Mataku terbelalak dengan sempurna ketika aku melihat sorot mata Birendra penuh dengan kebencian. Merinding rasanya melihat aura yang dipancarkan oleh Birendra terasa begitu mencekam.
“Ada apa anak muda?”
DEG! Suara itu berubah lagi, kini suara yang Birendra keluarkan terdengar seperti suara ibuku. Ibuku yang sudah meninggal dua puluh tahun lalu. aku berdecak kesal kepadanya, kenapa ia harus mengunakan suara ibuku? Kenapa?
Mahkluk itu mengeluarkan suara tawa yang sangat melingking. Ia mulai menyanyikan sebuah gending jawa yang terdengar sangat lembut namun gending yang ia nyanyikan adalah gending yang sering digunakan oleh orang-orang untuk memanggil para abdi iblis j*****m.
Aku lihat kini angin berhembus dengan sangat kencang, pohon-pohon menari dengan sangat mengerikan, ranting-ranting pohon mulai melambai-lambai menarik orang-orang yang melihatnya berubah menjadi sosok yang sangat mengerikan.
Kulihat awan mulai bergerak dengan sangat cepat. Awan-awan itu bergerak tak beraturan. Perlahan awan-awan itu berubah bentuknya. Semula awan-awan yang aku lihat itu terlihat begitu normal, namun kini ia berubah menjadi sebuah fase kehidupan manusia yang berawal dari sebuah biji kacang hijau yang sangat kecil, lalu berubah menjadi embrio, dan lama-lama berubah menjadi janin.
Awalnya terlihat begitu menggembirakan melihat awan-awan itu berubah bentuk menjadi sebuah fase kehidupan. Namun yang membuat kedua bola mataku terbelalak dengan sempurna adalah ketika fase itu berubah menjadi sebuah fase keserakahan manusia akan kenikmatan duniawi.
Terlihat dengan jelas bagaimana serakahnya kaum manusia yang tega menghabisi nyawa sesama, nyawa sanak saudaranya hanya untuk kepentingannya sendiri. Awan yang tadi terlihat begitu putih bersih tiba-tiba berubah warnanya menjadi merah menyala seperti cairan kental berwarna merah pekat dan terlihat begitu segar. Cairan itu mengalir dari tubuh manusia yang tak berdosa yang dengan tega di korbankan oleh kaumnya.
Tanpa aku sadari air mataku menetes dari kedua kelopak mataku. Sakit rasanya ketika melihat manusia-manusia yang berjiwa iblis, membantai habis kaumnya sendiri. Nafasku terasa begitu berat, dadaku terasa begitu sesak ketika harus melihat kejadian tragis itu dengan kedua bola mataku.
Suasana bertambah mencekam ketika suara petir mulai menyambar-nyambar dan kini awan-awan yang aku lihat berwarna merah kini awan-awan itu berwarna sangat hitam. Gerakan yang mereka hasilkan terlihat begitu kacau balau, dan kini awan-awan itu berubah menjadi sebuah gerakan seperti gulungan gelombang pasang air laut yang terlihat begitu murka dengan kami kaum manusia yang penuh dengan keserakahan dan dosa.
Aku mulai mendongakan kepalaku, ketika aku mendengar Birendra berbicara mengunakan bahasa jawa yang halus, “Menika ananipun kula, menika wayahipun kula. Kula naming badhe nyugengaken saking kemarahan alam.”
Sontak kata-kata yang terlontar dari bibir Birendra membuatku merinding. Aku tidak mungkin melepaskan Birendra begitu saja dan mempercayai perkataan yang terlontar dari mahkluk itu, bahwa Birendra adalah putra dan cucunya yang ingin ia selamatkan dari keganasan dan kemarahan alam semesta.
Aku mengusap-ngusap wajahku yang terasa begitu kotor dan berat dengan kedua tanganku. Aku mencoba untuk berkomunikasi dengan mahkluk yang sedang merasuki tubuh Birendra.
“Keluar dari tubuh temanku! Aku perintahkan untuk keluar!” Teriaku dengan suara yang sangat lantang, suara yang tiba-tiba membuat suasana sekitarku menjadi hening.
Birendra menolehkan kepalanya menghadap diriku dan kini ia mulai memelototkan kedua bola matanya dengan sangat sempurna. Aku dapat dengan jelas melihat kemarahan yang begitu besar terpancar dari sorot mata Birendra.
Mahkluk itu hanya tertawa dengan sangat kencang, dan tiba-tiba saja mahkluk itu mulai menyerang Aditya yang kondisinya sudah melemah. Ia mulai mencekik Aditya dengan sangat kencang. Cekikan yang ia berikan kepada Aditya membuat seluruh otot wajah milik Aditya keluar semua.
Wajahnya mulai memerah, matanya terbelalak dengan sangat sempurna. Keluarlah suara rintihan dari mulut Aditya. Tubuhku terasa begitu kaku dan aku hanya bisa meneteskan air mataku melihat kekejaman yang ia lakukan kepada para sahabatku.
Aku berusaha dengan sekuat tenaga untuk menyelamatkan Aditya dan Birendra. Tubuhku terasa begitu sakit ketika aku berusaha meraih tas yang ada di dashboard. Wajahku mulai memerah, otot-otot dalam tubuhku keluar semua. Tubuhku terasa seperti dihimpit oleh sebuah hantaman benda besar yang sangat berat.
Tanganku terasa begitu kaku ketika aku berhasil memegang dashboard mobilku, dan ketika aku mencoba untuk membuka dashboard mobilku. Tiba-tiba saja Birendra melepaskan cekikannya pada Aditya dan kini ia mulai melihatku dengan warna bola matanya kini sudah berubah menjadi warna merah menyala.
Nafas Birendra terasa begitu memburu dengan sangat cepat, bahunya naik turun dengan sangat cepat. Tubuhnya kini perlahan mulai membesar sehingga membuat pakaian yang Birendra kenakan menjadi sobek.
Aku menggeleng-gelengkan kepalaku dan tetap berusaha untuk mengambil tasku dari dalam dashboard. Tiba-tiba tubuh Birendra mulai mendekatiku dan kini tubuh kita hanya berjarak lima sentimeter saja. tangannya mulai memegang leherku dan kini ia mulai mencekik leherku dengan sangat kuat.
“Ren … sadarlah.” Kataku dengan tersenggal-sengal berharap Birendra dapat tersadar dan dapat mengendalikan dirinya.
“Aku sudah memperingatkanmu untuk melepaskan anak ini jika kamu ingin selamat. Tetapi apa … kamu memilih mengorbankan nyawamu demi anak jal*ng seperti ini!.” Suara Birendra terdengar sangat berat dan suara itu terdengar seperti seribu orang berbicara secara bersamaan.
Birendra mengeluarkan bau yang sangat menyengat dan bau itu terasa begitu menusuk rongga hidungku.
Sepertinya keberuntungan masih memihakku, karena aku dapat meraih tasku yang berada didalam dashboard. Aku segera membuka tasku dengan tangan kananku dan aku mencoba mencari botol kecil yang selalu aku bawa kemana.
Ketika aku mendapatkan botol itu, aku langsung membuka penutup botol itu dengan sisa-sisa tenagaku yang sudah terkuras habis. Aku arahkan tanganku kearah tubuh Birendra namun Birendra dapat menghindari air tersebut dan membuatnya tumpah di dalam mobil.
Saat itu aku benar-benar kehabisan akal, satu-satunya harapanku harus pupus karena ketidak berdayaanku dalam memercikan air suci pada tubuh Birendra. Namun, saat aku sudah mulai menyerah tiba-tiba saja aku melihat sesosok wanita kecil yang sangat cantik dan wanita itu mulai mencoba untuk membantuku.
Walaupun ia tahu kalau dia membantuku maka tubuhnya akan tersakiti oleh air suci tersebut, namun ia terus berusaha untuk membantuku dan akhirnya ia bisa memercikan air suci pada Tubuh Birendra.
Tubuh Birendra terpental dengan begitu keras ke kursi belakang dan aku mulai menghirup nafas dengan sekuat tenaga. Kulihat tubuh Birendra terbaring dengan begitu lemas dengan hembusan nafas yang tersenggal-sengal.
Birendra meliriku dengan lirikan mata yang menandakan bahwa ia sudah kembali dan mahkluk yang tadi berhasil merasuki tubuhnya kini sudah pergi. Birendra menangis dengan sesengukan. Berkali-kali ia meminta maaf kepadaku dan Aditya yang hampir saja melayang nyawanya karena dirinya.
Aku mulai mencoba mengeluarkan kalimat yang menyatakan bahwa Birendra tidak bersalah dan semua yang kita alami ini adalah murni karena ganggun dari para kaum iblis yang ingin mencelakai kita.
Aku mencoba untuk bangkit dari posisi tubuhku yang terjepit diantara pintu mobil pengemudi dengan stir mobil, “Aow ….” Satu kata yang keluar dari mulutku. Bahu kiriku terasa begitu sakit dan betapa terkejutnya aku ketika aku mencoba untuk merabanya dan aku menemukan sebuah luka gigitan yang sangat dalam.
Ketika Birendra bertanya kepadaku, aku hanya bisa menggelengkan kepalaku dan sesekali aku menyungingkan senyum yang penuh dengan rintihan.