Sabtu pagi, Shaniya berjalan sedikit cepat menuju ruangan Papanya sambil membawa bekal makanan yang dibuatkan oleh sang Mama. Papanya itu kadang suka lupa untuk membawa bekal yang padahal sudah disiapkan Mamanya di atas meja makan, mungkin karena faktor usia yang membuat daya ingat Papanya semakin melemah.
Kantor Papanya setiap sabtu diminggu pertama awal bulan, selalu masuk. Dan itulah sebabnya ia di sini.
"Bu Sis, Papa ada di dalam?" tanya Shaniya kepada sekretaris Papanya yang ramah itu.
"Oh ada, tapi ada tamu di dalam."
"Oh yaudah aku titip aja ke ibu ya?"
"Eh jangan Ya, kata Pak Rega kalau kamu datang suruh masuk aja."
Shaniya terdiam sejenak. "Tapi aku gak enak Bu, ada kolega Papa di dalam."
"Baik orangnya Ya, masuk aja dulu, Pak Rega nungguin kamu daritadi itu."
Tanpa berpikir panjang, akhirnya Shaniya pun membuka pintu ruangan Papanya. Dan betapa terkejutnya ia melihat seseorang duduk di sofa bersama Papanya sambil tertawa bersama.
"Assalamualaikum," ucap Shaniya.
"Waalaikumsalam, sudah Papa duga kalau kamu datang ke sini. Sini duduk, sayang." Rega menepuk sofa panjang yang masih kosong di sebelahnya. Shaniya pun menurutinya.
Gadis itu menatap penuh selidik kepada pria yang tersenyum begitu manis menyambutnya. Ya pria itu, pria yang sudah menabrak temannya.
"Ini makan siangnya," ujar Shaniya sambil menaruh bekal makanan itu di meja sofa. "Kalau gitu aku pulang—"
"Duduk dulu Ya, ada yang mau Papa bicarakan!"
Shaniya menghela napasnya pelan. "Kenapa Pa?"
"Kamu kenal dengan teman Papa ini?" tanya Rega sambil menunjuk Adhi yang masih tersenyum menatapnya.
Shaniya melirikkan matanya sebentar. Lalu mengangguk. "Kenal. Dia yang udah nabrak Rina."
"Dan saya sudah bertanggung jawab atas itu," jawab Adhi dengan tegasnya.
"Terus kenapa Pa?" ucap Shaniya tanpa mempedulikan balasan dari Adhi.
"Dia adalah pria yang akan melamarmu, Ya."
"Apa?!"
Bagai tersambar petir dipagi yang cerah ini, Shaniya menatap kaget kedua pria itu. Dengan kasar ia menelan salivanya. "Tapi Yaya gak kenal dia Pa!"
"Ya kamu kenalan dong, sayang." Rega tersenyum kecil sambil mengelus pucuk kepala Shaniya yang tertutup hijab.
"Bapak itu siapa sih? Saya gak kenal bapak, kenapa tiba-tiba Anda melamar saya?!" ucap Shaniya dengan nada yang penuh kekesalan.
Adhi tersenyum manis, sangat manis sampai membuat Shaniya ingin muntah melihatnya.
"Kamu kenal saya, tadi kamu bilang kalau saya yang sudah menabrak temanmu kan?" jawab pria itu santai.
"Pak, tolonglah, kita baru sekali bertemu, itu juga dalam keadaan yang mendesak," ujar Shaniya dengan lemahnya. Ia tidak habis pikir, mengapa lelaki itu nekat melamarnya? Padahal kenal saja hanya di rumah sakit itu.
"Yaya, Adhi punya niat baik melamar kamu. Beri dia kesempatan Ya, lagipula hanya lamaran, setelah itu kalian bisa saling kenal bukan sebelum pernikahan? Papa tidak akan mendesak kalian agar segera menikah kok."
"Maaf Pak Rega, saya pikir karena usia saya yang sudah matang sekali, jadi pernikahan akan saya laksanakan dengan cepat," jawab Adhi.
Shaniya membulatkan matanya. Gila! Ini benar-benar gila!
"Pak! Saya terima lamaran Anda saja belumkan, kenapa sudah ngebet sekali ingin menikah?!" geram Shaniya yang membuat Rega terkekeh sejenak. Dan Adhi hanya bisa menunjukkan smirknya.
"Yaya.." ujar Rega memperingati. "Dia calon suami kamu loh," lanjutnya.
"Papa! Kenapa sih ngebet banget pengen nikahin aku sama dia?!"
"Karena Adhi adalah pria yang pantas untukmu."
Shaniya berusaha menahan kekesalannya saat melihat raut wajah pria itu yang tenang bagaikan air danau.
"Apa jangan-jangan Pak Adhi punya fetish dengan sesuatu yang ada di tubuh saya ya?!" tuduh Shaniya sembarangan.
"Hei, kamu kira saya om-om c***l?!" tegas Adhi karena ia tidak suka Shaniya menganggapnya seperti itu.
"Lalu kenapa saya Pak? Kenapa gak Rina aja? Dia suka loh sama bapak," jawab Shaniya mencoba bernegosiasi.
"Saya sukanya sama kamu, gimana dong?" ujar Adhi dengan nada sedikit menggoda. Rega pun menahan tawanya kala melihat wajah sang anak yang sudah cemberut.
"Oke, daripada banyak basa-basi, langsung intinya aja. Saya punya rahasia besar, dan ini menyangkut tentang diri saya sendiri."
"Apa?" tanya Adhi penasaran. Rega pun kini menjadi serius mendengar ucapan Shaniya yang begitu dingin.
"Apa Bapak tau saya itu korban pemerkosaan?" ujar gadis itu dengan tatapan mata yang redup.
"Yes, i know it. Papa kamu udah cerita semuanya."
Shaniya tersentak kaget. Ia menoleh menatap Papanya yang hanya menggidikkan bahu.
"So.. itu artinya saya udah gak perawan, masih mau sama saya?" Gadis itu mulai melirikkan matanya ke arah lain asalkan tidak menatap pria di hadapannya.
"Saya gak masalah. Why not?"
Gadis itu berdecak kesal. "Banyak perempuan lain Pak, kenapa harus saya?"
"Saya mencintaimu, Ya."
Saat itu juga Shaniya Airlangga terdiam. Alasan yang sangat klise, sering terucap dari mulut seorang pria.
Shaniya bangkit dari duduknya. "Aku pulang, Pa. Assalamualaikum," ucapnya sambil mencium punggung tangan sang Papa.
"Tangan saya tidak, Ya?" ucap Adhi bercanda. Pria itu hanya ingin sedikit lebih dekat dengan gadis itu.
"Anda siapa?!"
"Calon suamimu."
"Sinting," ucap Shaniya yang membuat Adhi terkekeh pelan.
"Jangan lupa dandan yang cantik untuk nanti malam."
"Nyebelin banget sih!" Setelah itu Shaniya berlalu pergi. Samar-samar ia mendengar Papanya berucap.
"Kamu harus terus berinteraksi dengan Yaya, agar kalian semakin dekat."
•••••
Sabtu malam, Kayla memegang erat telapak tangan putrinya yang begitu dingin. Dia menatap Shaniya yang saat ini sedang duduk di atas kasur sambil menggigit bibir bawahnya, mungkin karena gugup.
"Mama harap kamu menerimanya, sayang. Dia itu pria yang baik."
Shaniya langsung menatap wajah Ibunya. "Kenapa Mama dan Papa begitu menginginkan aku menikah dengannya?"
"Mama tidak bisa jelaskan saat ini. Ayo kita turun, mereka sudah sampai."
Tanpa menunggu lama, Kayla pun mengajak Shaniya menuju ruang tamu. Di sana sudah ada beberapa orang dari keluarga Adhi. Ibunya, Adiknya, dan juga seorang pria tua yang Shaniya pikir adalah Bapaknya.
Shaniya duduk bersebelahan dengan Kayla. Sedangkan Adhi dan keluarganya duduk di kursi panjang dan Rega duduk sendiri di single sofa.
Adhi berdeham sedikit untuk mengusir rasa gugupnya. "Tanpa menunggu lama lagi, saya rasa Shaniya pun sudah tau niatan saya datang ke sini. Karena tadi sempat bertemu," ucap Adhi.
Jantung Shaniya berdetak begitu cepat ketika mata tajam milik Adhi menatapnya begitu dalam.
"Saya Mahaprana Adhyasta Parikesit, dengan restu dari Ibu, Adik dan Paman saya, saya berniat untuk melamarmu Shaniya Airlangga untuk menjadi istri saya, pendamping saya dunia dan akhirat, apa kamu mau?"
Shaniya terdiam. Pikirannya begitu kosong. Sekarang beberapa kejadian acara lamaran yang gagal berkelibat diotaknya. Hingga ia tidak memiliki kata-kata untuk membalas ucapan pria di hadapannya.
Harusnya ia senang, ada yang mau menerima dirinya, harusnya ia tau diri, bahwa semua pria menginginkan wanita yang sempurna untuk menjadi istrinya. Dan kini, pria itu melamarnya, pria itu tau ia tidak sempurna, tapi pria itu tidak mempedulikannya. Seolah-olah itu bukanlah hal penting.
"Sayang.. ayo dijawab.." ucap Kayla sambil menyentuh tangan putrinya.
Shaniya menarik napasnya dengan kasar. Lalu menghembuskannta dengan perlahan. "Sebelumnya, ada yang ingin saya beritahu kepada Ibu Mas Adhi, saya hanya tidak ingin ada rahasia diantara kita, saya hanya tidak ingin Ibu tau itu dari orang lain, saya tidak mau itu terjadi."
Ibu Adhi tersenyum lembut. Begitu lembut sampai Shaniya pun tersenyum menyambutnya.
"Apa? Tentang kamu yang adalah seorang korban pemerkosaan?" jawab wanita paruh baya itu dengan tatapan sendunya.
Shaniya kaget. Ia menatap wanita paruh baya itu lalu mengangguk pelan.
"Ibu tidak mempermasalahkan itu, lagipula Adhi juga tidak masalah bukan? Kamu hanya korban, Nak. Kamu berhak bahagia, dan Ibu yakin, Adhi bisa membuatmu bahagia."
Entah ucapan Ibu Adhi yang begitu lembut atau karena keinginan hati Shaniya yang begitu menggebu memiliki mertua baik seperti wanita paruh baya di hadapannya kini, akhirnya gadis itu mengangguk pelan.
Tapi saat ini, Shaniya begitu lega. Ia merasa sedikit beban dalam hidupnya menguap entah kemana.
"Ya... Shaniya mau menjadi istrinya Pak Adhi."
Dan saat itu pula, semua orang di sana mengucapkan alhamdulillah.