BIRENDRA- DUA JIWA

1072 Kata
Pukul dua dini hari aku terbangun dari tidurku, entah apa yang sedang  terjadi kepadaku, aku merasa ada sesuatu hal yang sedang mengawasiku. Aku mencoba untuk tidur kembali, namun mata ini tidak bisa aku ajak berdikusi. Aku membolak balikan badanku kesana kemari mencari posisi yang ter-enak untuk memejamkan mata. Aku berdecak kesal kepada diriku sendiri karena, aku tidak kunjung merasakan kantuk, sedangkan tubuhku sudah terasa begitu letih, namun mataku ini tidak bisa untuk dipejamkan.  Hah … aku membuang nafas yang terasa begitu berat, badanku sudah terasa begitu letih tetapi kenapa pikiranku masih pergi kemana-mana. Karena aku sudah merasa sangat kesal maka aku memutuskan untuk mencoba bermain ponsel, dengan harapan setelah aku bermain ponsel aku dapat tertidur dengan pulas. Untuk lima belas menit pertama, aku tidak merasakan sesuatu hal yang aneh, tetapi setelah itu aku merasa udara di kamarku terasa begitu panas sedangkan di luar sedang turun hujan begitu deras. Aku berpikir bagaimana bisa kamarku terasa begitu panas sedangkan diluar hujan deras dan aku bisa melihat dan merasakan bahwa diluar sedang ada angin yang bertiup cukup kencang. Hal itu dapat terlihat dari suara-suara pohon bambu yang saling bergesekan oleh hembusan angin hujan yang cukup kencang. Aku mencoba untuk tetap biasa saja, karena aku yakin di rumah sedang ada  banyak orang sehingga secara mental aku merasa aman. Aku terus melanjutkan bermain ponsel dan tiba-tiba saja ada sebuah notifikasi masuk ke dalam ponselku. Aku tidak terlalu memperdulikan notifikasi yang masuk ke dalam ponselku dan saat itu juga aku hanya melihatnya saja. aku terus bermain dengan ponselku, yang pada akhirnya ada sebuah notifikasi baru yang masuk kedalam layar ponselku “KAU BERANI MENGACUHKAN AKU?” mataku terbuka dengan lebar ketika membaca pesan tersebut. Belum sempat aku membuka pesan tersebut, tiba-tiba saja ada notifikasi baru yang masuk, “KENAPA? KAMU TERKEJUT?” perasaanku mulai gelisah ketika membaca pesan tersebut. “KAU MASIH BERANI MENGACUHKAN AKU?” “AKU BISA DATANG KAPAN SAJA DIDEPANMU,  DAN AKU BISA MENCABUT NYAWAMU DENGAN TANGAN KOSONGKU INI” Tubuhku mulai terasa begitu panas ketika membaca pesan berantai tersebut, tanganku mulai bergetar ketika aku mencoba untuk membuka pesan tersebut. Aku mencoba untuk membalas pesan tersebut, namun tanganku yang sudah terasa begitu lemas dan gugup karena pesan berantai tersebut, membuat aku mengalami kesulitan dalam membalas pesan tersebut. “AKU BISA MELIHATMU! AKU BISA MERASAKAN DERUAN NAFASMU” “AKU TAHU KINI KAMU MERASA KETAKUTAN BUKAN?” “BIRENDRA!” “Kamu siapa?” hanya dua kalimat yang bisa aku kirimkan kepada pengirim misterius tersebut. “AKU ADALAH KAMU” “Hentikan! Jika kamu tidak ingin berurusan dengan pihak berwajib maka tolong hentikan kekonyolanmu!” aku sudah tidak tahan lagi dengan pesan berantai seperti itu dan aku mengangap orang yang mengirimiku pesan tersebut adalah orang yang sedang tidak mempunyai pekerjaan. Aku memutuskan untuk segera memblokir no tersebut, dan aku mencoba untuk tidur kembali. Namun ternyata pilihanku untuk memblokir pesan tersebut adalah salah karena ada sebuah pesan baru yang masuk lagi dengan no telepon yang berbeda. “KAMU BERANI MENANTANGKU YA!” “KAMU AKAN MENYESAL MELAKUKAN HAL ITU KEPADAKU” “AKU AKAN DATANG KEPADAMU!” Aku meyakinkan kepada diriku sendiri bahwa pesan yang aku terima ini adalah pesan dari orang yang bertangan jahil, dan untuk kedua kalinya aku memblokir nomer telepon orang tersebut. TING! Ponselku berbunyi kembali, dan aku merasa takut jika itu adalah pesan dari orang misterius itu lagi, sehingga aku memutuskan untuk tidak membukanya. Dengan harapan orang itu akan berhenti mengganguku, Namun bukannya orang tersebut menjadi berhenti mengganguku, tetapi kini ia mulai mencoba menghubungiku dengan melalui via video call. Bulu kuduku berdiri semua, darahku berdesir dengan begitu deras. Angin berhembus dengan lembut menyapa tubuhku yang sedang menggigil karena ketakutan. TING! Betapa terkejutnya aku ketika aku melihat pesan yang ia kirimkan kepadaku. Ia mengirimkan sebuah foto rumah bergaya jawa klasik dengan taman kecil didepannya. Foto rumah itu terasa begitu familiar olehku. Ya, ini adalah foto bagian depan rumahku. “Bagaimana bisa ia mengirimkan foto rumahku kepadaku saat orang-orang sedang tidur terlelap? Siapa dia? Tidak, ini tidak benar. Aku harus segera pergi kekamar ayah dan ibu.” Gumamku dengan diriku sendiri. Ketika aku mencoba untuk bangkit dari tempat tidurku dan aku mencoba untuk segera pergi menemui kedua orang tuaku, tiba-tiba saja aku mendapatkan sebuah pesan yang bertuliskan sebuah ancaman kepadaku untuk tidak memberitahu orang rumah atau aku dan keluargaku akan dihabisi olehnya. Merinding rasanya membaca sebuah pesan ancaman seperti itu. Tetapi aku berpikir kembali, jika ia sekarang berada di depan rumahku maka cepat atau lambat ia akan berusaha untuk memasuki rumahku, dan jika hal itu sampai terjadi maka akan berakibat fatal. Tetapi jika aku mengatakan yang sesungguhnya kepada kedua orang tuaku. Aku yakin pasti kedua orang tuaku akan melakukan sesuatu hal yang aku yakini dapat menyelamatkan nyawa kita semua. Ya, aku yakin ini hanyalah sebuah gertakan semata. Jadi aku memutuskan untuk tetap memberitahu kedua orang tuaku. Aku berjalan dengan begitu tergesa-gesa sampai pada akhirnya aku menabrak sebuah meja yang ada di ruang keluarga. “Oh, sh*t!” aku mengeluarkan sebuah k********r secara spontan dari mulutku. Lantas aku segera memegangi lututku yang terasa begitu sakit karena kecerobohanku yang membuatku harus  menabrak sebuah meja yang jelas-jelas terletak disitu. Aku berusaha untuk tetap berjalan menuju kamar kedua orang tuaku, walaupun dengan kondisi lutut yang sedang sakit dan entah kenapa aku merasa ada seseorang yang sedang mengikutiku berjalan. Aku dapat merasakan langkah kakinya yang terasa begitu berat, dan TING! Ponselku berbunyi kembali dan ketika aku melihat apa isi pesan tersebut, aku tersentak kaget. “KAMU MAU KEMANA? AKU SUDAH MEMPERINGATKAN KAMU UNTUK TIDAK MENCOBA-COBA MEMPERMAINKAN AKU!” tubuhku bergetar dengan hebat, nafasku terengah-engah ketika aku membaca tulisan beserta foto diriku dari belakang yang artinya orang misterius itu kini sudah memasuki rumahku dan kini ia sedang berdiri tepat dibelakangku. Air mataku metes dengan sendirinya, dan aku menyesali kebodohanku yang tidak mendengarkan peringatan darinya. Tubuhku bergetar dengan sangat hebat ketika aku mendengarkan sebuah bisikian tepat di telingaku, “PERMAINAN DIMULAI!” Tubuhku terasa begitu membeku sehingga membuatku hanya bisa menangis ditempat. Aku mencoba untuk memberanikan diri untuk melihat siapa mahkluk misterius tersebut yang berani-beraninya menerorku. Namun naas belum sempat aku melihat orang tersebut, aku mendengar sebuah teriakan ibuku yang begitu kencang yang disertai dengan suara kegaduhan. “Ibu!!” Entah kekuatan dari mana, setelah aku mendengar teriakan dari ibu, membuatku segera berlari menuju kamar ibu. “Tolong, jangan sakiti kedua orang tuaku, aku mohon.” Gumamku dengan diriku sendiri sembari aku berlari menurunin anak tangga dengan begitu cepat dan ….  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN