“Mas, kok rumahnya Leon di gembok ya mas?” ucap Agni sambil ia menunjukkan gembok pada pagar rumah Leon.
Melihat hal itu membuat semuanya panic bukan main, pikiran mereka langsung mengerah ke hal negative, yaitu Leon kabur dan tidak akan pernah bertanggung jawab dengan apa yang telah ia lakukan kepada Amita.
“Amita, kamu yakin kalau rumah Leon ada disini?” tanya Candra memastikan.
“Aku sangat yakin mas. Rumah Leon memang ada disini. Leon … kamu pergi kemana?” isak Amita sambil ia berjongkok sambil menutupi wajahnya yang terlihat begitu kecewa.
“Kita pulang sekarang!” pinta Wisnu dengan wajah yang terllihat begitu marah. Ia merasa harga dirinya telah dihancurkan oleh Leon yang pergi begitu saja meninggalkan Amita dan bayi yang tengah ia kandung.
“Kita tunggu dulu Pak, mungkin Leon baru pergi sebentar. Aku yakin kalau Leon adalah pria yang bertanggung jawab, aku yakin Leon tidak akan pergi meninggalkanku dengan cara seperti ini,” ucap Amita memohon kepada Wisnu agar ia mau menunggu Leon.
“Amita! Sadar Nak! Sadar! Leon telah menipu dirimu, Leon telah menipu kita semua. Tidak ada yang perlu kita tunggu disini. Ayo kita pulang.”
“Bapak … aku mohon tunggu sebentar saja. aku yakin kalau Leon akan bertangung jawab dengan apa yang telah ia perbuat kepadaku,” bujuk Amita, yang tidak mau pergi begitu saja meninggalkan rumah Leon tanpa bertemu dengan Leon.
“Amita! Sadar lah! Kamu telah di tipu oleh pria itu. Tidak ada gunanya ! kita pulang sekarang!” hardik Wisnu sambil ia menyere Amita masuk ke dalam mobil miliknya.
“Bapak … Aku gak mau pergi. Aku ingin bertemu Leon, aku ingin meminta pertangung jawabannya.” Isak Amita sambil ia berusaha untuk tetap bertahan di depan teras rumah Leon.
Plakk … sebuah tamparan yang begitu keras mendarat di pipi halus Amita. Sakit rasanya menerima tamparan itu.
“Pulang!” bentak Candra yang merasa sangat marah kepada adiknya itu. Ia merasa sangat marah karena sikap adiknya yang masih saja membela Leon yang jelas-jelas telah meninggalkannya. Ia tidak menyangka cinta akan membutakan Amita.
“Mas …” pekik Agni yang merasa begitu kaget dengan sikap yang ditunjukkan oleh Candra. Selama menjadi istri Candra, Agni belum pernah melihat Candra semarah ini. ia juga belum pernah melihat Candra main tangan seperti ini.
“Pulang! Aku bilang pulang ya pulang! Kamu mau bikin satu kota mengetahui kondisimu yang sekarang? aku bilang pulang ya pulang!” maki Candra yang akhinya membuat Amita mengikuti apa perkataan kakaknya.
Sesampainya di rumah, Wisnu langsung memaki-maki Amita dengan begitu kerasnya. Ingin rasanya mengakhiri hidup ini. malu rasanya kalau sampai warga desa tahu dengan apa yang terjadi kepada Amita.
“Kita lenyapkan saja anak yang ada dalam kandunganmu,” ucap Wisnu dengan tatapan yang sangat kacau.
“Bapak! bapak sadar dengan apa yang bapak katakana?” ucap Puspa yang merasa begitu terkejut dnegan apa yang di ucapkan oleh Wisnu.
“Bapak sangat sadar Bu, sadar sekali. Bapak tidak ingin masa depan Amita hancur karena kehamilan yang tidak di duga ini. aku juga tidak mau keluarga kita menanggung malu karena ulah Amita. Ini sangat memalukan Bu, ini aib untuk keluarga kita,” ucap Wisnu dengan d**a yang terasa begitu sesak. Sejujurnya ia juga tidak tega melihat putrinya harus hidup dengan cara seperti ini. tapi ia juga tidak bisa membiarkan anggota keluarga lainnya merasakan getahnya.
Lebih baik mengorbankan satu jiwa daripada kita harus mengorban seluruh kehormatan keluarga ini.
“Gak Pak, aku gak mau melenyapkan anak ini. aku gak mau Pak, aku gak mau!” teriak Amita yang menolak untuk melenyapkan bayinya.
“Lalu apa solusimu? Kamu lihat kan bagaimana kejamnya Leon pergi meninggalkanmu?”
“Bapak, Leon tidak seperti itu. Aku yakin kalau Leon akan kembali ke sisiku.”
“Amita!” teriak Wisnu
“Kita lenyapkan anakmu sekarang!” hardik Wisnu sambil ia mulai berjalan meninggalkan keluarganya.
“Bapak … saya mohon jangan lenyapkan bayi yang tidak berdosa. Bapak bayi itu tidak bersalah. Kenapa bayi itu yang harus menangung semua dosa ini? biarkan bayi itu hidup Pak,” pinta Agni yang merasa begitu kasihan kepada Amita dan calon anaknya.
“Memang bayi itu tidak berdosa. Tapi coba kamu lihat bagaimana menjijikannya ibunya. Ibunya telah membuat malu keluarga kita. Aku tidak bisa menerima bayi yang tidak memiliki ayah.”
“Bapak … apa yang dikatan oleh Agni itu ada benarnya. Bapak jangan melenyapkan cucu bapak sendiri. dia adalah darah dagingmu pak. Pak kita tidak bisa melenyapkan bayinya Amita. Dia juga keturunan kita,” pinta Puspa yang mendukung usulan Agni.
“Bapak, biarkan aku dan Agni yang merawat bayi Amita. Biarkan Amita tinggal bersama kami, dan biarkan orang-orang mengira kalau Agni tengah hamil.”
“Iya Pak, aku setuju dengan rencana mas Candra. Kami siap menjadi orang tua untuk anak yang tengah di kandung oleh Amita,” dukung Agni pada Candra.
Mungkin ini caranya membuat Agni menjadi seorang ibu. Memang Agni bukanlah orang yang mengandung dan melahirkannya, namun Agni lah yang akan selalu ada untuk bayi yang tidak berdosa itu.
.
.
“Amita, aku minta maaf. Seharusnya hubungan kita tidak terjalin. Seharusnya aku mawas diri, seharusnya aku tahu dengan perbedaan yang ada pada diri kita. Aku minta maaf Amita aku minta maaf. Aku pergi bukan karena aku membencimu atau tidak mau bertangung jawab, tetapi aku pergi karena aku tidak ingin kamu dan anak kita mengalami kutukan dan sengsara. Aku minta maaf Amita, aku minta maaf. Aku harap kamu mengerti dan kelak kita bertiga akan berkumpul dan menjadi keluarga yang begitu harmonis,” ucap Leon dari kejauhan.
Tidak tega rasanya melihat wanita yang sangat ia cintai harus menderita seperti ini. seharusnya ia tidak pernah m*****i kesucian Amita, seharusnya ia bisa menahan diri agar kehidupan Amita tidak sengsara seperti ini.
Leon merasa begitu menyesal dengan apa yang telah ia lakukan kepada Amita. Bagi Leon Amita adalah wanita yang sangat special dalam hidupnya. Amita adalah wanita satu-satunya yang bisa membuat hidup Leon menjadi lebih berwarna.
Amita juga merubah sikap Leon yang sangat dingin menjadi begitu hangat. Dan yang jelas membuat Leon berhenti untuk membunuh jiwa-jiwa suci untuk dihisap jiwanya agar ia selalu berumur panjang.
“Untuk apa aku hidup selama ini kalau aku tidak bisa hidup dengan wanita yang sangat aku cintai. Untuk apa ketampanan dan kekayaan yang aku miliki ini? untuk apa kehidupan yang begitu hampa ini? kenapa aku harus jatuh cinta dengan manusia seperti kamu AMita? Kenapa harus kamu. Kenapa kamu bisa mencintai pria seperti aku. Aku sangat mencintaimu Amita. Aku sangat mencintaimu. Aku harap kamu mengerti dengan apa yang aku lakukan kepadamu. Maaf aku Amita aku minta maaf.”