BERBADAN DUA

1170 Kata
“Dasar anak tidak tahu di untung! Bagaimana bisa kamu membuat keluargamu menanggung malu seperti ini? dasar!” PLAAKK …. Maki dan tampar Wisnu pada Amita yang ketahuan sedang mengandung di luar pernikahan. “Bapak … Amita minta maaf, Amita minta maaf. Amita khilaf Bapak,” isak Amita sambil ia memohon-mohon kepada Wisnu untuk memaafkannya. “Khilaf kamu bilang? Khilaf? Kamu gila! Kamu itu belum menikah, kamu masih muda, kamu itu seorang penari yang professional, bagaimana bisa kamu melakukan hal sememalukan seperti ini?” hardik Wisnu yang tidak menyangka kalau purinya yang sangat ia sayangi akan mempermalukan keluarganya. “Amita minta maaf Pak, Amita minta maaf.” “Nduk … kok bisa kamu melakukan hal seperti itu? Apa yang ada dalam pikiranmu? Sekarang kalau sudah seperti ini, kita harus menikahkan kamu dengan pria yang menghamilimu,” ucap Puspa dengan d**a yang terasa begitu sesak. Sedangkan Candra dan Agni hanya bisa melihat pertengkaran pada malam itu, tanpa bisa berbuat apa-apa. Mereka sebagai seorang kakak tidak habis pikir akan kecolongan seperti ini. mereka ingin marah, ingin memaki-maki Amita, tetapi hal itu mereka urungkan, karena menurut Candra dan Agni hal itu tidak aka nada gunanya. “Siapa ayah dari jabang bayi yang sedang kamu kandung?” tanya Wisnu dengan nafas yang memburu karena amarah yang sudah memuncak. “Leon … Leon adalah ayah biologis dari anak yang sedang aku kandung,” ucap Amita dengan ketakutan. “Apa kamu bilang? Leon? Leon pria misterius yang berasal dari Eropa? Amita … Amita … kamu memang bodoh! Bagaimana bisa kamu jatuh cinta dengan pria asing seperti Leon? Bapak gak habis pikir kamu akan melakukan hal itu dengan pria yang baru saja hadir dalam hidupmu,” ucap Wisnu tak berdaya sambil ia duduk di sebuah kursi goyang dengan sangat lemas. Dunianya terasa begitu gelap dan hancur oleh ulah yang telah dilakukan oleh putri semata wayangnya. Ia merasa begitu gagal menjadi seorang ayah. Ia merasa begitu marah kepada Amita dan ingin sekali ia memukul Amita sampai dia jatuh pingsan. “Mau ditaruh dimana ini muka Bapak sama Ibukmu. Mau ditaruh dimana? sebelum kamu melakukan hal itu apa kamu tidak memikirkan bagaimana perasaan kedua orang tuamu?  Dimana harga dirimu sebagai seorang wanita? dimana rasa sopan santunmu sebagai wanita Jawa. Dimana nilai-nilai luhur yang selama ini Bapak tanamkan kepadamu? Dimana hilangnya itu semua?” isak Wisnu yang sudah tidak kuasa menahan rasa marah dan kecewanya kepada Amita. “Bapak … Amita mohon maafkan Amita, Amita tahu kalau apa yang telah Amita lakukan ini adalah hal yang sangat salah. Amita juga tahu kalau hal ini sangat bertentangan dengan prinsip-prinsip dan nila-nilai yang selama ini Bapak tanamkan kepada Amita.” “Lalu, bagaimana bisa kamu melakukan hal seperti itu? Dimana semua nilai-nilai itu? Kamu itu wanita lho Nit. Kamu iii Prawan Nit. Kamu iii keturunan darah biru, terus kenapa kamu melakukan hal seperti ini? sekarang kamu pergi dari sini, bapak bilang pergi!” teriak Wisnu sambil ia mengusir Amita dari kediamannya. “Mas, bujuk bapak mas. Bujuk bapak biar bapak tidak mengusir Amita dari sini,” pinta Agni kepada Candra suaminya. Mendengar permintaan dari istrinya itu, membuat Candra langsung menjadi pihak penengah untuk pertikaian yang terjadi di antara kedua orang tuanya dengan Amita adik satu-satunya. “Bapak, bapak jangan gegabah mengambil keputusan. Bapak lihat Amita. Saat ini Amita sedang berbadan dua Bapak. kasihan Amita kalau sampai Amita terluntang lantung tidak jelas di jalanan,” pinta Candra sambil ia berlutut di kaki Wisnu. Sebagai seorang kakak, Candra sangat marah dan kecewa dengan Amita, tetapi Candra tidak bisa tutup mata dengan kondisi Amita. “Kamu diam saja Candra. Kamu diam saja! ini urusan Bapak sama Amita. Bapak tidak sudi melihat wajahnya lagi. coba kamu pikirkan, mau ditaruh di mana wajah bapakmu ini? mau di taruh dimana! Lebih baik kita mengusir parasite seperti Amita! Bapak sudah tidak sangup melihat wajahnya.” “Bapak … ingat Pak, ingat. Kita itu satu keluarga, kita itu satu tim Pak. Kita tidak bisa mengusir salah satu anggota keluarga kita dengan cara seperti itu.  Bapak, lihatlah Amita. Amita itu masih terlalu muda untuk menghadapi cobaan seperti ini. bapak, bukankah Bapak selalu mengajari kita untuk selalu bersama dan saling menolong, terus kenapa saat ini bapak malah memilih jalan untuk mengusir Amita?” “Candra, biarkan Bapakmu melakukan apa yang seharusnya ia lakukan. Ibu juga tidak habis pikir dengan jalan pikir adikmu. Ibu sangat kecewa dengan apa yang telah adikmu perbuat.” “Ibu, jangan usir Amita. Kasihan Amita Ibu, kasihan Amita,” pinta Agni kepada Puspa yang ternyata memiliki solusi yang sama dengan Wisnu. “Bapak, Ibu. Kita nikahkan saja Amita dengan Leon. Kita bisa menutupinya dengan pernikahan. Keluarga kita tidak akan menanggung malu jika kita menikah Amita dengan Leon,” usul Candra pada kedua orang tuanya. “Kamu gila! Bagaimana bisa kamu menikahkan adikmu dengan pria yang tidak jelas asal usulnya.” “Pak, jangan pikirkan asal usul Leon, tapi sekarang yang terpenting adalah bagaimana caranya kita biar anak yang dikandung oleh Amita memiliki figure seorang ayah.  Bapak, tidak ada salahnya kita menikahkan Amita dengan pria yang memiliki darah dari Eropa. Bapak, lihat Amita. Lihat tubuh kecilnya yang begitu rapuh, kalau kita mengusir dan mengucilkannya apa hal itu akan memperbaiki keadaan sekarang?” “Bapak, saya mohon jangan usir saya pak. Saya akan membawa mas Leon ke sini dan aku jamin Mas Leon akan bertangung jawab dengan kehidupan Amita dan anak Amita,” pinta Amita sambil ia memohon-mohon kepada Candra. Akhirnya setelah mempertimbangkan saran dari Candra, Wisnupun akhirnya setuju untuk menikahkan Amita dengan Leon, tetapi dengan syarat kalau Leon harus mau meneruskan tradisi Jawa yang telah dilakukan oleh keluarga Amita dan Candra secara turun temurun. Malam itu juga Wisnu sekeluarga langsung pergi ke rumah Leon yang terletak tidak jauh dari kediaman Amita. Mereka semua pergi menggunakan mobil klasik yang pada jaman itu hanya orang-orang tertentu saja yang bisa menggunakan mobil tersebut. Amita duduk berdampingan dengan Agni di kursi paling belakang. Sesekali Amita akan menangis dalam diam dan hal itu membuat Agni merasa sangat kasihan kepada Amita. Ia tidak menyangka kehidupan Amita akan berakhir dengan cara seperti ini. Amita adalah seorang penari tradisional yang sangat jago dalam setiap gerakannya. Amita selalu menari di acara-acara penting yang selalu di adakan oleh anggota kerajaan. Amita juga mengajar di sebuah sangar seni tari yang sangat terkenal. Kariernya dalam dunia Tari sangatlah cermelang, bahkan Amita juga mendapatkan tawaran untuk menjadi seorang dosen di sebuah fakultas kesenian yang berada di kota tempat tinggalnya. ”Amita, apa itu benar tempat tinggal Leon?” tanya Candra kepada Amita, sambil ia menunjuk ke sebuah rumah besar yang bercat putih tulang. “Iya mas, itu rumah Leon,” ucap Amita dengan bibir yang bergetar. “Amita, apa kamu tidak salah memberikan alamat rumah Leon kepada kami?” tanya Puspa yang merasa begitu aneh dengan kediaman Leon. “Tidak ibu. Aku tidak mungkin salah memberikan alamat Leon kepada Ibu dan Bapak.” “Lalu kenapa Rumah Leon terlihat begitu gelap. Ibu rasa rumah ini sudah lama tidak di huni.” “Tidak Ibu, ini benar rumahnya Leon, Amita sangat yakin.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN