PENOLAKAN

1074 Kata
“Pak, ini benar tempat tinggalnya Birendra dan teman-temannya?” tanya Agni kepada Candra sambil ia menggandeng tangan suaminya itu. Agni melihat kesekeliling tempat tinggal Birendra yang terlihat begitu menyeramkan. Tempat tinggalnya di kelilingi dengan banyaknya pepohonan kayu jati yang tumbuh dengan begitu lebatnya. Warna pada tembok rumah yang ditempati oleh Birendra dan teman-temannya terlihat lusuh, dinding-dinding rumah tersebut di selimuti oleh lumut yang begitu banyak sehingga hal itu menambah kesan seram pada rumah tua tersebut. Penerangan pada rumah tersebut juga masih sangat kurang, sehingga membuat rumah tersebut terlihat begitu gelap. “Ini benar tempat tinggal Birendra dan teman-temannya BU,” ucap Mada sambil ia berusaha untuk mengamati lingkungan sekitar, dan ekspresi Mada tiba-tiba saja berubah. Ia merasa kalau kedatang mereka sudah sangat terlambat, karena Birendra dan teman-temannya sudah sangat jauh memasuki alam goib. “Ya udah kalau gitu, ayo kita masuk dan kita bawa pulang Mada,” ajak Agni yang belum mengetahui kalau putra semata wayangnya telah pergi ke dimensi lain, yang membuatnya kesulitan untuk keluar dari dimensi tersebut. “Tunggu dulu, kita harus mengumpulkan para warga dan memanggil para tokoh di desa sini,” ujar Mada sambil ia meminta kepada Agni dan Candra untuk segera masuk kedalam mobil. “Memangnya ada apa? Kenapa kita harus mengumpulkan para warga? Kenapa kita tidak segera masuk saja ke dalam rumah Birendra?” tanya Agni dengan sedikit ngotot. “Birendra dan teman-temannya sudah tidak ada disini,” “Maksudnya apa?” tanya Candra sambil ia memegang tangan Mada “Birendra dan teman-temannya telah masuk kedalam alam goib, dimana alam itu telah mejebak mereka dalam waktu yang cukup lama.” Mendengar hal itu membuat Agni begitu terkejut, sehingga membuatnya tak kuasa untuk berdiri dengan kakinya sendiri. dunianya terasa begitu hancur ketika ia mendengar kabar kalau putranya telah masuk ke dalam dimensi lain. Ia merasa hidupnya sudah berakhir. Ia tidak menyangka, kalau putra yang selama ini ia rawat dengan penuh kasih sayang akan secepat ini pergi meninggalkannya. “Birendra …. Birendra!” isak tangis Agni pecah dengan begitu saja ketika ia tidak mendapati putranya. Hatinya begitu hancur dan sedih. Ia mengutuki dirinya sendiri karena ia merasa gagal menjadi seorang ibu. “Anaku … Birendra anak aku … pulanglah nak, pulanglah … Ibu menunggumu disini. Ibu mohon pulanglah Nak. Pulang. Ibu tidak bisa hidup tanpamu Nak! Ibu tidak bisa menjalani hari-hari berikutnya tanpamu. Ibu mohon pulanglah Nak, pulang!” teriak Agni sambil ia berusaha untuk berlari masuk ke dalam hutan. Namun dengan sigap Candra menahan Agni agar ia tetap berada di sisinya. Jujur Candra juga merasakan rasa yang begitu sedih seperti yang dirasakan oleh Agni istrinya, tetapi logikanya sebagai seorang pria masih berjalan. Ia tidak bisa melakukan sesuatu hal dengan gegabah, karena jika ia melakukan sesuatu hal tanpa memikirkan resikonya maka yang akan  menjadi korbanya adalah ia dan keluarganya. “Agni … Agni … aku mohon tenangkan pikiranmu. Kita harus yakin kalau Birendra tidak apa-apa. Kita harus bisa lebih tenang. Ingat Kita kesini itu untuk menolong Birendra bukan menambah masalahnya. Aku mohon tenanglah.” “Bagaimana bisa aku tenang mas … aku ini ibunya Birendra, aku yang telah merawat Birendra sejak ia kecil. Aku merawatnya dengan penuh kasih sayang, aku selalu menjaga Birendra agar ia bisa tumbuh dengan begitu baik. Terus sekarang saat ia sudah menjadi pria dewasa ia mendapatkan masalah yang begitu pelik seperti ini, apa bisa hati seorang ibu tenang? Tentu saja tidak bisa mas. Aku ini ibunya, aku harus menyelamatkannya,” isak Agni “Iya aku tahu. Aku tahu kamu ibunya, aku tahu kalau kamu akan melakukan berbagai macam cara untuk menyelamatkan Birendra, tapi aku mohon sama kamu. Tolong berpikirlah dengan kepala dingin, ayo kita cari solusinya bersama-sama, jangan seperti ini.” “Kalau kamu tahu dengan apa yang sedang aku rasakan, maka aku mohon kepadamu tolong biarkan aku untuk menolong putraku. Aku tidak bisa hidup tanpa putraku. Aku begitu mencintai putraku, aku mohon,” pinta Agni dengan begitu tulus. “Ibu Agni, saya mohon kita harus segera pergi meminta bantuan kepada warga sekitar dan para tokoh yang ada disini. Kita tidak bisa melakukan ritual pertolongan kepada Birendra dan teman-temannya tanpa bantuan para warga desa,” jelas Mada “Kenapa kita harus meminta bantuan kepada warga desa? Kenapa kita tidak menolongnya langsung? Bukannya kamu adalah utusan dari adik saya, lalu kenapa kita harus membuang-buang waktu kita untuk mengumpulkan warga desa?” tanya Agni yang merasa sudah tidak sanggup lagi jika harus menunggu lebih lama untuk menolong Birendra. “Karena kita membutuhkan seseorang yang bisa terhubung langsung dengan jantung hutan terkutuk tersebut. Ibu Agni kita harus segera melakukan ritual tersebut, jika tidak maka Birendra dan teman-temannya akan terkurung di dalam hutan itu selamanya.” “Ayo, kita pergi ke desa dan meminta bantuan kepada warga desa,” bujuk Candra yang akhirnya membuat Agni menjadi luluh dan mau mengikuti semua arahan yan diberikana oleh Mada kepadanya. Setelah menempuh perjalanan yang cukup singkat, akhirnya rombongan keluarga Birendra sampai juga di pemukiman warga. Disana Mada berusaha untuk meminta pertolongan kepada para warga yang saat itu sedang melakukan sebuah yasinan di rumah warga yang terletak tidak jauh dari pos ronda. “Pak, itu kenapa para warga terlihat seperti tidak menyukai kedatangan kita? Apa kita telah menyinggung perasaan mereka?” tanya Agni yang melihat reaksi para warga dari dalam mobil. Ia merasa kalau para warga tersebut seperti menolak kehadiran mereka. “Aku juga gak tahu Bu. tapi Bapak rasa, warga di desa Mlati tidak menyukai kedatangan kita,” ucap Candra yang menyetujui perkataan dari istrinya. “Kalau begitu ayo kita turun dulu Pak,” ajak Agni kepada Candra. “Kami tidak akan menolong anak-anak KKN itu. Mereka membawa sial di desa kami, mereka pantas mendapatkan hal itu. Mereka itu pendatang tapi sikap mereka sangatlah tidak sopan kepada kami,” celetuk seorang warga yang terlihat begitu tidak menyukai Birendra dan teman-temannya. “Maaf Bapak, Ibu. Kalau boleh tahu kenapa Bapak dan Ibu tidak menyukai kelompok KKN anak saya? Memangnya anak saya pernah melakukan kesalahan apa kepada warga desa disini? Kalau memang anak saya dan teman-temannya telah melakukan sebuah kesalahan yang begitu fatal, maka saya sebagai orang tua dari Birendra ingin meminta maaf kepada Bapak dan Ibu dengan begitu tulus,” pinta Agni dengan deraian air mata. “Cih! Buat apa kita menolong orang yang telah membuka pintu kemalang. Biarin aja mereka menghilang di dalam hutan terkutuk. Itulah bayaran yang harus mereka terima karena mereka berani sekali masuk kedalam tempat baru tanpa permisi,” bentak salah satu warga sambil ia muludah kea rah Agni.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN