TIDAK SESUAI DENGAN KENYATAAN

1251 Kata
“Pak, ini benar jalan ke tempat Birendra KKN?” tanya Agni yang merasa ngeri melihat jalan ke tempat KKN Birendra. Ia tidak menyangka kalau anaknya akan melakukan KKN di tempat seperti ini. memang benar KKN di lakukan untuk membuat Mahasiswanya menjadi lebih tangguh, dan bisa mengaplikasikan ilmu yang ia dapat ke dalam lingkungan yang ia gunakan untuk KKN, tetapi kalau kondisi lingkungan KKN seperti ini, apakah masih bisa di katakana layak untuk melakukan KKN? Tempat yang dipilih oleh BIrendra memang tempat yang sangat jauh dari peradaban kota, jalan yang dilewati masih beralasan tanah, serta sepanjang perjalanan akan di suguhkan dengan pemandangan pepohanan yang begitu banyak. Kesan yang di tampilkan pun berbeda dengan tempat yang benar-benar asri karena kondisi lingkungannya dengan tempat KKN Birendra yang menampilkan kesan mistis yang begitu kentara. Sebagai seorang ibu, Agni tidak bisa membayangkan betapa sulit kehidupan KKN yang dijalankan oleh anaknya. Walaupun BIrendra adalah anak gunung dan anak dari jurusan teknik pertambangan, tetapi melihat kondisi tempat KKN yang kental sekali dengan aura mistisnya, maka hal itu membuat hati Agni menjadi begitu sedih. “Iya Bu, ini lokasi yang pernah di bilang Birendra kepada kita,” jelas Candra sambil ia terus mengamati lingkungan sekitar yang terlihat begitu seram. “Tapi Pak, aku tidak pernah berpikir kalau Birendra akan melakukan KKN di tempat seperti ini. aku kira Birendra akan melakukan KKN di pedesaan yang asri dan nyaman, tapi kalau kaya gini mana Ibu tega Pak,” ucap Agni yang merasa begitu kasihan kepda BIrendra. “Ini adalah tempat dimana para pemuja iblis mengarahkan Birendra,” celetuk Mada sambil ia menyungingkan senyuman yang penuh dengan tanda tanya. “Maksud pak Mada apa?” tanya Candra yang begitu penasaran dengan perkataan yang di lontarkan oleh Mada. “Sesuai yang Bapak Candra dan Ibu Agni ketahui kalau Birendra adalah anak setengah malaikat, setengah iblis, maka aura Birendralah yang membuatnya sampai kesini.” “Maksudnya apa?” tanya Agni balik, yang tidak terima anaknya dikatakan setengah malaikat dan setengah iblis. “Nanti Ibu akan tahu sendiri,” ucap Mada dengan singkat dan hal itu membuat Agni merasa tidak nyaman dengan kedatangan Mada. Ia merasa sakit hati dengan perkataan yang di lontarkan oleh Mada. Ia tidak menyangka Mada akan mengatakan hal itu di depannya. “Apakah ini pengaruh dari pria itu?” tanya Candra sambil ia menggenggam tangannya dengan begitu erat. “Ya, sesuai dengan apa yang bapak ketahui. Jiwa manusia murni tidak akan pernah bisa tercampur dengan jiwa iblis ataupun malaikat. Tetapi Ibu Amita melakukan kesalahan itu sehingga membuatnya menjadi seperti ini. ia harus membayar apa yang sudah ia lakukan dan hal itu juga berpengaruh dengan Birendra, sehingga kehidupan yang ia jalani tidak bisa lepas oleh dunia gaib,” jelas Mada. “Ini semua salahku, kalau saja aku tidak mengijinkan Amita menjalani hubungan dengan pria itu. Maka hal ini tidak akan pernah terjadi. Seharusnya aku sebagai seorang kakak bisa melindungi adikku dengan baik. Ini semua salahku,” ucap Candra dengan bibir yang bergetar. “Pak, jangan salahkan diri sendiri. ini semua sudah takdir yang di Atas, sekarang lebih baik kita fokus untuk menyelamatkan Birendra. Ibu gak peduli anak Ibu mau setengah iblis, setengah malaikat. Ibu gak peduli. Tapi yang ibu pedulikan adalah keselamatan Birendra, kehidupan Birendra agar berjalan dengan normal bahagia. Itu yang terpenting untuk kita sekarang,” kata Agni sambil ia memegang bahu suaminya itu. Sakit rasanya melihat anak yang begitu di cintai harus menjalani kehidupan yang tidak sesuai dengan harapannya. Apalagi harus menanggung beban dari kesalahan yang telah dilakukan oleh orang tuanya. Anak yang seharusnya bisa menjalani kehidupan sesuai dengan apa yang telah ia lakukan harus ia kubur dalam-dalam karena ia harus menanggung beban karena kesalahan kedua orang tuanya sewaktu mereka masih hidup. Tidak ada orang tua di dunia ini yang tega melihat anaknya menjalani kehidupan yang penuh dengan lika liku kehidupan. Hati seorang orang tua akan terasa begitu sakit ketika melihat kehidupan yang di jalankan oleh anaknya tidak sebahagia anak-anak pada umumnya. . . “Mamah … Mamah … aku takut, aku ingin pulang,” renggek Ayu sambil ia meringkuk di bawah pohon jati yang begitu tinggi. Ia merasa begitu takut untuk berjalan mencari jalan keluar, ia takut kalau ia meninggalkan tempat yang ia duduki itu akan membuatnya tambah tersesat. “Mamah … kenapa aku harus menjalani hari yang seperti ini? kenapa aku harus tersesat di tempat yang begitu menyeramkan seperti ini? aku ingin pulang mah, aku ingin tidur sama Mamah, aku kangen sama Mamah. Aku ingin keluar dari hutan ini.” Ayu yang notabennya adalah anak perempuan satu-satunya yang ada di keluarganya, sehingga membuat Ayu menjadi perempuan yang begitu manja dan kurang bisa mandiri. Sejak kecil Ayu selalu di limpahkan rejeki yang begitu banyak, kasih sayang yang begitu banyak dari kedua orang tua dan dari kakak-kakaknya, sehingga hal itu membuat Ayu menjadi pribadi yang sangat tergantung dengan orang lain. Di saat seperti ini, Ayu hanya berharap untuk mendapatkan pertolongan dari orang yang sedang melintasi hutan. Ayu tidak berpikir untuk berusaha mencari cara untuk keluar dari hutan terkutuk ini dalam kondisi yang sehat. “Mamah … aku takut,” isak Ayu ketika ia mulai mendengar suara-suara aneh mulai muncul. Ia mulai mendengar suara lolongan anjing yang begitu keras dan panjang, longlongan itu membuat bulu kuduk Ayu berdiri semua. Tubuh Ayu mulai bergetar karena merasa takut dengan apa yang sedang ia alami. Ia takut kalau terror itu muncul lagi dan ia takut kalau terror itu akan merenggut nyawanya. Angin mulai berhembus dengan semilir, ranting-ranting pohon mulai berdecitan karena hembusan angin yang mulai kencang. Dari suara longlongan anjing, kini Ayu mendengar suara burung hantu mulai saling sahut menyahut. Walaupun udara saat itu terasa begitu dingin, namun kringat terus mengucur dengan begitu deras dari tubuh Ayu. Jantungannya berdetak dengan begitu kencang, nafasnya juga memburu dengan begitu cepat. “Aaarkgh,” pekik Ayu ketika ia merasa ada sebuah tangan yang mulai mencengkram kakinya. Dengan nafas yang memburu, Ayu mencoba untuk memberanikan dirinya untuk melihat kea rah kakinya. Dan … benar saja tebakannya. Ada sebuah tangan yang begitu besar dengan bulu-bulu hitam menyelimutinya, tangan itu mencengkram kaki Ayu dengan begitu keras dan kuat. Ayu yang melihat hal itu membuatnya bertambah ketakutan. Ayu mulai berusaha untuk mencari ide untuk melepaskan cengkraman mahkluk tersebut. Ia tidak ingin mati dengan cara seperti ini. ia ingin sekali untuk keluar dari hutan dan menjalani kehidupan yang normal seperti kehidupannya yang dulu. Ayu mulai menghitung dalam hatinya, dan ia mulai berkompromi dengan dirinya sendiri, kalau dalam hitungan ke tiga Ayu harus berusaha melarikan diri. Ia harus bisa keluar dari hutan terkutuk ini, dan menjalani kehidupannya. “Satu … Dua … Tiga!” pekik Ayu sambil ia berusaha untuk berlari, namun hal yang ia lakukan sia-sia saja, karena tangan yang memegang kaki Ayu ikut tertawa oleh Ayu yang terus berlari dengan begitu kencang. “Kenapa … kenapa kamu mengikutiku? Kenapa?” isak Ayu sambil ia terus berlari. Saat Ayu sedang berlari, tiba-tiba saja ia melihat sebuah cahaya kuning yang mulai datang. Melihat hal itu membuat Ayu menjadi begitu bahagia. Ayu berharap dengan kedatangan cahaya kuning itu ia bisa menyelamatkan nyawanya. “Tolong … tolong …” teriak Ayu sambil ia melambaikan tangannya pada cahaya kuning tersebut. “Pak, Bapak mendengar suara minta tolong tidak?” tanya Agni yang seperti merasa mendengar sebuah suara minta tolong. “Enggak itu BU, memangnya ibu mendengar suara minta tolong?” tanya Candra kepada Agni “Bu, hiraukan suara itu. Kita datang kesini untuk menyelamatkan Birendra bukan menolong orang lain,” ucap Mada sambil ia menoleh ke arah Agni yang seperti sedang mencari sumber suara tersebut.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN