Part 4 : Siapa Adhi?

937 Kata
Adhi berjalan masuk ke rumahnya ketika hari sudah mulai malam. Pria itu sangat lelah karena banyak sekali pekerjaan di kantornya. Apalagi sekarang ia memegang proyek besar, yaitu pembangunan jembatan antar kota. "Udah pulang, Mas?" ucap Ibunya sambil tersenyum lembut. Adhi mengangguk pelan. "Mandi dulu, habis itu makan, ada teh di atas meja makan, kamu minum itu dulu kalau haus." Adhi tersenyum lebar. Inilah yang ia sukai dari Ibunya. Wanita yang melahirkannya itu selalu segan dalam melayani kebutuhan dirinya. Walaupun dalam hatinya Adhi merasa tidak enak hati, karena Ibunya sudah tua jika terus-terusan bekerja. Namun, Ibunya selalu berkata bahwa dirinya bagaikan suaminya—Bapak Adhi—yang sudah tiada. Oleh karena itu, Ibu selalu saja mempersiapkan segala kebutuhannya. "Adhi mandi dulu saja, Ibu istirahat, gak boleh capek-capek," ucap Adhi sambil mengecup punggung tangan Ibunya. Setelah itu ia masuk ke dalam kamarnya. Beberapa menit kemudian, Adhi pun turun dan duduk di kursi sambil memainkan ponselnya. Setelah mengecek beberapa email yang masuk, Adhi langsung mengambil sepiring nasi dan lauk-pauknya yang sudah dimasak oleh Ibunya. Sebenarnya Ibunya dibantu oleh asisten rumah tangga dan juga Adisti, jika gadis itu ada di rumah. Tapi tetap saja Adhi merasa khawatir karena kondisi Ibunya yang semakin hari semakin melemah saja. "Main hp terus, makan dulu lah, Mas." Adhi tersenyum ketika melihat Ibunya yang kini duduk di hadapannya. Lalu terlintas dalam pikirannya untuk memberitahukan sesuatu yang sangat penting kepada Ibunya. "Bu, ada yang ingin Adhi bicarakan..." "Kenapa?" tanya Ibunya dengan begitu lembut. "Adhi ada niatan untuk melamar seorang gadis, Ibu setuju?" ucap Adhi penuh keyakinan. "Beneran? Kamu sudah ada calonnya? Tunggu apalagi, mana gadis itu, Mas?" ujarnya dengan penuh semangat. Adhi tersenyum kecil, lalu membuka ponselnya, dan menunjukkan sebuah foto Shaniya dari akun sosial medianya. Ya, Adhi sempat menstalking sedikit tentang gadis itu. "Cantikkan Bu?" ucap Adhi sambil menunjukkan foto Shaniya kepada Ibunya. Ibu langsung ternyum sumringah. "Cantik banget, Mas. Kapan kita melamarnya?"  Baru kali ini Adhi melihat Ibu begitu antusias. Karena sebelumnya, ketika ia memperkenalkan Talia kepada Ibunya, wanita paruh baya itu hanya tersenyum kecil dan Adhi tahu dengan enggan Ibunya menyetujui pernikahan mereka. "Minggu ini, kita ke sana. Adhi juga tidak tau Bu, ketika pertama kali melihatnya, rasanya Adhi tidak ingin berpaling darinya, dan jantung Adhi berdetak begitu cepat, Adhi pun tidak tau kenapa.." curhat pria itu kepada Ibunya. Walaupun sudah masuk usia matang, Adhi selalu bercerita kepada Ibunya tentang kehidupannya. Dan wanita yang sudah melahirkannya itu selalu memberikan nasehat yang baik. "Kamu jatuh cinta pada pandangan pertama, Mas." Saat itu pula Adhi tersenyum kecil mendengarnya. ••••• Di lain tempat, sepasang suami istri tengah tertawa senang di ruang tamu. Mereka sedang melakukan video call dengan putra mereka yang jauh di belahan benua lainnya. "Radja, gimana keadaan Om Fikram dan Tante Gista di sana?" ucap Kayla kepada anaknya yang sedang duduk sambil memakan cokelat. "Mereka baik, i love them, rasanya seperti Mama dan Papa benar-benar berada di sini."  "Kamu benar-benar tidak bisa ke Indonesia?" tanya Rega. "Tidak, Pa. Minggu-minggu ini aku banyak sekali ujian." "Ya sudah, belajar yang benar. Jaga kesehatan, makan yang teratur," kali ini Kayla yang berbicara. "Okay my mommy boss!" "Sudah malam, sudah dulu ya sayang, assalamualaikum." "Waalaikumusalam." Setelah itu layar ponsel Kayla kembali menjadi homescreen. Walaupun hanya beberapa menit, tapi itu sudah cukup untuk menebus rasa rindunya kepada sang putra. "Oh iya, Abang bilang, ada yang ingin melamar Yaya? Siapa?" tanya Kayla ingin tau. Karena sebelumnya sang suami sudah bicara dengannya, namun terpotong karena Radja melakukan panggilan video. "Dia arsitek. Pria tampan dan juga baik." "Bagaimana Abang tau dia baik?" tanya Kayla penuh selidik. "Jika kamu melihatnya, kamu pun akan berpikiran sama denganku, sayang." Kayla mengerutkan keningnya. Suaminya itu sangat senang membuatnya menjadi penasaran. "Minggu ini, bersiaplah, karena kita akan kedatangan calon menantu." Pria paruh baya itu tersenyum yang langsung menampilakan kantung matanya yang besar. Rambutnya kini memutih, dan tenaganya tidak sekuat dulu. Dia benar-benar sudah tua. Berbeda dengan Kayla. Wanita berusia 42 tahun itu masih terlihat cantik, walaupun ada kerutan di wajahnya, namun tidak mengurangi pesona dalam dirinya. Dan Rega pun semakin mencintai istrinya itu. Tiba-tiba saja Shaniya turun dari kamarnya dengan piyama panjang dan rambut yang tergerai. Gadis itu mengucek matanya sesekali sambil menguap. Lalu berjalan menuju dapur untuk mengambil apa yang ia inginkan. Rega dan Kayla saling pandang. Sudah kebiasaan Shaniya bangun malam hanya untuk minum segelas s**u cokelat. Dan ketika Shaniya ingin kembali menaiki tangga dengan segelas s**u di tangannya. Rega langsung memanggil putrinya itu. "Yaya!" panggilnya dengan keras. "Apasih Pa?" ujarnya sambil berdecak kesal. "Ke sini sebentar ada yang ingin Papa bicarakan.." Dengan berjalan gontai sesekali meminum susunya Shaniya menghampiri kedua orang tuanya. "Ada seorang pria yang ingin melamarmu, minggu ini dia akan kemari," ucap Rega yang membuat Yaya langsung membulatkan matanya. "Papa... Yaya gak bisa.. gimana kalau... kalau dia..." Shaniya tidak bisa melanjutkannya karena terlalu kelu untuk diucapkan. "Nggak, percaya sama Papa, oke?" Shaniya berdeham sebentar. Lalu berbalik dan berjalan menuju kamarnya di lantai dua. "Kamu penasaran bagaimana wajah calon menantu kita?" tanya Rega sambil tersenyum simpul. "Iya! Sangat! Kalau Abang gak mau kasih tau, harusnya jangan terus-terusan membuatku penasaran!" "Tunggu sebentar," ucap Rega. Lalu pria paruh baya itu berjalan menuju ruang kerjanya dan kembali dengan seberkas file di tangannya. "Ini apa?" "Buka aja, di sana ada data dirinya, kebetulan sudah sebulan ini dia menangani proyek kantor." Kayla yang penasaran langsung membukanya. Dan ia begitu terkejut ketika melihat foto pria itu. Tangannya mencengkeram erat lengan Rega, dan menatapnya tidak percaya. "Bang.. ini beneran dia?" ucap Kayla tidak percaya. "Ya.. itu dia. Waktu pertama kali kami bertemu pun, Abang sudah tau kalau itu dia..." jawab Rega sambil tersenyum penuh arti. Itulah mengapa, Rega dengan mudahnya menceritakan tentang Shaniya kepada Adhi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN