TJOL 14

1624 Kata
TJOL 14 Ponsel Denis berdering ketika ia sampai di g**g masuk ke komplek rumah Darren, ia menepi sebentar untuk mengangkatnya terlebih dahulu. "Gimana, Sayang?" Suara yang tegas pada orang lain itu terasa sangat lembut jika memanggil kepada sang istri, menggetarkan hati siapapun yang mendengarnya. "Mas, sampai mana?" "Sampai depan g**g komplek, kenapa?" "Putar balik!" "Lah, kenapa? Aku sudah sampai ini, Syla," tanya Denis heran, ia rasa belum terlalu lama Syla menunggu ia menjemputnya. Tidak mungkin jika Syla ngambek secepat itu. "Komplek masih ramai, aku malas. Nanti saja. "Lalu, bagaimana?" "Tunggu di sana, tunggu komplek sepi." "Ya Allah, Syla. Mana bisa begitu? Apa aku pulang dulu? Biar Pak Ahmad yang menjemputmu nanti." "Jangan, tunggu saja di sana saja, Mas." "Haaah, baiklah. Aku tunggu kamu di sini, jangan lama-lama." Hampir satu jam Denis menunggu, tetapi Syla tidak kunjung menelpon kembali. Meskipun matahari mulai terbenam, tetapi cahayanya masih terasa menusuk kulit Denis melalui celah kaca jendela mobil yang terbuka. Kulit Denis rasanya seperti terbakar, stok sabarnya juga mulai menipis. Seakan masa bodoh, Denis segera meluncur ke rumah Darren. Toh dia tidak terlalu mencolok dengan mobil brio miliknya, lagipula kaca film mobilnya berwarna gelap menjadikan Denis tak terlihat jelas dari luar. Paling mereka akan mengira jika Denis adalah taksi online. Denis menyalakan klakson beberapa kali di depan rumah Darren, sembari kembali menelpon Syla tetapi istrinya itu tak kunjung mengangkatnya. Denis juga sudah memutar arah mobilnya. "Siapa sih di depan!" gerutu Darren yang baru saja mandi sore, Syla sedang membereskan barang-barang yang akan ia bawa pulang. Terutama Tupperware yang ia bawa tadi pagi sebagai tempat makan sarapan Darren. Darren keluar dari rumah, ia ketuk jendela mobil milik ayahnya. Darren pikir ia tidak memesan taksi online, makanan atau semacamnya dan akan mengomeli orang tak tahu diri yang menganggu aktivitas sorenya dengan membuat kebisingan. Kaca jendela itu terbuka sedikit, Denis dengan kacamata hitamnya tampak dari celah jendela itu. Darren memutar bola matanya malas. "Kenapa tidak turun saja, Ayah!" ujar Darren, kesal. Apa-apaan lelaki itu! "Hanya sebentar, untuk menjemput bundamu," jawab Denis, belum saatnya ia menampakkan diri di sini kepada para tetangganya. Masih terlalu dini untuk mengenalkan Darren sebagai putranya kepada mereka. "Sebentar, aku panggilkan Bunda." Dengan langkah berat, Darren kembali masuk ke dalam rumah, ia bicara dengan Syla jika sang ayah sudah menunggunya di depan. Syla sekalian pamit kepada putranya itu, tak ketinggalan Syla memberikan banyak wejangan pada Darren. Mulai dari jangan telat makan masakan yang telah ia masak, tidur awal, mengunci pintu rumah dan terakhir Syla memberi kecupan dikedua pipi Darren tanpa sempat ditolak oleh pemuda itu. Pelan Darren mengusap bekas lipstik Syla yang menempel di pipinya dengan punggung tangannya. "Bunda pulang, besok lusa bunda ke mari lagi," ucap Syla yang diangguki Darren, ia keluar dari rumah Darren dan masuk ke dalam mobil Denis. "Kenapa duduk di belakang!" "Sudah, nanti aku pindah, Mas. Jalankan saja mobilnya," titah Syla, ia lihat suasana komplek masih saja ramai. "Mereka itu tidak ada kerjaan atau bagaimana sih!" gerutu Syla pada para tetangga komplek Darren. "Kamu kenapa sih, menggerutu saja sejak tadi?" Denis menghentikan mobilnya setelah melewati pertigaan jalan dari komplek rumah Darren, ia membukakan pintu untuk Syla. "Mas, memang orang di komplek rumah sini suka begitu ya?" tanya Syla, ia sudah duduk di samping suaminya. Perlahan, Denis melajukan mobilnya setelah Syla memasang sabuk pengaman. "Iya, dari dulu. Waktu aku masih tinggal di sini bersama Mami," ucap Denis enteng, meskipun ia belum mendengar detail cerita dari Syla. Namun, Denis hapal betul tabiat pada tetangganya yang suka usil dengan urusan tetangga lain, apalagi yang tidak terlalu bersosialisasi mereka. Maka, orang itu akan menjadi sasaran empuk mereka untuk berghibah atau sekedar menjadi bahan pembicaraan. Sekarang giliran Syla yang menjadi topik hangat di antara ibu-ibu itu, membuat Syla berpikir ulang untuk kembali ke rumah Darren. Mungkin, besok-besok ia buat janji ketemuan dengan Darren di luar komplek saja. "Dulu, kamu betah tinggal di sana?" Denis mengangguk, " Tentu saja, ya mungkin karena aku dan Mami sudah terbiasa." "Ya Allah, Mas. Aku baru sekali saja melihat tingkah mereka sudah risih." "Memang kenapa? Apa yang mereka lakukan?" "Waktu aku datang, mereka melihatku dari atas sampai bawah, Mas. Terus, ada satu dari mereka yang dengan terang-terangan bertanya pada Darren siapa aku. Padahal kan aku baru pertama kali bertamu di sini, aku jengah sekali," keluh Syla, Denis hanya mengusap kepala istrinya lembut. "Belum lagi waktu aku mau keluar siang tadi, mereka melihat aku masuk mobil. Mereka ingin melihatku lagi." "Sudahlah, mereka begitu karena heran melihat bidadari cantik." "Kamu ini, aku sedang kesal! Kenapa sempat-sempatnya menggombal sih!" Syla semakin kesal. "Sudah, jangan cemberut lagi." Denis mengusap lembut pipi Syla, lalu mencubit pipi yang menggembung itu akibat Syla yang cemberut. Sekarang giliran Denis yang bercerita tentang kekesalannya pada Devan tadi siang, Syla tertawa terbahak-bahak mendengar penuturan Denis. Seakan kekesalannya pada ibu-ibu komplek itu menguap seketika, digantikan dengan derai tawa yang menggema. "Tapi aku sudah memberi Devan pelajaran, waktu kamu telepon minta dijemput tadi. Aku sengaja meninggalkan dia di rumah Rama, biarkan saja dia pulang jalan kaki," ucap Denis, tawa Syla masih terdengar. Momen-momen seperti ini yang selalu mereka jaga, apabila seharian mereka sibuk dengan aktivitas masing-masing. Mereka bak dua sejoli yang tengah berpacaran. Sebagai ganti di mana dulu sebelum menikah, mereka sama sekali tidak pernah merasakan yang namanya pacaran. Disaat-saat seperti ini lah mereka manfaatkan untuk berpacaran. "Syla, apa kamu lelah hari ini?" "Tidak, aku tadi sempat tidur siang di rumah Darren." Denis tersenyum senang mendengar jawaban Syla, nanti malam ia ingin mmengajak Syla keluar. Sekedar mencari angin, bisa dibilang ajakan kencan. Kebetulan malam ini adalah malam Minggu. "Aku akan mengajakmu ke suatu tempat," ucap Denis, ia sengaja tidak menyebutkan ke mana ia akan mengajak Syla malam nanti. "Ke mana?" "Pokoknya, bersiaplah untuk malam ini." "Mas, jangan buat aku penasaran." "Tapi memang itu yang aku inginkan, membuatmu penasaran," bisik Denis tepat di telinga Syla ketika lampu merah lalu lintas menyala. "Ya sudah, aku ikut saja." "Istri yang baik, sini cium dulu." Belum sempat Denis mendapat kecupan di pipinya, bunyi klakson dari pengendara mobil di belakangnya berbunyi dengan kencang. Seolah membalaskan apa yang telah diperbuat Denis di depan rumah Darren tadi. "Astaga, sabar sedikit kenapa sih! Hampir saja aku dapat kecupan!" ucap Denis, kesal. ***** Bunda ❤️ Darren, ayahmu mengajak kencan malam ini. Darren. What? Ke mana Bunda? Bunda ❤️ Tidak tahu, dia tidak beri tahu kami akan ke mana. Darren. Have fun Bunda :* Bunda ❤️ Kamu sedang apa? Darren. Aku mau tidur, Bunda. Ngantuk sekali. Bunda ❤️ Sweet dream, baby :* Syla saling bertukar pesan dengan Darren sembari menunggu Denis yang tengah menyisir rambutnya, lelaki itu tampak sedang memberi Pomade pada rambutnya. Rambut Denis terlihat begitu kelimis. Denis terlihat sangat tampan meskipun hanya mengenakan kaus oblong dengan outer kemeja flanel, membuat lelaki itu terlihat lebih muda daripada usianya. Hal yang selalu membuat Darren kesal, karena kadang Denis berdandan seperti menyaingi pemuda itu. Sementara Syla mengenakan dress selutut berwarna pastel, rambut wanita itu sengaja digerai. Polesan riasan tipis menghiasi wajahnya. Persiapan yang ia rasa cukup untuk acara kencannya malam ini. Denis memandangi wajah Syla, tidak ada yang berubah, masih sama pertama kali ia jatuh cinta pada wanita itu. "Sudah siap?" tanya Denis. "Sudah dari tadi, Mas. Aku sudah tiga puluh menit menunggumu yang sejak tadi sibuk mengelus-elus rambutmu itu!" jawab Syla yang duduk di pinggiran ranjang sejak tadi. "Maaf. Bagaimana? Aku tampan tidak?" tanya Denis dengan percaya diri. "Tentu saja tampan, jika tidak mana mungkin aku dulu jatuh cinta padamu. Hahaha." Denis mengendus puncak kepala Syla, tak lupa ia bubuhkan ucapan pujian jika istrinya itu juga cantik. Sangat cantik. Di perjalanan, Denis masih tidak memberitahu ke mana mereka akan pergi. Syla semakin penasaran dibuatnya. Namun, penasaran itu seketika sirna saat mereka sampai di sebuah cafe. Cafe milik Denis sendiri. "Ke sini?" tanya Syla, ia memandangi wajah suaminya. Sedikit ia hempaskan punggungnya ke sandaran jok. Kalau memang hanya ke cafe milik Denis, seharusnya Syla tidak usah dandan seniat ini. "Iya, ayo turun," ajak Denis. Syla dengan enggan turun dari mobil ketika Denis membukakan pintu untuknya, lelaki itu meraih lengan Syla untuk menggandengnya. "Mas, aku malu kalau hanya ke sini dengan dandanan seperti ini. Harusnya aku pakai dress yang lebih santai lagi," bisik Syla. "Kenapa mesti malu?" Pertanyaan Denis tak lagi Syla jawab, ekspektasinya diajak kencan dan makan malam romantis buyar seketika. Denis terus menuntun Syla yang tidak berminat dengan kencan ini lagi. Untuk apa pula Denis berpenampilan necis seperti ini? Kalau hanya untuk mengajak Syla ke cafe miliknya? Mereka sampai di depan ruangan yang pintunya tertutup rapat, seorang pelayan yang berdiri di depan pintu membukakannya untuk pemilik cafe tersebut. "Silakan, Pak, Buk," ucap pelayan itu sambil menunduk hormat kepada Syla dan Denis. Ruangan itu disiapkan khusus untuk makan malam romantis mereka berdua, Denis yang memiliki inisiatif tersebut. Rasa kecewa Syla sedikit terobati. Denis menarik kursi untuk istrinya, mempersilakan Syla duduk. Denis menyodorkan menu kepada Syla, daftar makanan yang didominasi makanan western yang merupakan menu baru di cafenya. "Bagaimana?" tanya Denis setelah mereka memesan menu untuk makan malam. "Sejak kapan ada ruangan seperti ini, Mas?" Syla justru balik bertanya, ia edarkan pandangannya. "Sejak tahun lalu, aku sengaja membuat konsep ini dan asal kamu tahu, kita yang pertama mencoba ruangan ini sebelum dibuka untuk umum. Aku sengaja mempersembahkannya untukmu,"kata Denis, cafe miliknya ini terus berinovasi agar dapat mengikuti perkembangan zaman. Kelak, usaha Denis yang diturunkan dari mendiang Daddy-nya ini akan menurun ke tangan Darren juga. Maka dari itu, Denis selalu berusaha agar cafenya tetap berdiri hingga saat ini. "Jadi, kita tidak perlu cari tempat romantis lain selagi kita punya," ucap Denis lagi. Syla tak menyangka jika ia mendapatkan kejutan seperti ini, "Terima kasih, maaf aku sempat sebal tadi." "Tak apa." Mereka menikmati makan malam yang cukup romantis, malah jauh dari ekspektasi Syla karena ini memang dipersiapkan untuknya
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN