KEMUNCULANNYA

1474 Kata
“Kenapa kamu tidak mencoba untuk membuka mata batin mereka? Kenapa kamu tidak menunjukkan masa depan mereka jika mereka nekat melakukan KKN di desa Mlati di saat bulan Suro,” Natasha mengusulkan untuk membuka mata batin para temannya itu agar mereka mau menunda KKNnya atau mengganti tempat KKN yang lain. “Tidak semudah itu Sha, aku tidak bisa membuka mata batin mereka dengan begitu saja.” “Kenapa tidak? Bukankah sewaktu kamu masih kecil kamu sering kan membuka mata batin teman-teman kamu lalu kenapa ini kamu tidak membuka saja mata batin mereka?” “Karena aku tidak mau mendapatkan masalah lagi, aku juga tidak ingin membuat orang lain menderita karena aku,” ucap Birendra dengan begitu kesal dan ia langsung meninggalkan Natasha sendirian. “Ren … kamu harus melakukan apa yang seharusnya kamu lakukan, kamu tidak boleh seperti ini terus,” gumam Natasha sambil ia melihat Birendra pergi meninggalkannya. . . YOGYAKARTA, 13 JULI Akhirnya hari yang di tunggu-tunggu pun datang, hari dimana Birendra dan teman-temannya akan melakukan KKN di desa Mlati. Berkali-kali Natasha membujuk Birendra untuk menghentikan teman-temannya untuk melakukan kegiatan KKN di desa Mlati, tetapi Birendra tidak bisa melakukan apapun untuk menghentikannya. “Ren, kamu yakin akan tetap melakukan KKN?” “Tentu saja aku harus melakukan kegiatan KKN, kalau aku tidak melakukannya maka aku tidak akan bisa lulus.” “Tapi kamu tahu sendiri bukan apa konsekuensimu kalau kamu tetap memaksa untuk mengikuti kegiatan KKN itu?” “Tentu saja aku tahu Sha, tapi mau bagaimana lagi. ini sudah takdir kita. Aku harap kamu bisa membantu kami ya.” “Aku akan selalu berusaha untuk membantumu Ren,” ucap Natasha dengan senyuman yang mengembang di bibirnya. . . “Owh iya ini kalian berempat naik mobilnya Aditya dulu ya, biar motor-motornya kalian aku yang ngurus,” ucap Gadis kepada Birendra, Aditya, Eljo, dan Raden. “Oke kalau begitu, malah kita yang enak motor kami kamu yang ngurusi,” ucap Raden sambil cekikikan. “Ya udah kalau gitu kita berangkat sekarang aja bagaimana?” tanya Aditya sambil ia melihat jam pada smartwatch miliknya. “Oke … mari kita berangkat … welcome to desa Mlati,” timpal Eljo sambil ia merangkul Birendra agar lebih bersemangat lagi dalam melakukan kegiatan KKN. Pada awalnya perjalanan mereka berempat berjalan dengan begitu mulus dan lancar-lancar saja, namun di tengah perjalanan lebih tepatnya saat mereka melewati sebuah hutan yang begitu lebat, tiba-tiba saja Birendra dan Aditya melihat sesuatu yang berjalan di depan mobil mereka. “Dit! Jangan bilang ….” Birendra dan Aditya saling berpandangan penuh dengan kekhawatiran. Sorotan mata mereka seperti ingin berbicara. Birendra meremas paha Aditya dengan sangat kencang ketika ia  melihat sesosok bayangan putih berjalan tepat didepan mobil yang sedang mereka tumpangi. “Dit, Ren. Apakah kalian juga melihat dengan apa yang aku lihat baru saja?” Raden menolehkan wajahnya yang kini sudah terlihat amat pucat pasi. Wajahnya yang tadi terlihat begitu tenang, begitu rileks dan begitu bersinar. Kini Wajah Raden terlihat begitu berbeda, wajahnya kini terlihat sangat pucat, keringat dingin bercucuran dari kulit kepalanya yang sebenarnya tidak terasa panas sama sekali. BUKK ….   Suara seekor burung gagak yang terjatuh tepat diatas kaca mobil Aditya.  Suara itu terdengar sangatlah kencang, sehingga membuat mereka berempat terkejut dan ketakutan. Tubuh mereka  meradang panas dingin ketika mereka melihat burung gagak yang terjatuh diatas mobil Aditya dipenuhi dengan luka, sehingga ia mengeluarkan cairan segar berwarna merah pekat dari dalam tubuhnya yang dipenuhi dengan luka-luka. Wajah mereka berubah menjadi pucat pasi, keringat dingin mengucur dengan deras dari tubuh keempat mahasiswa tersebut. Tiba-tiba suasana disekitar mereka mendadak berubah menjadi semakin gelap dan mencekam. Langit yang tadi terlihat begitu cerah dan berwarna biru laut,  kini perlahan berubah menjadi langit yang sangat menakutkan dengan aura kegelapan yang sangat kentara. “Dit, Den, Ren. Suara apa itu?” tanya Eljo disaat mereka terkejut dengan penampakan burung gagak yang terjatuh tepat diatas kaca mobil mereka. Dan tiba-tiba saja mereka dikejutkan oleh suara yang terdengar sangat riuh dan suara itu terdengar sangat menyakitkan pendengaran mereka. Suara itu terdengar seperti berputar-putar diatas mobil. Karena rasa penasaran yang begitu tinggi, membuat Raden memberanikan diri untuk melihat apa sebenarnya yang sedang terjadi di atas mereka. Perlahan Raden mulai melihat situasi diluar dari balik kaca depan mobil. BUKK … BUKK … BUKK … Suara burung gagak yang saling berjatuhan diatas mobil Aditya. Burung-burung itu dipenuhi luka yang sama persis dengan kedua bola mata burung gagak itu hilang, seperti ada seseorang yang dengan sengaja mencongkel kedua bola mata mereka. Suasana saat itu terasa begitu mencekam. Langit berubah menjadi gelap, burung-burung gagak berjatuhan dengan luka yang sangat mengerikan, ditambah dengan suara-suara misterius yang terdengar sangat mengerikan. “Den, den. Cepat kunci semua pintu.” Teriak Aditya dengan sangat histeris sembari ia menepuk-nepuk kursi pengemudi yang sedang diduduki oleh Raden. Dengan sigap Raden langsung mengunci pintu mobil. Tidak ada suara yang keluar dari mulut Aditya selain wajah yang terlihat begitu tegang, mulutnya bergetar dengan sangat hebat dengan tubuhnya yang mulai menggigil. “Dit? Dit … kamu kenapa? Dit, jangan bercanda dit.” Suara Raden mulai meninggi ketika ia melihat reaksi sahabatnya yang terlihat sangat ketakutan. Aditya tidak bersuara kecuali tangannya yang ia coba gerakan dengan sekuat tenaga.  Tangan Aditya bergetar dengan sangat hebat, sembari ia mulai menunjuk ke arah jam dua. Birendra dan Raden saling berpandangan sembari kami menelan saliva mereka masing-masing. Tiba-tiba jantung Birendra mulai berdegup dengan sangat kencang ketika ia mencoba untuk mengerakan lehernya kearah jam dua yang sedang ditunjukan oleh Aditya. Birendra meremas kedua pahanya dengan sangat kuat. Ketika ia mencoba untuk melihat apa yang sedang Aditya tunjukan kepada teman-temannya, dan tiba-tiba saja Raden menyuruh Birendra untuk tidak melihatnya. Hal itu membuat Birendra semakin ketakutan dengan situasi yang sedang terjadi diluar. Raden yang terkenal paling kuat, paling pemberani diantara mereka semua, tiba-tiba bersuara sangat lirih dan suara itu terdengar seperti ia telah melihat sosok mahkluk yang sangat mengerikan. Tiba-tiba terdengar suara yang sangat mengerikan dan suara itu terdengar sangat dekat,  “Lihat aku … lihat aku … lihat aku.” “Ren, tolong tutup mata Aditya dan tutup matamu juga. Jangan pernah kamu membuka matamu sampai aku memintamu.” Perintah Raden kepada Birendra sembari ia mencoba untuk menghidupkan mobilnya lagi. Ketika ia mencoba untuk menutup mata Aditya, tiba-tiba saja ia  mendengar sebuah suara yang pernah ia dengar sebelumnya. Ya, suara itu adalah suara wanita yang pernah menghantuinya melalui mimpi yang sangat menakutkan. Mimpi yang hampir saja membuat Birendra terluka. Suara itu terdengar seperti bisikan yang menuntunnya untuk membuka mata dan Birendra harus mengkorbakan kedua sahabatnya agar ia bisa keluar dari tempat yang sangat mengerikan ini. Bisikan itu hampir saja menguasai Birendra, kalau saja Natasha tidak memercikan air suci kepada Birendra. Mungkin saja saat ini Birendra telah menghabisi nyawa kedua temannya. “Maafkan aku, maafkan aku.” Birendra menangis dan ia merasa sangat bersalah sekali kepada kedua sahabatnya. Bagaimana bisa ia hampir terpengaruh dengan bujuk rayuan iblis j*****m itu. ia menangis dengan sangat histeris sehingga membuat suasana bertambah kacau. Birendra  yang saat itu begitu merasa terpukul dan down. Sedangkan kondisi Aditya setengah sadar dengan tubuh yang mulai membiru membuat Raden hampir berputus asa. #Pov Raden Bima Arnawa Aku yang melihat reaksi tubuh Aditya yang tiba-tiba berubah seperti itu, membuatku sudah cukup yakin dengan mahkluk apa yang sedang di lihat oleh Aditya. Auranya terasa begitu kuat sehingga membuat dadaku terasa begitu sesak. Aku merasa bingung dengan situasi yang sedang kita alami, karena mahkluk yang sedang kita hadapi ini bukanlah sembarangan mahkluk astral yang lemah yang suka sekali mengoda manusia hanya untuk kepuasannya sendiri. Melainkan mahkluk yang sedang kita hadapi saat ini adalah mahkluk yang memiliki energi yang sangat kuat. Energinya mampu membunuh kita dan yang lebih parahnya lagi bisa membuat kita menjadi budaknya sampai akhir zaman. Aku mencoba sekuat tenaga untuk menghidupkan mobilku, ketika aku sedang berusaha untuk menghidupkan mobilku, tiba-tiba saja aku merasa kursi belakang bagian mobilku terasa begitu berat. Udara di dalam mobilku tiba-tiba berubah menjadi sangat panas. Tiba-tiba air conditioner mobilku mengeluarkan sebuah bau yang sangat menusuk hidungku. Bau itu membuatku merasakan rasa pusing yang luar biasa hebat sehingga membuatku ingin memuntahkan segala macam isi yang ada didalam perutku. Ketika aku sedang mempertahankan benteng pertahananku, tiba-tiba saja aku mendengar suara Birendra yang berubah begitu berat. Terkadang suara itu terdengar seperti suara seorang kakek-kakek dan terkadang suara itu berubah menjadi suara seorang anak kecil. Kata-kata yang diucapkan oleh Birendra adalah kata-kata yang tidak dapat aku pahami. Karena bahasa yang keluar dari mulut Birendra adalah bahasa campuran. Sesekali ucapan yang keluar dari mulut Birendra  terdengar seperti bahasa jawa halus dan terkadang ucapannya terdengar seperti bahasa asing yang susah sekali mencernanya. Aku menundukan kepalaku, aku menumpahkan seluruh air mataku, “Apa yang harus aku lakukan.” Ucapku dalam hati penuh dengan ketidak berdayaan. “Serahkan anak ini, maka aku akan melepasakanmu.” Kalimat yang aku dengar dari mulut Birendra, sembari ia menyungingkan senyuman penuh dengan kelicikan, yang terlihat dari kaca depan mobilku.    
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN