DISCLAIMER UNTUK BEBERAPA PART AKAN MENGGUNAKAN
#POV AMITA
Perlahan ku buka mataku dan ku lihat orang-orang sudah mengerumuni tubuhku yang terkapar tak berdaya.
“Kamu tidak apa-apa Amita?” tanya salah Mbak Agni yang membantuku untuk bangun dari tempat tidurku. Tubuhku masih terlalu lemah sehingga aku hanya bisa tersenyum kepadanya.
“Amita, minum dulu teh panasnya, dan kalau kamu sudah tenang mbak bawakan makananya untuk kamu. Kasihan anak kamu belum mendapatkan nutrisi sama sekali,” ucap Agni sambil ia menyodorkan segelas teh panas kepadaku. Aku pun meraih gelas tersebut dengan tangan yang bergetar. Entah kenapa tubuhku terasa begitu lemas dan rasanya seperti capek sekali.
“Pelan-pelan Mit, pelan-pelan. Biar Mbak bantu. Pelan-pelan sayang,” bantu Agni.
“Bagaimana kondisi Bapak dan ibu Mbak? Mereka baik-baik saja kan Mbak?” tanyaku dengan suara yang terdengar begitu pilu. Mbak Agni tidak langsung menjawab pertanyaanku melainkan ia melemparkan pandangannya ke mas Candra.
“Mbak?” tanyaku lagi. Agni tidak memberikan jawaban kepadaku melainkan ia hanya tersenyum kepadaku dengan sesekali ia mengusap-ngusap punggung tanganku dengan lembut. Perasaanku mulai gelisah ketika aku tidak mendapatkan jawaban atas pertanyaanku.
“Sing sabar yo Mit, sing sabar, sing ikhlas lan legowo.” tiba-tiba Candra datang dan langsung memeluku dengan begitu erat.
“Mas ono opo iki? Bapak mbi Ibu ora popo kan mas? Mas … wangsulono aku. Aku pengerti kabare Bapak lan Ibu mas,” pintaku kepada mas Candra yang hanya bisa diam membisu.
Aku yang melihat reaksi mas Candra dan Mbak Agni membuatku tahu yang sebenarnya terjadi kepada kedua orang tuaku. Aku memutuskan untuk segera bangkit dari posisi setenggah tidur untuk segera menemui kedua orang tuaku.
“Aow….” Aku memegangi kepalaku yang terasa begitu pusing dan nyeri. Tetapi aku tidak bisa hanya berdiam diri disni tanpa melakukan apapun untuk kedua orang tuaku.
“Aku ingin bertemu Bapak , dan Ibu. Aku mohon tolong pertemukan aku dengan Ibu dan Bapak. aku ingin melihat mereka Mas, Mbak Aku mohon.” Aku memohon kepada Mas Candra dan Mbak Agni. Aku tidak bisa hanya menunggu seperti ini. aku tidak ingin melihat kedua orang tuaku terluka olehku. Aku ingin menyelamat kedua orang tuaku, walaupun itu harus mengorbankan nyawaku.
“Kamu makan dulu ya Mit. Kasihan anak kamu lho Mit, kasihan dia belum makan. Kalau kamu udah makan Mbak janji Mbak akan membawamu untuk pergi menemui Ibu dan Bapak,” janji Agni kepda Amita agar ia mau makan.
“Aku gak mau makan Mbak … Aku gak mau! Aku pengin ketemu Ibu dan Bapak sekarang,”
“Ya udah kalau itu maumu … tapi mas minta sama kamu untuk sabar … sabar … lan sabar terus. iki lagi diceluke pak Bayu, mengko ben pak Bayu sing jelaske marang awakmu Mit. Beliau sing ngerti sak kabehe kahanane Bapak lan Ibu Mit,” Lagi-lagi Mas Candra memintaku untuk tetap bersabar menunggu kabar dari Pak Bayu terlebih dahulu, baru aku bisa menemui kedu orang tuaku.
Aku yang mendengarkan nasihat dari para kakaku hanya bisa berserah diri dengan kondisi yang tidak berpihak kepadaku. Aku meringkuk di dalam tangisanku. Aku sudah terlalu lelah dengan semua permasalahan yang menghantam keluargaku.
Aku menangis terus menerus, sehingga membuatku tidak mengetahui kalau kedua kakaku pergi meninggalku sendirian dikamar dengan kondisi pintu kamarku terkunci rapat. Aku yang mengetahui kondisi tersebut, berusaha untuk membuka pintu kamarku dan aku juga berusaha memanggil-manggil kakak-kakaku yang berada diluar kamarku untuk membukan pintu kamarku.
Namun, usahaku sia-sia karena aku masih terkurung didalam kamarku sendiri.
“Aku, mohon tolong buka. Aku mohon.” Perlahan tubuhku mulai terjatuh tak berdaya didepan pintu kamarku. Aku yang sedari tadi mengedor-ngedor pintu kamarku dengan sangat kuat, kini hanya bisa memukul-mukul pintu kamarku dengan perlahan.
“Amita.” Sebuah suara seorang pria yang membuatku memalingkan wajah dan betapa bahagianya aku ketika aku melihat Leon yang ada di sampingku.
“Leon ….” Aku langsung memeluk Leon yang sedari tadi sedang berjongkok di belakangku. Aku menumpahkan semua kegelisahan dan kegundahan hatiku kepadanya.
“Leon … kenapa aku harus mengahadapi cobaan seperti ini Leon? Kenapa aku harus mendapatkan permasalahan yang di luar akal sehat manusia? Kenapa harus aku Leon, kenapa harus aku? Kenapa? Apa salahku dan keluargaku Leon. Dan kenapa aku harus mengandung anak kita,” isakku dipelukan Leon.
Leon hanya bisa membalas pelukanku dan sesekali ia akan mengusap-ngusap dan menepuk-nepuk punggungku dengan sangat lembut.
“Maafkan aku Amita, maafkan aku. Seharusnya aku tidak pernah meninggalkanmu, seharusnya aku selalu berada disampingmu. Maafkan aku.”
Aku yang mendengar permintaan maaf dari Leon, akhirnya membuatku perlahan melepaskan pelukanku dari Leon dan aku lihat dirinya denganb penuh tanda tanya. Kenapa dia meninggalkanku dan kenapa dia baru kembali sekarang?
Semua pertanya terasa begitu membingungkan bagiku. Kehidupanku penuh dengan misteri yang tidak mudah diselesaikan.
Leon hanya memandangiku dengan nanar, terlihat dengan jelas guratan-guratan kesedihan terpancar begitu jelas dalam raut wajahnya. Beberapa kali Leon berusaha untuk membuang muka ketika aku berusaha untuk mendapatkan jawaban darinya.
Aku merasa Leon sedang menyembunyikan sesuatu dariku. Ya, aku yakin Leon telah merahasiakan sebuah rahasia besar dari diriku.
Aku mencoba meng-genggam tangan Leon dengan begitu lembut dan sekali lagi aku memanggil namanya dengan begitu lembut, “Leon,” Hal itu berhasil membuat Leon melihat kedua bola mataku.
Belum sempat aku mengajukan pertanyaan kepadanya tentang alasannya meninggalkanku dan alasan untuk semua masalah yang menimpaku akhir-akhir ini. ia berhasil menggalihkan perhatianku dengan mengatakan ia akan menceritakan semuanya kepadaku setelah aku selesi meyelesaikan sebuah misi besar yang akan aku lakukan.
“Apa maksud kamu Leon? Misi besar sedang menunggu?” Tanya ku dengan mengeryitkan dahi tanda aku belum paham dengan apa yang dimaksud oleh Leon.
“Kamu akan segera mengetahuinya Amita. Kamu akan segera tahu. Misi itu akan kamu lakukan setelah kamu melahirkan putra kita Birendra,” Hanya kalimat itu yang keluar dari mulut Leon sebelum pintu kamarku mulai terbuka.
Aku mulai bangkit dari posisiku sekarang.
Ceklek …
Aku begitu terkejut ketika melihat segerombolan bapak-bapak berbaju putih dengan jenggot menjuntai dan berwarna putih. “Siapa mereka? Kenapa mereka memandangiku seperti itu dan apa maksud kedatangan mereka?” sebuah pertanyaan yang terlintas didalam pikiranku.
“Siapa kalian?” tanyaku kepada segerombolan bapak-bapak tersebut yang berusaha untuk memasuki kamarku.
“Apakah kekasihmu telah kembali?” Tanya salah satu bapak-bapak yang terlihat lebih ramah daripada temannya.
Aku hanya bisa berdiam diri, aku tidak ingin Leon terluka maupun pergi meninggalku lagi karena serangan orang-orang yang tidak menyukai hubunganku dengan Leon.
“Panggil dia nak.” Perintah mereka dengan bersamaan.
“Panggil dia? Apa maksudnya?”
“Ya, panggil dia. Karena kami tahu dia sedang bersembuni di suatu tempat dan kami juga tahu bahwa kini ia sangat ketakutan ketika melihat kami. Bujuk dia nak, dan katakana kepadanya bahwa kami tidak akan pernah melukainya.”
“Tapi aku tidak tahu cara memanggilnya. Aku hanya tahu dia tiba-tiba muncul dihadapanku tanpa aku memanggilnya.” Jelasku kepada mereka.
Mereka hanya tersenyum dengan penuh tanda Tanya dan mereka serempak menganggukan kepalanya. Selang beberapa menit terdengar sebuah suara yang terdengar begitu ramai. Suara itu terdengar dari luar kamarku.
Salah satu dari mereka berusaha untuk melihat apa yang sedang terjadi di luar kamarku.
“Mereka datang.” Kalimat yang aku dengar.
Astaga siapa lagi yang akan datang dalam keluargaku? Masalah apalagi yang akan menghantam keluargaku? Dan seketika turunlah hujan yang begitu deras dengan petir yang menyambar-nyambar. Dan tiba-tiba saja aku merasakan sakit yang luar biasa pada perutku.