“Birendra … Birendra?” Sebuah suara yang mengusik membuat Birendra perlahan mulai membuka kedua bola matanya, dan pandangannya terasa sedikit buram. Birendra mulai mengusap-ngusap matanya dengan punggung tangan secara perlahan.
“Ren?”
“Raden?” Birendra melihat Raden sudah berjongkok tepat dihadapan Birendra dengan senyuman yang mengembang memperlihatkan deretan gigi putihnya yang tersusun dengan rapi.
Raden membantu Birendra untuk bangun dari tidurnya dan ia juga bertanya kepada Birendra kenapa dirinya bisa tertidur dilantai yang sedingin ini tanpa alas sedikitpun. Birendra mencoba mengingat-ingat kejadian yang menimpanya sebelum Birendra tertidur di lantai depan ruang perawatan Raden dan Aditya.
Raden membantu Birendra untuk duduk di kursi ruang tunggu dan ia meminta kepada Birendra untuk menunggunya. Lima menit kemudian Raden datang dengan membawa dua gelas teh manis panas. Raden menyodorkan minuman yang ia belikan untuk Birendra yang saat itu kondisinya seperti orang kebingungan.
“Terima kasih.” Birendra segera menerima pemberian dari Raden, dan perlahan Birendra mulai meniup teh manis tersebut. Perasaannya mulai merasa lebih tenang ketika Birendra menikmati kehangatan dari minuman yang dibelikan Raden kepadanya.
“Den, Aditya bagaimana kondisinya?” tanya Birendra kepada Raden sembari Birendra memutarkan tubuhnya dan menghadap yang sedang duduk disampingnya sembari ia menikmati teh manis panas.
Raden menepuk bahu Birendra dan meremasnya dengan penuh semangat, lalu ia menjelaskan kondisi Aditya kepada Birendra, “Kamu tenang saja kondisi Aditya baik-baik saja. Dia hanya mengalami luka ringan dan tadi aku juga melihat dia sedang tertidur dengan pulas.” Penjelasan yang diberikan Raden kepada Birendra, membuatnya merasa lebih tenang.
Pernah tadi sewaktu didalam perjalanan menuju rumah sakit Birendra mempunyai pikiran jika sampai terjadi sesuatu kepada Aditya maka orang pertama yang harus disalahkan adalah Birendra. Sampai saat ini Birendra masih merasa bersalah kepada Aditya. Karena Birendra Aditya harus mengalami luka yang cukup parah.
“Birendra, nanti kita makan dulu ya baru kita lihat kondisi Aditya. Baru sehabis itu kita kasih tahu Gadis dengan kondisi Aditya.”
“Oke, boleh juga Den. Kalau begitu aku ke kamar mandi dulu ya.” Birendra segera meninggalkan Raden sendirian di ruang tunggu dan segera bergegas menuju kamar mandi rumah sakit.
Ketika Birendra berjalan menyusuri lorong rumah sakit, tiba-tiba saja Birendra berpapasan dengan seorang wanita yang memiliki paras cantik jelita namun wajahnya terlihat sangat pucat.
“Aku seperti pernah melihat wanita itu, tapi dimana aku melihatnya?” Gumam Birendra dalam hati. Langkah kakinya sempat terhenti karena rasa penasarannya akan sosok wanita yang cantik jelita itu.
Pakaian yang ia gunakan seperti pakaian seorang suster, namun setahunya di rumah sakit ini seorang suster tidak diperkenankan memakai sepatu high heel yang memiliki heel lebih dari tiga sentimeter. Karena rasa penasaran Birendra yang begitu tinggi, akhirnya membuat BIrendra mengikutinya.
Birendra mencoba untuk memanggilnya, namun ia sama sekali tidak berhenti maupun menoleh dan menatapnya. Aneh yang Birendra rasakan, bagaimana bisa ia tidak menoleh maupun berhenti saat ia mendengarkan suara Birendra yang terdengar sampai ke suluruh lorong rumah sakit.
Semakin lama, semakin cepat langkah kakinya, sehingga membuat Birendra harus sedikit berlari kecil menghampirinya.
“Sus … suster ….” Teriak Birendra sekali lagi dengan suara yang lebih mengema.
Tiba-tiba wanita itu berhenti dengan posisi tubuh membelakanginya dan ia sedikit menolehkan wajahnya. Kali ini wajah yang ia perlihatkan kepada Birendra tidak terlalu jelas karena rambut hitam panjang yang ia miliki menutupi sebagian wajahnya.
Rasa penasarannya semakin besar ketika ia mulai memasuki sebuah ruangan yang terlihat begitu sunyi. Langkahnya terhenti ketika Birendra melihat tulisan yang tertera di depan ruangan itu adalah tulisan kamar jenazah.
Bulu kuduknya berdiri semua ketika membacanya. Logikanya menyuruh Birendra untuk kembali saja dan jangan memasuki ruangan itu. Namun berbeda dengan hatinya yang mengatakan untuk memasukinya dan temukan jawaban untuk semua kegundahan hatimu.
Birendra menghela nafas dan akhirnya Birendra memutuskan untuk memasuki kamar jenazah tersebut. Sebelum Birendra memasuki kamar jenazah Birendra mengucapkan salam terlebih dahulu. Dengan langkah yang mantap Birendra memberanikan diri untuk segera membuka pintu kamar jenazah tersebut.
Hembusan angin yang terasa begitu dingin menyambut kedatangannya. Birendra melihat keseluruh penjuru kamar jenazah tersebut dengan saksama, dan Birendra tidak menemukan sesuatu hal yang berhasil menarik perhatiannya. Namun ketika Birendra ingin membalikan badannya tiba-tiba saja Birendra mendengar sebuah suara tangisan seorang wanita yang terdengar sangat menyayat hati.
“Hallo? Permisi ….” Birendra mengucapkan salam terlebih dahulu sebelum Birendra memasuki kamar jenazah lebih jauh lagi.
Tiba-tiba saja Birendra melihat sesosok suster yang Birendra lihat tadi dengan posisinya yang menghadap tembok kosong yang berwarna putih tulang. Suster itu terus mengeluarkan suara tangisan yang begitu menyayat hatinya.
Birendra mencoba untuk mendekatkan diri dengan dirinya. Disaat jarak antara Birendra dengan jaraknya hanya berjarak tiga meter, suster itu menolehkan seluruh badannya menghadap Birendra.
Birendra dapat dengan jelas melihat wajahnya yang terlihat begitu sedih dengan luka-luka memar disekujur tubuhnya.
“Tolong …” satu kata yang keluar dari mulutnya.
“Apa?” tanya Birendra kepadanya sembari Birendra mengeryitkan dahinya.
Ia tidak menjawab pertanyaan yang keluar dari bibir Birendra, melainkan ia hanya menuntun Birendra untuk mengikutinya pergi ke sebuah ruangan kecil yang terletak didalam kamar jenazah tersebut. Ia menolehkan pandangannya kedalam ruangan kecil yang berada didalam kamar jenazah tersebut.
Ia mulai meneteskan air matanya lagi yang membuat batinnya semakin tidak tega melihatnya. Birendra melangkahkan kaki secara perlahan dan ketika Birendra mencoba untuk membuka ruangan tersebut tiba-tiba saja ada sebuah tepukan kecil dibahunya sebelah kanan.
Hal itu membuat Birendra menghentikan aktifitasnya dan perlahan Birendra mulai melepaskan pegangannya terhadap gagang pintu ruangan tersebut. Perlahan Birendra menolehkan pandangannya dengan jantung berdetak begitu keras. Birendra berharap jika yang menepuk punggungnya ini adalah manusia sungguhan, tetapi jika bukan manusia sungguhan tolong perlihatkan wajahmu yang normal sewaktu kamu masih hidup dan jangan perlihatkan wajahmu yang mengerikan.
“Astaga.” Betapa terkejutnya Birendra ketika Birendra melihat Raden yang menepuk bahunya.
“Kamu ngapain kesini Ren? Katanya tadi kamu mau pergi ke kamar mandi,” Tanya Raden dengan raut wajah yang penuh dengan kekhawatiran.
Belum sempat Birendra menjelaskan alasannya pergi ke kamar jenazah kepada Raden, tiba-tiba saja seorang penjaga kamar jenazah datang menghampiri mereka. Dan tak lupa ia bertanya kepada Birendra dan Raden kenapa mereka bisa berada di kamar jenazah dengan kondisi kamar jenazah saat itu terkunci.
Birendra dan Raden saling lirik dengan ekspresi kebingungan, bagaimana bisa Birendra dan Raden terkunci di dalam kamar jenazah sedangkan saat Birendra maupun Raden memasuki kamar Jenazah ini pintunya tidak terkunci.
Birendra hanya tersenyum kepada penjaga kamar jezah tersebut dan sekalian Birendra meminta ijin untuk pergi.
Raden mengikuti langkah Birendra dengan gontai dan ia mencoba untuk berjalan sejajar dengannya. Ketika Birendra dan Raden pergi meninggalkan kamar jenazah tersebut, sekilas Birendra melihat hantu suster yang rupawan tersebut menangis lagi sembari ia menunjukan ruangan tadi kepada Birendra.