Mumpung di Semarang, Denis mengajak serta Syla untuk mampir ke rumah Pak Sanusi. Denis banyak hutang budi kepada beliau, terhitung sejak rumah yang kini ditinggali Darren tak ada lagi yang mengontrak, Pak Sanusi lah yang mengurusnya.Belum lagi Denis repotkan dengan meminta beliau untuk seringkali memberinya kabar tentang putra semata wayangnya itu. Sebenarnya Denis juga mencemaskan Darren, tetapi ia sembunyikan dibalik sikap tegasnya.
"Loh, Pak Denis," ucap Pak Sanusi yang baru saja pulang sholat dzuhur dari mushola.
"Apa kabar Pak Sanusi?" Keduanya berjabat tangan.
"Baik, eh ada istri bapak juga. Mari masuk, Pak," ajak Pak Sanusi.
"Buk, ada tamu!" teriak Pak Sanusi pada istrinya, beliau juga meminta sang istri untuk menyiapkan minuman pada tamu dari jauh itu. Beliau mengambil alih si bungsu yang berada di gendongan istrinya, mengajaknya menemui Denis dan Syla.
"Kebetulan saya ke Semarang, ngajak istri juga. Sekalian mampir," ucap Denis ketika Pak Sanusi duduk bersama mereka.
"Owalah, sekalian liburan Bu?"
"Bisa dibilang begitu."
Istri Pak Sanusi menyuguhkan dua gelas teh hangat pada tamu suaminya, tak ketinggalan ia juga berkenalan dengan Syla yang baru pertama kali bertemu. Tangan lembut itu bersentuhan langsung dengan tangan istri Pak Sanusi yang dipenuhi kapal. Membuat wanita itu minder, ditambah lagi kulit putih mulus terawat milik Syla seperti dambaan wanita pada umumnya menambah kesan wanita sempurna dimata istri Pak Sanusi. Berbanding terbalik dengan dirinya dengan kulit kuning sawo matang. Beliau memilih untuk kembali masuk ke dalam rumahnya.
Cuma satu jam Denis di sana, karena Syla tampak tak sabar melihat bagaimana rumah yang Darren tempati. Mereka berdua pamit, tak lupa sebelumnya Denis memberikan bingkisan berupa dua karung beras, telur, minyak dan beberapa keperluan dapur serta memberi sedikit uang untuk keluarga Pak Sanusi. Denis ingat bagaimana rasanya dulu saat ia menjadi orang yang hidupnya serba pas-pasan bersama almarhumah Maminya.
Sebelum masuk kompleks perumahan, Denis memastikan keadaan sepi. Ia tidak ingin kedatangannya nanti berujung terbongkarnya jati diri Darren, belum waktunya. Dirasa tak terlalu ramai, Denis meminta sang sopir segera masuk ke dalam area perumahan yang pernah menjadi saksi hidup Denis dulu. Tidak banyak yang berubah, hanya warna cat masing-masing rumah saja yang berganti. Suasananya masih sama seperti saat Denis masih di tempat itu.
Denis sempat pangling melihat rumah yang kini sudah berada di hadapannya, tampak bersih dengan cat baru. Cepat Denis mengajak Syla masuk ke dalam rumah dengan kunci serep miliknya dan meminta sang sopir untuk pulang setelah menurunkan barang-barang bawaan Syla untuk putra kesayangannya.
Syla menyusuri setiap ruangan di rumah itu, memeriksa bagaimana kondisi tempat tinggal Darren. Sepertinya cukup rapi untuk ukuran Darren yang biasanya apa-apa serba disiapkan oleh asisten rumah tangga. Rumah ini juga terlihat nyaman, tidak seperti yang dipikirkan Syla. Syla pikir Darren hanya tinggal di rumah petak kecil yang kumuh, ia merasa lega dengan rumah yang sangat layak dihuni ini meskipun sangat kecil dibanding rumah mereka.
Denis duduk di ruang tamu, menggelar karpet dan duduk lesehan di depan televisi yang cukup besar. Denis juga mengedarkan pandangannya dengan warna cat rumah ini,justru mengingatkannya pada sang Mami. Ia beranjak ke dalam kamar, kamar yang dulu menjadi kamarnya itu ternyata dibiarkan kosong oleh Darren. Denis tersenyum kecil, rasanya rindu sekali pada masa-masa itu. Denis masuk ke dalam kamar Darren, sprei tampak berantakan di bagian kamar ini. Ia jadi ingat jika putranya tadi terlambat, mungkin Darren tak sempat untuk membereskannya terlebih dahulu. Lelaki itu merapikan seprei, ia baringkan tubuhnya di sana. Menatap plafon kamar bekas ditempati Maminya.
"Mami, Denis kembali ke sini. Andai saja bisa mengajak Mami juga," ucap Denis, ia pejamkan matanya. Berharap bisa mengingat memory masa lalunya.
Sementara itu, Syla tengah sibuk berlutut di depan kulkas. Memilah makanan yang masih layak di kulkas itu, Syla menemukan buah yang sudah mulai layu, ia ganti dengan buah segar yang ia bawa. Syla juga melihat roti yang hampir kedaluarsa, ia keluarkan semua yang dirasa sudah tidak baik untuk dikonsumsi.
Siang ini rencananya ia akan memasak makanan favorit Darren, ia tahu Darren pasti rindu dengan masakannya. Syla membuka bahan makanan yang akan ia masak, ia mulai meniapkan keperluannya. Untung saja untuk alat masak di sini cukup lengkap.
Syla dengan sepenuh hati memasak untuk Darren, senyuman semringah tak luput dari wajahnya. Andai saja Denis mengizinkan ia tinggal di sini juga, pastinya ia akan sangat senang. Namun, lelaki itu lebih banyak menghabiskan waktunya di Jakarta, tak memungkinkan Syla untuk di sini. Jika mengingat itu, langsung saja emosi Syla meningkat.
"Sabar, sabar," kata Syla, ia menghirup oksigen sebanyak-banyaknya.
"Mas, makan siang sekarang?" tanya Syla.
"Mas?" ulang Syla, tetapi tak mendapat jawaban dari sang suami.
Syla mencicipi sayur sop yang ia masak sekali lagi, dimatikannya kompor saat dirasa sudah pas. Syla mencari Denis, tak ia temukan di ruang tamu. Syla membuka kamar yang pintunya tertutup, Denis tengah tertidur di sana.
"Katanya mau makan siang, kenapa dia malah tidur!" kesal Syla, padahal suaminya tadi berkata sangat lapar karena tak sempat makan siang di pabrik demi menuruti Syla yang sangat ingin sekali ke rumah Darren.
Menunggu suaminya bangun, Syla memilih untuk menyibukkan dirinya. Makanan sudah ia tata di meja kecil yang ada di dapur, tak lupa ia tutup dengan tudung saji. Saat ia ke kamar mandi, Syla lihat baju seragam Darren berada di dalam mesin cuci. Syla tergerak untuk mencucikannya.
Syla juga merapikan baju-baju Darren ang ia boyong dari Jakarta, ia ingat putranya tu membawa sedikit pakaian saja saat ke sini. Tak lama, Syla ikut berbaring di samping Denis.
"Ehmm," gumam Denis saat merasa ada gerakan di sampingnya, ia sedikit membuka matanya. Syla tertidur membelakanginya. Denis memeluknya dari belakang setelah melepas celana dan kemeja yang ia kenakan, gerah juga rasanya. Denis tarik selimut untuk menutupi bagian bawahnya yang hanya mengenakan boxer.
****
Lelah yang dirasakan Darren sedikit berkurang dari hari kemarin, mungkin tubuhnya sudah mulai beradaptasi dengan pekerjaannya. Ia mengayuh sepedanya santai saja, tak seperti tadi pagi yang seperti orang kesetanan.
"Ahmad," sapa Darren, ia lihat Ahmad berjalan kaki searah dengannya.
"Rizal."
"Mau bonceng?" tawar Darren. Ahmad berpikir sejenak, kemudian mengangguk. Ahmad duduk di rangka sepeda Darren, perlahan Darren mengayuhnya.
"Aku turun di depan rumah cat biru itu ya," ucap Ahmad dengan logat ngapak yang kental.
"Terima kasih," ucap Ahmad, Darren jawab dengan anggukan.
Darren terheran-heran saat ia sampai di depan rumahnya, apalagi ketika ia memutar gagang pintunya. Darren rasa ia sudah menguncinya sewaktu berangkat tadi, kenapa sekarang terbuka? Cepat-cepta Darren masuk, wajahnya terlihat panik. Bisa saja rumahnya kemalingan.
Darren menghela napas saat televisi barunya masih berada di tempat semula, ia memilih untuk ke dapur terlebih dahulu karena menarik perhatiannya. Darren membuka tudung saji, beberapa potong ayam goreng berada di atas piring dengan sayur sop dan sambal tomat. Sangat mirip dengan buatan bundanya ketika Darren mencolek sambal dengan jarinya. Cucian kering juga berada di depan kamar mandi menambah kecurigaan Darren jika ada orang yang sudah memasuki rumahnya.
Darren berteriak saat melihat dua orang dewasa tengah berpelukan di atas ranjangnya, apalagi melihat sang pria tak memakai pakaian lengkap.
"Astaghfirullah! Apa yang kalian lakukan di kamarku!" teriak Darren, ia tarik selimut yang menutupi tubuh Denis.
"Apa sih!" ketus Denis, ia masih merasa mengantuk.
"Ayah! Bunda!" Darren berusaha membangunkan Denis dan Syla.
"Aku tidak mau ranjangku ternoda!" ucap Darren lagi, Denis justru menutupi tubuhnya dan Syla dengan selimut.
"Ayah! Bangun tidak!"
"Hust.. Bundamu masih ingin tidur, kau bersih-bersih dulu!"
"Mass.." Syla meregangkan tubuhnya, perlahan ia terbangun. Darren masih berdiri di sana, Syla segera turun untuk memeluk Darren.
"Sayang! Bunda kangen!" Darren membalas pelukan Syla, berulang kali Syla mengecup pipi Darren.
"Menganggu saja! Harusnya tadi kami buatkan kamu adik, tapi kamu keburu pulang!" ketus Denis, ia beranjak dari kasur dan keluar dari kamar. Ingin ikut berpelukan dengan anak dan istrinya rasa gengsinya lebih mendominasi, lebih baik ia mencuci mukanya saja.
Syla meraba wajah Darren, tampak lebih tirus daripada sebelum pemuda itu ke Semarang. Ditambah lagi rambutnya yang dipotong cepak, semakin membuat Darren sangat tirus.
"Kamu kurusan, Sayang? Kamu tidak makan dengan benar?" tanya Syla, sorot matanya berkaca-kaca.
"Tidak, Bunda. Hanya perasaan Bunda saja, aku masih sama seperti pertama kali ke sini."
"Bunda rindu, apalagi kamu mulai jarang balas pesan bunda!" protes Syla, Darren hanya terkekeh.
"Maaf Bun, aku kerja."
"Sering-sering kirim kabar, bunda cemas."
"Iya, Bunda."
"Aku sudah lapar, Syla. Ambilkan aku nasi," titah suara dari luar kamar, menganggu sepasang anak dan ibu yang tengah melepas rindu.
"Iya, Mas. Darren, kamu mandi. Kita makan bareng," ajak Syla.
"Baik, Bunda."
Syla dan Darren keluar dari kamar, Syla menyiapkan nasi untuk sang suami. Darren membersihkan tubuhnya, Darren merasa senang sang bunda berada di sini. Namun, ia juga merasa sebal dengan ayahnya. Ia percepat ritual mandinya. Bukan karena takut air mati lagi, lebih tepatnya takut jatah makanan favoritnya akan dihabiskan sang ayah.