“Jo, kita beneran akan melakukan KKN di Desa itu? Apa kita gak bisa melakukan kegiatan KKN kita di tempat lain?” entah kenapa Birendra merasa tidak nyaman jika mereka harus melakukan KKN di daerah tersebut. Birendra merasa aka nada sebuah kejadian yang akan menimpa mereka semua, kejadian yang tidak akan pernah mereka lupakan sampai kapanpun.
“Maksud kamu gimana Ren? Bukannya kamu kemarin juga setuju-setuju saja kan kalau kita melakukan kegiatan KKN kita di desa Mlati, lalu kenapa kamu sekarang menjadi tidak yakin seperti ini?” ucap Eljo yang merasa aneh dengan perkataan yang di ucapkan oleh Birendra.
Sambil menghela nafas, Birendra mencoba untuk menjelaskan bagaimana keadaannya kepada Eljo dan berharap Eljo akan mempercayainya. “Kamu percaya tidak dengan dunia supranatural?” tanya Birendra sambil ia mengamati mimic wajah dari sahabatnya itu.
“Tentu saja aku percaya dengan dunia supranatural, memangnya ada apa kok kamu tiba-tiba saja bertanya seperti itu?”
“Jadi kamu akan percaya dengan apa yang akan aku katakana kepadamu?”
“Tentu saja aku akan percaya, kamu kan teman dekatku.”
“Oke, jadi aku mau jujur sama kamu, kalau aku sebenarnya memiliki kemampuan di dalam dunia mistis,”
Belum selesai Birendra berbicara tiba-tiba saja Eljo langsung memutus pembicaraan Birendra, “Serius kamu mempunyai indra keenam? Kok selama ini aku gak tahu kalau kamu mempunyai indra keenam?”
“Memang setelah aku berumur lima tahun kemampuanku untuk berkomunikasi dengan para mahkluk dari dunia lain itu berhenti, tapi entah kenapa kemampuanku itu kembali lagi dan hal itu yang membuatku menjadi tidak fokus akhir-akhir ini.”
“Oke, terus gimana?”
“Ya, awalnya aku sangat ketakutan mendapatkan kemampuanku lagi, tapi akhir-akhir ini aku sudah mulai terbiasa untuk berkomunikasi lagi dengan kaum mereka. Dan saat kita pergi survey kemarin aku merasa aka nada sesuatu hal yang sangat fatal akan terjadi kepada kita.”
“Kamu serius Ren? Itu gak Cuma perasaanmu saja karena tempat kita itu berada di desa yang akses jalannya susah?”
“Serius Jo, sejujurnya aku gak masalah kalau kita melakukan KKN di tempat yang benar-benar terpencil, hanya saja aku kemarin seperti mendapatkan sebuah bisikan kalau sebaiknya kita tidak melakukan KKN di tempat tersebut dan lagi pula saat kita melakukan KKN besok itu bertepatan dengan bulan suro kan.”
“Ren, jujur aku percaya sama kamu. Aku percaya banget, tapi … untuk menghentikan acara KKN kita yang persiapannya udah Sembilan puluh persen itu tidak mungkin. Lagi pula keberangkatan kita tinggal tiga hari lagi lho.”
“Iya Jo, aku tahu itu. Aku tahu banget. Tapi aku takut jika apa yang aku takutkan akan segera terjadi dan aku tidak ingin membuat suasana KKN kita menjadi mencekam,” jelas Birendra yang merasa tidak yakin melakukan kegiatan KKN di desa Mlati.
“Kita berdoa saja ya, semoga apa yang kita takutkan tidak akan pernah terjadi dan kita serahkan semuanya kepada yang di Atas, agar KKN kita bisa berjalan dengan lancar tanpa ada halangan apapun.”
“Semoga ya Jo, ya udah kalau gitu ayo kita belanja buat kebutuhan KKN kita besok.”
.
.
“Natasha …” pekik Birendra ketika ia bisa melihat Natasha sahabat masa kecilnya dulu. Ia tidak menyangka akan bisa melihat Natasha setelah bertahun-tahun tidak bisa melihatnya, tetapi ia juga merasa takut dengan kemunculan Natasha, ia takut dengan tragedy masa kecilnya dulu, tragedy saat ia akan terbunuh karena ritual penutupan mata batin.
“Hai Ren, akhirnya kamu bisa melihatku lagi,” ucap Natasha dengan mata yang berkaca-kaca, ia tidak menyangka akan bisa berkomunikasi lagi dengan Birendra sahabat masa kecilnya dulu.
“Sha … bagaimana bisa kamu berada disini? Dan … sejak kapan kamu berada disini?” tanya Birendra dengan mata yang berkaca-kaca, ia merasa begitu merindukan sahabat masa kecilnya itu. Sahabat yang akan selalu berada di sisi Birendra dalam kondisi apapun, dan Natasha lah arwah yang tidak pernah membuat Birendra ketakutan, malah hal itu membuat dirinya merasa begitu nyaman berada di dekat Natasha.
“Ren, sesuai janjiku dulu. Aku akan selalu berada di sisimu dan selama ini aku selalu berada di sisimu hanya saja kamu tidak mengetahui hal itu dan kamu menganggap aku telah pergi meninggalkanmu, padahal aku selalu berada di dekatmu,” jelas Natasha sambil ia memegang tangan Birendra dengan lembut.
“Kamu serius? Bukankah kamu ikut lenyap dalam kebakaran itu? Lalu bagaimana bisa kamu berada disini?”
“Aku tidak lenyap Ren, tetapi mata batinmu saja yang tertutup sehingga membuat kamu mengira kalau aku telah lenyap dalam kejadian itu.”
“Natasha … aku sangat bersyukur bisa bertemu denganmu lagi dan aku benar-benar minta maaf kepadamu karena aku tidak pernah menyadari kehadiranmu dalam hidupku,” peluk Birendra pada Natasha. Ia menumpahkan semua kegundahan hatinya kepada Natasha.
“Ren … kamu tidak perlu meminta maaf kepadaku, karena ini semua bukanlah kesalahanmu. Dan sejujurnya aku merasa sangat bahagia ketika aku melihat dirimu yang kemarin, yang bisa menikmati kehidupan normal selayaknya orang-orang pada umumnya.”
“Ya! aku memang menikmati kehidupanku yang terlihat normal, tapi jauh di dalam lubuk hatiku yang paling dalam, aku begitu merindukanmu Sha … aku sangat merindukanmu. Setiap kali aku mendapatkan masalah aku selalu teringat denganmu. Aku selalu teringat dengan semua kenangan kita, karena hanya kamu satu-satunya arwah gentayangan yang bisa menjadi sahabatku,” jelas Birendra kepada Natasha.
“Tapi yang terpenting sekarang adalah kita bisa saling berkomunikasi lagi.”
“Iya kamu benar Sha,”
“Owh iya Ren, untuk KKNmu apa kamu yakin akan mengikuti kegiatan itu? Bukannya kamu sudah mengetahui hal apa yang akan menimpa kelompok KKNmu kan.”
“Ya. tentu saja aku sudah mengetahuinya tapi, bagaimana bisa aku menghentikan kegitan KKN tersebut. Kamu tahu sendiri kan bagaimana rasionalnya teman-temanku, bahkan Eljo saja yang mengatakan kalau dirinya percaya denganku saja tetap tidak ingin mendengarkan usulanku untuk mengganti tempat KKN atau menunda terlebih dahulu.”
“Tapi Ren, kamu harus tetap menghentikannya. Kamu tidak bisa berdiam diri seperti ini, kamu tidak bisa melihat nyawa seseorang melayang dengan begitu saja.”
“Tapi hal apa yang bisa aku lakukan untuk menghentikan hal itu? Aku bukanlah ketua kelompoku, dan aku hanyalah anggota biasa.”
“Tapi Ren … kamu tahu sendiri kan, bagaiman susahnya arwah seseorang yang di akibatkan oleh tumbal untuk naik ke atas dan melakukan reinkarnasi. Apa kamu tidak kasihan melihat arwah mereka gentayangan dan merana seperti itu?”
“Tentu saja aku tidak tega, tetapi aku juga tidak bisa melakukan apapun untuk menyelamatkan mereka. Aku tidak bisa menghentikan takdir mereka,” ucap Birendra sambil ia mengepalkan tangannya karena ia tidak bisa berbuat sesuatu untuk menyelamatkan seseorang. Ia merasa kalau kemampuannya itu tidak berguna karena tidak bisa membantu seseorang untuk menghindari kematian atau mengubah jalan kematiannya.