“Tapi Den, kita itu satu tim. Kita tidak bisa terpisah-pisah seperti ini. bagaimana dengan janji kita untuk selalu bersama. Kalau kita meninggalkan teman-teman kita itu artinya kita tidak setia kawan.”
“Sekarang aku tanya sama kamu, apa kamu bisa menyelamatkan teman-temanmu? Tidak kan. Kamu aja juga habis pingsan, bagaimana bisa kita menyelamatkan mereka. Sekarang yang terpenting itu kita harus menemukan jalan keluar dari hutan ini dan meminta bantuan kepada orang pintar yang ada di desa,” jelas Raden kepada Birendra dengan harapan Birendra mau mendengarkannya dan mau mengikuti saran-sarannya.
“Tapi Den, aku tidak tega meninggalkan teman-teman dengan cara seperti ini. walaupun kita baru saja kenal, tapi tetap saja aku sudah menganggap kalian itu sebagai keluarga aku sendiri,” jelas Birendra dengan mimik wajah yang terlihat begitu lesu dan sedih.
“Ren, aku tahu bagaimana perasaanmu saat ini. tapi aku mohon kita tidak bisa menolong mereka dengan kondisi kita yang seperti ini. ayo lah Ren, kita pergi sekarang.”
Karena bujukan Raden, akhirnya membuat Birendra mau mengikuti arahan Raden yaitu pergi meninggalkan teman-temannya baru setelah itu mereka menolong teman-temannya yang masih terjebak di dalam hutan terkutuk.
Raden dan Birendra berusaha sekuat tenaga untuk mencari jalan keluar dari hutan terkutuk ini. mereka berusaha menggunakan intuisi mereka untuk mendapatkan jalan keluar. Mereka mencoba membaca dari arah datangnya angin.
Namun, hal itu tidak lah mudah. Karena hutan terkutuk ini terdiri dari banyak pepohonan yang begitu tinggi dan lebat.
“Ren, kamu ngerasa gak sih kalau pohon-pohon disini itu bertambah banyak, dan bukannya ini hutan adalah hutan pohon jati, terus kenapa disini banyak sekali pohon besar seperti ini?” tanya Raden yang merasa perubahan di dalam hutan. Awal masuk ke dalam hutan ia merasa kalau di dalam hutan hanya terdapat pohon jati, tapi entah kenapa sekarang Raden tidak melihat sedikitpun pohon jati yang tumbuh. Tapi Raden malah merasa kalau pohon di dalam hutan sudah berubah sedemikian rupa sehingga membuat Raden dan BIrendra kebingungan.
“Iya Den. Aku malah negerasa kalau saat ini kita tidak sedang berada di dalam hutan jati lagi, melainkan kita sudah benar-benar masuk kedalam hutan yang begitu lebat,” ujar Birendra yang merasakan hal yang sama dengan Raden.
“Ren, gimana kalau kita mencoba memberikan tanda pada tiap pohon yang kita lewati, agar kita tidak berputar-putar seperti ini,” usul Raden sambil ia mengeluarkan segenggam biji pohon kenari sebagai penanda kalau mereka sudah melewati jalan tersebut.
“Aku setuju Den, lebih baik kita menandai jalan yang sudah kita lewati ini.”
.
.
“Ayu! … Ayu!” teriak Gadis yang sedari tadi terus mencari Ayu. Sejujurnya ia merasa begitu ketakutan harus mencari Ayu seorang diri, tapi ia akan merasa lebih tidak enak hatinya ketika ia harus melepaskan Ayu dengan kondisi yang seperti ini.
Ia tahu kalau Ayu bukanlah orang yang akan mudah beradaptasi dengan lingkungan yang baru, dan Ayu bukanlah wanita yang pemberani dan tangguh dalam menghadapi situasi seperti ini. kalau saja situasinya tidak berhubungan dengan alam gaib maka Gadis percaya kalau Ayu akan bisa mengatasinya, namun hal itu tidak akan pernah berlaku dengan kehidupan Ayu yang berhubungan dengan dunia gaib.
Ayu adalah orang yang paling penakut dalam tim KKNnya dan sebelum ia berangkat KKN, Ayu selalu berpesan kepada Gadis untuk selalu bersamanya dan Gadis juga sudah berjanji kepada Ayu untuk selalu menemaninya. Sehingga hal itu membuat Gadis merasa bertanggung jawab dengan kehidupan Ayu.
“Ayu … kamu dimana?” gumam Gadis dengan d**a yang terasa begitu menyesakkan. Ia tidak bisa membayangkan betapa takutnya Ayu dalam menghadapi situasinya saat ini.
“Ayu …” panggil Gadis dengan suara yang lebih lantang.
Kreeekk … kreekk … suara pohon bambu yang saling bergesekan membuat suasana di dalam hutan menjadi bertambah mengerikan. Semilir angin menambah kesan mistis di dalam hutan. Bunyi dari gesekan pohon bambu membuat bulu kuduk Gadis berdiri semua.
Ia merasa kalau hawa di dalam hutan terasa begitu mencekam, dan naasnya lagi air mulai berjatuhan dari atas langit, yang menandakan akan terjadi hujan. Gadis merasa begitu kesal dengan semua rentetan peristiwa yang ia alami.
Ia merasa kalau ia tidak melakukan kesalahan apapun dalam melaksanakan KKN, tetapi kenapa ia dan teman-temannya harus mengalami terror seperti ini.
Saat keputus asaan melanda batin Gadis, tiba-tiba saja ia melihat sesosok pria yang sedang berdiri di bawah sebuah pohon yang begitu besar dengan air rawa mengelilinginya.
Gadis berusaha untuk memanggil bapak-bapak tersebut dengan tujuan meminta bantuan kepadanya, namun, entah kenapa Bapak-bapak itu seperti tidak mendengar suara Gadis yang sedari tadi selalu berteriak memanggil bapak-bapak tersebut.
Saat bapak-bapak tersebut berbalik badan, barulah Gadis tahu identitas bapak tersebut.
“Pak Lurah! Kenapa pak Lurah berada di dalam hutan sendirian?” gumam Gadis dengan dirinya sendiri.
“Apa jangan-jangan Pak Lurah datang kesini itu untuk menyelamatkan kami? Kalau begitu aku harus menghampiri pak Lurah dan meminta bantuannya,” pikir Gadis sambil ia segera bergegas untuk menghampiri pak Lurah yang terlihat seperti sedang melakukan sebuah ritual di bawah pohon keramat itu.
Namun, entah kenapa Gadis seperti tidak bisa beranjak dari posisinya berdiri. Ia merasa kalau saat ini kakinya sedang di pegang oleh seseorang dengan begitu kuat sehingga membuatnya tidak bisa bergerak.
“Pak Lurah! … Pak Lurah! Ini saya Gadis Pak! Woy Pak Lurah, saya disini!” teriak Gadis sambil ia melambaikan tangan pada pak Lurah.
“Aku mohon Pak, aku mohon lihatlah kami. Aku mohon pak, aku mohon selamatkan kami. Aku mohon,” pinta Gadis dengan begitu tulus.
Namun, usaha yang ia lakukan berujung sia-sia, karena setelah melakukan ritual Pak Lurah langsung pergi meninggalkan hutan tersebut tanpa ia menengok ke belakang.
Melihat hal itu membuat Gadis merasa begitu sedih, ia tidak menyangka kalau ia akan kehilang kesempatan emas yang datang di depan matanya.
“Kenapa? kenapa Pak Lurah tidak melihat ke arahku? Kenapa Pak Lurah langsung pergi meninggalkan kami? Kenapa Pak LUrah tidak berusaha mencari keberadaan kami? Kenapa dia pergi dengan begitu saja tanpa rasa empati dalam dirinya,” keluh Gadis sambil ia meratapi kepergian pak Lurah.
.
.
“Hallo … siapkan semua kebutuhan ritual yang akan kita lakukan nanti malam. Dan pastikan tidak ada sesaji yang ketinggalan untuk dipersembahkan, dan kalau sampai sesajinya tidak komplit maka kamu harus menyerahkan kepalamu untuk menjadi pelengkapan sesaji yang telah aku janjikan,” ucap Pak LUrah saat ia sedang menelepon seseorang.
“Baik Pak. Kami pastikan pesanan bapak akan sesuai dengan keingin bapak,” ujar orang misterius tersebut. Sambil ia tersenyum dengan begitu liciknya.