HUTAN TERKUTUK

1105 Kata
“Ayu tutup matamu, jangan kamu melihat ke situ,” teriak Birendra sambil ia mencoba untuk menutup mata Ayu agar tidak melihat ke arah datangnya aura kegelapan. Dengan tubuh yang bergetar Ayu hanya bisa menangis terisak-isak. Ia tidak menyangka akan melihat hal begitu mengerikan dalam hidupnya. Seumur-umur baru kali ini Ayu melihat hal yang begitu mengerikan. Ia melihat sesosok wanita tua dengan rambut putih yang menjuntai ke tanah dengan begitu panjang. Wanita tua itu terlihat sedang memegang sebuah kepala manusia yang masih mengucurkan darah yang begitu segar dengan sangat deras. Tapi yang lebih aneh lagi adalah ketika Ayu merasa seperti mengenal dengan wajah yang ada pada kepala bunting yang dibawa oleh wanita tua itu. Tapi Ayu berusaha untuk berpikiran positif dan dia berharap kalau semua ini hanyalah halusinasinya saja. “Ren … ren … kamu lihat bukan. I-tu .. nenek nenek tua itu memegang kepala manusia di tangannya,” isak Ayu dengan begitu gugup. “Ayu, dengarkan aku. Anggap itu hanya halusinasimu saja dan jangan pernah kamu biarkan halusinasimu menghanyutkanmu. Gadis aku mohon tolong jaga Ayu, jangan biarkan Ayu membuka matanya untuk sementara waktu.” “Ren, Ayu kenapa?” tanya Aditya yang tidak melihat sesuatu hal yang mencurigakan. “Nanti akan aku ceritakan semuanya. Sekarang yang terpenting adalah kita harus segera keluar dari hutan ini. pesanku untuk kalian, jika kalian melihat atau mendengar sesuatu yang mengerikan jangan biarkan hal itu merasuki alam bawah sadar kalian. Kalian harus tetap fokus,” pinta Birendra sambil ia meminta kepada teman-temannya untuk mengikutinya kembali ke rumah kosong yang sedang mereka tempati. Kali ini mereka semua mengikuti arahan dari Birendra, mereka tidak ingin mengacuhkan perkataan Birendra untuk kedua kalinya. Dengan patuh mereka semua mengikuti arahan dari Birendra dan mereka mencoba untuk selalu tenang. Entah kenapa Birendra merasa kalau langit berubah menjadi gelap dengan begitu cepat. Birendra memiliki feeling yang tidak enak. Ia yakin kalau saat ini fisik dan mentalnya sedang di permainkan oleh para mahkluk j*****m tersebut. Tanpa ia sdari ia seperti melihat dirinya sendiri telah menjadi sebuah mayat yang mulai membusuk. Ia merasa begitu merinding melihat hal itu. Bagaimana bisa ia menjadi mayat dengan begitu banyak belatung yang mengerogoti tubuhnya. “Ren, fokuskan dirimu! Jangan sampai mahkluk itu menguasaimu. Ingat itu hanya tipu musliat mereka saja,” ucap Natasha mencoba untuk menyadarkan Birendra yang mulai terpengaruh dengan halusinasi yang diciptakan oleh para mahkluk astral tersebut. Tiba-tiba saja mereka semua mendengar suara gending jawa berdendang dengan begitu nyaring  dan hal itu sontak membuat bulu kuduk berdiri semua. Mereka semua mencoba untuk mengiraukan suara tersebut dan tetap fokus pada tujuan awal mereka yaitu keluar dari hutan terkutuk. Mereka berusaha untuk tetap tenang dan fokus namun, usaha mereka sia-sia saja ketika mereka mendapati tubuh Eljo yang tergantung disebuah pohon beringin tua yang begitu besar. “Tolong … tolong aku,” rintih Eljo sambil ia melambaikan tangan pada teman-temannya. “Eljo … teriak Ayu yang merasa begitu kasihan kepada Eljo. Ia tidak menyangka kalau temannya akan berakhir dengan cara yang seperti itu. “Den … Ren .. cepat tolong ELjo. Aku mohon cepat tolonglah ELjo,” isak Ayu sambil ia memohon kepada Birendra, Raden dan Aditya. “Tunggu dulu! Kita harus memastikan terlebih dahulu. Apakah itu benaran Eljo atau hanya tipu musliat mereka saja,” usul Birendra yang merasa tidak yakin kalau apa yang saat ini ia lihat adalah Eljo sahabatnya. “Tapi Ren, bagaimana cara kita untuk memastikan hal itu? Iya kalau itu memang tipu musliat mahkluk itu, tapi kalau itu beneran Eljo bagaimana? Ayolah Ren, cepat bantuin ELjo!” renggek Ayu sambil ia memegang tangan Birendra. Birendra, Raden dan Aditya hanya saling berpandangan. Mereka tahu kalau mereka terlalu lama menentukan pilihan maka taruhannya adalah nyawa Eljo, tapi kalau mereka terlalu gegabah mengambil keputusan dan akhirnya tidak sesuai dengan harapan maka taruhannya adalah nyawa semua tim. “Sha … gimana menurutmu?” tanya Birendra kepada Natasha. “Ren, aku rasa itu bukanlah Eljo! Kalaupun ELjo dia tidak akan bisa berbicara dengan kepala tergelantung seperti itu. Aku rasa kalau manusia biasa tidak akan bisa bertahan dengan leher tercekik seperti itu,” jelas Natasha yang masuk kedalam logika Birendra. “Aku rasa itu bukanlah Eljo,” jelas Birendra kepada teman-temannya. “Bagaimana bisa kamu mengatakan kalau itu bukan ELjo? Otak dan hati kamu dimana? Itu teman kita, itu sahabat kamu lho Ren!” teriak Ayu yang merasa tidak percaya dengan apa yang telah ia dengar dari Birendra. “Ayu … aku rasa BIrendra benar. aku rasa itu bukanlah Eljo,” dukung Gadis yang membuat Ayu bertambah marah. Ia merasa kalau teman-temannya kehilangan akal dan hati nuraini karena rasa ego dalam dirinya. Ia tidak menyangka mereka akan  mengacuhkan teman mereka sediri. Ia tidak percaya rasa kemanusian dalam diri teman-temannya telah hilang. Ia merasa kalau orang yang sedang tergantung di pohon beringin tua itu adalah Eljo teman satu timnya. Tanpa pikir panjang, Ayu langsung berlari menuju ke arah Eljo dan ia berusaha untuk menyelamatkan Eljo. “Ayu! Kamu mau kemana? Kamu jangan gila ya Yu! Dia bukanlah ELjo! Pakai logikamu,” teriak Gadis kepada Ayu sambil ia terus memegangi tangan Ayu dengan begitu erat. “Bukan Eljo gimana? coba kamu liat. Itu ELjo Dis! Wajahnya, rambutnya bahkan suaranya itu suara Eljo,” teriak Ayu sambil ia berusaha melepaskan cengkraman Gadis yang terasa begitu kuat dan menyakitkan. Plakkk … sebuah tamparan yang begitu keras mendatar di pipi mungil milik Ayu. Dan hal itu sontak membuat semuanya terkejut. “Ayu! Sadarkan dirimu! Dia bukanlah Eljo, dia bukan Eljo! Kalau dia memang Eljo maka dia tidak akan bisa ketawa ketawa seperti itu. Eljo sama kaya kita. Kita itu hanya manusia biasa yang tidak akan pernah bisa bertahan dengan kondisi seperti itu,” jelas Gadis setelah ia menampar Ayu dengan begitu keras. Mendengar hal itu langsung membuat Ayu jatuh tidak berdaya. Ia tidak menyangka kalau dirinya masih bisa kena tipu muslihat mahkluk b***t seperti itu. “Ayu … aku minta maaf. Maafkan aku karena telah menamparmu. Aku minta maaf,” ucap Gadis sambil ia memeluk Ayu dengan begitu erat. ia tidak menyangka kalau dirinya akan bisa seberani itu untuk menampar Ayu. Ayu menangis tersedu-sedu. Ia merasa begitu sesak dan ia ingin rasanya untuk berteriak. Ia juga ingin sekali untuk mencabik-cabik mahkluk tersebut agar berhenti menggangu hidup dirinya dan teman-temannya. “Aku ingin pulang … aku kangen rumah aku. Aku kangen orang tua aku. Aku ingin pulang!” teriak Ayu sambil ia menjambak-jambak rambutnya sampai kulit kepalanya terluka. “Ayu … Ayu … tenanglah. Aku tahu kalau kamu ingin segera pulang. Aku juga, kami disini juga seperti kamu. Kami juga ingin segera pulang. Kami juga ingin keluar dari terror ini,” isak Gadis yang merasa sangat lelah dengan semua ini. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN