”Bu, Ibu ini kan seorang Ibu. Ibu pasti paham betul bagaimana rasanya menjadi saya. Ibu pasti tahu betul bagaimana rasanya kehilangan anak yang sangat di cintai. Ibu saya mohon bantuannya, saya tidak bisa hidup tanpa anak saya. Saya mohon Bu, saya mohon bantuannya untuk menyelamatkan anak saya,” pinta Agni sambil ia berlutut di hadapan para warga yang saat itu masih bersikuku tidak mau menolong Birendra dan teman-temannya.
“Kami tahu BU, kami sangat tahu bagaimana rasanya menjadi Ibu yang harus kehilangan anak dengan cara seperti ini. tapi Ibu juga tahu kami juga orang tua, kami juga mempunyai anak. Kami juga tidak ingin anak-anak kami akan terkena sial karena membantu ibu dan keluarga untuk mencari Birendra,” ucap salah satu warga yang merasa kasihan kepada Agni tapi ia juga tidak bisa membantu Agni. Ia takut kalau hal itu malah akan membuat keluarganya terkena kutukan dan akan mengalami kesialan.
“Bu … tidak ada salahnya membantu orang yang begitu membutuhkan. Kita tidak akan pernah terkena kutukan kalau kita mau membantu orang BU. saya mohon Bu, saya mohon bantuannya. Kami membutuhkan kalian untuk mencari keberadaan anak-anak kami.”
“Bu, maaf kami tidak bisa membantu. Kalaupun kami bisa, kami sudah membantu Ibu sekeluarga, tapi kami hanyalah masyarakat bisa yang tidak akan pernah bisa menghubungan Ibu dengan jantung hutan terkutuk itu. Kalau ibu memang ingin mendapatkan bantuan maka ibu harus menemui Mbok Ginem yang rumahnya ada di sebrang sungai itu. Dia lah yang mengetahui tentang semua rahasia desa ini,” saran salah satu warga yang membuat Agni merasa sedikit tenang karena aka nada jalan keluar untuk menyelamatkan anaknya.
“Baik Bu, kalau begitu kami akan segera pergi menemui Mbok Ginem. Terima kasih Bu untuk bantuannya, terima kasih. Kami benar-benar berhutang budi kepada kalian. Terima kasih Bu, terima kasih,” ucap Agni dengan begitu sumringah.
“Terima kasih Bu, terima kasih Pak. Terima kasih untuk bantuan kalian. Kami tidak akan melupakan bantuan kalian kepada kami,” ucap Candra yang tak kalah senangnya dengan Agni.
“Kalau begitu ayo Pak kita langsung pergi menemui Mbok Ginem,” ajak Agni yang sudah tidak sabar untuk pergi menemui Mbok Ginem.
“Iya Bu, ayo Pak Mada kita harus segera menemui Mbok Ginem dan meminta bantuannya,” ajak Candra pada Mada.
“Hanya satu orang yang bisa menemui Mbok Ginem,” ucap Mada dengan tatapan yang lurus kedepan.
“Kenapa hanya boleh satu orang yang bisa menemui Mbok Ginem? Kenapa tidak kita semua yang pergi menemuinya?” tanya Candra.
“Mbok Ginem bukanlah orang biasa yang bisa kita temui dengan seenaknya. Mbok Ginem adalah penjaga hutan terkutuk sekaligus ialah orang yang akan membawa kita untuk menemukan Birendra dan teman-temannya.”
“Iya benar, apa yang dikatakan oleh pak Mada itu ada benarnya. Mbok Ginem tidak akan mengijin orang asing masuk ke tempatnya dengan begitu saja. ia juga tidak akan semudah itu mau menolong kalian. Dia orang yang sangat tertutup dan penuh dengan misteri.” Celetuk bapak-bapak yang ada disitu
“Lalu kalau begitu, kenapa kalian meminta kami untuk menemui Mbok Ginem?” ucap Candra yang merasa di permainkan.
“Karena hanya Mbok Ginem yang bisa menyelamatkan anak ibu dan bapak,”
“Ya sudah kalau begitu biarkan saya saja yang pergi menemui Mbok Ginem,” ucap Agni yang sangat siap untuk pergi menemui Mbok GInem.
“Tidak semudah itu Bu. Ibu akan mendapatkan banyak rintangan untuk menyebrangi sungai itu. Jika kedatangan Ibu di tolak oleh Mbok Ginem, maka nyawa Ibu yang akan menjadi korbannya, tetapi kalau kedatangan Ibu Agni diterima oleh Mbok Ginem maka nyawa ibu sekeluarga akan selamat,” jelas Mada dengan begitu serius.
“Ya! saya siap mengorbankan nyawa saya untuk Birendra. Saya ini Ibu Birendra, saya harus menyelamatkan anak saya. Nyawa saya tidak ada artinya tanpa Birendra di samping saya,” isak Agni yang merasa sudah sangat pasrah, jika taruhannya adalah nyawanya. Sebagai seorang ibu ia tidak peduli dengan keselamatanya karena yang ia pedulikan hanyalah keselamatan Birendra anak semata wayaangnya.
“Baik kalau itu yang Ibu Agni mau, maka ayo ikut saya. Saya akan menunjukkan jalan kepada Ibu untuk bertemu dengan Mbok Ginem,” ucap Mada sambil ia menunjukkan jalan yang akan mereka melewati untuk sampai di tepi sungai.
“Tidak! Saya tidak setuju dengan ide konyol ini. saya tidak akan membiarkan nyawa istri dan anak saya terancam. Kamu tidak bisa melakukan ini Agni. Kami membutuhkan kamu, aku membutuhkan kamu. Aku tidak akan membiarkan kamu melakukan hal ini, aku tidak akan bisa hidup tanpamu Agni,” isak Candra yang tidak bisa membiarkan Agnim melakukan hal yang membahayakan dirinya.
“Pak, aku harus melakukannya. Ini semua demi Birendra. Inilah pengorbananku. Selama ini aku tidak bisa merasakan mengandung, melahirkan, menyusui. Jadi aku mohon sama kamu Pak, ijin aku untuk melakukan pengorbanan untuk Birendra. Biarkan aku bertaruh untuk keselamatan anakku,” pinta Agni sambil ia menangis.
Melihat hal itu membuat warga desa merasa begitu kasihan, ingin rasanya menolong mereka, tetapi mereka juga tidak bisa mengorbankan nyawa anak-anak mereka. Mereka tidak ingin nyawa anak-anak mereka akan melayang seperti sepuluh tahun yang lalu.
Karena ulah segerombolan anak-anak KKN yang sangat tidak sopan yang akhirnya membuat banyak anak di desa Mlati meregang nyawanya. Banyak nyawa yang tidak berdosa yang harus di korbankan untuk menebus dan menyelamatkan nyawa anak-anak KKN yang bejad.
“Kami akan membuat tali untuk mengikat tubuh ibu Agni agar tidak terseret terbawa arus,” celetuk salah satu warga yang sudah tidak mempunyai anak.
“Apa yang kamu katakan? Kita dilarang untuk membantu mereka. Apa kamu tidak ingat dengan kejadian sepuluh tahu yang lalu? kami tidak bisa membantu mereka lagi. kami tidak sangup melihat anak kami harus menjadi korbannya,” tolak warga dengan begitu keras.
“Saya dan istri saya yang akan membantu Ibu dan Bapak ini. jika harus berkorban, maka kami siap mengorbankan nyawa kami untuk menyelamatkan anak-anak KKN itu.”
“Tapia pa kamu tidak memikirkan kutukan yang akan kamu bawa untuk desa kita? Sudah cukup kutukan sepuluh tahun yang lalu. tolong jangan menambah kutukan kepada kami. Kami ingin hidup dengan tentram.”
“Apa kalian tega melihat nyawa anak-anak KKN itu meregang dengan begitu saja?”
“Kami lebih tega melihat nyawa mereka yang melayang, daripada nyawa anak-anak kami.”
“Ibu, Bapak … ayo kita tolong Kakak-kakak itu. Mereka yang telah menolong kami, sewaktu kami akan hanyut di aliran sungai yang tiba-tiba saja menjadi begitu deras,” teriak seorang anak kecil yang datang dengan gerombolannya.
“Apa maksud kamu?”