MASA LALU BIRENDRA

1519 Kata
KLATEN, 28 OKTOBER 2005 Hari itu adalah hari kamis pagi yang sangat cerah, namun hari itu adalah hari yang sangat gelap untuk Birendra. Hari itu adalah hari dimana Birendra harus kehilangan sebagian besar kekuatannya. Birendra mulai menangis tersedu-sedu ketika ayahnya mulai mengeluarkan mobil keluarga dari dalam garasi tua milik mereka. Birendra menangis karena Birendra tahu betul dengan segala ritual yang akan Birendra lakukan adalah ritual yang sangat menyakitkan dan melelahkan untuknya yang saat itu masih berusia begitu belia. “Birendra ayo masuk. Cepat Birendra! Kita harus segera bergegas pergi sebelum mahkluk itu datang lagi.” Ajak ibu dengan nada suara yang sedikit kesal karena melihat Birendra yang sedari tadi hanya menangis tersedu-sedu dan selalu menolak ajakan keluarganya untuk membawa Birendra ke orang pintar dan menyembuhkan dan menutup mata batin Birendra. Ibu mulai menarik tangannya dengan sangat kasar. “Ibu ….” Birendra mulai menangis dengan sangat kencang. Ayah yang melihat Birendra yang meronta-ronta dan berusaha ingin kabur akhirnya turun dari dalam mobil dan ayah mulai berjalan menghampiri Birendra dan ibu. Birendra pikir ayah akan menolongnya, namun semua itu hanyalah angannya saja karena …. Plak … sebuah tamparan yang sangat keras mendarat tepat di pipi kanan Birendra. Tamparan ayah tidak terasa begitu menyakitkan, namun perlakuan ayah kepada Birendra lah yang membuat batinnya terasa begitu sakit. Ibu yang melihat kemarahan ayah yang sudah memuncak hanya berdiam diri dan tidak melalukan sesuatu untuk menolongnya. “Birendra!” Ayah mulai membentak Birendra lagi dengan nada bicara yang sangat tinggi sehingga membuat orang-orang yang sedang berlalu lalang didepan rumah mereka melihat semua kekacauan yang sedang terjadi dalam keluarga Birendra. Birendra yang tidak percaya dengan perlakuan kedua orang tuanya kepada Birendra, pada akhirnya membuatnya berserah diri dan tidak berusaha menolak dan memberontak lagi. Birendra mulai melunak dan Birendra mulai memasuki mobil yang sudah terpakir didepan rumahnya. Blam … suara pintu mobil yang mulai kami tutup dengan sangat kencang. Ayah mulai menyalakan mobil, tetapi beberapa kali ayah selalu gagal dan ia tidak bisa menghidupkan mobil. Ibu yang melihat ayah yang sedari tadi kesulitan menghidupkan mobilnya akhirnya mulai menyentuk pungung tangan ayah dengan sangat lembut dan ibu mengatakan kepada ayah untuk membaca doa dulu sebelum menghidupkan mobil dan ibu juga berpesan untuk mengiklaskan semuanya, jangan sampai kekalutan yang sedang menimpa ayah membuat mereka sekeluarga celaka. Ayah yang mendengar nasihat dari ibu, akhirnya mengikutinya dan kini ayah mulai membaca doa terlebih dahulu dan ayah mencoba untuk menghidupkan mobil mereka lagi. Brum …. Suara mobil tua  yang pada akhirnya bisa menyala setelah ayah membacakan sebuah doa. Ayah melihat ibu dengan tatapan penuh ucapan terima kasih karena telah menolong dirinya agar tetap tenang dalam menghadapi segala tantang dalam hidup ini. Namun permasalahan yang mereka hadapi tidak sampai disini, karena Natasha teman Birendra kini mulai muncul tepat di ….   Birendra yang melihat Natasha mengikutinya hanya berdiam diri saja. Birendra membiarkan kedua orang tuanya  kesusahan dalam menyalakan mobil. Ada sedikit rasa senang ketika orang tuanya kesulitan dalam menyalakan mobil, karena dengan begitu semakin lama pula mata batin Birendra ditutup. “Birendra, kamu yakin mau menutup kemampuan specialmu? Kalau kamu menutup mata batinmu, lalu kamu bagaimana? Kamu dan aku tidak akan bisa bermain bersama lagi.” Bisik Natasha tepat di telinga Birendra. Birendra ingin menjawabnya namun Birendra merasa takut jika ayah dan ibunya mengetahui Birendra menjawab pertanyaan dari Natasha. Birendra hanya melihat Natasha dan berharap ia dapat mengetahui kondisinya yang sekarang. Birendra melihat dengan jelas kesedihan yang terpancar oleh kedua bola mata biru milik Natasha. Ya, Natasha adalah temannya sejak kecil, ialah yang akan selalu menolong Birendra jika Birendra mendapatkan serangan dari kaumnya. Natasha ini adalah hantu kecil yang berkebangsaan Indonesia Belanda. Natasha meninggal di usia yang sangat muda. Ia meninggal karena ia terkena penyakit yang pada saat itu belum ada obatnya. Hantu Natasha kecil sangat sedih ketika dirinya harus menghembuskan nafas di saat kedua orang tuanya memberinya adik kecil, dan setelah itu kedua orang tua dan adiknya meninggalkannya. Ingin rasanya Natasha mengikuti mereka namun ada sesuatu hal yang membuatnya tidak bisa meninggalkan tempatnya. Entah hal apa itu yang membuat Natasha harus bertahan sendirian di tempat yang begitu gelap, rohnya tidak bisa naik ke atas, Natasha sudah menunggu ratusan tahun untuk dirinya dapat naik keatas namun penjaga selalu mengatakan belum saatnya kamu berada disini, nikmatilah waktumu di dunia. Disaat misimu telah berakhir kamu akan kami jemput. Itu yang dikatakan oleh sang penjaga. “Birendra?” Ibu memangil dari kursi penumpang yang berada di sebelah kursi pengemudi. Birendra yang mendengar namanya  di panggil oleh ibu akhirnya menolehkan pandangananya kearahnya. “Ya, ibu.” Jawab dengan singkat. Malas rasanya berbicara kepada kedua orang tua yang selalu memaksa Birendra untuk menutup mata batinnya. “Kenapa sejak tadi ibu perhatikan kamu selalu cengar cengir dan arah pandanganmu kenapa selalu kesamping tidak kedepan?” Tanya ibu penuh dengan selidik. “Ah, tidak ada apa-apa ibu. Birendra hanya teringat kejadian yang lucu di sekolahan. Tidak ada yang istimewa.” Jawabnya  berbohong kepada ibu yang Birendra yakini ibu tidak akan mempercayainya. “Ya sudahlah. Sekarang kamu gunakan sabuk pengamannya. Kita akan segera berangkat.” Perintah ibu kepada Birendra dengan nada bicara yang sudah mulai melunak. Brum.. suara deruan mobil  yang sebentar lagi akan membawa dirinya  ke tempat dukun itu. Birendra tidak tahu kemana kedua orang tuanya akan  membawa Birendra, yang Birendra tahu ayah membawanya melewati hutan belantara yang sangat mengerikan. Hutan itu dipenuhi dengan mahkluk-mahkluk yang tak kasat mata. Beberapa kali Birendra melihat banyak arwah-arwah penasaran yang tersiksa karena jiwanya ditolak oleh langit. Jiwa merekalah yang selalu meminta tumbal untuk teman mereka. Bulu kuduknya  berdiri semua ketika Birendra melihat sesosok wanita tinggi besar dengan pakaian serba putih, rambutnya sangat panjang sampai menjuntai ke tanah. Tepat di belakang wanita itu banyak sekali arwah anak kecil yang selalu mengikutinya. Satu kata yang terucap dari bibir Birendra  adalah “Kasihan” bagaimana tidak,  Birendra merasa kasihan kepada arwah-arwah anak kecil itu. Jiwa mereka masih murni, mereka masih sangat belia dan polos. Seharusnya jiwa-jiwa seperti mereka harusnya sudah berada di atas dan bersiap untuk melakukan reinkarnasi. Namun jiwa-jiwa mereka harus tertahan di sini besarma hantu wanita itu, jiwa mereka tersesat, pikiran dan ingatan mereka terhapuskan. Birendra yakin tubuh merekalah yang menyebabkan jiwa mereka tersesat di alam arwah. Tubuh mereka pasti telah disembunyikan oleh seseorang yang sangat keji, seseorang yang memiliki jiwa iblis. Jiwa yang tersesat tidak akan pernah bisa naik ke atas maupun reinkarnasi karena kematian mereka masih menjadi sebuah misteri yang harus dipecahkan. “Birendra.” Natasha memangilku, tangannya memegang tanganku. Tangan Natasha terasa lebih dingin daripada sebelum-sebelumnya. Birendra paham dengan maksud Natasha. . Birendra dapat merasakan aura yang sangat kuat dari dunia luar. Birendra dapat merasakan kesedihan yang mendalam dalam setiap hembusan angin luar. Hembusan itu terasa begitu memilukan hatinya. Entah apa yang akan terjadi kepadanya  masih menjadi tanda Tanya besar. Birendra lihat langit mulai menunjukan tanda-tanda akan turun hujan. Hal inilah yang sangat Birendra benci dari setiap hal mengerikan yang terjadi dalam hidupnya yang  pasti ditandai dengan turunnya hujan yang sangat deras disertai dengan suara halilintar yang sangat menakutkan. “Ayah, ibu.” Panggil Birendra  dengan suara yang sangat kecil. Suara yang penuh dengan ketakutan. Ibu membalikan badannya dan merespon Birendra, “Ya sayangku.” Ibu meresponnya dengan sangat lembut. Sorot mata ibu sangat meneduhkan hati ini. “Ibu, Birendra takut.” Jawabnya dengan suara yang bergetar menahan rasa ingin menangis. “Bisa tidak kita kembali saja kerumah. Birendra takut ibu. Birendra tidak ingin menutup mata batinku ibu, Birendra ingin memilikinya. Birendra mohon ibu, Birendra mohon.” Bujuknya kepada ibu dengan linangan air mata yang membanjiri kedua kelopak mata Birendra. “Tidak!!” satu kata yang keluar dari bibir  ayah dengan sangat keras. Kini ayah mulai menambah kecepatannya. Entah apa yang dipikirkan oleh ayah, kenapa ia ingin sekali menutup mata batin Birendra dan kenapa ayah selalu memarahinya  ketika Birendra menceritakan semua pengalamannya saat bermain bersama teman-teman tak kasat mata Birendra. Ibu memohon kepada ayah untuk mengurangi kecepatannya, namun ayah tidak memperdulikan ibu. Birendra merasa kalau kali ini bukanlah ayah yang Birendra kenal. Hari ini ayah terasa begitu keras dan sangat dingin. Ayah tidak akan segan-segan memukul Birendra  ketika Birendra menolak untuk menutup mata batinnya. Natasha mulai menghibur Birendra, ia mencoba untuk menenangkan perasaan Birendra yang campur aduk. Ia berkata kepada Birendra jika Birendra tidak bisa melihatnya bukanlah masalah yang pelik, karena Natasha akan selalu berada disampingnya. Natasha akan selalu menemaninya dalam bayangannya. Birendra mempercayai kata-kata yang terucap dari bibir mungil milik Natasha, bahwa ia tidak akan pernah meninggalkan dirinya. Ketika Birendra mengalihkan pandangannya ke luar, tiba-tiba Birendra melihat begitu banyak arwah-arwah yang berbaris disepanjang jalan yang begitu menakutkan. Mereka berbaris dengan sorotan mata menatap kami dengan sangat tajam. Arwah-arwah itu seperti menunggu sesuatu yang sangat besar akan datang, tetapi Birendra tidak tahu hal apa itu yang mereka tunggu. Mereka seperti mengucapkan sebuah kalimat yang sama berulang-ulang kali namun Birendra tidak tahu apa maksud dari kalimat yang mereka ucapkan kepada Birendra. Birendra melihat Natasha dan bertanya kepadanya, apa maksud mereka mengatakan hal itu kepada dirinya. Namun, Natasha juga tidak mengetahuinya. Tetapi yang jelas akan ada sesuatu hal yang sangat mengerikan yang akan  menimpa keluarga Birendra. Ada sesosok arwah wanita kecil yang berhasil mencuri perhatiannya, arwah itu terasa begitu menyatu dengan diri Birendra.    
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN