BRUKK ….
Aku terjatuh tersungkur, dengan wajahku menghantam dasar lantai dengan sangat keras. Aku hanya bisa menahan rasa sakit yang luar biasa. Aku berusaha untuk bangkit dengan sisa-sisa tenagaku yang terkuras habis.
Aku merintih kesakitan, dan aku mencoba untuk menahan rintikan air mata yang mulai membendung dikedua kelopak mataku. Aku meremas kepalaku yang terasa berdenyut sangat hebat. Ingin rasanya aku berteriak meminta pertolongan tetanga namun, suaraku terasa tersendat didalam kerongkongan.
Perlahan-lahan pandanganku mulai memudar, dan BUKK … tubuhku terjatuh. Tubuhku terasa begitu lemas. Ku rasakan ada sesuatu hal yang mengalir dari kepalaku. Aliran itu terasa begitu hangat. Ku lihat pintu kamar ibu dan ayah perlahan terbuka dan aku sangat terkejut melihat kedua orang tuaku
“Ibu….” Aku melihat nanar ibu dan ayahku yang sedang dibantai oleh orang misterius itu. Aku hanya bisa melihat dan menangis. Walaupun pandanganku kabur tetapi aku jelas dapat melihat bagaimana kejinya mereka membantai kedua orang tuaku.
Aku menangis dengan terisak-isak, dadaku terasa begitu sesak. Tubuhku semakin lama semakin terasa begitu berat. Sebelum aku menutup mata, aku melihat ada dua orang anak kecil yang menangis histeris melihatku dan melihat ibu dan ayahku terkapar tak berdaya.
Dua anak kecil itu terlihat begitu ketakutan, “Lari….” Kata yang hanya bisa aku ucapkan dengan sisa-sisa tenagaku. “Tidak! Aku mohon jangan.” Kalimat yang aku keluarkan ketika aku melihat orang misterius itu menggorok leher kedua anak kecil tak berdosa itu.
Cairan kental berwarna merah pekat tersembur kemana-mana, dan aku perlahan mulai menutup mataku dengan perasaan bersalah yang teramat dalam.
“Birendra? Birendra?” Sebuah suara yang membuatku berangsur-angsur mulai membuka kedua kelopak mataku. Aku melihat sedikit cahaya yang begitu menyilaukan mata dengan bayangan dua orang pria dan wanita yang sedang memandangiku.
“Cepat ambilkan kompresan untuk Birendra ayah!” kata-kata yang bisa aku dengarkan walaupun dengan sayup-sayup.
“A-yah … i-bu ….” Kata yang keluar dari bibir mungiku dengan suara yang terdengar begitu lemas dan bergetar.
Perlahan penglihatanku mulai kembali normal dan aku bisa melihat dengan jelas kehadiran kedua orang tuaku. Aku langsung memeluk ibuku yang saat itu sedang duduk di sampingku. Aku memeluk ibu dengan sangat erat. Aku menangis tersedu-sedu di pelukan ibuku.
Berkali-kali aku mengatakan kata-kata maaf kepada kedua orang tuaku. Ibu yang melihatku sangat ketakutan langsung memeluku dengan sangat erat. Ibu membelai rambutku dengan begitu lembut dan ibu juga mengatakan kepadaku untuk tetap tenang, ibu dan ayah akan selalu berada disampingku sampai kapanpun.
Perlahan aku melepaskan pelukanku dari ibuku. Aku berusaha untuk menceritakan mimpi mengerikan yang aku alami. Mimpi yang tidak akan pernah aku lupakan. Mimpi yang membuatku benar-benar ketakutan. Mimpi yang terasa begitu nyata bagiku.
Ayah datang dengan membawa baskom berisikan air dingin untuk mengkompres tubuhku yang terasa begitu panas. Ayah juga menyodorkan ku segelas air putih. Ayah dan ibu memintaku untuk meminum air putih tersebut sampai habis tak tersisa.
Ayah mulai menyadarkan tubuhnya pada kursi kayu dengan gaya classic berwarna putih tulang yang ada didalam kamarku. Ayah memandangiku dengan tatapan penuh dengan kekhawatiran dan rasa iba. Entah kenapa aku merasakan ada sesuatu hal yang mengerikan yang pernah aku alami dan hal itu membuat ayah dan ibuku sepakat untuk menutupinya dariku.
Aku memegang kedua tangan ibu yang terasa begitu lembut dan dingin. Aku mulai megatur napasku dan aku mulai membagikan cerita mimpiku yang begitu menakutkan. Aku menceritakan semuanya kepada kedua orang tuaku dan saat aku bercerita kepada kedua orang tuaku dengan penuh ketakutan, ibuku langsung memeluku dan berkali-kali ia mengatakan kata maaf kepadaku.
“Maafkan ibu sayangku. Maafkan ibu, maafkan ibu.” Kata-kata yang terus diucapkan oleh ibuku dengan isakan tangis yang membuatku kebingungan dengan sikap ibu yang seperti itu. Sekilas aku melirik ayah dari sudut mataku, dan aku melihat ayah raut wajah ayah yang terlihat begitu ketakutan.
Aku melihat tubuh ayah mulai menggigil dan sesekali ayah mulai menggit bibir bagian bawahnya dengan maksud untuk menyingkirkan rasa gugup dan rasa takut yang menyelimuti ayah. Ayah mulai membuang pandangnya dariku dan ibu. Kini ayah mulai memandangi jendelaku dengan tatapan mata yang kosong.
Ibu mulai melepaskan pelukannya dariku dan kini ibu mulai mengatur napasnya. Sesekali ibu memegangi pipi mungilku dan ia mulai menangis lagi. Ibu menatapku dengan tatapan yang penuh penyesalan, ketakutan, tatapan yang terlihat sama dengan tatapan yang diberikan ayah kepadaku.
“Ibu … ada apa? Kenapa ibu sedari tadi menangis tersedu-sedu?” tanyaku kepada ibu dengan nada suara yang terdengar begitu lembut.
Sebelum ibu mulai membuka mulutnya, ibu memegangi tanganku terlebih dahulu dan sesekali ibu berusaha menghapus air mata yang terus mengalir dari kedua kelopak mata ibu yang terlihat begitu indah dan cantik.
Saat ibu mulai mengatakan sesuatu, tiba-tiba saja ayah langsung menarik tangan ibu dan segera mengajak ibu pergi meninggalkanku. Namun, ibu menolaknya dan akhirnya membuat ibu dan ayah beradu argumen. Mereka memperdebatkan sesuatu hal yang intinya ibu ingin mengatakan sesuatu hal yang sangat penting, yang membuat ibu ingin mengatakanya kepadaku namun, ayah tidak menyetujuinya dan akhirnya berusaha untuk menghalangi ibu mengatakan hal itu kepadaku dengan dalil aku masih terlalu rapuh untuk mengetahuinya.
“Ayah, ada apa ini? biarkan ibu mengatakannya kepadaku.” Aku yang melihat pertengkaran kedua orang tuaku, akhirnya membuatku harus mencampuri urusan mereka.
“Birendra!.” Bentak ayah dengan suara yang sangat tinggi. “Sekarang kamu tidur lagi. Besok pagi kita bicarakan lagi. Ibu ayo kita pergi.” Lanjut ayah dengan menarik tangan ibu dengan sangat kasar dan ayah langsung menutup pintu kamarku dengan sangat kencang tanpa mau mendengarkanku terlebih dahulu.
Aku hanya bisa duduk di bibir ranjangku dengan perasaan yang terluka. Disela-sela aku menangis aku teringat dengan mimpiku tadi, mimpi yang sangat aneh. Dua orang yang aku lihat didalam mimpiku tadi bukanlah wajah kedua orang tuaku, melainkan wajah orang yang terlihat begitu familiar denganku namun aku tidak tahu siapa orang itu dan kenapa didalam mimpiku aku selalu memanggilnya dengan panggilan ayah dan ibu.
Lalu siapa dua orang anak kecil yang berdiri dengan raut wajah ketakutan dengan jeritan meminta tolong dan … kedua anak kecil itu harus meregang nyawa dengan cara yang teramat tragis.
Semua hal yang aku alami akhir-akhir ini membuatku semakin gelisah dan semakin lama rasa ingin tahu ini semakin tinggi.
Kehadiran mahkluk-mahkluk astral yang selalu mengganguku, ingatan-ingatan masa kecil yang mulai kembali lagi.
Entah masa kelam apa yang pernah aku lakukan sehingga membuat aku menjadi seperti ini.