KEJANGGALAN

1090 Kata
“Ren, are you oke?” tanya Eljo pada Birendra yang terlihat begitu lesu. Entah kenapa akhir-akhir ini Eljo merasa kalau wajah Birendra berbeda, wajahnya terlihat begitu capek dan lesu. Ia merasa ada sesuatu yang aneh dengan sahabatnya itu. Terkadang di tengah malam Eljo akan mendengar suara Birendra yang sedang mengigau dengan begitu keras, sehingga membuatnya harus pergi ke kamar Birendra. Tapi anehnya saat Eljo bertanya apa alasan Birendra mengigau di keesokan harinya, ia akan menjawab dengan kata-kata tidak tahu dan ia jelas terlihat seperti orang linglung. “Ren … are you oke?” tanya Eljo sekali lagi ketika ia tidak mendapatkan jawaban dari Birendra. “Hah?” jawab Birendra dengan kaget. “Kamu kenapa? kamu baru ada masalah sama orang rumah?” “Mak-sud kamu apa Jo?” ucap Birendra dengan terbata-bata. Ia merasa kalau saat ini hidupnya terasa begitu kacau, tapi dia juga tidak bisa membagi kisahnya dengan orang lain. Birendra merasa begitu takut kalau dia membagi kisahnya dengan orang lain. Ia takut kalau para iblis itu akan datang untuk menggangu orang yang ada di sekitar Birendra. “Jo, kayaknya kamu perlu istirahat dulu deh di kosan, biar hari ini aku dan anak-anak aja yang survey lokasi KKN kita,” jelas Eljo pada Birendra. “Lhoh kenapa? kita kan udah janjian bakal survey lokasi KKN bareng-bareng, masa ini mau sendiri-sendiri. aku juga gak enak sama anak-anak Jo, ini kan tugas bersama masa aku berpangku tangan kaya gini kan ya gak etis.” “Lihat itu tubuh kamu, hari ini kamu terlihat sangat kacau Ren. Kamu ada masalah sama orang tua kamu? Atau kamu ada masalah lain?.” “Aku baik-baik aja kok Jo, dan aku juga gak ada masalah dengan orang rumah. Ya udah ayo kita ke basecamp, dari tadi grup KKN bunyi terus ini.” “Yakin? Kamu yakin masih tetap ingin ikut survey lokasi KKN kita?” “Yakin lah, dah ayo.” Selama di dalam perjalanan menuju ke tempat KKN, Birendra merasa begitu dingin dan sesekali ia merasa kalau tangannya ada yang menyentuhnya dengan lembut dan rasanya sangat dingin. “Jo!” teriak Birendra saat ia di bonceng oleh Eljo. “Ya!” balas Eljo dengan teriakan. “Kamu ngerasa dingin gak?” “Ngawur tenan … iki lho Ren mbok di sawang iki iseh awan, panas e ngetang-ngetang koyo ngene kok di arani adem. Otakmu gesrek tenan kok kui Ren” celetuk Eljo yang merasa aneh dengan perkataan Birendra yang mengatakan suasana saat itu sangat dingin, sedangkan saat itu awan terlihat begitu cerah, begitu juga dengan terik matahari yang berhasil menusuk lapisan kulit Eljo. (Ngaco … tolong diliat dulu to Ren, ini itu masih siang dan liat panasnya matahari terasa begitu menyengat, masa kaya gini disebut dingi. Otak kamu itu yang bermasalah). “Tenan yo Boss … hawane iki ii adem banget, mbok didelok iki,” balas Birendra sambil ia menunjukkan kulit tangannya yang terlihat begitu pucat. Tapi bukannya fokus melihat kulit tangan sahabatnya itu yang mengatakan bahwa suhu udara saat itu sangat dingin, tapi kenyataanya Eljo fokus pada kulit tangan sahabatnya itu yang terlihat lebam-lebam. “Lhoh Ren, kulit kamu kenapa? kok memar-memar kaya gini.” “Ah masa sih? Tadi pagi gak kenapa-kenapa lho kulitku.” “Dahlah Ren, kita pulang aja dari pada kamu kenapa-kenapa, toh ini cuma survey lokasi kok.” “Halah … nanggung Ren, dah di gas lagi aja motormu biar kita cepat sampai di tempat KKN” Sedangkan Eljo yang tidak bisa memaksa sahabatnya itu untuk kembali ke rumah untuk beristirahat, akhirnya hanya ikut-ikut aja dengan perintahnya. “Jangan kesana … jangan kesana … pulanglah nak, pulang lah. Kalau kamu ingin selamat maka pulanglah,” bisik seseorang kepada Birendra yang membuat bulu kuduknya berdiri semua. Ia tahu kalau hawa dingin yang dari tadi ia rasakan itu berasal dari hantu yang sejak tadi mengikutinya. Ingin rasanya Birendra membentak hantu tersebut agar pergi meninggalkannya, namun ia takut kalau bentakkannya akan di salah artikan oleh Eljo. Entah sampai kapan Birendra akan di ganggu oleh mahkluk-mahkluk astral ini dan sampai kapan juga Birendra akan merahasiakan kemampuannya dari semua orang termasuk kepada kedua orang tuanya. Ingin rasanya Birendra mengatakan yang sejujurnya kepada Ayah dan Ibunya, namun ia takut kalau kemampuannya akan di tutup lagi oleh kedua orang tuanya. Ia merasa masih takut dengan rangkaian prosesi dalam penutupan indra keenamnya. Ia juga masih trauma dengan kenangan pahitnya hal itu, ia masih memiliki rasa yang begitu bersalah kepada sahabat masa kecilnya yang bernama Natasha. Ia masih merasa kalau kepergian sahabatnya itu disebabkan oleh dirinya yang tidak bisa melindungi sahabatnya itu. “Kalau saja waktu bisa di ulang , maka aku akan berusaha sekuat tenagaku untuk menyelamatkanmu,” gumam Birendra “Ha? Apa Ren? Kamu bilang apa tadi?” tanya Eljo yang mendengar perkataan Birendra dengan samar-samar. “Kenapa Jo?” “Lha, tadi bukannya kamu lagi ngajak aku ngobrolkan.” “lhah siapa yang ngajak kamu ngobrol to Jo?” “Ya kamu lah siapa lagi yang bakal ngajak aku ngomong,” ucap Eljo yang merasa kalau dirinya tadi habis di ajak berbincang-bincang dengan Birendra, namun karena kondisi jalan yang begitu berisik sehingga membuat Eljo mengalami kesulitan dalam mendengarkan perkataan yang diucapkan oleh Birendra. . . “Pak, Bapak ngerasa ada hal yang mencurigakan gak sih dengan anak kita BIrendra?” tanya Agni pada suaminya yang asyik bermain gawai pribadinya. “Aneh gimana maksudnya?” tanya Candra suami dari Agni sekaligus sebagai ayah dari Birendra. “Ya aneh gitu lho Pah, masa aku ngerasa sangat jauh dengan putraku sendiri kan ya gak mungkin to, masa seorang ibu bisa lupa dengan anaknya sendiri kan ya gak mungkin to Pak.” “ Halah Bu …. Birendra itu udah besar, bisa hidup sendiri di kota orang, terus kenapa Ibu malah mengkhawatirkan Birendra?” “Pak … Ibu takut kalau kejadian lima belas tahun yang lalu keulang lagi. Ibu belum siap dan tidak akan pernah siap untuk melepaskan Birendra Pak,” lirih Agni pada Candra yang sejak tadi tidak fokus dengan perkataan Agni, tapi saat Agni membahas tentang kejadian lima belas tahun yang lalu, langsung membuat Candra memperhatikan dengan apa yang diucapkan oleh Agni. Sejujurnya Candra juga merasa sangat takut kalau kejadian lima belas tahun yang lalu akan terwujud lagi. ia tidak ingin kutukannya akan membuat orang-orang yang ada disekitanya mengalami kehidupan yang susah. “Bu, kalau Ibu mengkhawatirkan keadaan Birendra di kota orang, lebih baik kita doain Birendra yuk biar disana dia sehat dan terlindungi terus.” “Iya Pak, usulan Bapak ada tepatnya juga. ya udah ayo kita doain Birendra biar aman di kota orang.”  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN