“Kalau begitu kita harus menemui pak lurah sekarang, mumpung masih siang,” Usul Raden.
“Aku setuju denganmu, dan biar lebih aman lagi kita semuanya harus pergi menemui pak lurah sekarang,” kata Birendra
“Oke, kalau begitu biar Eljo, aku, Gadis dan ayu naik mobilku terus kamu dan Aditya naik motor gak apa-apa kan?” tanya Raden kepada Birendra dan Aditya.
“Oke aku setuju. Yang penting kita segera keluar dari rumah ini dan kita semua bisa selamat dari marabahaya ini. aku tidak peduli kalau aku harus naik motor dengan Birendra,”
“Iya aku setuju dengan usulanmu. Ya udah kalau begitu ayo kita bawa Eljo kedalam mobilmu,” ucap Birendra sambil ia segera bergegas menuju ke kamar Eljo. Namun betapa terkejutnya mereka ketika mereka mendapati Eljo sudah tidak ada di dalam kamarnya.
Sontak semua orang yang berada di dalam rumah tersebut begitu ketakutan dan kebingungan, karena di dalam kamar yang di tempati oleh Eljo tidak terdapat celah sedikitpun untuk seseorang bisa pergi dari sana, lalu sejak tadi Birendra, Ayu, dan Gadis selalu berada di ruang tamu yang langsung menghadap ke arah kamar Eljo.
“Bagaimana bisa Eljo tidak ada di kamarnya? Aku yakin kalau sejak tadi tidak ada orang yang bisa keluar dari rumah ini, karena sejak tadi aku selalu berjaga,” pekik Birendra sambil ia mengusap wajahnya yang terasa begitu letih.
“Ren, aku yakin kalau saat ini Eljo sedang di sembunyikan oleh penunggu rumah ini” bisik Natasha tepat di teliinga Birendra.
“Kamu tahu dimana Eljo sekarang?” bisik Birendra pada Natasha.
Natasha hanya menggelengkan kepalanya tanda bahwa ia juga tidak tahu dimana penunggu rumah ini menyembunyikan Eljo. Sedaritadi Natasha selalu berada di dekat Birendra sehingga ia tidak memperhatikan Eljo.
“Sekarang apa yang harus kita lakukan? tidak mungkin kita meninggalkan Eljo dengan kondisinya yang seperti ini. kita satu tim, kita datang ke sini bersama-sama maka kita harus pergi dari sini juga bersama-sama,” ucap Gadis yang merasa begitu kebingungan dengan kondisi yang tengah ia alami. Ia tidak habis pikir kalau KKN yang ia pikir akan terasa begitu menyenangkan dan menggembirakan ternyata malah membuatnya masuk ke dalam lembah kegelapan.
Gadis begitu menyesali perbuatannya yang tidak mendengarkan perkataan Birendra dan menganggap BIrendra hanya berbual saja, ternyata ia salah karena apa yang dikatakan oleh Birendra merupakan fakta yang akan terjadi dengannya. kalau saja ia bisa mengulang waktu maka ia akan mendengarkan perkataan Birendra.
“Bagaimana klau kita menghubungi orang tua kita dan meminta mereka untuk mencarikan orang pintar agar mau membantu kita?” usul Aditya yang merasa sudah cukup kebingungan. Ia tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain berusaha untuk meminta pertolongan kepada orang yang jauh lebih paham dengan dunia mistis.
“Kita tidak bisa melibatkan orang tua kita,” ucap Birendra dengan begitu tegas.
“Kenapa kita tidak bisa meminta pertolongan kepada kedua orang tua kita? Bukannya malah enak kalau kita dibantu orang tua?” tanya Aditya yang merasa bingung dengan sikap Birendra yang menolak untuk meminta bantuan kepada orang tua atau menghubungi pihak kampus.
“Karena masalah ini masalah kita dan kita sendiri yang harus menyelesaikan permasalahan ini.”
“Tapi Ren, tidak ada salahnya untuk kita meminta bantuan kepada kedua orang tua kita. Kita benar-benar terjebak dengan situasi ini. kita tidak bisa menyelesaikan masalah ini sendirian.”
“Jangan pernah libatkan orang luar pada masalah tim kita.”
“Why? Berikan aku penjelasannya. Kenapa kita tidak di perbolehkan meminta bantuan pihak luar?”
“Karena saat ini kita sedang di kutuk. Aku tidak mau kutukan ini akan merembet pada orang tua kita,” teriak Birendra yang tak kuasa menahan rasa takut, kecewa pada dirinya sendiri.
“What? Mak-sud kamu apa?” tanya Raden pada Birendra
“Kalian tahu bukan kalau aku pernah berkata kepada kalian untuk menghentikan acara KKN kita, tapi kalian tetap memaksanya. Terus kalian tahu tidak kalau saat ini bulan apa? Terus kalau kita tidak di kutuk maka orang-orang di desa ini akan membantu kita, tapi coba lihat. Mereka tidak mau membantu kita, mereka takut kalau kutukan kita akan membuat mereka sial,” jelas Birendra
“Gak … gak mungkin … terus bagaimana dengan nasib kita? Aku takut … aku takut kalau kita akan mati dengan cara yang konyol. Aku gak mau jalani hidup seperti ini” rengek Ayu sambil ia menangis tersedu-sedu.
“Sekarang yang terpenting kita harus menemukan Eljo, baru kita pergi ke rumahnya pak lurah. Aku yakin kalau Ejo masih ada di sekitar sini,” ajak Birendra untuk segera mencari Eljo baru meminta bantuan kepada pak lurah.
“Oke kalau gitu ayo kita pisah dulu,”
“Jangan! Kita jangan pisah! Lebih baik kita melakukannya dengan bersama-sama,” ucap Birendra sambil ia memberikan tali kepada teman-temannya.
“Buat apa tali ini?”
“Kita bisa menali tali itu pada tangan kita, agar kita bisa terus bersama dan kita bisa bersama-sama keluar dari tempat ini,” jelas Birendra sambil ia mulai menali tangannya.
“Oke, ayo kita lakukan dengan cepat. Kita batasi waktu pencarian kita hanya sampai jam empat sore.”
“Ya aku setuju!”
Akhirnya merekapun sepakat untuk mencari Eljo secara bersama-sama, mereka mulai mencari Eljo di sekitar pekarangan rumah mereka. Mereka berharap agar dapat segera menemukan Eljo sebelum jam empat sore. Karena kalau sudah lewat jam empat sore maka mereka akan menghentikan aktifitas mereka dalam menacari Eljo dan mereka akan langsung pergi ke tempat pak Lurah untuk meminta pertolongan.
Mereka terus berteriak memanggil nama Eljo, dan sesekali mereka akan mengabsen jumlah anggota mereka secara berkala. Mereka tidak ingin ada diantara mereka menghilang lagi.
“Eljo! … jo! … Eljo!” teriak Raden sambil ia melihat ke sekeling dengan begitu cermat.
“Suara apa itu?” tanya Ayu ketika ia mendengar sebuah suara seperti bayi menangis, namu ia merasa begitu ketakutan ketika mendengar suara tersebut, karena saat ini mereka semua sedang berada di tengah hutan yang jauh dengan pemukiman penduduk maka mana mungkin ada bayi di lingkungan hutan yang begitu mengerikan.
“Kamu mendengarnya?” tanya Gadis sambil ia melihat ke arah Ayu.
“Apa lagi ini? kenapa kita terus di landa masalah seperti ini?” ucap Raden yang merasa sangat kesal dengan terror yang selalu datang dalam kelompoknya
“Woy! … setan sialan! Kenapa kalian selalu menggangu kami? Memangnya kami punya salah apa sama kalian? Woy! Sialan!” teriak Raden yang sudah muak dengan semua terror.
“Raden! Jaga bicaramu. Kita ini pendatang maka kita hrus menghormati mereka,” sanggah Gadis yang merasa takut dengan apa yang telah di ucapkan oleh Raden. Ia merasa begitu takut kalau penghuni hutan ini tidak terima dengan perkataan yang dilontarkan oleh Raden.
“Kenapa? kenapa hahh … kamu takut dengan mereka? Kamu takut? Hahh …” teriak Raden pada Gadis dan sontak hal itu membuat suasana di dalam hutan menjadi berbeda. Suasana yang awalnya biasa saja, tiba-tiba saja berubah menjadi begitu mencekam.
Angin mulai berhembus dengan sangat kencang, langit mulai berubah warnanya yang semula begitu cerah namun kini warna langit mulai gelap. Udara juga menjadi begitu dingin. Burung-burung berwarna hitam mulai terbang di atas kepala mereka.
“Gadis …” renggek Ayu sambil ia meremas tangan gadis dengan begitu erat.