KENAPA

1073 Kata
#POV RADEN BIMA ARNAWA OFF “Den … den. Aku aja yang bawa mobilnya. Kamu istirahat dulu.” Birendra menawarkan diri untuk mengemudikan mobil Raden. Birendra tidak mungkin membiarkan Raden mengemudikan mobil dengan kondisanya yang seperti itu.  Sedangkan Eljo daritadi hanya bisa menundukan kepalanya sambil terus-terusan menangis. “Gak usah Ren. Kondismu juga masih lemah seperti itu. Aku masih kuat. Disini aku yang mengajak kalian untuk KKN di desa Mlati jadi aku yang harus bertangung jawab dengan keselamatan kalian semua,” Tolak Raden dengan suara yang terdengar seperti menahan rasa sakit. “Den, kali ini aja kamu ikutin saranku.” Birendra tetap berusaha untuk membujuk Raden agar ia mau menyerahkan kemudinya kepada dirinya. BIrendra merasa tidak enak hati membiarkan Raden mengemudikan mobil dengan kondisi seperti itu, sedangkan Birendra yakin kalau kejadian yang mereka alami hari ini penyebabnya adalah dirinya. Akhirnya Raden setuju dengan usulanku dan ia mulai mencoba untuk berpindah posisi ke tempat duduk penumpang bagian depan. Raden berpindah posisi dengan sangat berhati-hati sembari ia terus memegangi bahu kirinya yang terasa begitu sakit. Ketika Raden sudah berganti posisi maka Birendra segera mengambil posisinya. Birendra melihat Raden sekilas dan Birendra lihat ia begitu kesakitan dengan luka yang ia alami. “Den tahan ya.” Raden hanya menganggukan kepalanya sembari ia mulai merebahkan tubuhnya. Sebelum Birendra menghidupkan mobil, Birendra mencoba untuk melihat kondisi Aditya, dan Eljo. Birendra melihat tubuh Aditya penuh dengan luka-luka dan sesekali ia merintih kesakitan, sedangkan Eljo hanya bisa menangis karena rasa takut yang begitu dalam. Hati milik Birendra terasa begitu sakit melihat kondisi kedua temannya yang harus terluka karena dirinya. Birendra sedikit meneteskan air mata   dan Birendra mengutuki dirinya sendiri. “Ren.” Panggil Raden sembari ia menyungingkan senyumannya pada Birendra dan ia berusaha untuk menghiburnya agar Birendra kembali merasa bahagia lagi. Berkali-kali Raden mengatakan kepada Birendra bahwa semua ini bukanlah kesalahan siapan pun yang ada di dalam mobil. Birendra mencoba menghirup nafas dengan sangat dalam dan Birendra mencoba untuk menghidupkan mobil lagi. “Aku mohon nyala lah. Aku mohon … nyalah,” ucap Birendra dengan nada suara terdengar begitu berat dan gugup. Det … Det … Det …. Suara mesin mobil yang mulai menyala setelah percobaan ke tiga kalinya. Birendra sangat berterima kasih kepada yang di atas karena atas bantuanya mobil yang ia kemudikan akhirnya menyala. Birendra tersenyum kepada Raden dan Raden juga membalas senyumannya. Birendra berharap semoga kali ini mereka dapat keluar dari tempat yang mengerikan dengan selamat. “Ren, sebaiknya kita memutar arah saja.” Usul Raden kepada Birendra. Karena menurut kepercayaan orang Jawa, jika kita mengalami hal-hal mistis dalam perjalanan maupun kita seperti diputar-putarkan dan perjalanan kita terasa sangat jauh, maka disarankan untuk segera memutar arah agar perjalanan yang kita lakukan bisa berjalan dengan lancar. Birendra hanya mengangukan kepalanya tanda menyetujui usulan dari Raden. Birendra mulai mengemudikan mobil Raden dengan sangat hati-hati. Perlahan aura yang tadi terasa begitu mencekam kini berangsur-angsur mulai membaik. Langit sudah menampakan cahayanya, pohon-pohon yang tadi terlihat begitu mengerikan kini terlihat begitu indah dan ramah. Angin yang tadinya berhembus dengan sangat kencang kini perlahan mulai bersahabat. Birendra tersenyum melihat keadaan yang sudah mulai kelihatan normal. Jalanan yang Birendra lewati sudah banyak kendaran yang lalu lalang. Birendra memutuskan untuk segera membawa kedua sahabatnya kerumah sakit untuk mendapatkan perawatan untuk luka yang mereka dapatkan dari kebringasannya tadi. Tidak membutuhkan waktu yang cukup lama untuk sampai ke rumah sakit terbesar di kota kecil tersebut. Ketika Birendra memasuki area tempat pakir rumah sakit tiba-tiba saja ada seekor kucing hitam melintas tepat didepannya. Sontak hal itu membuatnya  kaget dan harus membuatnya untuk menghentikan mobil secara mendadak. “Ren, ada apa?” sontak hal itu juga membuat Raden jadi terbangun dari tidurnya. Birendra yang tidak ingin membuat Raden khawatir dengan apa yang telah terjadi, membuatnya hanya mengelengkan kepala kepada Raden dan Birendra pamerkan senyuman kepadanya tanda bahwa tidak terjadi apa. Lalu Birendra mulai melanjutkan perjalanannya  dalam mencari tempat pakir yang terdekat dengan pintu masuk UGD. Drrtt … Drrtt … Drtt …. Suara ponsel yang memecahkan lamunanan Birendra di saat ia sedang menunggu Raden dan Aditya. Tertera nama Gadis di layar ponselnya, lalu segera Birendra mengangkatnya. “Hallo Dis. Ada apa?” “Ren ….” Suara Gadis terdengar sangat berat. “Iya Dis, ada apa? Kamu tidak apa-apa kan?” Kalimat yang keluar dari bibir ketika Birendra mendengar suara Gadis terdengar sangat parau. “Gadis?” tanya Birendra lagi dengan intonasi penuh dengan penekanan. Tut … Tut … Tut …. Tiba panggilan yang dilakukan oleh Gadis dan Birendra terputus dan Birendra mencoba untuk menghubungi Gadis lagi, namun no ponselnya tidak aktif.  Karena Gadis tidak bisa di hubungi maka Birendra memutuskan untuk merawat kedua temannya terlebih dahulu baru ia akan menghubungi Gadis lagi. Birendra berjalan mondar-mandir di depan ruang perawatan Raden dan Aditya. Sembari Birendra menggigit kuku tangannya dengan harapan dapat menghilangkan kecemasannya. Tidak mungkin Birendra meninggalkan Raden dan Aditya sendirian di rumah sakit tanpa ada walinya. Tetapi hatinya juga tidak tenang ketika belum mengetahui kondisi Gadis saat ini. Birendra mulai menyandarkan tubuhnya yang terasa begitu lelah ke dinding rumah sakit yang terasa begitu dingin. Birendra mulai mendekatkan wajahnya kelutut dan ia mulai menumpahkan kegundahan hatinya  saat itu. Birendra merasa sangat lelah dengan semua hal yang terjadi dalam hidupnya dimana hal itu terjadi diluar akal sehat manusia. Birendra membenci kehidupannya yang sedang Birendra jalani, karena Birendra merasa Tuhan sangatlah tidak adil kepadanya. Kenapa ia tega mengambil orang-orang terkasih yang ia punya dan kini ia mulai melukai orang-orang terdekatnya. Ketika Birendra sedang merenung dengan kehidupan yang Birendra rasa sangat tidak adil, tiba-tiba udara disekitarnya menjadi terasa begitu dingin. Suasana yang tadi terasa begitu ramai, kini berubah menjadi sangat sunyi. Birendra mendongakan kepalanya dan  melihat kondisi sekitarnya yang secara tiba-tiba berubah menjadi sangat sunyi. Birendra menengok kanan kiri dan hasilnya nihil, tidak ada apa-apa. Tetapi Birendra melihat sepasang kaki yang terlihat begitu jenjang nan indah lengkap dengan high heelnya berdiri tepat dihadapannya. Birendra mencoba untuk tetap tenang dan tidak panik dengan apa yang sedang Birendra lihat. Perlahan Birendra mencoba mendongakan kepalanya dan Birendra berharap kali ini yang sedang berdiri di hadapannya  adalah seorang manusia dan bukan mahkluk astral lagi. “Astaga!” Birendra begitu kaget dengan apa yang Birendra lihat barusan. “Natasha! Kamu dari mana saja? aku dari tadi nyariin kamu lho,” ucap Birendra dengan berat. Ia merasa membutuhkan seseorang untuk terus berada di sampingnya. “Ren … dari tadi aku selalu berada disampingmu dan sampai kapan pun aku akan selalu berada di sampingmu dan aku akan selalu membantumu,”  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN