“Birendra.” Bisik Natasha tepat di samping telinga Birendra. Suaranya terdengar sangat bergetar. Birendra yang mendengar suara Natasha, langsung menoleh ke arahnya. Dapat ia lihat dengan jelas guratan-guratan ketakutan yang terpancar dari raut wajah dan sorotan mata Natasha.
“Kenapa?” Tanya Birendra dengan suara yang setengah berbisik. Natasha tidak menjawab pertanyaan Birendra, melainkan ia menunjuk keluar jendela dengan jari telunjuknya yang gemetaran. Perasaan Birendra mulai kacau balau ketika melihat Natasha tidak berani berkata apapun kepadanya. Birendra yakin pasti ada sesuatu hal yang sangat mengerikan yang mengintai keluarganya.
Ketika Birendra mulai menolehkan kepalanya dengan perlahan, tiba-tiba Natasha memegang tangannya dengan sangat erat, dan dia juga menggelengkan kepalanya tanda bahwa Birendra tidak diperbolehkan menoleh ke arah luar jendela.
Kini Natasha mulai menangis, deraian air mata membasahi kedua kelopak matanya. Pandangan Natasha terlihat sangat ketakutan. Ingin rasanya Birendra melihat apa yang sebenarnya terjadi di luar sana, namun Natasha melarangnya.
“Birendra.” Sebuah bisikan dengan sangat pelan namun terdengar dengan jelas, sontak membuat Birendra langsung menoleh kearah sumber suara itu. Betapa terkejutnya dirinya ketika ia menolehkan kepala dan ... Tiba-tiba tubuhnya berubah menjadi sedingin dan sekaku es.
Natasha yang melihat sahabatnya melanggar pantangannya langsung memegang kepala Birendra dan ia mencoba mengarahkan kepala Birendra ke arahnya. Natasha menatapnya dengan tajam, dan ia meminta Birendra untuk menutup mata dengan segera dan meminta Birendra untuk tidak membukanya sampai mereka, sampai di tempat tujuannya.
“Birendra tolong tutup matamu Sekarang!” Perintah Natasha sekali lagi kepada Birendra dan kini dengan intonasi suara yang lebih tinggi, dan ia mencoba menekankan suaranya pada setiap kata yang ia ucapkan. Namun semuanya sudah terlambat, karena Birendra sudah melihat semua kejadian yang akan terjadi kepada Birendra dimasa depan. Dimana masa depannya yang terlihat begitu mengerikan, masa depan yang penuh dengan kegelapan, kekejian, bahkan Birendra dapat mengetahui siapa hantu gadis kecil yang sedari tadi menatapnya penuh dengan arti. Tanpa Birendra sadari Birendra meneteskan air mata dari kedua ujung kelopak mata Birendra.
Masih terlihat dengan jelas bagaimana ekspresi iblis yang menunjukan kegelapan kepada Birendra. Ia menyerigai dengan mulut yang mengeluarkan sebuah kobaran api yang dipenuhi dengan gambaran orang-orang yang sedang di siksa di dalam jeruji besi keabadian api neraka.
“Kamulah yang terpilih, kamulah yang memimpin mereka. Kamu … Kamu … Kamu ….” Suara yang ia ucapkan kepada Birendra dengan kecepatan melebihi kecepatan manusia biasa pada saat berbicara.
“Birendra, sadarlah. Sadar Birendra. Jangan dengarkan mereka. Masa depanmu adalah kamu yang menentukannya, bukan mereka. Birendra mohon sadarlah Birendra. Sadarlah, sadar!” Teriak Natasha kepada Birendra dengan sembari ia mulai menggeleng-gelengkan kepala Birendra.
Pikirannya, jiwanya terasa terbagi menjadi dua. Disatu sisi Birendra dapat merasakan kekhawatiran yang di tunjukan oleh Natasha kepadanya, namun disisi lain Jiwa Birendra mulai terperangkap di dalam kegelapan malam.
Entah kenapa tiba-tiba kepala Birendra terasa begitu berat, dan penglihatanya mulai terasa kabur. Semakin lama penglihatanya menjadi semakin gelap dan pada akhirnya membuat Birendra tertidur dengan sangat lelap. Di dalam mimpinya Birendra hanya dapat melihat dirinya berjalan didalam kegelapan malam yang di mana penerangannya hanyalah seekor kunang-kunang kecil.
Birendra berjalan seperti di sebuah jalanan setapak yang sangat panjang dan Birendra merasa harus ekstra berhati-hati dalam melangkahkan kakinya, karena Birendra merasa jika Birendra salah mengambil jalan akan membuatnya terjatuh dalam sebuah lubang kegelapan yang begitu besar, dimana tidak aka nada jiwa yang bisa keluar dari lubang kegelapan tersebut.
Perlahan-lahan Birendra dapat mendengarkan sebuah teriakan, teriakan yang penuh dengan keputusasaan, teriakan yang menggambarkan kesedihan dan kesakitan yang sangat menyayat hati.
“Cahaya apa itu? Kenapa cahaya itu terlihat begitu mengerikan?” Tanya Birendra kepada dirinya sendiri yang tiba-tiba melihat sebuah cahaya yang dapat ia rasakan kengeriannya. Birendra yang kurang berhati-hati dalam berjalan hampir membuatnya terperosok kedalam lubang kegelapan.
“Aouw ….” Decak kesal Birendra dengan suara yang lumayan nyaring. Entah kenapa tiba-tiba suasana disekelilingnya terasa begitu hampa dan sunyi. Ketika Birendra ingin bangkit lagi, tiba-tiba Birendra melihat dengan jelas jalanan setapak yang Birendra lewati tadi, tiba-tiba berubah menjadi sebuah helaian rambut yang sangat panjang.
Tubuhnya menjadi sangat dingin dan kaku ketika Birendra melihat pemandangan dibawahnya, pemandangan yang sangat mengerikan. Dimana Birendra melihat dengan jelas jiwa-jiwa berdosa sedang di hukum oleh karmanya masing-masing. Hukuman yang mereka dapatkan sangat mengerikan, dan pandangan mereka penuh dengan penderitaan dan penyesalan.
Mata-mata mereka tertuju kepada Birendra dengan tatapan mata yang penuh dengan kebencian. Mereka serentak meneriakan sebuah kalimat, “Kamulah penyebabnya, kamulah penyebabnya. Kamu lah yang terpilih, kamulah penyebabnya. Kamu yang harus menangungnya, kamu yang harus menangungnya.” Ucap mereka dengan kecepatan tiga kali lipat kecepatan manusia berbicara pada umumnya.
Teriakan mereka membuat Birendra kecil merasa ketakutan, “Tidak! Tidak mungkin kalau aku sudah meninggal. Tidak mungkin. Tidak mungkin! Ini pasti hanyalah mimpi buruku saja.” Teriak Birendra kepada dirinya sendiri sembari Birendra memukul-mukul kepalanya.
“Birendra? Birendra?” sebuah suara yang sangat lembut menyelamatkan. Birendra terbangun dari mimpi buruknya yang sangat menakutkan, mimpi yang tidak akan pernah Birendra lupakan sampai kapanpun.
Birendra membuka mata dengan perlahan dan kini Birendra dapat melihat dengan jelas wajah ibunya yang sangat meneduhkan hati dan Birendra juga dapat melihat wajah ayah dan Natasha yang terlihat begitu khawatir.
“Ibu?” sebuah kata yang terucap dari bibir mungilnya. Ibu yang melihat anaknya terbangun akhirnya memeluku dengan sangat erat. Entah apa yang terjadi selama Birendra selama ia tertidur tadi, tetapi yang jelas Birendra yakin bahwa kondisnya tadi pasti sangat mengkhawatirkan.
“Ayo.” Satu kata yang terucap dari bibir ayahnya. Ibu lantas segera menggendong Birendra dengan sangat hati-hati.
“Ibu, kita dimana?” Tanya Birendra kepada ibu dengan raut wajah yang sangat ketakutan. Ibu hanya menjawab pertanyaanya dengan senyuman .
Tempat yang mereka kunjungi ini sangatlah mengerikan. mereka terpaksa harus memakirkan mobilnya di pinggir jalan dan mereka harus berjalan menyusuri hutan belantara yang dipenuhi dengan semak belukar dan pepohonan yang menjulang sangat tinggi.
Birendra melihat langit mulai gelap sehingga menambah kengerian malam itu. Angin berhembus dengan sangat pelan namun dinginnya hembusan angin menusuk sampai ketulang-tulang. Sayup-sayup Birendra mendengarkan sebuah kicauan burung. Namun di usia Birendra yang saat itu masih belia membuatnya tidak mengetahui kicauan burung apa itu.
Sekilas kicauan burung itu terdengar begitu indah untuk didengarkan, namun entah kenapa kicauan burung itu terasa begitu menyayat hati.
“Ibu.” Birendra mencoba untuk memecahkan keheningan malam dengan cara mengajak ibu berbicara. Namun ibu menyuruhnya untuk diam dan jangan banyak bicara.
Natasha melihat Birendra dengan tatapan sedih karena penolakan dari ibu, akhirnya mencoba untuk menghibur. Birendra mulai tersenyum kecil ketika Natasha mulai menceritakan hal-hal konyol kepada Birendra. Birendra merasa beruntung karena Birendra memiliki teman seperti Natasha dalam hidupnya. Natasha adalah teman, sekaligus saudara untuknya. Birendra menyayangi Natasha dengan sepenuh hati.
Mereka juga berjanji untuk saling menjaga dan saling menemani sampai mereka berdua sama-sama bisa naik ke atas. Namun semua itu hanyalah angan mereka semata, sebelum kengerian malam itu terjadi.