PENGORBANAN 2

1090 Kata
“Apa kalian bermain di sungai besar itu? Bukankah kami sudah memperingatkan kepada kalian untuk tidak bermain di bantaran sungai? Kalian tahu kan bagaimana bahayanya main di sungai tersebut,” maki seorang ibu-ibu kepada anaknya. “Iya Bu, kami tahu. Tapi saat itu kami sedang ingin bermain di sungai, dan saat itu aliran sungai tiba-tiba menjadi deras dan beberapa dari kami hanyut terbawa arus, lalu kakak-kakak itu yang menolong kita,” jelas salah satu anak pada orang tuanya. “Kalian dengar bukan bagaimana baiknya anak-anak KKN itu. Mereka mau mengorbankan nyawa mereka untuk menolong kita, lalu kenapa kita tidak mau menolong anak-anak itu?” “Baiklah kami mau menolong mereka, tapi hanya sebatas menolong Ibu Agni pergi menemui Mbok Ginem,” usul warga. Akhirnya setelah berdiskusi cukup panjang, akhirnya warga desa mulai bergotong royong membantu Agni untuk menemui Mbok Ginem yang berada di gubuk sederhana yang terletak di sebrang sungai besar dengan arus yang cukup deras. “Bu, apa ibu benar yakin dengan keputusan ibu? Ibu tidak ingin mengubahnya? Kita masih ada waktu untuk merubahnya,” bujuk Candra kepada Agni. “Pak, keputusanku sudah sangat bulat. Aku ini ibunya Birendra yang sudah sepantasnya aku membantu , melindungi anakku dari mara bahaya. Bapak ingat tidak waktu Ibu di vonis dokter mandul?” “Iya Bapak masih ingat dengan moment itu. Itu adalah moment yang sangat pahit dalam hidup kita. Bapak tidak akan bisa melupakan moment itu,” ucap Candra yang mulai teringat dengan moment dimana saat rumah tangga yang ia jalani dengan Agni mendapatkan cobaan yang begitu besar. . . “Apa maksudnya? Kenapa istri saya tidak bisa mengandung?” tanya Candra muda sewaktu Agni di vonis tidak akan bisa menjadi seorang Ibu. “Menurut hasil laboran Ibu Agni mengidap fibroid, dan hal ini mengharuskan Ibu Agni harus melakukan proses histerektomi untuk menyelamatkan nyawa Ibu Agni,” jelas dokter Wisnu pada Candra dan Agni. “Gak Dok … jangan ambil Rahim saya. Saya baru menikah dan saya juga belum mempunyai anak. Kalau Rahim saya di angkat maka saya tidak akan pernah bisa memberikan keturunan kepada suami saya. Dokter saya mohon tolong sembuhkan penyakit saya tanpa pengangkatan Rahim,” pinta Agni dengan linangan air mata. Ia tidak menyangka akan divonis penyakit seperti itu. Penyakit yang tidak diinginkan oleh semua wanita. “Ibu, dengan berat hati. Kami hanya bisa menyelamatkan Ibu Agni dengan cara pengangkatan Rahim. Kalau ibu tetap mempertahan Rahim ibu, maka nyawa ibu yang akan menjadi taruhannya.” “Saya tidak keberatan kalau nyawa saya taruhannya, tapi ijinkan saya untuk mengandung buah cinta kami. Kami tidak akan bisa melakukan hal itu,” isak Agni sambil ia menutupi wajahnya yang mulai memerah. “Tapi Bu, untuk program hamil akan sangat sulit untuk Ibu dan Bapak. dilihat dari faktor kesehatan reproduksi Ibu dan Bapak sangat kurang. Jadi dengan berat hati saya menyarankan kepada ibu dan bapak untuk melakukan proses pengangkatan Rahim.” “Baik dok, kami akan melakukan prosedur pengangkatan Rahim,” ucap Candra dengan begitu tegas. “Mas … kenapa mas menyetujui hal itu? Kita itu pengantin baru mas. Aku tidak ingin mengecewakan mas, dan ibu bapak. aku gak bisa melakukan prosedur pengangatan Rahim mas. Aku ingin mempertahankan rahimku mas. Aku ingin kita mempunyai keturunan.” “Apa kamu sudah gila? Apa kamu tidak dengar dengan apa yang dijelaskan oleh dokter kalau kita itu sulit melakukan program hamil? Kamu tahu kan kalau aku juga bermasalah, jadi buat apa kita berusaha untuk hal yang tidak akan mungkin untuk kita?” “Mas … mas percaya kan sama mujizat. Aku yakin kalau kita terus berusaha kita akan mendapatkan mujizat itu. Aku yakin kita akan mendapatkan anak, aku yakin kita akan menjadi orang tua mas. Aku mohon mas, aku mohon,” isak Agni pada bahu Candra. “Agni … mas mohon mengertilah. Aku menikahimu bukan untuk memiliki keturunan. Aku menikahimu karena aku menicntaimu, aku menyayangimu, aku ingin hidup denganmu, aku juga ingin menghabiskan waktuku denganmu. Aku tidak peduli dengan ada dan tidaknya anak dalam pernikahan kita, tapi yang jelas aku hanya ingin hidup denganmu. Aku mencintaimu Agni, aku sangat mencintaimu,” isak Candra sambil ia terus menepuk-nepuk punggung Agni dengan begitu lembut. “Tapi bagaimana dengan Ibu dan Bapak? aku yakin mereka akan sangat tidak setuju dengan keputusan kita. Kamu anak pria satu-satunya dalam keluargamu dan sudah seharusnya kamu yang harus memberikan keturunan kepada mereka.” “Kamu tidak usah memusingkan hal itu. Sekarang yang paling penting dalam hidupku adalah kesehatanmu, karena aku ingin kita menua bersama.” Akhirnya setelah diskusi yang cukup melelahkan, Agni dan Candra memutuskan untuk melakukan proses pengangkatan Rahim, hal ini dilakukan karena Fibroid dalam Rahim Agni sudah sangat besar yang menyebabkan Agni mengalami pendarahan. Jika   hal ini terus dibiarkan maka akan menyebabkan Agni kehilangan nyawanya. Setelah proses pengangkatan Rahim, hidup Agni terasa begitu hampa. Hidupnya seperti hancur berkeping-keping. Ia merasa kalau dirinya bukanlah wanita yang sesungguhnya. ia merasa begitu terpuruk. Ia selalu berpikir kalau dirinya adalah wanita yang paling jahat sedunia karena dengan sadar membiarkan orang lain mengambil rahimnya. Ia merasa begitu kecewa dengan keputusan yang telah ia ambil. Ia tidak tahu harus menjalani kehidupan ini dengan cara yang seperti apa. “Mas … aku sudah tidak mempunyai Rahim. Aku ini wanita yang paling buruk didunia ini. aku jahat mas, aku jahat! Aku mengorbankan rahimku demi keegoisanku. Aku wanita pendosa mas, aku wanita yang tidak tahu untung,” maki Agni pada dirinya sendiri. “Agni … Agni … cukup ya. jangan pernah kamu berkata seperti itu. Kamu itu wanita yang sangat baik. Ukuran untuk menjadi wanita yang sempurna bukan dilihat dari dia bisa hamil atau tidak. Tapi ukuran wanita sempurna itu dilihat dari hatinya. Hati kamu sangat lembut, kamu adalah orang pertama yang aku temui yang mau berkorban untuk orang lain. Kamu adalah wanita hebat. Kamu adalah wanitaku, kamu sempurna dimataku,” hibur Candra kepada Agni yang semenjak melakukan proses pengangkatan Rahim selalu murung. “Apa yang dikatakan oleh Candra itu benar Agni. Ukuruan wanita sempurna atau tidak itu hanya bisa dilihat dari hatinya,” ucap ibu Candra yang saat itu datang menjenguk Agni yang masih di rawat di rumah sakit. “Ibu … maafkan Agni. Maafkan Agni yang tidak bisa memberikan ibu keturunan. Maafkan Agni karena Agni telah mengecewakan Ibu dan keluarga.” “Tidak Agni! Kamu tidak bersalah. Ibu malah senang kamu melakukan prosedur pengangkatan Rahim, tapi kalau kamu tetap bersikuku mempertahankan rahimu tapi dengan kondisi kesehatanmu yang semakin menurun, itu malah membuat Ibu menjadi begitu sedih. Ibu bangga denganmu Agni, ibu bangga mempunyai menantu sebaik kamu,” hibur Ibu Candra kepada Agni yang sedari kamarin terus menangis.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN