Tidur Darren terusik dengan cahaya matahari yang begitu menusuk matanya, sangat-sangat menyilaukan.
“Siapa sih yang nyalain lampu!” kesal Darren, ia masih setengah sadar.
Darren terjingkat kaget setelah matanya terbuka sempurna, ia lihat dari jendelanya langit sudah sangat terang.
“Astaghfirullah, jam berapa ini!” ucap Darren kelabakan, ia meraih handuk yang tergantung di kamarnya. Bergegas masuk ke dalam kamar mandi, sembari merutuki dirinya. Seingatnya, ia tidur sebelum magrib.
Keluar dari kamar mandi, Darren tak sempat lagi melihat ponselnya. Yang ia pikirkan hanya satu, segera berangkat bekerja karena hari sudahlah siang. Tidak seperti kemarin, Darren tak lagi memperhatikan penampilannya yang penting kemeja sudah masuk ke dalam celana. Bahkan, ia memakai kaus kaki sambil berjalan. Darren meraih sekotak s**u kemasan, ia masukkan ke dalan tas kesayangannya. Cepat ia keluar dari rumah, mengeluarkan sepedanya. Jam tangan pun ia pakai dengan asal.
“Ya Allah, jam tujuh!” teriak Darren, ia pakai sepatunya dan mengayuh cepat sepedanya.
Darren semakin menambah kecepatan Kayuhan sepedanya, jalan yang ia lalui sudah sepi. Tidak peduli peluh yang menetes dikeningnya, yang jadi fokusnya hanya segera sampai di pabrik, itu saja.
Kesabaran Darren masih diuji, ia berpapasan dengan kepulangan karyawan shift malam yang lembur. Membuatnya harus mengantri untuk memarkirkan sepedanya, bahkan ia masih harus mencari celah untuk sepedanya.
“Untung masih dapat,” ucap Darren, ia lihat jam tangannya. 07:13, dua menit lagi jam kerja dimulai, ia segera berlari ke papan absen.
“Briefing masal! Briefing masal!” teriak satpam lain pada karyawan yang masih santai duduk di kursi rest area.
“Pak, breifing masal itu apa?” tanya Darren setelah mengisi absen.
“Ini lagi! Sudah terlambat! Sana pergi ke lapangan, ada breifing masal pagi ini!” titah satpam bertubuh gempal dan berkumis tebal itu.
Darren berlari tunggang langgang saat melihat semua karyawan sudah berkumpul di loading dock, ia segera mencari divisinya. Ia lihat Satria tengah memeriksa semua anggota timnya, tak sengaja mata mereka bersibobrok.
“Anak baru! Kau terlambat!” hardik Satria, ia mendorong Darren untuk berada dibarisan paling depan.
“Aduh!” teriak Darren saat keseimbangannya goyah, beruntung Indra memegangi tangannya.
“Terima kasih,” ucap Darren, Indra hanya menimpali dengan senyuman.
Darren yang terlambat, mendapat perhatian seorang pria yang berdiri di atas panggung. Lelaki itu terlihat geram.
“Delfano!” ucapnya dengan suara tertahan.
“Ada apa Pak Denis?” tanya asisten yang berada di sampingnya.
“Tidak, kita mulai saja breifing masal hari ini.”
Darren mendengus sebal mendengar suara yang sangat ia kenal, bahkan ia juga melihat sosoknya berdiri di tengah panggung mendapat pusat perhatian penuh seluruh karyawan. Tubuh jangkung itu sangat terlihat berwibawa dengan balutan kemeja batik dipadankan dengan celana hitam dan sepatu pantofel warna senada. Terlihat masih sangat muda diusianya yang ke empat puluh tahun.
“Dia di sini!” gerutu Darren.
“Diam! Kau tidak lihat? Siapa yang berdiri di sana!” peringat Satria yang kini berdiri di samping Darren.
“Siapa?” tanya Darren pura-pura tak tahu, padahal ia mengenal betul sosok menyebalkan itu.
“Pemilik perusahaan! Jadi, kau jangan banyak tingkah kalau beliau tengah bicara!” peringat Satria, Darren mengejek dalam hatinya.
Briefing masal adalah agenda rutin setiap bulannya, biasanya pada Minggu pertama diawal bulan. Pantas saja Denis selalu keluar kota, padahal Darren sudah mengira yang tidak-tidak. Siapa tahu ayahnya itu main serong? Segala kemungkinan bisa terjadi bukan? Namun, kini Darren melihat langsung Denis berada di sini, dapat ia simpulkan bahwa sang ayah tak macam-macam diluaran.
Cukup lima belas menit briefing itu diadakan, suara karyawan wanita begitu memekakkan telinga saat Denis mulai menuruni panggung.
“Norak!” gerutu Darren, ia memilih mengikuti karyawan lain yang membubarkan barisan sembari mencuri waktu untuk sekedar meneguk s**u kotak yang belum sempat ia minum. Berharap bisa mengganjal perutnya sampai waktu istirahat nanti.
Darren tiba di area kerjanya, Satria dan Indra sudah berada di sana.
“Bagaimana? Ada yang masih bingung? Kalau iya, tanyakan saja tak perlu sungkan,” ucap Indra pada juniornya itu.
“Sejauh ini belum, Mas.”
“Baiklah, yang betah ya,” Indra mengedipkan sebelah matanya, sembari menepuk pundak kanan Darren.
Darren hanya mengangguk, betah tidak betah bukannya ia harus membetahkan diri? Karena sang ayah tak akan memberinya konpensasi sedikitpun atas keputusannya itu, tugas Darren hanya melakukan apa yang Denis inginkan.
“Siap-siap! Pak Denis ke sini!” teriak salah seorang karyawan yang sebagian dengan Darren, Satria segera menyiapkan anggotanya untuk briefing kecil disetiap bagian yang selalu dilakukan tiap harinya untuk mengevaluasi kerja timnya.
Lagi-lagi Satria menampilkan jiwa kepemimpinannya, membuat Darren jengah. Padahal diantara mereka banyak yang senior, kenapa mesti Satria yang menjadi group leader?
Satria dengan luwes memerankan jabatannya, soal yang satu itu memang ia jagonya. Satria sangat pandai menempatkan diri, apalagi dihadapan para petinggi.
Senyuman termanis tersuguh dari bibir Satria saat Denis sampai di area mereka, Denis membalas senyum ramah dari karyawannya itu. Denis juga mencuri pandang untuk melirik sang putra yang enggan menatapnya, Denis tahu Darren pasti kesal padanya. Tak lama Denis di sana, ia melanjutkan ke area kerja lain di pabrik. Sekedar mengecek kinerja para karyawan.
Darren menghela napas panjang, untung saja ia tak perlu memandang wajah itu berlama-lama.
Tidak sarapan membuat perut Darren terasa diremas, padahal jam kerja baru berjalan 3 jam. Ia sesekali duduk bersandar saat tak ada kondisi emergency di bagian produksi untuk memperbaiki mesin, tubuh Darren rasanya lemas sekali.
Bel yang berbunyi membuat Darren mengernyitkan dahi, ia lihat jam di pergelangan tangannya. Pukul 10:00 pagi, tapi bel sudah berdering. Karyawan juga sudah keluar dari area kerja, seingatnya kemarin Satria tak memberinya istirahat dijam ini. Padahal kemarin juga ia mendengar bel ini.
‘Si k*****t!’ batin Darren.
Untung saja Darren duduk tak jauh dari koperasi yang berada di bagian belakang pabrik, semua berjubel untuk sekedar mengisi rasa dahaga atau lapar yang mulai menyerang. Darren sudah tak sabar, ia ikut masuk dalam kerumunan itu. Mencari sesuatu yang bisa mengenyangkan perutnya.
Dua buah roti dan dua buah melon sudah ada di genggaman Darren, begitu juga sebotol minuman teh berada di tangan kirinya. Darren mencari tempat duduk, ia lihat banyak yang duduk lesehan di samping gedung pabrik. Darren ikut saja, yang penting ia bisa makan.
“Rizal, posisi!” suara dari HT yang berada di tasnya mengagetkan Darren yang tengah meneguk sisa teh untuk melegakan tenggorokannya.
“Rizal di sini,” jawabnya, entah siapa lawan bicaranya Darren tak tahu.
“Segera ke ruangan Pak Denis, perbaikan lampu!”
Darren menggerutu, kenapa mesti dirinya yang notabene masih anak baru? Sekecil apa nyali mereka sampai tidak mau ke ruangan Denis?
“Ya,” jawab Darren.
Darren mencari tangga lipat, juga membawa lampu sebagai pengganti. Darren tak kesulitan mencari ruangan sang ayah, karena saat ia pertama bekerja di sini sudah dikenalkan ruangan apa saja yang ada di pabrik ini.
Setelah mengetuk pintu, Darren masuk ke dalam ruangan Denis. Hanya satu lampu yang padam, Darren berjalan ke arahnya.
“Satu saja, kenapa tidak ada yang berani!” gumam Darren.
Darren menata tinggi tangga agar ia bisa menggapai lampu itu, dirasa tingginya sudah pas. Namun, saat ia mendongak ke atas hendak memasang lampu, kepalanya terasa berputar. Darren hampir saja terjatuh jika tidak ada orang yang dengan sigap menangkapnya, Denis.
“Hati-hati,” ucap Denis, nada cemas begitu kentara.
Darren segera menyeimbangkan tubuhnya, ia menunduk tak enak meskipun dengan sang ayah. Sepasang mata mengamati mereka, tatapan begitu sinis.
“Anda tidak apa-apa, Pak Denis?” tanyanya.
“Tidak.”
“Kamu, anak baru? Lain kali kerja dengan benar!” sentak suara itu pada Darren.
“Sudah Rudi, tadi hanya insiden kecil,” bela Denis.
Darren hanya mengangguk, ia kesal dengan dirinya sendiri. Tampak lemah dihadapan Denis, pasti setelah ini Denis kira ia sama sekali tidak bisa bekerja.
“Sudah, biar nanti office boy saja yang menggantinya. Ini bukan tugas mekanik kan? Kembali ke areamu,”pesan Denis.
Darren mengikuti perintah ayahnya, sembari terus menggerutu akibat kecerobohannya. Sepertinya hari ini hari kesialan bagi Darren, sudah tadi pagi terlambat sekarang malah ia hampir jatuh. Belum lagi setelah ini, ia pasti dapat komplainan dari Satria.
“Bisa kerja tidak!” tembak Satria saat melihat Darren.
“Tadi tidak sengaja.”
“Kau ini! Memalukan! Kau pikir siapa yang menanggung ulahmu itu! Pak Rudi baru saja menegurku!”
“Maaf,” ucap Darren, sejujurnya ia juga tidak mau keadaan itu terjadi.
Darren mencari tempat duduk untuk makan siang, sekotak nasi sudah berada di tangannya. Meskipun jam 10 tadi perutnya sudah terisi, menjelang tengah hari sepertinya perutnya kembali membutuhkan asupan makanan.
Darren memilih duduk di samping jendela besar, ada taman kecil di seberangnya mengundang perhatian Darren. Bunga-bunga yang sama seperti yang ada di rumahnya terawat dengan apik di sana, ia sengaja memotretnya untuk dikirimkan pada Syla. Darren rasa bundanya itu akan sangat senang, pasalnya bunga mawar yang tengah bermekaran terjejer rapi di sana. Darren tersenyum miring, mungkinkah Denis sengaja membuat taman kecil ini? Untuk apa?
Indra yang baru saja datang, terpaku dengan ponsel yang berada di tangan Darren. Ponsel mewah untuk sekelas karyawan biasa seperti dirinya.
“Boleh aku duduk di sini?” ucap Indra, Darren tak merasa keberatan dan mempersilakan Indra duduk di hadapannya. Namun, Darren sadar apa yang menjadi fokus Indra. Ia segera memasukkan ponselnya ke dalam saku kemeja.
“Mari makan,”ajak Darren.
“Iya.”
Indra mengajak serta Satria yang tengah mencari tempat duduk, membuat suasana begitu canggung. Satria tampak tak nyaman berada satu meja bersama Darren, tetapi ia berusaha menahannya karena tak ada lagi tempat kosong untuk ia duduki. Sementara Darren, ia dengan santai memakan jatah makan siangnya sembari melihat taman.