PERJANJIAN

1210 Kata
“Kenapa kita harus menyelesai KKN ini? kamu lihat kan, bagaimana kondisi teman-teman kita? Kita semua diteror sama mahkluk itu Ren … kita udah gak aman lagi. aku mohon hentikan KKN ini, aku mohon Ren … aku mohon,” isak Ayu sambil ia memohon-mohon kepada Birendra agar ia mau menghentikan KKN yang mencekam seperti ini. Ayu merasa begitu ketakutan kalau harus tetap berada di desa terkutuk ini. dadanya terasa begitu sesak memikirkan setiap hal yang harus ia dan teman-temannya alami. Ayu merasa begitu menyesal tidak mendengarkan perkataan Birendra untuk menunda acara KKN mereka atau mengganti tempat KKN mereka di sebuah desa yang jauh lebih aman daripada di desa Mlati. “Kalau kita berhenti di tengah jalan malah akan membuat permasalahan kita menjadi lebih besar. kita udah sejauh ini masuk ke dalam lembah kegelapan dan kita sudah tidak ada waktu untuk kembali, tetapi kita masih punya waktu untuk mencari jalan keluar untuk kegelapan kita,” jelas Birendra sambil ia mencoba untuk membuat Ayu tenang. “Kalau begitu, apakah kita bisa mengganti tempat tinggal kita? Aku tidak mau tinggal dirumah tua ini Ren.” “Aku setuju dengan usulan Ayu, aku juga ingin ganti tempat tinggal. Aku juga merasa begitu takut untuk tinggal di rumah tua yang terletak di tengah hutan pohon jati seperti ini,” ucap Dewi yang setuju dengan usulan Ayu untuk berganti tempat tinggal. “Kalau untuk tempat tinggal biarkan aku dan Gadis yang akan membicarakannya kepada bapak kepala desa. Semoga saja kita bisa mendapatkan tempat tinggal yang jauh lebih layak daripda ini.” Birendra dan teman-temannya sangat berharap bisa mendapatkan tempat tinggal baru yang jauh lebih layak huni, dan yang jelas tempatnya juga aman dari serangan para mahkluk halus yang begitu usil dan jahat kepada BIrendra dan teman-temannya. Sejujurnya mereka tidak mengharapkan tempat tinggal yang terlihat begiu megah dan mewah, namun mereka hanya menginginkan tempat tinggal yang layak huni dan dekat dengan peradapan manusia serta aman dari gangguan para setan dan sebangsanya. Mereka akan merasa sangat ketakutan jika malam sudah tiba, karena saat malam hari suasana rumah tersebut akan terasa begitu mencekam. Akan ada  banyak suara-suara aneh yang terdengar setelah magrib. Ditambah lagi minimnya penerangan pada rumah tersebut sehingga membuat suasana di dalam rumah dan di luar menjadi semakin menakutkan. Saat mereka ingin buang air kecil atau buang air besar akan dilakukan secara bersama-sama karena mereka benar-benar tidak akan berani melakukan hal itu sendirian. Ditambah letak kamar mandi di luar rumah lebih tepatnya di samping rumah tanpa atap dan tanpa lampu penerangan didalamnya.  Jadi kalau malam hari suasana di dalam kamar mandi akan terasa sangat mencekam karena bisa meihat ke semua sisi yang ada di dalam hutan pohon jati yang kalau malam sering sekali terdengar sebuah suara orang berjalan yang kakinya di seret, serta setiap jam tiga pagi mereka semua akan mendengar sebuah suara seorang nenek-nenek yang sedang menyapu di depan halaman rumah kosong yang saat ini mereka tempati. . . “Ibu, Bapak … saya mohon tolong kami bu, pak,” pinta Raden kepada warga yang saat itu sedang duduk bersantai di gardu tua yang terletak di perempatan jalan. “Kalian ngapain ke sini? Bukankah tempat kalian itu di rumah kosong yang terletak di tengah hutan pohon jati itu,” ucap salah satu bapak-bapak yang terlihat begitu tidak menyukai kedatangan Raden dan Aditya. “Bapak … saya mohon bantuannya, teman saya kesurupan pak. Saya mohon pak, saya mohon kami pak. Kami tidak tahu harus meminta pertolongan kepada siapa lagi kalau bukan kepada warga desa Mlati,” timpal Aditya membantu argument Raden. “Tidak! Kami tidak ingin mendapatkan kutukan karena menolong kalian. Siapa suruh kalian menempati rumah terkutuk itu. Sana pergi dari sini, kami tidak ingin mendapatkan pengaruh buruk dari kalian. Udah sana pergi!” usir bapak-bapak tersebut kepada Raden dan Aditya. “Pak, saya mohon pak. Tolong bantu kami pak. Kami tidak tahu harus meminta pertolongan kepada siapa lagi. kalau kami bisa memilih maka kami akan memilih untuk tinggal di tempat lain dan bukan di rumah kosong itu,” ucap Raden dengan suara yang terdengar begitu serak, akibat menahan rasa sedih yang teramat dalam. Raden begitu kaget melihat penolakan warga desa kepada mereka, ia kira kalau di desa jiwa tolong menolongnya akan sangat tinggi. Namun, ia salah karena disini warganya benar-benar tidak peduli dengan nasibnya dan nasib para teman-temannya. Ia hanya ingin meminta pertolongan untuk menyembuhkan temannya yang sedang kerasukan, kalaupun mereka tidak bisa menolong, mereka bisa lah setidaknya memberikan solusi untuk persoalan yang sedang melanda Raden dan teman-temannya. “Kalian hubungi saja Pak Lurah, beliau kan yang membawa kalian kesini maka yang harusnya menolong kalian itu ya Pak Lurah bukan kami warga desa yang tidak tahu menahu tentang perjanjian kalian dengan Pak Lurah,” ucap salah satu bapak-bapak yang sebenarnya merasa tidak tega melihat para anak-anak muda tersebut kesulitan dalam menghadapi amukan penunggu rumah kosong dan hutan pohon jati tersebut. “Perjanjian? Maksud bapak apa? Kami tidak melakukan perjanjian apapun dengan Pak Lurah,” Raden benar-benar merasa tidak tahu dengan maksud perkatan bapak-bapak tersebut. Ia merasa tidak pernah melakukan perjanjian dengan pak lurah, bahkan mereka hanya bertemu sebanyak dua kali. Itu pun pertemuan yang kedua mereka tidak mengobrol dengan pak lurah, lalu bagaimana bisa mereka melakukan perjanjian dengan pak lurah. “Udah! Kalau kalian mau selamat, lebih baik kalian semua pergi ke rumah pak lurah sekarang,” perintah bapak-bapak tersebut kepada Raden dan Aditya. “Den, udah gak usah kita ladeni lagi. labih baik kita pulang dulu dan mengatakan semuanya kepada teman-teman, siapa tahu mereka bisa memberikan solusi kepada kita,” ajak Aditya kepada Raden. Akhirnya Raden dan Aditya kembali ke rumah kosong tersebut dengan tangan kosong. “Lhoh Dit, Den mana warga desa?” tanya Ayu dengan gugup “Mereka semua tidak mau menolong kita! Mereka malah mengusir kita.” “Hah? Kok bisa? Kenapa mereka tidak mau menolong kita? Apakah kita membuat sebuah kesalahan kepada mereka? Kenapa mereka begitu tega kepada kita?” isak Gadis yang merasa begitu kaget dengan kabar yang dibawa oleh Raden dan Aditya. Ia merasa tidak habis pikir kalau warga desa yang awalnya ia kira begitu baik dan ramah, ternyta warga desa begitu egois dan kejam kepada anak-anak muda yang sedang mengalami kesulitan. “Aku juga tidak tahu, tapi yang jelas mereka meminta kepada kita untuk pergi menemui pak lurah dan meminta solusi dari beliau. Dan yang lebih membuat kaget lagi adalah mereka menuduh kita telah melakukan perjanjian dengan pak Lurah sehingga memuat kita mengalami hal-hal mistis seperti ini.” “Apa maksudnya? Perjanjia apa yang telah kita buat dengan pak Lurah? Seingatku kita tidak pernah membuat perjanjian yang aneh-aneh dengan pak lurah,” jelas Ayu sambil ia mengingat-ingat moment dimana kelompoknya bertemu dengan pak lurah. “Tidak! Ini bukan perjanjian diantara kita dan pak lurah, tetapi perjanjian diantara pak lurah dan penunggu daerah sini,” celetuk Birendra dengan suara yang terdengar begitu serius. “Maksud kamu, pak lurah melakukan perjanjian gelap dengan penunggu sini, dan kita yang harus menanggung hal itu?” tanya Ayu kepada Birendra. “Ya, bisa dibilang seperti itu.” “Terus kita harus melakukan hal apa biar kita semua selamat dan bisa segera pergi dari daerah ini?” tanya Gadis yang terlihat begitu panic. “Satu-satunya cara kita harus pergi menemui pak lurah dan meminta pertanggung jawabannya,” usul Birendra yang langsung disetujui oleh teman-temannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN