TERHUBUNG

1086 Kata
“Itu Ibu Agni kenapa?” ucap salah satu warga yang merasa keanehan pada diri Agni. Mereka merasa kalau Agni pergi ke lain arah. Agni tidak pergi ke arah tempat tinggal Mbok Ginem melainkan Agni pergi ke arah yang dipercaya juga terkutuk. “Ada apa dengan istri saya? Ada apa ini?” kata Candra yang merasa begitu ketakutan dengan kondisi Agni yang menunjukkan ketidak beresan. “Lebih baik kita tarik saja Ibu Agni daripada terjadi sesuatu hal yang tidak di inginkan menimpa Ibu Agni,” usul Mada sambil ia memerintahkan kepada warga untuk menarik tali yang mengikat tubuh Agni dengan begitu kuatnya. Tapi entah kenapa tubuh Agni terasa begitu berat, seakan-akan para warga menarik sebuah batu besar yang memiliki bobot kurang lebih tiga kuintal. Mereka semua menggeleng-gelengkan kepalanya. Dan tiba-tiba saja tali yang mengikat tubuh Agni tiba-tiba saja putus dan hal itu membuat suasana menjadi lebih genting. “Agni … Agni … kembali! Jalan yang kamu lalui itu salah! Agni! Kembali,” teriak Candra sambil tubuhnya dipegangi oleh beberapa warga dengan harapan Candra tidak menyusul Agni ke dalam sungai. “Pak Mada bagaimana dengan istri saya! Bagaimana ini. kenapa anda diam saja? kenapa anda tidak melakukan sesuatu untuk menyelamatkan istri saya. Pak Mada! Jawab saya!” teriak Candra kepada Mada yang sedari tadi hanya diam saja. Ia merasa kehadiran Mada sama sekali tidak membantu, bahkan terkesan Mada tidak ingin membantunya. “Pak Mada jawab saya!” teriak Candra dengan suara jauh lebih keras. Sedangkan Mada hanya menyungingkan senyuman yang begitu sinis kepada candra sambil ia mulai menunjukkan wujud aslinya kepada Candra dan warga sekitar. “Ding Dong! Kalian semua masuk kedalam jebakanku! Kalian pikir akan begitu saja bisa lepas dari jeratanku? Aku tidak akan semudah itu melepaskan kalian! Kalian semua adalah budakku dan sampai kapanpun kalian akan tetap menjadi budakku!” ucap Mada dengan suara yang terdengar begitu menggelegar. “Siapa kamu!” teriak Candra yang sudah muak dengan semua terror ini. “Aku adalah kamu. Aku adalah jeritan alam bawah sadarmu! Aku adalah hal yang kamu lupakan. Tapi aku selalu ada untukmu!” “Pergi kamu dari sini! Pergi! Enyahlah dari hadapanku atau kamu akan aku binasakan!” teriak Candra sambil ia mulai melakukan perlawanan kepada Mada “Silahkan kamu menyerangku, tapi jangan salahkan aku kalau istri kamu akan mati tepat dihadapanmu!” ancam mahkluk yang menyerupai Mada. “Pak Candra lihat!” kata warga kepada Candra sambil mereka menunjuk ke arah Agni yang  mulai memasuki wilayah terlarang. “Agni!” teriak Candra sambil ia berlari kea rah sungai. Namun hal itu di halangi oleh Mada dengan cara ia langsung menceki Candra dengan begitu kuatnya sehingga membuat Candra tidak berdaya dan ia hanya bisa meneteskan air mata tanda kesedihannya. Saat Candra mulai berpasrah diri, tiba-tiba saja muncullah sebuah cahaya yang begitu terang dari arah tempat tinggal Mbok Ginem. Cahaya itu terbelah menjadi dua. Dimana cahaya itu berjalan menuju kea rah Candra dan Agni. “Hentikan! Jangan kau sakiti jiwa-jiwa manusia yang tak berdosa!” ucap cahaya tersebut dengan suara yang terdengar begitu meneduhkan hati. Mada hanya bisa tertawa dengan begitu kencang sehingga membuat burung-burung berterbangan dengan begitu kacaunya. “Selamat datang. Akhirnya kamu memunculkan wujud aslimu. Manusia adalah kelemahanmu.” “Lepaskan mereka! Kamu dilarang menyakiti mereka!” “Siapa kamu! Kamu tidak mempunyai hak untuk memaksaku melepaskan mereka semua! Mereka semua adalah budakku!” “Mungkin kamu lupa kalau wilayah disini adalah wilayahku. Aku adalah kekuatan mereka. Aku tidak akan membiarkan kamu merebut kebahagian para warga! Sadarlah! Kamu dahulu adalah seorang anak yang begitu manis dan baik hati! Jangan sampai kekalutan dalam hatimu merubah semuanya menjadi lebih buruk.” “Tahu apa kamu tentang diriku? Tahu apa! Kamu hanyalah seorang penunggu hutan terkutuk! Kamu adalah mahkluk yang paling mengenaskan di dunia ini! kamu adalah ibu yang sangat kejam kepada anaknya! Kamu tidak pantas di sebut sebagai penghubung jantung hutan. Kamu juga tidak bisa di sebut sebagai peri kehidupan bagi warga yang sudah kehilangan hati nuraininya!” teriak Mada. . . “Agni … Agni … kamu mau pergi kemana? Ayo nak pulang dengan Ibu. Ibu sangat merindukanmu.” “Ibu … Ibu … ibu dimana? Ibu dimana! Aku sangat merindukan Ibu. Aku ingin sekali bertemu dengan ibu,” renggek Agni sambil ia terus melangkah ke arah hutan terkutuk. “Ayo Agni terus ikuti suara Ibu. Ibu akan selalu ada untukmu. Ayo ikuti Ibu, maka kamu akan mendapatkan kehidupan yang begitu layak. Apakah kamu masih ingat dengan apa yang kamu impi-impikan?” “Ya! aku masih ingat dengan keinginanku waktu masa kecil. Aku ingin hidup dengan Ibu, aku ingin mengabdikan diriku untuk Ibu, namun sejak kepergian Ibu, aku tidak pernah mendengar kabar darinya. Sedih rasanya mengingat moment-moment yang terasa begitu berat untuk kehidupanku. “Ayo ikuti aku! Sebentar lagi kita akan sampai di istana yang begitu kau rindukan. Istana yang akan terlihat jika matahari sudah mulai menyapa. Istana yang akan menjadimu hidup dengan begitu layaknya. “Agni berhenti!” pinta sebuah suara misterius tersebut kepada Agni yang masih mengobrol tentang kehidupannya masa kecil. “Agni … Agini … ayo kita pulang Yukk … ingat tujuan awalmu datang kesini untuk apa? Apakah kamu melupakan keinginan terbesar dalam hidupmu.” Karena kata-kata tersebut membuat Agni menjadi sadar. Ia sadar dengan keinginannya yang pertama. “Agni bodoh! Apa yang kamu lakukan disini? Kenapa kamu melakukan hal gila seperti ini! ingat tujuanmu adalah menyelamatkan Birendra bukan kaya gini. Agni ayo sadarlah!” maki Agni pada dirinya sendiri dan ia pun mulai merasa begitu kelelahan karena sebagian besar energi dalam dirinya telah diserap oleh Mada sehingga membuatnya menjadi sosok seperti seorang misterius. . . “Ren, kamu kenapa?” tanya Raden yang melihat Birendra seperti mengalami sesak nafas. “Dadaku terasa begitu sakit Den,” keluh Birendra sambil ia memegang dadanya. “Ya sudah Ren lebih baik kamu beristirahat terlebih dahulu. Biarkan aku yang berjaga.” “Kamu yakin mau berjaga seorang diri?” “Tentu saja aku yakin. Kita satu tim dan kita harus kompak.” Ucap Raden dengan penuh kepercayaan diri. Saat Birendra hendak memejamkan matanya, tiba-tiba saja Birendra mendengar sebuh bisikan yang terdengar begitu lembut. Bisikan itu membuat bulu kuduk Birendra berdiri semua. Tetapi ia tidak memberitahu kebenarannya kepada Raden. Kebenaran yang akan membuatnya begitu ketakutan dan marah kepada dirinya sendiri. Entah apa yang akann terjadi ketika Birendra mengetahui yang sebenarnya. Hancur, kecewa, sedih adalah rasa yang akan dihadapi oleh Birendra. “Hallo anak Leon … raja dari segala raja yang ada di muka bumi ini,” bisikan sebuat surara yang terdengar begitu familiar di telinga Birendra.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN