TJOL 13

1630 Kata
TJOL 13 "Yes! Aku menang lagi!" teriak Devan, disambut dengan tangisan bayi berusia sembilan bulan di depannya. Devan sangat girang, sejak tadi ia selalu menang bertanding PlayStation bersama Denis. "Karena aku tidak fokus! Kau ini, katanya kita mau ke tempat Rama!" gerutu Denis. Devan meringis kecil sembari mengangkat dua jarinya sebagai tanda maaf, Devan diberi tugas istrinya yang sedang memasak untuk menjaga anak kedua mereka. Membuat Devan harus menunda rencana mereka ke tempat Rama, bodohnya Denis menurut saja. Sejak tadi waktu mereka habiskan untuk bermain game. Meskipun sesekali direcoki dengan suara tangis putra kedua Devan. "Sini, ikut Om," ucap Denis, lelaki itu bosan setelah berjam-jam melayani Devan. Denis mengulurkan tangannya pada bocah kecil di pangkuan Devan. Bocah itu membalas uluran tangan Denis, Denis tersenyum senang. "Lucu sekali, kamu," ucap Denis gemas, ia ciumi pipi gembul itu. Bocah kecil itu tertawa riang, tawa yang sudah lama tidak Denis dengar. "Kau tidak kepengen?" Ledek Devan pada sahabatnya itu. Diantara Devan, Rama, dan Denis, hanya Denis saja yang memiliki seorang putra. Rama memiliki anak sepasang, begitu juga dengan Devan. Mungkin Devan masih akan menambah lagi, karena diantara ketiganya istri Devan yang paling muda. "Tentu saja, kita sedang berusaha." "Ingat umur, kau ini jangan mengada-ada!" "Iya juga sih, hahah. Aku takut juga nanti anak-anakku tumbuh besar, tanpa sosok ayah jika ia dewasa karena sekarang saja aku dan Syla sudah terlalu tua untuk memiliki bayi lagi," ucap Denis, berbanding terbalik dengan apa yang ia ucapkan pada Syla. Jujur saja apa yang ia ucapkan kemarin hanya untuk menghibur hati sang istri, Syla selalu sedih jika membahas momongan. "Makanya, nikmati saja waktumu bersama istrimu. Ah, anakmu tidak kau ajak sekalian? Padahal aku sangat ingin bertemu calon menantuku. Hahaha. Apakah dia tampan? Kita sudah lama tidak bertemu lagi." "Tentu saja! Kau tidak lihat bapaknya! Memangnya kau masih berharap kita jadi besan?" "Ya siapa tahu Thalita memang jodohnya Darren? Hahah." "Kita memang tidak tahu, sih." "Iya , makanya. Kapan kita ketemu? Minimal saling mengenalkan lah. Urusan mereka saling suka itu belakangan." "Nanti saja, kalau dia sudah benar-benar bisa berjuang dengan kakinya sendiri. Lagipula anakmu juga masih SMP, kan!" ucap Denis, ia tidak serta-merta mengatakan jika Darren juga berada di kota yang sama dengan Devan. "Pelit amat, Pak. Anak satu-satunya masih disuruh bersusah-susah dahulu. Untuk siapa perusahan, cafe, dan pabrikmu itu?" "Justru itu, aku tidak mau dia jadi anak yang manja, Van. Kau mau, dia cuma apa-apa mengandalkan aku? Jika nanti ada masalah di pekerjaannya? Kasarnya jika dia bangkrut, dia tidak akan mampu bangkit sendiri kalau masih mengandalkan aku." "Benar juga, sih. Hahaha, aku bahkan tidak berpikir sampai ke sana. Ya sudah, aku tunggu putramu sukses dulu saja!" ucap Devan bercanda, meskipun sedikit banyak ia berharap juga. "Terserah kau saja, Van." "Lalu, kenapa tidak kau kirim saja dia ke sini?" Celetuk Devan, Denis hampir saja tersedak ludahnya sendiri. "Na-nanti ada waktunya dia aku tugaskan di sini, biar dia kuliah dulu," ucap Denis, dalam hati ia lapalkan permintaan maaf karena sudah berbohong pada sahabat lamanya itu. Eva, istri Devan. Sudah selesai memasak, ia mengambil alih putranya dari gendongan Denis. Lalu, wanita itu meminta Devan dan Denis untuk makan siang bersama. "Kak Denis, makan siang sekalian," ucap Eva, ia memanggil teman-teman Devan dengan sebutan kakak. Pernah sekali Eva salah memanggil teman pria Devan dengan sebutan 'Mas', Devan marah besar. Bagi Devan panggilan itu terlalu mesra untuk ditujukan kepada pria lain selain dirinya. Tidak jauh dari Denis, Devan tingkat bucinnya juga sangat tinggi. Bahkan melampaui kedua sahabatnya. "Makanlah, baru pertama, kan kita makan bareng di rumahku?" tanya Devan disertai tawanya meledak, Denis hanya tersenyum miring. Dari ketiganya, Devan memang yang paling pelit. Dia selalu perhitungan pada sahabatnya, ia lebih suka ditraktir daripada mentraktir. Berhubung hari ini ia yang mengundang Denis, bolehlah sekalian makan di rumahnya. Untuk besok-besok? Devan tidak tahu, lihat saja suasana hatinya. "Istrimu tidak makan sekalian?" "Kenapa? Kau mau makan bareng istriku juga!" Denis mendengus sebal, dari nada bicaranya sepertinya Devan kesal dengan pertanyaannya itu. "Bukan begitu, Van. Ah, sudah lah. Ayo makan, daripada kau merasa cemburu padaku," kata Denis mengakhiri pertanyannya yang tak menemukan jawaban dari Devan, daripada nanti Devan berubah pikiran dan mereka tidak jadi makan. Denis dan Devan pamit kepada Eva setelah acara makan siang mereka, keduanya akan ke rumah Rama yang sejak tadi menunggu kedatangan para sabahatnya. Seperti biasa, Devan memilih menumpang mobil Denis, dengan segala alasan yang dilontarkannya. "Dasar! Kau tak pernah berubah, Van!" gerutu Denis, tapi ia bisa memaklumi. Denis juga tahu sifat Devan seperti itu hanya pada sahabatnya saja, karena Devan pikir Denis dan Rama berada di atas level Devan. Jadi, Devan memanfaatkan situasi itu. Toh keduanya tidak pernah mempermasalahkan, meskipun kadang disertai gerutuan. "Gila! Memang jarak rumah Devan dengan rumahku beratus-ratus kilometer!" Semprot Rama di depan gerbang, menyambut kedatangan Devan dan Denis. "Kita nyasar dari jam dua belas tadi, makanya sekarang baru sampai!" Canda Denis, Rama melotot garang. Mereka berkata akan datang sekitar jam 11 siang dan baru sampai jam 14:00. Tiga jam Rama mengunggu dan kopi yang sudah ia siapkan benar-benar sudah dingin, padahal jika perjalanan normal hanya butuh waktu 5-15 menit saja dari rumah Devan ke rumahnya. Apalagi Denis tadi berkata sudah sampai di rumah Devan. "Maklum lah, kadang-kadang semuanya tidak sesuai rencana, kan. Molor sedikit tak mengapa, yang terpenting kita sampai juga di sini. Bukan begitu Bapak Denis?" ucap Devan untuk menutupi kesalahannya. "Iya benar, termasuk harus siap juga menjadi b***k game dia selama istrinya memasak, sambil jagain putranya!" ujar Denis disertai cibiran untuk Devan, tentu saja membuat Rama tertawa kencang. "Astaga, Bapak-bapak satu ini. Memang suami idaman, momong anak dulu ya, Pak?" ledek Rama, wajahnya terlihat puas saat Devan tak membalasnya. "Pak Rama, sudahlah. Kau tidak ingin mempersilakan kedua tamu mu ini masuk?" tanya Devan, mencoba mengalihkan topik pembicaraan karena ia sudah tidak mampu melawan balik kata-kata Rama. "Tentu saja, ayo silakan masuk. Sudah lama sekali kita tidak berkumpul seperti ini." Ramaa mengajak keduanya masuk ke dalam rumahnya, cukup ramai orang berlalu-lalang di rumah minimalis modern itu untuk mempersiapkan acara besok. "Ke lantai atas saja ya, di sini banyak orang," kata Rama, Denis dan Devan mengikuti titah tuan rumah. Mereka duduk di ruang keluarga, Rama meminta asisten rumah tangganya untuk kembali membuatkan kopi. Mengganti kopi yang sudah dingin tadi dengan yang baru. "Mana anakmu?" tanya Devan yang tak melihat putra dan putri Rama. "Si bungsu tadi ikut Diva dan Mama ke pasar, si sulung di kamarnya." "Putramu cukup berani juga, minta khitan." "Dia, kan, sudah 10 tahun lebih. Jadi ya memang sudah sewajarnya." "Bener kata Rama, dari kita bertiga kamu yang belum mengkhitankan anakmu!" seloroh Denis. "Kau lupa, Pak? Ya mana bisa aku khitankan Thalita, aku berharapnya sih menikahkan Thalita dengan putramu! Hahahah." "Hahaha, ternyata masih sama saja seperti dahulu!" Rama tertawa jika mengingat Devan begitu ngebetnya menjadikan Darren menantunya. **** "Aku pamit," ucap Denis, ia sudah berdiri dan memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya. "Buru-buru banget, Pak! Kita di sini baru dua jam loh! Nanti lah, kita pulang habis Maghrib," bujuk Devan, ia masih betah di rumah Rama. "Bini sudah telpon, aku mau jemput dia." Denis menyesal dan tetes terakhir gelas kopi ketiganya yang disuguhkan Rama. "Lah, kenapa tadi tidak diajak ke sini sekalian sih! Kita, kan bisa lebih lama lagi di sini." "Dia ada acara, Van." "Ya wis lah, tapi kau antar aku pulang dulu, kan?" "Naik ojek atau taksi online saja! Arah kita berlawanan!" "Yah, Pak. Kau tega sekali!" Rengek Devan, Rama lagi-lagi hanya tertawa. Denis tak menghiraukan rengekan Devan, Syla lebih ia prioritaskan. Daripada nanti ratunya itu marah, bisa gawat. Denis tak bisa berkutik kalau sampai Syla marah padanya. "Rama, kau bisa antar aku pulang, kan?" Tatapan mengiba Devan yang tertuju padanya, membuat Rama risih. Ingin rasanya ia menampol muka melas Devan itu, tetapi tetap saja ia tidak tega. Rama mengangguk setengah hati, akhirnya mengiakan permintaan Devan tersebut. Baru kali ini tuan rumah mengantarkan tamunya pulang. Siapa lagi kalau tamu tidak tahu diri itu adalah Devan. "Terima kasih, loh. Besok aku akan datang pertama di acara syukuran putramu," ucap Devan semangat setelah mendapat tumpangan dari Rama. Rama hanya tersenyum kecil, tidak percaya apa yang Devan katakan. Ia tahu betul tabiat Devan, si jam karet. "Kalau kau sampai terlambat datang, apa ada konsekuensinya?" "Kon-konsekuensi? Maksudmu?" "Sudah lah, lupakan saja! Hahaha," ucap Rama akhirnya, ia melihat wajah pucat Devan mengenai konsekuensi yang bisa saja ia dapat. Rama menolak saat Devan menawarinya mampir, hari sudah sore dan masih banyak pekerjaan yang harus Rama selesaikan untuk acaranya besok. "Terima kasih!" Teriak Devan saat Rama mengemudikan mobil menjauh dari rumah Devan, ia lalu masuk ke dalam rumah saat mendengar putranya menangis. Tidak tega membuat Eva kewalahan. "Dari mana?" tanya Diva saat Rama sampai di depan rumah, Diva berdiri di ambang pintu menunggu suaminya itu mendekat. "Mengantar Devan pulang," jawab Rama, ia kecup lembut kening Diva yang wajahnya tampak marah. "Aku menelponmu beberapa kali, tapi kamu tak mengangkatnya." "Iya, maaf ya Sayang. Kenapa? Ada apa? Kamu perlu bantuan?" Rama menggandeng lengan Diva, mengajaknya masuk ke dalam rumah. Banyak orang yang tengah memasang tenda di depan rumah mereka memperhatikan keduanya. "Tadi, sebenarnya aku mau minta kamu buat bantuin ambil belanjaan. Mobil yang kita pakai tidak muat." "Maaf, Sayang. Jadi sekarang gimana? Sudah diangkut?" Rama duduk di sofa ruang tamu, Diva ikut duduk di samping suaminya. "Sudah, tadi Mama minta sopir buat kembali ambil." "Syukurlah, maaf tadi ada Devan dan Denis ke sini. Jadi aku tidak tahu kalau kamu telpon." "Hmm, aku lelah, Mas," ucap Diva manja, seminggu ini ia sibuk mempersiapkan syukuran khitanan putra sulungnya membuat Diva kelelahan. "Istirahatlah, biar sisanya aku yang urus. Semoga besok acaranya lancar." "Aamiin, aku ke kamar dulu." "Iya, aku mau lihat ke depan yang masang tenda." Diva mengangguk. Rama keluar rumah dan Diva menuju ke kamarnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN