SATU MINGGU KEMUDIAN
Birendra dan kelompoknya tetap melakukan kegiatan KKN sesuai dengan rencana awal, walaupun banyak hal yang harus di handle sendirian oleh Gadis dan Birendra. Hal itu dilakukan oleh Gadis dan Birendra karena mereka tidak tega melihat kondisi teman-temannya yang terlihat begitu murung dan tidak fokus dengan apa yang sedang mereka lakukan.
Sejak kejadian itu membuat beberapa teman Birendra berubah menjadi begitu pendiam. Ingin rasanya mengulang waktu dan memperbaikinya.
“Ren,” panggil Gadis kepada Birendra.
“Ya Dis kenapa?”
“Apa sebaiknya kita bilang ke kampus? Aku tidak tega melihat teman-teman seperti ini Ren,” tanya Gadis yang terlihat begitu frustasi dan capek dengan semua hal yang ada pada KKNnya.
“Tidak semudah itu Dis, aku yakin pihak kampus tidak akan mempercayai kita. Lebih baik kita selesaikan KKN ini sesuai dengan rencana awal. Aku tahu kalau KKN ini akan terasa begitu berat untuk kita, tapi mau bagaimana lagi, kita sudah terlanjur basah.”
“Tapi Ren, lihatlah teman-teman kita. Lihatlah Eljo, setiap hari dia menangis dan mengngigau setiap ia tidur. Aku takut Ren, aku takut KKN ini akan berujung petaka.”
“Buat apa kamu takut? Bukannya KKN ini sudah menjadi petaka untuk kita semua? Dan sudah dari awal aku memperingatkan kepada kalian betapa bahayanya tempat ini, tapi apa yang kalian lakukan? kalian tetap nekat melakukan KKN ini,” ucap Birendra yang merasa jengkel dengan sikap Gadis yang awalnya meremehkan tindakan Birendra namun sekarang dialah orang pertama yang meminta kepada Birendra untuk mengundurkan diri dari kegiatan KKN ini.
Memang ini bukanlah kesalahan Gadis seutuhnya, namun menurut Birendra, Gadis adalah orang yang berperan dalam kekacauan ini. kalau saja Gadis menyetujui usulannya dan berusaha untuk mencari tempat KKN baru maka kejadian ini tidak akan pernah terjadi.
Ia tidak akan melihat sahabatnya menderita seperti ini, ia juga tidak akan membuat teman sejawatnya menderita seperti ini. ingin rasanya berteriak kepada Gadis, namun hal itu tidak bisa ia lakukan karena tidak akan merubah apapun.
Namun, rasa jengkel dan marah masih ada.
“Ren,” panggil Natasha sambil ia memegang bahu Birendra yang naik turun karena isak tangisnya.
“Sha … kenapa hal ini harus terjadi kepadaku? Kenapa! apa salahku? Kenapa setiap hal yang aku lakukan selalu tidak sesuai dengan rencanaku? Kenapa harus aku yang mengalami hal ini? apakah aku adalah anak terkutuk, sehingga membuat orang-orang yang berada di dekatku menjadi terluka?”
“Tidak! Tidak Ren. Tidak! Kamu bukan anak terkutuk. Ini semua bukanlah kesalahanmu, ini sudah takdirnya. Kamu jugu sudah berusaha untuk membantu teman-temanmu dan kamu juga sudah mencoba untuk memperingatkan teman-temanmu agar mereka mengganti tempat KKN, tetapi mereka yang tidak mau mendengarkanmu. Jadi ini bukanlah kesalhanmu.”
“Tapi Sha “
“Sudahlah Ren, yang sudah terjadi biarlah terjadi. Yang terpenting sekarang kamu dan teman-temanmu baik-baik saja.”
“Baik-baik saja bagaimana? Apa kamu tidak lihat bagaimana menderitanya mereka? Eljo sahabatku yang selalu ceria kini menjadi murung dan sering menangis tanpa sebab. Kenapa mereka membuat teman-temanku menjadi seperti ini? kenapa Sha? Kenapa?” isak Birendra sambil ia sesekali mengusap air matanya yang terus jatuh membasahi pipi.
Aaarrkkkghhhhh ……
Sebuah teriakan yang membuat Birendra dan Natasha langsung berlari ke dalam rumah kosong yang terletak di tengah-tengah hutan pohon jati yang di sediakan oleh pihak desa untuk ditempati oleh Birendra dan teman-teman untuk beristirahat selama melakukan KKN.
“Ada apa ini? kenapa dis?” tanya Birendra dengan begitu panic kepada Gadis
“Aku juga tidak tahu Ren, tiba-tiba saja Eljo berteriak seperti itu,” jawab Gadis sambil ia juga ikut menangis dengan kejadian yang ia alami.
“Den, cepat panggil warga biar mereka membantu kita,” pinta Birendra kepada Raden yang saat itu berusaha untuk menyadarkan Eljo.
“Ya Ren, dit ayo kita panggil para warga biar mereka membantu kita,” ajak Raden kepada Aditya yang hanya bisa berdiri di sudut ruangan dengan tatapan yang kosong.
“Dit! Ayo!” teriak Raden ketika ia tidak mendapatkan jawaban dari Aditya
Melihat Aditya yang hanya berdiri dengan tatapan kosong membuat Birendra menjadi takut, ia takut kalau Aditya akan menjadi kerasukan seperti Eljo.
“Den, tutup mata Aditya dan bawa dia pergi dari sini. Dan untuk kamu Dis, tolong ambilkan aku air putih di dalam dapur, sambil menunggu Raden membawa warga, aku akan berusaha sekuat tenagaku untuk menyembuhkan Eljo.”
Tanpa berbasa-basi Gadis langsung bergegas pergi ke dalam dapur dan ia langsung membawakan air putih kepada Birendra.
Sedangkan Birendra meminta bantuan kepada Natasha untuk membantu berkomunikasi dengan mahkluk yang ada di dalam diri Eljo.
“Kalian !! .. kenapa kalian menempati rumahku? Pergi dari sini! Pergi !!! ini rumahku. Aku tidak ingin melihat kalian disini! Aku tidak ingin rumahku menjadi kotor karena kalian! Kalian adalah manusia yang penuh dosa! Kalian tidak pantas berada di kediamanku! Pergi !!!” teriak Eljo dengan suara yang terdengar begitu berat dan menggema.
“Kamu siapa? Kenapa kamu menggangu temanku? Kami disini tidak akan menggangu kamu dan teman-temanmu. Kami disini hanya ingin istirahat disini dan kami tidak akan lama menempati rumahmu, jadi kami mohon ijinkanlah kami untuk tinggal di rumahmu. Kami janji, kami tidak akan membuat rumah kamu kotor,” ucap Birendra dengan lantang sambil ia mulai menyemburkan air putih yang telah ia beri mantra.
“Tidak !!! … panas!! … panas … kamu janji tidak akan menggangu kenapa kamu melakukan hal ini kepadaku? Kamu menipuku!” teriak mahkluk astral tersebut dengan begitu kuat.
“Tempat kamu bukan disini! Kami hanya menempatinya untuk sementara waktu. Kamu boleh menempati tempat ini kalau kami sudah tidak ada di rumah ini! pergi dari tubuh temanku! Pergi!” teriak Birendra dan hal itu langsung membuat Eljo terkulai lemas.
Birendra meminta kepada teman-temannya yang ada di dalam rumah untuk membantunya membawa Eljo ke dalam kamar.
“Aku ingin pulang … aku tidak ingin melanjutkan KKN. Aku tidak peduli dengan nilai yang akan aku dapatkan. Aku hanya ingin pulang. Aku tidak ingin menghabiskan waktuku dengan para mahkluk astral,” renggek Ayu yang merasa tidak kuat lagi untuk bertahan melakukan KKN yang sangat menyesakan dadanya.
“Ayu … kita satu tim. Kita tidak bisa meninggalkan rekan kita seperti ini. kita harus menyelesaikan KKN ini. kita harus bersatu. Aku yakin kalau kita bersama maka kita akan bisa melewati semua ujian ini dengan baik,” ucap Gadis yang meminta kepada Ayu untuk tetap bertahan.
“Aku udah gak kuat lagi Dis. Aku udah gak kuat … aku takut … aku takut kalau KKN ini akan menjadi lebih menyeramkan dan … aku takut kalau diantara kita akan ada yang mati karena ulah mahkluk itu” isak Ayu dengan bahu yang naik turun.
“Ayu! Jangan bicara hal buruk seperti itu!” bentak Birendra yang tidak menyukai perkataan Ayu
“Kita tidak bisa berhenti dengan cara seperti ini. kita harus menyelesaikan KKN sesuai dengan waktu yang telah di tentukan. Aku mohon bertahanlah,” pinta Birendra sambil ia mulai mendekati Ayu.