“Mas, itu kenapa Amita teriak?” ucap Agni dengan begitu panic. Mendengar hal itu membuat Candra dan Agni langsung lari dan mencari Amita.
“Kamu kenapa Mit? Kenapa?” tanya Agni dengan begitu panic.
“Mbak … perut aku rasanya sakit banget Mbak. Arghh ….. Mbak sakit banget!” teriak Amita sambil ia mencengkram tangan Agni dengan begitu erat.
“Mas aku rasa Amita akan melahirkan Mas. Mas sebaiknya panggil dukun beranak sekarang mas. Mas buruan kasihan Amita!” perintah Agni kepada Candra.
“Dukun beranak siapa yang aku panggil? Aku gak tau dukun beranak di sini,” ucap Candra yang tak kalah paniknya dengan Agni.
“Terserah Mas! Dah buruan mas, kasihan Amita”
“Oke …” candra langsung berlari mencari dukun beranak untuk membantu proses kelahiran adiknya.
“Mbak … sakit banget mbak. Mbak aku udah gak tahan lagi Mbak. Aku udah gak tahan. Mbak kalau aku pergi, aku titip anak aku ke Mbak Agni ya Mbak.”
“Husss … kamu mau kemana? Kamu itu yang bakal ngerawat anak kamu. Masa aku yang harus ngerawat anak kamu,” ucap Agni mencoba untuk terus memberikan motivasi kepada Amita agar tetap semangat untuk melahirkan putra semata wayangnya.
“Mbak, aku percaya dengan Mbak Agni dan Mas Candra. Aku percaya kalian. Aku yakin kalau anak aku akan baik-baik saja jika bersama Mbak Agni dan Mas Candra.”
Suasana saat itu terasa begitu mencekam, di satu sisi Amita sedang berjuang untuk melahirkan putra semata wayangnya, sedangkan di sisi lain Kedua orang tua Amita juga sedang berjuang untuk tetap bertahan.
Hujan turun dengan begitu deras dengan iringan angin yang begitu kencang serta kilat yang terus menyambar-nyambar. Entah apa yang akan terjadi kepada anak Amita dan kedua orang tuannya.
“Ibu … ayo tarik nafas … pelan-pelan ya Ibu. Ayo ibu terus dorong bu, terus dorong … sedikit lagi bu. sedikit lagi,” ucap dukun beranak tersebut kepada Amita.
Dengan sekuat tenaga, Amita berjuang untuk melahirkan putra semata wayangnya agar bisa terlahir dengan begitu sempurna.
“Birendra !” teriak Amita sambil terdengarlah suara tangisan seorang bayi dengan begitu kencang.
“Mas .. anaknya Amita telah lahir,” ucap Agni yang merasa begitu bahagia karena ia telah resmi menjadi seorang Budhe.
“Iya Agni .. iya … keponakanku akhirnya lahir juga. seadainya ibu dan Bapak sudah sadar maka akan lengkap kebahagian kita,” ucap Candra dengan mata yang berkaca-kaca.
“Ibu … Anaknya laki-laki dan sehat,” jelas dukun beranak tersebut kepada Amita yang menitikan air mata kebahagian.
“Sayang … anak Ibu … terima kasih telah hadir dalam kehidupan Ibu. Ibu bangga mempunyai kamu. Tapi ibu minta maaf, karena ibu tidak akan pernah bisa menemanimu sampai kamu dewasa, ibu minta maaf. Ibu sayang kamu Birendra. Ibu sangat sayang kamu,” ucap Amita sambil ia mencium kening Birendra dengan begitu lembut.
“Lhoh ibu mau kemana? Ibu istirahat saja. biarkan saya yang memberikan kabar kepada keluarga ibu,” ucap dukun beranak tersebut sambil ia menggendong Birendra.
“Ibu, saya titip pesan ya. tolong sampaikan ke keluarga saya kalau saya akan pergi untuk melakukan sesuatu hal dan titip anak saya. Kelak saya akan kembali,” ucap Amita sambil ia langsung pergi begitu saja dengan gerombolan orang-orang berjubah putih.
“Ibu … Ibu mau pergi kemana? Bagaimana dengan Birendra?” teriak dukun beranak tersebut hingga membuat Agni dan Candra masuk kedalam kamar Amita.
“Ada apa mbok? Terus dimana Amita?” tanya Candra
Dukun beranak tersebut menceritakan semuanya kepada Agni dan Candra. Setelah mendengar hal tersebut langsung membuat Agni dan Candra merasa begitu sedih, kesal, dan lemas. Mereka tidak habis pikir kalau Amita akan pergi dengan begitu saja.
“Amita … kamu mau pergi kemana?” isak Candra sambil ia memeluk Birendra.
.
.
Langkahku terasa begitu gontai. Berat rasanya meninggalkan keluargaku dan kota tercintaku demi sebuah misi rahasia yang harus aku pecahkan. Ku tengok sekilas rumahku yang berdiri begitu kokoh namun, kini terlihat begitu rapuh.
“Bapak … Ibu … Amita berjanji akan menyelasaikan semua permasalahan yang menimpa keluarga kita. Amita janji.” Itulah janji yang aku ucapkan sebelum aku melangkahkan kakiku meninggalkan kediamanku.
Aku melihat jendela kamarku dan kulihat kedua kakaku sedang menangisi kepergianku. Berat rasanya meninggalkan keluarga serta anak yang baru saja aku lahirkan, namun apa boleh buat. Ini adalah cara yang bisa aku lakukan untuk menyelamatkan keluargaku.
“Amita! Kamu pasti bisa. Ayo semangat Amita, semangat You can do it.” Aku menyemangati diriku sendiri dan aku mulai melangkahkan kakiku menepaki setiap jalanan beraspal ini. karena perjalanan yang aku jalani ini adalah sebuah perjalanan yang mengunakan kekuatan batin, jadi aku disarankan oleh orang-orang pintar untuk menjalani misiku dengan berjalan kaki dan siap atau tidak aku akan menjalani perjalanan dua dimensi.
#FLASHBLACK
“Nak Amita, nanti di saat kamu mendapatkan jalan bercabang lima dengan di tengah-tengahnya ada sebuah pohon beringin besar, kamu pilihlah jalan yang ada sebuah aliran sungai kecil dengan air yang terlihat begitu jernih. Ikutilah aliran air tersebut dan kamu nanti akan mengalami perjalanan dua dimensi.”
Aku hanya menganguk-anggukan kepalaku tanda bahwa aku paham dengan petunjuk yang diberikan oleh eyang berjubah putih.
“Lalu di saat kamu sudah sampai pada sebuah gunung agung di pulau Jawa, maka kamu harus menghilangkan semua kebencian, iri dengki, dan pikiran-pikiran negative dari pikiran dan batinmu. Dan sebelum kamu melangkahkan kakimu tolong kamu cari sebuah tempayan kuno dengan ukiran naga dan tempayan itu dikelilingi oleh sebuah pohon keabadian yang begitu rindang. Minum dan nyalakan dupa di depan tempayan kuno tersebut.”
“Fokuskan pikiranmu pada satu tujuan yaitu kebajikan, dan mintalah ijin kepada leluhur yang berada disitu. Dan ingat waktu kamu disana hanyalah sampai tujuh kali matahari menampakkan dirinya dan menyembunyikan dirinya. Jika Sang Surya telah menyembunyikan sinarnya maka memohonlah kepada Sang Candra untuk tetap melindungimu. Jika kamu melihat eyang jalak dan eyang macan, maka sopanlah kepada beliau dan jangan pernah kamu merasa takut.” Lanjutnya sembari ia memberikanku sebuah kantong kain berwarna putih polos.
Aku menerima kantong kain berwarna putih tersebut, dan aku akan menggunakannya saat aku benar-benar membutuhkannya.
#FLASHBLACK OFF
Langkah kakiku diiringi oleh sentuhan yang tak kasat mata. Sentuhan itu terasa begitu menusuk relung hatiku yang paling dalam, perih kurasa. Ku tatap gumpalan-gumpalan awan yang terlihat begitu indah. Langit terlihat begitu cerah dengan warna biru laut menghiasinya.
Aku yakin misiku pasti akan berhasil karena aku yakin kini alam telah berpihak kepadaku. Alam menggiringi setiap langkahku. Mereka tidak akan pernah meninggalkan ku sendirian di dalam kegelapan malam yang begitu terasa menusuk relung hatiku.
Langkahku terasa begitu yakin dan mantap.
Tetapi dipersimpangan jalan aku melihat jalan tersebut bercabang tiga, “Kenapa jalannya bercabang tiga? Mana yang harus aku pilih? Tadi eyang tidak mengatakan bahwa aku akan melewati jalan bercabang tiga seperti ini.” gumamku dengan diriku sendiri, sembari aku menggigit jemariku dengan harapan aku dapat menjernihkan pikiranku.
Aku mengusap-ngusap wajahku dengan sangat gusar. Sesekali aku menunduk dan berpikir jalan mana yang harus aku pilih. Dan tiba-tiba saja aku teringat oleh petuah yang diberikan eyang kepadaku untuk selalu mengikuti arah datangnya sumber mata air dan ikutilah arah angin membawamu.
Aku mencoba mencari sumber air yang terletak di sekitar pohon tersebut, aku memutari pohon tersebut dengan perlahan. Dan aku menemukan dua sumber mata air yang keduanya sama-sama mengalir dari dua sumber yang berbeda.
Aku mencoba untuk menenangkan pikiranku dan aku mulai memfokuskan pikiranku. Aku jernihkan pikiranku dan aku mulai merasakan hembusan angin ingin membawaku kemana. Dan perlahan aku membuka mataku dan akhirnya aku memutuskan untuk berjalan pada jalan yang menghadap ke arah utara.
“Aku harap pilihanku kali ini benar, dan aku harap aku bisa segera mungkin menyelesaikan misiku ini.” ucapku pada diriku sendiri yang saat itu membutuhkan sebuah motivasi untuk terus berjalan tanpa ragu dan tanpa rasa takut.
Jalan yang aku pilih kini terasa begitu lebih berat. Jalanan itu terasa begitu menanjak dengan medan yang sangat sulit. Jalanan yang aku pilih bukanlah jalanan yang beraspal halus, namun jalanan yang aku pilih adalah jalan yang belum beraspal dan jalanan itu dipenuhi dengan krikil-krikil kecil yang sangat tajam.
Teriknya panas matahari terasa begitu membakar ubun-ubunku. Goresan-goresan sepatuku yang terasa begitu lembab membuatku terasa begitu perih ketika melangkah. Kini kerongkonganku terasa begitu kering.
Aku melihat sebuah pohon begitu besar berdiri dengan kokoh disamping jalan dan aku memutuskan untuk beristirahat dibawah rindangannya pohon besar tersebut. Aku mulai merebahkan tubuhku yang saat itu terasa begitu letih.
Aku mencoba meminum minuman yang aku bawa dari rumah, dan aku sangat menghemat minuman tersebut agar tidak cepat habis.
Hembusan angin membuatku terasa begitu mengantuk sehingga membuatku hampir memejamkan mataku, jika kalau bukan karena sebuah suara kicauan burung, maka, aku dapat memastikan aku akan tertidur dengan begitu pulas sehingga aku akan membuat misiku berjalan begitu terlambat.
“Ayo Amita! Ayo semangat. Aku pasti bisa ya, aku pasti bisa.” Aku mulai bangkit dari posisiku duduk. Aku menghirup udara dengan begitu dalamnya, karena aku rasa udara kali ini terasa begitu sejuk dan begitu segar.
Ku lihat sekelilingku terasa begitu sepi dan aku rasa seperti berada disebuah kota mati yang di tinggalkan oleh para penduduknya. Kanan kiriku di tumbuhi dengan ilalang yang menjuntai sangat tinggi, bahwan tinggi ilalang itu bisa aku prediksi tingginya adalah dua meter setengah. Yang melihatnya dalam menengggelamkan dan menyesatkan orang-orang yang masuk kedalamnya.
Aku menelan salivaku dengan sangat cepat, ketika aku mendengarkan sebuah teriakan-teriakan anak kecil yang sedang bermaian. Tetapi yang membuatnya terasa begitu jangkal adalah ketika aku melihat sekeliligku tidak menemukan sesuatu dan aku juga baru saja memvonis kota ini sebagai kota mati.
Aku terus melangkahkan kakiku, dan itulah yang membuatku langkahku terasa begitu gontai. Aku menutupi telinggaku dengan kedua tangganku dengan begitu rapat dengan harapan aku tidak mendengarkan sebuah suara misterius yang terdengar begitu menakutkan.
“Kakak, ayo main kak. Ayo main sama aku.”
“Kakak ayo kak.”
“Kakak rindu sama kedua orang tua kakak ya?”
Ku hentikan langkah kakiku dan aku mencoba melirik sekilas. Dan betapa terkejutnya aku ketika aku melihat ada seorang anak kecil tanpa kepala. Baju yang anak itu kenakan berwarna merah lengkap dengan aksesorisnya. Dan aku dapat melihat dengan jelas bahwa kini ia sedang membawa kepalanya sendiri.
Karena rasa takutku dan rasa ingin segera mengakhiri semua drama didalam keluargaku, akhirnya aku memutuskan untuk menambahkan kekuatanku untuk segera sampai pada sebuah tempat yang terdiri dari lima cabang jalan, yang akan selalu membuatku merasa sedikit tenang.