TERSADAR

1191 Kata
“Ren! Birendra! Ren!” teriak Raden pada Birendra yang tiba-tiba saja jatuh tersungkur di depan pohon beringin tua. “Gadis … Birendra kenapa?” tanya Ayu yang merasa begitu ketakutan. “Ayo kita cepat pergi dari sini,” ajak Aditya sambil ia membantu Birendra untuk bangun. Ia sudah tidak peduli lagi dengan keberadaan Eljo, karena yang ada dalam pikirannya sekarang hanya keluar dari hutan terkutuk dengan keadaan sehat tanpa kekurangan apapun. “Ka-lian mau kemana? Kenapa tidak meminum darahku yang segar ini?” ucap setan yang menyerupai Eljo sambil ia tertawa terkikih kikih. Ia tertawa sambil mempertontonkan gigi gigi tajamnya yang berlumuran darah begitu segar. Merinding rasanya melihat gigi-gigi runcing yang berlumuran darah itu. “Birendra! Kamu kenapa? Birendra ayo bangun! Lihat teman-temanmu, kasihan mereka ketakutan seperti ini. Birendra ayo bangun!” pekik Natasha pada Birendra yang masih tak sadarkan diri. Entah kenapa tiba-tiba saja Birendra langsung pingsan dengan nafas yang tersenggal-senggal. Hal itu membuat Natasha  naik pitam, ia tidak menyangka kalau para mahkluk biadab itu akan membuat Birendra dan teman-temannya kesulitan seperti ini. baru kali ini ia melihat terror yang terasa begitu nyata menyakitkannya. “Hei!! Sebenarnya apa mau kalian? Kenapa kalian membuat BIrendra seperti ini? Kenapa kalian memperlakukan Birendra seperti ini? kenapa!” maki Natasha pada hantu penunggu hutan terkutuk tersebut. Saat Natasha memaki para hantu penunggu hutan terkutuk tersebut, tiba-tiba saja udara di dalam hutan tersebut menjadi begitu dingin, angin bertiup dengan begitu kencang sehingga membuat rombongan KKN Birendra dan teman-temannya menjadi terpencar ke semua penjuru hutan terkutuk tersebut. Dan hal itu membuat semua teman-teman BIrendra menjadi begitu takut dan panic. “Ayo semuanya merapat! Jangan sampai kita terpisah,” teriak Raden sambil ia merapatkan tubuh miliknya pada teman-temannya yang mulai terlihat begitu panikk. “Raden!” teriak Gadis sambil ia memegangi tangan Ayu dengan begitu erat karena tubuh Ayu mulai terbang karena angin yang bertiup dengan begitu kencangnya. “Gadis! … jangan lepasin tubuhku, aku mohon. Tolong aku,” pinta Ayu sambil ia terus memegang tangan Gadis dengan bagitu eratnya. Ia merasa begitu takut kalau ia sampai terpisah dari gerombolan teman-temannya. Jauh di lubuk hati Ayu yang paling dalam, kalau ia meyakini jika ia sampai terpisah dari teman-temannya maka bisa dipastikan kalau ia tidak akan bisa bertahan hidup seorang diri di dalam hutan yang penuh dengan kekuatan gaib di dalamnya. “Ayu … Ayu … aku mohon terus berpegang eratlah pada tanganku. Jangan kamu lepaskan genggamanku,” pinta Gadis dengan deraian air mata. Ia merasa begitu frustasi jika harus kehilangan teman-temannya dengan satu persatu. “Aku mohon … lepaskan kami, aku mohon lepaskan kami. Aku mohon,” pinta Gadis dalam hatinya pada mahkluk gaib penunggu hutan terkutuk tersebut. “Gadis ….” Teriak Ayu ketika tubuhnya terbang terbawa angin yang begitu kencang, sedangkan Gadis berusaha untuk berlari mengejar Ayu yang tubuhnya terbang begitu saja. “Gadis! Tetap disini! Jangan sampai kita terpisah,” teriak Raden yang berusaha untuk menggapai Gadis, namun ia tidak bisa menggapai Gadis karena Gadis sudah terlanjut berlari mencari Ayu yang terbang terbawa angin yang memporak porandakan hutan tersebut. “Sekarang bagaimana? Sudahkah kalian percaya dengan kekuatanku? Apakah kalian masih ragu dengan keberadaanku,” sebuah suara misterius yang tiba-tiba saja terdengar dengan begitu kencang di tengah-tengah amukan anginn. “Raden!” teriak Aditya yang tiba-tiba saja tubuhnya menghilang di dalam kabut yang tiba-tiba saja datang menghampiri mereka. Di saat seperti itu Raden hanya bisa menangis, ia merasa benar-benar tidak berdaya. Ia tidak tahu harus berbuat apa lagi untuk mempertahankan teman-temannya. Ia sudah merasa begitu sedih dan capek. Entah kenapa tiba-tiba saja Raden memiliki rasa ingin untuk mengakhiri hidupnya. Ia merasa sudah tidak bisa bertahan dalam terror seperti ini. Sedangkan Natasha yang melihat kekacauan ini hanya bisa melihat tanpa bisa membantu mereka, karena entah kenapa tubuh Natasha terasa begitu kaku dan susah sekali untuk di gerakkan. “Birendra … aku mohon bangun lah. Aku mohon bantu teman-temanmu. Aku mohon bangun lah, keluarlah dari alam mimpimu. Aku mohon keluarlah Birendra,” pinta Natasha dengan begitu tulus, sehingga membuat Birendra membuka matanya dengan perlahan. “BIrendra!” panggil Raden ketika ia melihat BIrendra mulai membuka matanya. Uhuk … suara batuk Birendra. “Raden …” panggil Birendra dengan suara yang terdengar begitu lirih. Tubuhnya terasa begitu lemas dan matanya masih terasa begitu berat. Ingin rasanya untuk menutup matanya, namun entah kenapa ada sesuatu hal yang membuatnya untuk tetap membuka kedua kelopak matanya. “Birendra! … syukurlah kamu bangun Ren. Aku bersyukur masih mempunyai kamu dalam hidupku,” ucap Raden yang merasa begitu bersyukur karena Birendra masih bisa bangun. “Ada apa ini? dimana teman-teman kita?” tanya BIrendra yang begitu kaget ketika ia tidak menemukan teman-temannya, serta ia melihat kondisi hutan yang porak poranda. “Ren … Rendra …” peluk Raden sambil ia menangis tersedu-sedu. Ia merasa begitu sesak sehingga tidak bisa lagi menahan isak tangisnya. “Den … kenapa ini? kenapa kamu menangis? Ada apa ini? dimana teman-teman kita? Dimana Gadis, Ayu, Aditya dan Eljo?” tanya Birendra dengan suara yang terdengar begitu berat. “Mereka semua menghilang Ren … mereka menghilang meninggalkan kita disini,” isak Raden dengan bahu naik turun. “Maksud kamu apa? Kenapa mereka meninggalkan kita? Memangnya kita berbuat kesalahan apa pada mereka?” tanya Birendra yang masih belum bisa menerima kepergian teman-temannya. Dengan d**a yang terasa begitu sesak, Raden mencoba untuk menceritakan semua kejadian yang mereka hadapi di saat Birendra pingsan tak berdaya.  Birendra yang mendengarkan penjelasan dari Raden hanya bisa menangis dengan tatapan yang begitu kosong. Ia tidak percaya di saat teman-temannya membutuhkan bantuan dirinya, ia malah tidak ada untuk mereka. Birendra mulai menyalahkan dirinya karena tidak becus menjaga teman-temannya. “Ini semua gara-gara aku. Kalau saja aku tidak mengajak kalian untuk masuk ke dalam hutan, maka kalian tidak akan pernah mengalami hal seperti ini. kalau saja aku masuk sendirian disini maka aku yakin kalian semua akan masih ada disini. Ini semua salahku,” isak Birendra yang merasa begitu terpukul oleh kepergian teman-temannya. “Birendra … ini semua bukanlah kesalahanmu. Ini semua adalah ulah para mahkluk gaib itu. Ini bukan kesalahanmu,” hibur Natasha pada Birendra yang terlihat begitu sedih. Birendra hanya melihat Natasha dengan tatapan kosong, yang membuat Natasha menjadi begitu sedih. Ia tidak menyangka tidak bisa menjaga teman-teman Birendra yang tidak tahu apa-apa tentang alasan terjadinya terror ini. “Ren, saat ini bukan saatnya bagi kita untuk saling menyalahkan. Tetapi saat ini adalah saat untuk kita kembali bangkit. Kita harus bisa keluar dari hutan ini dengan sehat, agar kita bisa mencari bantuan para warga untuk mencari teman-teman kita,” jelas Raden pada Birendra yang masih meratapi kepergian teman-temannya. “Bagaimana bisa kita pergi meninggalkan mereka? Kita itu satu tim lho Ren kita juga sudah berjanji untuk tetap bersama. Aku tidak bisa meninggalkan mereka dengan cara seperti ini Ren,” tolak Birendra yang merasa begitu kasihan dengan nasib teman-temannya yang harus terjebak didalam hutan terkutuk. “Ren sadarlah! Kita ini Cuma berdua yang artinya kekuatan kita itu sangatlah kecil. Kita tidak akan bisa menyelamatkan teman-teman kita. Tapi kalau kita bisa keluar dari hutan ini dan bisa mencari bantuan para warga desa maka aku yakin kita akan bisa menemukan teman-teman kita,” jelas Raden yang masuk di akal
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN