“Bu Agni apakah sudah siap?” tanya Mada kepada Agni yang saat itu duduk termenung membayangkan masa lalunya bersama Birendra kecil.
“Saya sudah sangat siap Pak,” ucap Agni dengan penuh kepercayaan diri. Ia sudah tidak sabar untuk menyelamatkan Birendra.
“Baik lah, untuk skenarionya nanti. Tubuh Bu Agni akan di ikat dengan tali dan dari sini kami akan memegangi tali agar tubuh Bu Agni tetap aman sampai di sebrang. Dan saya mohon, saat ibu menyebrang tolong ingat tujuan awal ibu Agni itu apa njih,” ucap Mada kepada Agni.
“Ya, saya paham,” balas Agni dengan begitu mantapnya. Tekatnya sudah sangat bulat untuk menyelamatkan Birendra dan membawa hidup-hidup tanpa kekurangan satupun dalam tubuhnya.
“Bu … Ibu semangat ya. ibu juga harus janji dengan Bapak kalau Ibu akan kembali dengan sehat dan selamat. Ibu, Ibu tahukan kalau hanya Ibu penyemangat hidupku, belahan jiwaku,” isak Candra sambil ia memeluk Agni dengan begitu erat.
Ia merasa begitu ketakutan dengan apa yang akan dilakukan oleh Agni. Ia takut kalau apa yang akan dilakukan oleh Agni sia-sia belaka. Dan hal yang paling ia takutkan adalah kehilangan Agni untuk selamanya.
Ia tida bisa membayangkan harus menjalani sisa hidupnya dengan seorang diri. Hidupnya pasti akan terasa begitu hampa tanpa Agni di sisinya.
“Bapak … Bapak tenang saja ya. ibu yakin kalau ibu akan baik-baik saja. ibu juga sangat yakin kalau ibu akan kembali ke sisi bapak dengan kondisi yang seperti ini. ibu tidak akan pernah mengecewakan Bapak. bapak doain ibu ya, semoga ibu bisa melakukan hal ini dan jangan lupa minta doanya juga supaya Birendra dan teman-temannya dapat kita selamatkan,” ucap Agni sambil ia menyungingkan senyuman yang begitu manis. Senyuman yang mengingat Candra pada masa-masa mudanya dengan Agni.
Akhirnya waktu yang di tunggu-tunggu pun datang juga, waktu dimana Agni akan menyebrangi sebuah sungai yang begitu besar dengan arus yang begitu deras.
“Sayang, Ibu akan berusaha untuk menyelamatkanmu. Ibu janji, Ibu akan membantu kamu untuk keluar dari hutan itu. Dan Ibu yakin kalau Ibu pasti bisa menyelamatkanmu. Kamu adalah satu-satunya penerang dalam hidup Ibu. Ibu sayang kamu Birendra,” gumam Agni dalam hatinya.
Ia meyakinkan hatinya kalau ia pasti bisa menyelamatkan Birendra, walaupun harus mengorbankan nyawanya sendiri, Agni begitu yakin kalau ia pasti bisa. Lebih baik ia kehilangan nyawanya daripada ia harus kehilangan putra tercintanya.
“Bu Agni semangat ya. ibu pasti bisa. Cinta seorang Ibu pasti bisa mengalahkan segalanya,” ucap salah satu warga yang mencoba untuk memberikan dukungan moril kepada Agni.
Perlahan Agni mulai berjalan menuju ke dalam sungai. Hatinya yang semula begitu kuat dan teguh, kini tiba-tiba saja hatinya mulai berubah begitu kalut. Ia mulai merasakan sesak yang begitu dalam. Tubuhnya mulai bergetar hebat.
Dan entah kenapa ia mulai mengeluarkan air mata yang begitu deras. Ia merasa seperti ada sebuah kesedihan yang begitu dalam.
“Ada apa ini? kenapa aku menjadi seperti ini? sadarlah Agni! Kamu harus sadar! Sadarlah Agni! Sadarlah. Tujuanmu disini adalah menyelamatkan Birendra!,” batin Agni yang sejenak terdiam sambil ia memandangi air sungai yang tiba-tiba saja berubah seperti sebuah layar bioskop yang memutarkan sebuah kisah yang begitu menyayat hati.
“Agni sadarlah! Agni sadar! Ini hanya ilusi saja. sadar Agni! Sadar!” teriak Agni kepada dirinya sendiri.
“Ibu … Ibu … Ibu mau pergi kemana? Aku mau ikut Ibu, Aku mau tinggal bareng Ibu. Ibu … Ibu mau pergi kemana?” teriak Agni kecil kepada Ibu yang mulai berjalan meninggalkan dirinya dengan sebuah boneka kecil di tangannya.
“Ibu …” teriak Agni sambil ia berlari ke arah Ibunya dan dengan sigap ia langsung memeluk kaki ibunya dengan begitu erat.
“Agni, lepaskan! Agni lepaskan! Ibu mau pergi Agni, ibu mau pergi!” teriak Ibu Agni sambil ia terus berusaha melepaskan pelukan Agni
“Ibu mau pergi kemana? Kenapa Ibu meninggalkan Agni? Kenapa Ibu tidak membawaku? Aku janji aku tidak akan nakal lagi. aku janji. Aku mohon Ibu, aku mohon.”
“Agni! Ibu tidak bisa mengajakmu. Ibu harus pergi Agni. Ibu tidak bisa tinggal disini. Ibu sudah tidak tahan lagi.”
“Ibu … kalau ibu pergi, nanti aku sama siapa? Bapak jarang di rumah, aku takut dirumah sendirian Ibu. Aku takut. Aku mohon bawa aku pergi, aku mohon ibu, aku mohon,” pinta Agni kecil dengan jeritan yang menyesakkan d**a.
Jeritan itu terasa begitu menyayat hati dengan begitu dalam. Sayatan yang terasa begitu sakit.
Ingin hati ini membawa peri kecil ini pergi untuk menjelajah indahnya dunia, namun apa daya kalau keadaan tidak membiarkannya. Takdir terasa begitu kejam kepada Agni. Di usianya yang masih belia ia harus kehilangan sosok ibu dan ia juga harus kehilangan kehangatan seorang ayah.
“Agni … dengarkan Ibu. Ibu tidak bisa membawa Agni pergig bersama Ibu, tetapi ibu berjanji kalau ibu akan selalu ada di dalam hati dan ibu juga akan selalu membantu Agni dalam keadaan apapun. Itu janji Ibu kepada Agni,” ucap ibu Agni dengan begitu lembut, namu kalimat itu terasa begitu menyakitkan untuk Agni.
“Ibu … Aku takut kalau aku hidup sendirian di dunia ini. aku takut Ibu, aku takut dengan gelapnya malam, aku takut dengan petir yang selalu datang saat hujan turun, aku juga takut untuk tidur sendiri, aku juga takut dengan Bapak, sekarang Bapak sudah sangat berbeda. Aku takut Ibu, aku takut. Aku mohon Bu, aku mohon bawa aku pergi,” renggek Agni
“Agni, Ibu minta maaf. Ibu tidak bisa membawamu pergi. Ibu minta maaf. Ibu harus pergi,” ucap Ibu Agni sambil ia langsung berlari meninggalkan Agni sendirian. Agni kecil hanya bisa melihat ibunya pergi meninggalkan dirinya. Ia berusaha sekuat tenaga untuk berteriak memanggil Ibu dan berharap ibunya akan kembali kepada dirinya.
Namun, tebakkannya salah. Semakin ia berteriak maka semakin jauh Ibu pergi meninggalkannya. Agni kecil merasa begitu sedih karena di usianya yang masih belia ia harus kehilangan ibunya yang selama ini selalu bersamanya.
Ayahnya yang seorang niaga (penabuh gamelan) sering bepergian keluar kota untuk melakukan sebuah pertunjukkan wayang kulit yang sering di selenggarakan oleh orang-orang yang berasal dari kelas atas. Sehingga hal itu membuat ayahnya tidak bisa memberikan waktunya kepada Agni dan istrinya.
Terkadang ayahnya akan pulang seminggu sekali, bahkan kadang satu bulan penuh ayahnya tidak akan pulang karena padatnya jadwal melakukan pertujukkan wayang kulit.
“Ibu … Ibu … aku takut, aku takut. Aku sayang Ibu, aku sayang ibu … aku tidak bisa hidup tanpa Ibu. Aku ingin ikut dengan Ibu. Aku mohon Ibu. Aku mohon kembalilah, aku mohon. Aku berjanji aku tidak akan pernah nakal lagi. aku berjanji ibu, aku berjanji. Aku berjanji aku akan menjadi anak yang baik,” renggek Agni sambil ia terus memeluk boneka kecil peninggalan ibunya.
Sejak kepergian Ibunya, Agni mulai tumbuh menjadi anak yang begitu pendiam. Ia selalu terlihat begitu murung dan sedih. Seakan-akan kecerian pada Agni telah pergi begitu saja.
Dan mulai sejak itu Agni mulai di asuh oleh Puspa yang tidak lain adalah sahabat dari ibunya Agni. Puspa selalu memperlakukan Agni dengan begitu lembut, bahkan Puspa juga begitu menyayangi Agni seperti ia menyayangi putra putrinya sendiri.