AMITA - ANAK KECIL TANPA KEPALA

2254 Kata
Anak kecil itu terus mengikutiku. Dia terus memanggil-manggil namaku. Entah apa yang dia inginkan, tapi kali ini aku merasa sangat terganggu dengan sikapnya yang seolah-olah ingin mengajakku bermain. “Kakak…” “Kakak…” “Kakak, lihat itu kak. Lihat itu kakak.” Aku langsung memalingkan tubuhku dan refleks aku langsung membentaknya, “Ada Apa! Kamu bisa tidak sih enyah dari sini.” Aku membentaknya dengan suara yang terdengar sangat keras. “Kakak, tidak suka ya kalau aku di sini nemenin kakak?” Tanya gadis kecil itu dengan wajah yang memelas dan perlahan dia mulai memasang kepalanya lagi yang sedari tadi selalu ia tenteng kemana-mana. Aku membuang nafasku dengan sangat kesal, dan ku putarkan kelopak mataku dengan sangat kesal. Didalam hatiku aku merasa sangat jengkel kepadanya. Bisa-bisanya dia bertanya kepadaku apa aku tidak menyukainya. Tanpa harus ditanya, seharusnya ia sudah tahu kalau aku tidak menyukainya. Keberadaannya sangat menggangguku. “Kakak?” panggilnya dengan suara yang terdengar begitu lirih. “Apa!” ku jawab dengan nada yang terdengar begitu ketus, tanpa kupalingkan tubuhku darinya. “Aku Cuma ingin menemani kakak. Aku tidak ingin kakak tersesat didalam hutan kramat itu. Kakak mempunyai energi yang begitu kuat, sehingga membuat mahkluk-mahkluk sepertiku akan menyukai kakak.” Jelasnya dengan bola mata yang memancarkan cahaya yang berbinar-binar. “Iya! Termasuk kamu kan. Kamu juga menyukai aku kan.” Jawabku dengan begitu ketus “Kenapa Kakak mengatakan hal seperti itu sama aku? Aku Cuma ingin membantu kakak, agar pointku bertambah dan aku bisa segera naik ke atas kak. Aku tidak pernah mempunyai maksud jahat kepada kakak.” Kini ia mulai meneteskan air matanya dan sesekali ia selalu mengusap-ngusap matanya. Entah kenapa aku merasa bersalah kepadanya. Mungkin perkataanku tadi begitu menyakitinya. Mungkin saja maksudnya itu baik, tetapi kondisku yang sudah terlalu letih akhirnya membuat aku tidak bisa berpikir jernih. “Maaf.” Kataku dengan singkat Ia yang mendengarkanku mengucapkan kata maaf, lantas langsung tersenyum kepadaku dan tiba-tiba saja, wajahnya tadi yang terlihat begitu menakutkan kini telah berubah menjadi begitu cantik, mempesona. Wajahnya terlihat begitu memancarkan cahaya yang berwarna kuning keemasan. “Ayo kak.” Tiba-tiba saja ia langsung menarik tanganku dan ia segera mengajaku pergi “Tunggu … Tunggu … Tunggu dulu. Kenapa kamu sekarang menjadi sangat bersemangat?” “Tentu saja aku sangat bersemangat. Tadi aku kan sudah mengatakan kepada kakak, bahwa aku ingin membantu kakak, agar pointku bertambah dan aku bisa segera naik keatas.” “Hah? Maksud kamu apa? Kenapa kamu membutuhkan ku, untuk menaikan poitnmu?” Tanyaku kepadanya dengan wajah yang terlihat begitu kebingungan. Dia mencoba menarik nafas, dan kini ia mulai bercerita tentang diriny. “Oke, pertama-tama kenalin nama aku Roro kak. Aku sebenarnya sudah ber-umur delapan puluh Sembilan kak, tetapi karena aku meninggal di usia yang masih belia jadi aku memiliki tubuh yang kecil seperti ini.” “Lalu? tapi tunggu dulu, bukanya mahkluk seperti yang tidak bisa naik keatas itu tetap bisa tumbuh ya? Tetapi kenapa tubuhmu masih sekecil ini?” tanyaku sembari aku melihatnya dari ujung kaki sampi ke ujung kepalanya, aku berusaha mencari keberananya. “Iya, kak. Kakak memang benar. Aku memang tumbuh kak, tetapi aku tidak menyukai tubuhku yang sudah menua, aku lebih menyukai tubuhku yang seperti ini.” “Ooo … begitu. Lalu lanjutkan ceritamu lagi. Sebelum kamu mengikutiku,  aku harus mengetahui terlebih dahulu asal usulmu. Aku bukanlah orang yang mudah mempercayai orang lain.” “Oke aku akan menjelaskan kepada Kakak sedetail mungkin. Jadi begini kak.” Ia menghela nafasnya dengan begitu dalam, “saat itu umurku masih dua belas tahun Kak. Dan saat itu ayahku adalah seorang pejabat daerah waktu itu. Pada awalnya aku begitu dicintai oleh para pelayanku. Apapun yang aku mau pasti langsung terpenuhi. Karena aku berasal dari keluarga berada dan saat itu keluargaku sangatlah kaya raya, sehingga membuatku menjadi anak yang sangat sombong dan angkuh. Aku selalu semena-mena dengan para pelayanku, maupun dengan orang-orang yang berasal dari kaum bawahan. Aku selalu membentak-bentak mereka, bahkan aku tidak akan segan-segan untuk memukul dan menggurung mereka yang tidak patuh kepadaku di sebuah gudang bawah tanah milik keluargaku yang sangat gelap dan pengap. Aku mengurung mereka sampai berhari-hari tanpa makanan sedikitpun. Dan suatu ketika aku sangat marah dengan teman sepermainanku, aku memukulnya dengan sebongkah kayu dan aku mengurungnya di gudang bawah tanah miliku tanpa makanan dan minuman. Hal itulah yang membuat temanku itu meninggal karenaku.” Ia mulai menitikan air matanya. “Tunggu! Kamu masih sangat kecil tetapi kenapa kamu sangat kejam Roro.” Vonisku kepada Roro yang saat itu mengatakan kepadaku tentang kisah masa lalunya yang begitu kelam. “Iya kak, memang dulu aku sangatlah kejam.” Suaranya terdengar begitu lirih. “Oke, lanjutkan ceritamu.” Pintaku kepada Roro, dengan muka yang sangat antusias. “Aku begitu shock dengan apa yang aku perbuat kak. Saat itu aku menangis dan meminta maaf kepada orang tua temanku. Tetapi karena orang tuaku adalah orang yang terpandang pada saat itu, sehingga membuat kedua orang tuaku gelap mata dan mereka langsung mengancam semua pelayanku untuk tidak membocorkan rahasia kelamku dan mayat temanku langsung di berikan kepada harimau peliharaan salah satu orang Belanda yang sangat tersohor saat itu. Dan singkat cerita, aku menjadi orang yag sangat pemurung. Aku merasa sangat bersalah kepada temanku. Aku selalu dihantui oleh rasa bersalah. Tidurku menjadi sangat tidak nyaman. Dan hal itulah yang membuatku memberanikan diri untuk datang ke rumah orang tua mendiang temanku itu. Dan disana lah aku dihabisi oleh ayah temanku. Kepalaku dipukul dengan sangat keras sehingga membuatku tak sadarkan diri, lalu saat aku terbangun. Tubuhku sudah diikat dengan sangat erat, dan ketika ayahnya melihatku sudah siuman, maka ia langsung melanjutkan aksinya untuk menghabisiku. Ia mulai menggoroku dengan sangat keji dan setelah aku terkapar tak berdaya, ia mulai membuang mayatku ke sebuah jurang yang sangat dalam. Dan sejak saat itu mayatku tidak pernah ditemukan, dan sejak saat itu aku menjadi arwah yang bergentayangan. Aku ingin sekali naik ke atas untuk menjalani hukumanku, tetapi itu semua tidaklah mudah, karena tubuhku belum ditemukan dan aku juga memiliki banyak sekali dosa sehingga aku dihukum seperti ini. dan itulah alasanku ingin membantu orang-orang agar aku mendapatkan point dan membuatku bisa segera naik ke atas.” “Waow, ceritamu panjang sekali yang Roro. Tapi menarik juga sih kisahmu itu haha.” Roro hanya menjawabku dengan senyuman yang terlihat begitu manis dan mempesona.  Tetapi entah kenapa aku menjadi sangat penasaran dengan kisahnya Roro. “Roro, kamu kan ini menjadi arwah yang selalu bergentayangan, lalu apakah kamu pernah merasakan rasa takut yang luar biasa dalam dirimu? Dan apakah selama masa penebusan dosamu ini, kamu tidak bertemu dengan teman masa lalumu yang kamu bunuh dengan kejinya?” tanyaku kepadanya. Sebelum Roro menjawabku, tiba-tiba saja angin berhembus dengan sangat kencang, sehingga membuat pepohonan yang berada disekitarku menari-nari mengikuti arah angin membawanya.               “Amita, sebaiknya kita segera bergegas meninggalkan tempat ini.” raut wajah Roro yang semula terlihat begitu bersemangat kini berubah menjadi pucat pasi. Entah apa yang sedang Roro alami, tetapi aku dapat merasakan rasa takut yang teramat dalam terpancar didalam benak Roro. Aku mengikuti langkah Roro yang terkesan begitu tergesa-gesa. Dan tiba-tiba saja Roro menariku kedalam balik pohon tua yang sangat besar. pohon yang bisa aku prediksi berumur ribuan tahun, dengan diameternya seratus senti meter. Ya pohon ini terlihat begitu besar. akarnya terlihat begitu kuat dan kokoh, ranting-rinting pohon terlihat begitu rindang dengan dedaunan yang berjumlah sangat banyak dan begitu lebat. “Tunggu dulu, tunggu. Kenapa kamu memintaku untuk mengikutimu dan bersembunyi disini? Kenapa ini?” “Sudah, nanti akan aku jelaskan, sekarang yang terpenting adalah kita harus segera menemukan tempat yang aman untuk bersembunyi.” “Tidak! Aku tidak mau mengikutimu. Aku tidak tahu kamu dan asal usulmu saja sangat mengerikan. Bagaimana bisa aku mempercayaimu. Iya kalau kamu memiliki niat yang tulus untuk membantu, tetapi jika niatanmu itu sangatlah busuk bagaimana?” Aku menarik tanganku yang sedari tadi Roro pegang dengan sangat erat. Aku tidak ingin begitu saja terpengaruh dengan Roro. Aku tidak ingin terjatuh kedalam lubang kesalahan yang sama lagi. “Amita, aku mohon tolong percayalah denganku. Amita tolong ingat tujuan awalmu datang kesini adalah untuk menyelamatkan kedua orang tuamu dan anakmu bukan? Lalu bagaimana caramu bisa menyelamatkan kedua orang tuamu, jika kamu saja akan segera tertangkap oleh para mahkluk gelap tersebut.” Penjelasan yang diberikan Roro kepadaku membuatku sedikit ketakutan. ya, memang tujuan awalku datang kesini adalah untuk menyelamatkan nyawa kedua orang tuaku, tetapi …. “Amita! Ayo. Cepatlah.” Aku yang sudah tidak memiliki pilihan lain lagi, akhirnya pasrah dan menurut saja dengan perintah yang diberikan Roro kepadaku. Aku segera bergegas berlari menuju Roro yang sudah menungguku. Roro segera menunjukan sebuah lubang besar yang berada di bawah akar pohon besar tersebut. “Ayo Amita masuk, cepat.” “Roro kamu yakin lubang ini adalah tempat yang aman? Maksudku ini kan dihutan dan itu lubang terletak di bawah akar pohon yang begitu besar. apakah didalam lubang tersebut tidak ada hewan buas maupun hewan berbisa lainnya?” aku sedikit khawatir jika didalm lubang besar dan gelap itu ada sebuah ular berbisa sedang tertidur maupun sedang menunggu mangsa “Kamu tenang saja Amita. Ayo cepatlah, jangan membuang-buang waktu kita Amita!” bentak Roro kepadaku dengan suara yang terdengar begitu keras. Tiba-tiba saja, ranting pohon bergerak dengan sangat cepat. Gerakan ranting pohon itu mengarah kepadaku untuk menuntunku agar segera masuk kedalam lubang tersebut. Aku yang tersentak kaget, refleks langsung masuk kedalam lubang yang sangat besar dan gelap itu. Tiba-tiba saja lubang tersebut menutup dengan sendirinya. Aku yang melihat hal tersebut sontak kaget dan berteriak dengan sangat histeris. Namun, Roro mencoba untuk menenangkanku dan mengatakan kepadaku untuk tenang terlebih dahulu. “Amita, tenang. Aku mohon tenanglah. Kita aman berada dibawah sini.” Jelas Roro kepadaku, sembari ia memegang pundaku dengan sangat lembut dan berkali-kali ia selalu mengucapkan kata-kata tenang  dan sabar. Kulihat sorot mata yang dipancarkan Roro begitu tenang dan meneduhkan hatiku. Perlahan aku mulai merasa tenang dengan petuah-petuah yang diberikan Roro kepadaku. “Kamu sudah tenag bukan? Kalau kamu sudah tenang mari kita turuni anak tangga tersebut dan kita lihat apa yang ada dibawah pohon ini.” ajak Roro kepadaku, dan perlahan aku mencoba untuk membalikan tubuhku. Betapa terkejutnya aku ketika aku melihat pohon ini menyimpan begitu keindahan yang sangat luar biasa, keindahan yang ia pancarkan tidak dapat dilukiskan oleh kata-kata. “Roro ….” Aku berjalan dengan pandangan mata selalu melihat keindahan dinding pohon besar ini. dinding pohon besar ini dikelilingi oleh banyak sekali batu permata yang begitu indah dan mengkilap. Aku berjalan perlahan dan karena rasa penasaranku yang begitu tinggi aku memutuskan untuk memegangnya. Refleks aku langsung melepaskan tanganku dari bebatuan permata tersebut. Keindahan yang ia pancarkan tidak sesuai dengan apa yang sedang aku lihat tadi. Aku benar-benar tidak habis pikir bagaimana bisa aku melihat kejadian yang sangat buruk menimpa seluruh umat di seluruh alam semesta ini. Tepukan Roro menyadarkanku, “Amita? Kamu tidak apa-apa bukan?” “Ah, iya aku tidak apa-apa Roro.” “Baiklah kalau begitu, mari kita turun.” “Tetapi tunggu dulu Roro, bagaimana perjalananku untuk misi menyelamatkan kedua orang tuaku? Bukankah kita sudah terlalu banyak ya membuang-buang waktu kita disini?” aku mencoba menjelaskan tujuan awal diriku datang kemari adalah untuk menyelamatkan nyawa kedua orang tuaku, bukan untuk bermain-main bersama Roro. “Iya Amita, aku tahu apa tujuan kamu datang kealam kami. Tetapi lihat diluar. Diluar situasinya tidak memungkinkan. Situasi diluar sangatlah kacau, mahkluk-mahkluk dari alam kegelapan telah muncul dengan pasukannya. Jika mereka melihatmu, mereka tidak akan pernah melepaskanmu Amita. Ingat Amita kamu memiliki jiwa yang sangat murni dan suci. Jangan biarkan mahkluk dari kegelapan malam menguasaimu.” Aku mencoba membuktikan perkataan yang diucapkan oleh Roro kepadaku, aku melihat situasi luar dari balik batang pohon ini yang ternyata bisa tembus keluar. Aku sanngat ketakutan melihat kebringasan mereka kepadaku. Ditengah perdebatanku dengan Roro, tiba-tiba saja munculah sebuah suara yang misterius, “Cepat turun, cepat tinggalkan tempat ini. wahai manusia, bau kamu sudah mulai tercium oleh kaum mereka. Jika kamu ingin mati sia-sia maka tetaplah menetap disini, tetapi jika kamu masih ingin hidup maka, cepatlah turun kebawah!” “Baik Ibu Ratu, kita akan segera menuruni anak tangga ini. Ayo Amita cepatlah. Waktu kita tidaklah lama.” Bujuk Roro kepadaku lagi. Aku segera bergegas berlari mengikuti langkah kaki Roro. Tap …. Tap …. “Roro … Roro … cukup. Tolong berhentilah, aku sudah sangat lelah Roro. Mari kita beristirahat terlebih dahulu.” Nafasku terasa begitu sesak dan sesekali aku mencoba menghirup nafas dengan begitu kuat. Aku merasa tubuhku terasa begitu kaku dan lelah. Roro yang melihatku akhirnya menghentikan langkahnya, dan ia mulai menghampiriku dan ia mulai duduk disampingku. “Kamu sangat lelah Amita?” Tanyanya kepadaku dengan raut wajah yang terlihat begitu polos. Aku menjawabnya dengan sebuah anggukan saja. aku sudah sangat lelah dan aku sudah sangat banyak kehilangan tenagaku. “Ini, minumlah.” Roro menyodorkankan sebuah gelas yang terbuat dari batang pohon bambu. “Apa ini Roro?” tanyaku dengan dahi yang mengeryit. “Minumlah kamu akan tahu minuman apa ini. cepat minumlah Amita, jangan ragu-ragu. Minumlah.” “Oke, oke.” Karena desakan dari Roro akhirnya membuatku bersedia meminum air yang diberikan Roro kepadaku. Glek … Glek … Glek … Aku meminum semua air itu tanpa sisa, dan tiba-tiba saja aku merasakan energy dalam tubuhku kini kembali lagi. Mataku yang tadi sudah terasa begitu kaku dan lemah, kini mataku terasa begitu bersinar. Tubuhku yang tadinya terasa begitu lungrah, kini tubuhku sudah terasa begitu fit dan bugar. “Wah, Roro minuman yang kamu berikan kepadaku memang berkashit.” Pujiku kepada Roro dengan wajah yang berbinar-binar. Roro yang melihatku begitu bahagia hanya bisa mengembangkan senyumannya yang begitu indah dan cantik.      
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN