tatapa tidak percaya.
Jadi selama ini, ia memiliki anak? Dari wanita itu?
"Abi mirip kamu, Mas. Ibu gak nyangka kamu udah jadi Ayah," ucap Ibunya sedih sambil mengelus punggung Adhi.
"Bagaimana dengan Shaniya, Bu?" lirih pria itu. Sungguh, pikirannya sedang kacau saat ini.