BISIKAN HATI

1172 Kata
“Amita … dik,” panggil Candra kepada wanita paruh baya yang terlihat begitu cantik. Kulitnya begitu mempesona, sorotan matanya masih setegas waktu itu, bahkan senyumannya juga sama dengan yang dulu. “Mas Candra …” panggil Amita sembari ia berjalan menghampiri kakaknya. Dilihatnya Candra dengan seksama. Ia melihat kerutan-kerutan garis halus pada wajah kakaknya mulai muncul. Walaupun wajah kakaknya sudah tidak semuda dulu, tetapi kharisma yang ada dalam diri Candra masih ada. “Amita … kamu kemana saja? kenapa kamu meninggalkan kami? Kenapa kamu meninggal Birendra yang masih bayi? Dia membutuhkanmu Amita. Birendra membutuhkanmu,” jelas Candra kalau Birendra pasti sangat merindukan sosok ibu kandungnya. “Mas … maafin Amita ya Mas, maafin Amita. Amita terpaksa melakukan semua ini, tapi Amita tidak menyesal melakukan hal ini, karena Amita tahu kalau mas Candra dan Mbak Agni akan menjaga Birendra dengan penuh kasih sayang dan cinta.” “Tapi Mit, Birendra tetap harus tahu tentang keberadaanmu. Mas dan mbak gak bisa terus-terusan mengakui kalau mas dan mbak ini adalah orang tua kandung Birendra. Birendra harus mengetahui kamu Mit,” “Tidak, mas. Mita tidak bisa memunculkan diri Mita di hadapan Birendra, karena selama ini Birendra selalu berpikir kalau mas Candra dan Mbak Agni adalah orang tua kandung Birendra. Biarkan Birendra tetap menganggap mas dan mbak adalah orang tua Birendra.” “Ya udah kalau itu mau kamu, mas tidak akan bisa memaksanya. Tapi mas mohon tolong temui Birendra untuk sekali saja. biarkan dia bisa melihat wajah ibunya,” pinta Candra sambil ia menarik tanggan Amita. ‘Tidak Mas, saat ini bukan waktu yang tepat untuk menampakkan diri Mita.” “Kenapa? kamu kan ibunya, kenapa kamu tidak bisa menampakkan wajahmu pada Birendra?” “Suatu saat Mas akan tahu alasannya. Mas, tolong lindungi Birendra ya mas. Hanya mas Candra yang bisa melindungi dan menyelamatkan Birendra,” pinta Amita dengan mata yang berkaca-kaca. “Mak-sud kamu apa? Kenapa aku harus menolong Birendra? Memangnya ada apa dengan Birendra?” “Tolong tenggoklah Birendra, tapi aku mohon sama mas, untuk mengajak pak Mada, karena hanya melalui pak Mada mas bisa berkomunikasi dengan Birendra. Aku mohon ya mas, tolong selamatkan Birendra,” pinta Amita dengan tubuh yang mulai menghilang di tengah gelapnya malam. “Mit! Mita! … kamu mau kemana? Kenapa kamu pergi lagi? katakana padaku siapa pak Mada? Mita! … Amita!” teriak Candra sambil ia berusaha untuk menggapai tangan adiknya dan berharap kalau adiknya akan selalu berada di sampingnya. “Amita! …” teriak Candra, hingga membangunkan Agni yang saat itu sedang asyik tidur. “Bapak! ada apa? Bapak kenapa?” tanya Agni sambil ia memberikan segelas air putih kepada Candra. “Amita, Bu. amita.” “Amita? Amita adik kita? Ada apa dengan Amita? Apakah amita sudah kembali pulang?” “Amita datang dalam mimpiku, tapi aku merasa itu sangat real. Aku merasa Amita benar-benar datang ke rumah ini. Amita …” isak Candra yang begitu merindukan adikannya. Ia tidak menyangka kalau nasib adiknya akan setragis ini. kalau saja waktu bisa diputar maka Candra tidak akan membiarkan Amita menjalin kasih dengan pria asing pembawa kutukan. Jika mengingat waktu itu, ingin rasanya Candra menghabisi Laki-laki b***t yang selama ini menipu keluarganya dengan wajah yang rupawan serta keramahannya yang membuat orang-orang yang ada di sekitarnya merasa begitu nyaman. Candra tidak habis pikir ia akan dengan mudahnya masuk kedalam jebakannya, ia tidak percaya kalau pria itu hanya ingin memanfaatkan adiknya saja. memang Amita adalah wanita yang paling cantik waktu itu. Tubuhnya yang jenjang dengan sorotan mata yang begitu tegas, bibir yang terlihat begitu seksi, serta rambut hitam panjang yang terurai dengan begitu indahnya. Banyak sekali pria-pria bujangan yang ingin memperistri Amita, tetapi Amita selalu menolaknya karena Amita ingin mewujudkan mimpinya sebagai seorang penari yang bisa mengharumkan nama bangsanya. Namun semua itu berubah ketika Leon pria misterius yang datang dalam hidup Amita. Pada awalnya Amita tidak begitu memperdulikan Leon, tapi entah kenapa sikap Leon kepada Amita begitu hangat sehingga membuat Amita jatuh hati kepada Leon. Dan mulai saat itu Amita dan Leon mulai menjalin asmara hingga Amita mengandung buah hatinya dengan Leon. “Pak … Bapak tenang dulu ya Pak,” pinta Agni sambil ia terus berusaha untuk membuat Leon tenang. “Bu, kia harus segera menyelamatkan Birendra. Aku yakin kalau saat ini Birendra sedang di landa musibah.” “Maksud Bapak apa? Musibah apa? Bukankah kita tadi habis telponnya dengan Birendra?” tanya Agni yang masih bingung dengan maksud Candra. “Amita bilang ke aku, kalau Birendra membutuhkan bantuan kita. Tapi aku tidak tahu apa yang sedang terjadi kepada Birendra. Tetapi yang jelas Amita meminta bantuanku Bu,” iasak Candra sambil ia berusaha untuk menghubungi Birendra dan berharap panggilan suaranya dengan Birendra dapat terhubung. “Maksud bapak apa? Birendra kita kenapa? ada apa dengan Birendra?” tanya Agni dengan begitu panic. Walaupun Birendra bukanlah darah dagingnya, namun ia sudah menganggap BIrendra sebagai anak kandungnya. Sejak Birendra bayi, Agni lah yang merawatnya, sehingga membuat Birendra melupakan sosok ibu kandungnya sendiri. “Aku juga tidak tahu BU, tapi yang jelas kita harus segera menyelamatkan Birendra.” “Iya, bapak benar. kalau begitu aku siap-siap dulu ya pak.” “Iya bu, kalau begitu bapak mau manasi mobil dulu.” Akhirnya Candra segera bergegas untuk memanasi mobilnya. Tetapi saat Candra membuka pintu, tiba-tiba saja ia dikagetkan dengan sesosok pria paruh baya yang tengah berdiri di depan pintu masuk rumahnya. Dengan tatapan yang bertanya-tanya, Candra mulai bertanya tentang identitas pria misterius itu. “Maaf, ada apa ya Pak? Kenapa Bapak datang ke rumah saya malam-malam begini?” “Saya Mada. Saya utusan dari Ibu Amita,” jelas pria misterius tersebut dengan singkat. “Mada?” “Iya pak saya Mada. Ibu Amita pasti sudah memberitahu tentang kedatangan saya bukan?” “Bagaimana bisa pria ini tahu tentang Amita? Siapa dia?” gumam Candra di dalam hatinya. “Bapak tidak perlu takut dengan saya, karena saya adalah utusan dari ibu Amita, dan disini saya di tugaskan oleh ibu Amita untuk membantu Bapak Candra dan Ibu Agni untuk melindungi dan menyelamatkan Birendra putra semata wayang ibu Amita dan Bapak Leon,” jelas Mada dengan beitu sopan. Karena mendengar semua hal itu membuat Candra akhirnya dengan terpaksa mengikuti semua perintah yang diberikan oleh Mada kepadanya. Termasuk permintaanya yang meminta kepada Candra untuk membawa kain pembungkus Birendra sewaktu ia masih kecil, kain pembungkus yang berhasil menyelamatkan Birendra dari serangan para iblis j*****m. “Bapak, ayo kita berangkat,” ajak Agni yang saat itu belum tahu dengan kedatangan Mada “Pak, ini siapa?” tanya Agni dengan sorotan mata penuh dengan tanda tanya.  “Penjelasannya nanti saja ya Bu, sekarang yang terpenting adalah kita segera menyelamatkan Birendra,” jelas Candra sambil ia memegangi kain pembungkus Birendra sewaktu kecil. “Lhoh Pak, kenapa Bapak membawa kain seperti itu?” tanya Agni yang merasa aneh dengan perlengkapan yang dibawa leh suaminya itu. Candra yang merasa tergesa-gesa, akhirnya mengacuhkan pertanyaan dari Agni. Ia merasa kalau saat ini yang terpenting dalam hidupnya adalah menyelamatkan Birendra dan membuatnya kembali ke rumah ini dengan kondisi yang sehat tanpa kekurangan apapun dalam hidupnya.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN