“Nak, mari ikut saya.” Ajak salah satu anggota rombongan tersebut.
“Tidak!” Tolak ku dengan sangat tegas karena, sambil aku terus memegangi perutku yang terasa begitu sakit. Dan Aku yang tidak mengenal dan tidak mengetahui apa maksud dan tujuan kedatangan mereka. membuatku tidak ingin terjebak lagi kedalam lubang kesalahan yang sama. Ditambah lagi dengan kondisiku yang sedang berbadan dua, membuatku bertambah mawas diri.
Aku perlahan berjalan mundur untuk menghindari pengaruh mereka.
“Nak, ikutlah bersama kami. Kami akan memperlihatkan bagaimana kondisi kedua orang tuamu kepadamu nak. Kami mohon nak cepat ikutilah kami.”
Sejenak aku berpikir, jika perkataan yang mereka ucapkan benar aku dapat bertemu dengan kedua orang tuaku, betapa bahagianya aku. Tetapi jika itu semua hanyalah jebakan semata bagaimana?
“Apa jaminan yang bisa kalian berikan kepadaku jika perkataan kalian bisa aku percaya?” tanyaku kepada mereka dengan nada yang terdengar begitu sarkas.
“Jaminannya adalah nyawa kami nak. Kami tidak akan membohongimu nak. Kami akan mempertemukanmu dengan kedua orang tuamu.”
Pyarr ….
Betapa terkejutnya aku ketika mendengar suara pecahan kaca, yang tidak lain adalah suara pecahan kaca jendela kamarku. Kini aku bisa melihat aura yang terasa begitu gelap yang penuh dengan kemarahan sedang menuju kamaraku.
“Ayo nak cepat! Waktu kita tinggal sedikit lagi. Kalau kamu masih bersikuku dengan egomu maka taruhannya adalah nyawa kedua orang tuamu dan anakmu Nak,” ucap mereka.
Mendengar nyawa kedua orang tuaku dan nyawa anaku sedang terancam membuatku langsung mengikuti mereka tanpa berpikir panjang lagi. Kini yang ada didalam benakku adalah menyelamatkan nyawa kedua orang tuaku dan anak aku, agar ia bisa terlahir ke dunia ini dengan selamat tanpa kekurangan apapun. Aku juga berharap bisa segera mengakhiri semua terror yang sedang menghadangku.
Aku mengikuti langkah mereka, dan tiba-tiba saja pintu kamarku langsung tertutup dengan sendirinya. Hal itu lantas membuatku tersentak kaget dan hampir saja membuatku menolehkan pandanganku kearah kamarku. tetapi, aku diperingatkan oleh salah satu dari mereka untuk tidak menenggok kebelakang apapun yang terjadi. Aku pun mengikuti saran yang diberikan oleh mereka kepadaku, karena aku hanya berpikir bagaimana caranya menyelamatkan nyawa kedua orang tuaku dan anaku.
Napasku terasa begitu tersenggal-senggal ketika kami sampai didepan sebuah kamar miliki keluargaku yang sejak aku kecil kamar itu selalu terkunci dengan rapat dan tidak ada yang boleh memasukinya. Namun, kenapa sekarang kamar itu dibuka dan kami dipersilahkan masuk kedalamnya?
Sebuah tanda Tanya besar mengusiku.
“Nak, disini kedua orang tuamu kami tempatkan.” Jelas mereka kepadaku sembari mereka mencoba untuk membuka pintu kamar.
Hawa dingin langsung menyambutku, ketika aku mulai melangkahkan kakiku masuk kedalam kamar tersebut, kamar yang sebelumnya tidak pernah aku masuki, kini aku memberanikan diri untuk memasukinya.
Aku disuguhkan dengan pemandangan kedua orang tuaku sedang tertidur dengan begitu kaku diatas tempat tidur yang dikelilingi oleh lilin-lilin kecil dan sebuah tungku yang berisikan kemenyan bakar. Ketika aku ingin berlari kearah kedua orang tuaku, mereka melarangku untuk berdekatan dengan kedua orang tuaku dengan alasanan demi keselamatan kedua orang tuaku.
Dan alasan yang utama karena aku sedang mengandung sehingga sangat riskan untuk keselamatan anaku.
Aku tidak menyangka kedua orang tuaku harus mengalami hal semengerikan seperti ini. Bapak dan ibu yang selalu menyambutku dengan senyumannya kini mereka hanya bisa menyambutku dengan dingin. Tubuh mereka yang biasanya aktif bergerak melakukan segala aktifitas kini tubuh mereka terbujur kaku tak berdaya diatas ranjang kayu dengan ukiran Naga besar disekelilingnya.
Sekilas aku melihat sebuah pantulan seorang nenek-nenek dengan rambut putih menjuntai, sedang menatapku penuh dengan amarah. Gerakan mata nenek itu mengikutiku ketika aku mulai meninggalkan kamar tersebut.
“Siapa nenek itu? Kenapa ia berada di kamar bersama kedua orang tuaku?,” tanyaku kepada diriku sendiri.
“Nak silahkan duduk dan kami akan menjelaskan semuanya kepadamu.”
Aku hanya menganggukan kepalaku sembari aku mulai memposisikan tubuhku untuk duduk bersama mereka.
“Sebelumnya kami tidak bisa mengatakan siapa sesungguhnya kami kepadamu nak. Tetapi kami bisa membantumu untuk terbebas dari terror ini.”
Aku sangat antusias ketika mereka mengatakan kepadaku, bahwa mereka bisa membantuku menyelesaika semua terror dalam kehidupanku dan keluargaku.
“Hal yang ayah kamu lakukan adalah hal yang cukup salah karena ayahmu berusaha mencari sebuah harta yang bukan haknya. Memang harta karun yang digadang-gadang itu memang ada, namun harta itu tidak bisa kita gunakan. Karena yang bisa mengunakan harta itu hanya ada satu orang dan ketika harta itu di gunakan maka dunia ini akan terasa begitu tentram dan akan terasa penuh dengan kebahagian.”
Aku mencoba memperhatikan gerak-gerik mereka dengan seksama dan aku dapat menyimpulkan bahwa apa yang mereka ucapkan itu adalah hal yang benar adanya.
“Ayah kamu sebenarnya tahu akan keberanan hal itu, namun entah kenapa ayah kamu menjadi gelap mata. Sehingga ia dengan sadarnya ingin menguasai harta yang seharusnya tidak ia miliki. Dan untuk roh ayahmu sekarang ini sedang berada di sebuah tempat yang sangat jauh. Tempat yang terasa begitu gelap dengan air bah dimana-mana dan suara petir menyambar-nyambar membuat suasana tempat ayahmu berada sangat mengerikan dan menakutkan. Sedangkan untuk keberadaan ibumu tidak jauh berbeda dengan ayahmu. Namun kondisi ibumu jauh lebih baik daripada ayahmu nak.”
“Tapi yang lebih kasihan lagi adalah kondisi anakmu Nak. Anakmu akan menjalani kehidupan yang penuh dengan lika liku dan suatu saat ia akan mewariskan energi dari ayah kandung dan kakeknya, sehingga membuat energi itu akan bentrok, dan bisa mengakibatkan anak kamu akan kehilangan nyawanya.”
Aku yang mendengarkan penjelasannya hanya bisa mengangguk-anggukan kepala tanda aku paham dengan apa yang dimaksud oleh mereka.
Mereka lantas melanjutkan ceritanya dan mereka juga memintaku untuk melakukan sebuah perjalanan spiritual seorang diri.
“Tapi Pak, bagaimana cara saya untuk melakukan perjalan spiritual seorang diri? Saat ini saya sedang mengandung.”
Mereka semua kompak menjawab pertanyaanku dengan senyuman yang mengembang.
Aku mengeryitkan dahiku tanda aku tidak paham dengan maksud mereka.
“Kamu akan tahu dengan sendirinya nak. Setiap perjalanan yang kamu lakukan akan ada seseorang yang membimbingmu . dan ingat semua pesan-pesan yang kami berikan kepadamu ya nak.”
“Tapi Pak, bagaimana dengan anak aku? Memang tekadku begitu kuat, namun aku tidak sekuat itu Pak. Aku sekarang sedang mengandung Sembilan bulan.”
“Sekarang kamu beristirahatlah di kamar kedua orang tuamu bersama seorang pelayan kami, yang akan selalu menjagamu. Besok fajar kami akan membangunkanmu dan kamu harus segera menyelesaikan misimu paling cepat tujuh tahun.”
“Apa maksud Bapak? kenapa saya harus menyelesaikan misi saya selama itu?” isakku sambil aku langsung teringat dengan kondisi anak aku yang masih di dalam perutku.
“Sudah kamu tenang saja. kamu akan mendapatkan jawabannya besok.”
“Jika saya tidak dapat menyelesaikan misi saya bagaimana Pak? Kalau saya tiba-tiba saja melahirkan saat sedang menjalankan misi kami bagaimana Pak? Saya tidak mungkin meninggalkan bayi saya,” tanyaku dengan begitu polosnya. Tetapi raut wajah mereka seketika langsung berubah yang awalnya mereka terlihat begitu ramah kini raut wajah mereka terlihat sedikit menakutkan.
“Dengan berat hati kami akan mengkubur kedua orang tuamu Amita. Dan untuk anakmu, mereka akan menjemputnya dan anakmu akan menjadi seseorang yang menjadi penyebab terjadi kehancuran di muka bumi ini.”
“Apa maksud kalian mengkubur kedua orang tua dengan kondisi mereka yang sedang sekarat? Apa kalian tidak merasa kasihan kepada kedua orang tuaku yang tersiksa seperti itu? Dan kenapa anak aku harus menjadi orang yang begitu jahat sehingga membuatnya akan menjadi faktor penyebab kehancuran dunia ini” cecarku kepada mereka.
Argkk … pekiku ketika aku tiba-tiba saja merasakan sakit yang luar biasa. Rasa sakit itu terasa begitu menusuk. Dan tiba-tiba saja aku menjerit !
“Mbak Agni!”