MASA LALU BIRENDRA 2

1117 Kata
Arwah gadis kecil itu melihat Birendra dengan tatapan yang sangat tajam. Terlihat ada kesedihan yang sangat mendalam dari dalam dirinya. Entah kenapa ingin sekali Birendra menghampirinya dan bertanya kepadanya apa yang sudah terjadi. “Birendra, jangan melihat mereka” Teriak Natasha dengan nada bicara yang keras dan ia berusaha untuk menarik lengan baju Birendra dengan sangat kuat, sehingga membuatnya  refleks menengoknya,”Kenapa?” ucap Birendra dengan sedikit kencang sehingga membuat ayah dan ibunya menoleh ke arahnya. Tatapan mereka penuh dengan seribu makna yang sulit untuk diterangkan. “Apakah, temanmu berada disini?” Tanya ayah dengan nada suara yang datar. Birendra  yang mendengar pertanyaan dari ayah hanya bisa menundukan kepalanya dan berdiam diri. Birendra  takut jika ia mengatakan yang sesungguhnya maka akan membuat ayah bertambah murka kepadanya. “Birendra, Jawab ayah!!” Bentak ayah dengan nada suara yang sangat kencang dan penuh dengan penekanan pada setiap perkataanya. Ibu yang melihat ayah mulai naik pitam, berusaha untuk menenangkannya. “Ayah … ibu mohon bersabarlah. Birendra masih kecil yah.” Ibu meminta ayah untuk dapat mengkontrol amarahnya. Birendra kecil  yang saat itu masih belum cukup umur jadi ia  tidak tahu apa sebenarnya yang terjadi kepada kedua orang tuanya. Natasha yang melihat Birendra mulai meneteskan air mata, ia mulai merasa iba kepadanya. “Birendra, maafkan aku.” Birendra  yang saat itu sedang ketakutan dengan kemarahan ayah, membuatnya tidak menghiraukan Natasha dan hanya berdiam diri. “Lhoh … Lhoh … ayah, ayah ini kenapa mobilnya seperti ini?” Tanya ibu kepada ayah dengan nada bicara yang mulai cemas, karena mobil yag mereka  tumpangi menunjukan tanda-tanda kerusakan. “Ayah, ada asap.” Teriak Birendra kepada ayah, ketika Birendra  melihat sebuah asap putih mulai muncul dari bagian kap depan mobil mereka. Ayah yang mendengar perkataan Birendra  langsung sigap menghentikan mobil dan langsung menyuruh Birendra dan Ibu keluar dari dalam mobil. Birendra yang saat itu masih kecil hanya bisa menangis di pelukan ibunya. Ia  merasa takut jika hal-hal mengerikan akan menimpa keluarga mereka. Masih teringat dengan jelas bagaimana paniknya ayah dan ibu ketika mobil mereka mengeluarkan asap putih. Ibu memperingatkan ayah untuk  berhati-hati dalam memeriksa mobil. Ketika ayah membuka kap depan mobil, tiba-tiba saja munculah seekor ular kobra. Tetapi ada yang aneh dengan Ular kobra itu, karena ular kobra yang muncul dari balik kap depan mobil mereka  itu bewarna putih dengan mutiara berwarna merah delima di atas kepalanya. Ayah terperanjat ketika ia melihat ular kobra putih muncul dari dalam kap depan  mobil mereka. Sontak hal itu membuat Birendra dan ibunya berteriak memangil ayah untuk segera pergi dari sana. Namun ada yang aneh dengan ayah dan ular kobra misterius itu, karena ular kobra itu hanya diam dan tidak melBirendrakan sesuatu hal yang membahayakan bagi nyawa ayah. Sedangkan ayah hanya diam melihat ular kobra putih misterius itu. Dan hal yang paling aneh lagi adalah bagaimana bisa ular kobra putih itu dapat berada di dalam kap mobil mereka? “Ayah!” ibu berteriak kepada ayah sekali lagi dengan harapan ayah dapat segera berpindah posisi. Tetapi ayah tidak menghiraukan teriakan dari ibu. Birendra dan ibu melihat ayah seperti terhipnotis dengan ular kobra itu. “Birendra, tarik ayahmu Nak! cepat Birendra.” perintah Natasha kepada Birendra dengan nada suara yang begitu khawatir dengan kondisi ayah Birendra. Birendra segera melepas pelukan ibu, lalu Birendra bergegas menghampiri ayah, dan tanpa berpikir panjang Birendra segera menarik ayah agar menjauhi ular kobra itu. Ibu berteriak dengan histeris ketika ia melihat BIrendra  berlari ke arah ayahnya. Tiba-tiba ayah tersentak dengan nafas yang memburu. Birendra bersyukur karena  ayah tidak kenapa-kenapa. “Ayah.” Birendra memeluk ayah dengan sangat erat. Ayah pun membalas pelukannya  dengan sangat erat juga. Ayah segera mengendong Birendra  pergi ke arah ibu. Ibu langsung memeluk Birendra  dan ayah. “Ayah bagaimana ini? bagaimana cara kita mengusir ular kobra putih itu?” Tanya Birendra dengan suara yang bergetar. Ayah dan ibu sedikit berpikir bagaimana cara mereka mengusir ular itu. Pucuk dicinta ulampun tiba, titik-titik air hujan mulai turun dan hal itulah yang membuat ular misterius itu pergi meninggalkan Mereka. Lalu mereka segera bergegas menuju dalam mobil dan ayah segera menup kap depan mobil. Di dalam mobil ayah mencoba untuk menghidupkan mobilnya lagi, namun selalu gagal. Ayah ingin memeriksa mesin mobil, tapi hal itu dilarang oleh ibu. Ibu takut jika ayah keluar akan membuat ular maupun binatang buas lainnya ikut keluar dan mulai menyerang ayah. Akhirnya mereka  memutuskan untuk tetap berada didalam mobil dan berharap ada sebuah kendaraan yang melintasi daerah itu, sehingga mereka  bisa meminta bantuan kepada mereka. Tetapi sudah satu jam mereka menunggu didalam mobil namun belum ada satu pun kendaraan yang melewati daerah sini. Perasaan Birendra mulai kacau, ketika Birendra melihat arwah-arwah penasaran itu datang lagi kepadanya. Kini mereka menundukan kepala mereka sambil mereka memutar-mutarkan kepalanya. Lantas hal itu membuat bulu kuduk berdiri semua. Birendra meminta Natasha untuk melihat apa yang sedang mereka lakukan dan meminta penjelasan kepada Natasha tentang alasan mereka melakukan semua hal itu. Namun hanya gelengan kepala yang Birendra terima. Hantu gadis kecil itu muncul lagi. Namun hantu gadis kecil itu terlihat seperti terisolasi dari rombongannya. Gadis itu melihat kearah Birendra  dengan tatapan yang penuh misteris. Gadis itu seperti memberikan sebuah isyarat kepada Birendra, namun Birendra tidak tahu apa maksud gadis itu. “Birendra, Birendra lihat itu.” Natasha menyadarkannya dan ia mulai menunjuk ke arah arwah-arwah yang sedari tadi selalu mengawasi mereka. “Apa yang sedang mereka lakukan?” Birendra bertanya kepada Natasha dengan suara yang sangat pelan. “Aku juga tidak tahu Birendra, namun yang jelas kita harus segera pergi dari sini. Karena Birendra rasa mereka akan melakukan sesuatu hal yang buruk kepada dirinya dan keluarganya.” Birendra setuju dengan pendapat Natasha, karena tidak mungkin ada arwah yang tiba-tiba berkumpul di satu titik dan mereka melakukan sebuah ritual yang mereka lakukan secara bersamaan. Birendra yakin pasti ada maksud yang terselubung dari apa yang mereka lakukan kepada kami. “Astaga!” Teriak dengan sangat kencang , ketika Birendra menoleh ke arah samping mobil, munculah hantu gadis kecil itu dan kini ia berteriak kepada Birendra dengan mulut yang terbuka sangat lebar. Sontak hal itu membuatnya  berteriak dan meminta ayah untuk mencoba menghidupkan mobilnya lagi. Brumm… akhirnya dengan satu kali percobaan, mobil mereka dapat hidup lagi dan kini ayah mulai menancap gas. Berkali-kali ibu bertanya kepada Birendra apa yang sedang terjadi, kenapa Birendra berteriak, namun Birendra tidak menghiraukannya dan pandangannya tetap tertuju kepada hantu gadis kecil itu dan arwah-arwah lainnya yang kini entah sedang menaburkan sebuah bunga sesaat setelah mobil mereka dapat menyala lagi. Kini Birendra dapat melihat dengan jelas, arwah-arwah itu tersenyum dengan mulut yang menyerigai. Ketawa mereka sangat mengerikan dan penuh dengan seribu makna. “Selamat datang.” Kata pertama yang Birendra dengar setelah mereka meninggalkan segerombolan arwah-arwah itu. Suara itu terdengar sangat dekat dan sangat menakutkan.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN