Bagian 1 Awal dari Segalanya
Namaku Reza, anak kedua dari tiga bersaudara. Aku lahir di sebuah desa kecil di pinggiran Jawa Tengah. Ayahku adalah seorang petani yang hanya memiliki sebidang sawah kecil, sementara ibuku bekerja sebagai penjahit rumahan. Hidup kami sederhana, bahkan bisa dibilang pas-pasan, tapi penuh cinta. Setidaknya, itu yang dirasakan adik dan kakakku. Aku berbeda.
Sejak kecil aku merasa dunia tak adil. Saat teman-temanku bisa bermain dengan bebas, aku harus membantu orang tua di sawah atau mengantar jahitan ibu ke rumah-rumah tetangga. Ketika menginjak remaja, rasa iri itu berubah menjadi dendam. Aku mulai merasa muak dengan kemiskinan, dengan kehidupan yang itu-itu saja. Aku mulai membangkang, membantah setiap nasihat ayah dan ibu.
"Reza, belajar yang rajin, Nak. Kamu bisa mengubah nasib keluarga kita," kata ibu suatu malam ketika aku duduk sambil memainkan ponsel hasil pinjaman dari teman.
Aku mendengus. "Belajar itu nggak bikin kaya, Bu. Lihat Ayah, lulusan SMP, kerja keras seumur hidup, tetap miskin. Aku mau kerja aja, cari duit."
Wajah ibu tampak sedih. Tapi seperti biasa, beliau hanya diam. Air matanya tak pernah jatuh di depanku, tapi aku tahu malam itu ia menangis.
Beberapa bulan kemudian, aku memutuskan berhenti sekolah saat kelas dua SMA. Tanpa pamit, aku pergi ke kota dengan seorang teman yang katanya punya kenalan di bengkel motor. Kupikir, bekerja dan menghasilkan uang akan membuatku merasa lebih berharga. Nyatanya, hidup di kota tak semudah yang kubayangkan.
Bekerja di bengkel ternyata lebih melelahkan daripada belajar di sekolah. Aku hanya dibayar seadanya, dan kadang-kadang malah dibentak atau disuruh membersihkan toilet bengkel. Tapi aku gengsi untuk pulang. Aku terlalu malu mengakui bahwa ibu benar.
Tahun-tahun berlalu, dan kesalahanku makin menumpuk. Aku terjerat pergaulan yang salah, mulai kenal rokok, alkohol, bahkan hampir terlibat pencurian motor. Untungnya, aku keburu sadar dan menjauh sebelum semuanya terlambat.
Puncaknya, aku pulang ke rumah dalam keadaan mabuk. Malam itu aku membawa segerombolan teman yang membuat keributan di sekitar rumah hingga tetangga mengancam melapor ke RT. Ayah tak berkata apa-apa, hanya menatapku dalam diam. Ibu memelukku sambil menangis, dan dengan suara bergetar, ia berkata, “Reza… Nak, kamu bukan anak yang kami kenal lagi…”
Dan di situlah titik balik hidupku dimulai.