Lima belas tahun yang lalu “Birendra! Sayang,” teriak Agni pada Birendra yang tiba-tiba saja menangis sambil menunjuk ke pojok ruangan yang cukup gelap dan lembab. “Sayang … hei, ada apa? Sini lihat Ibu Nak, lihat ibu Nak,” pinta Agni pada Birendra yang tidak berkutik dari pandangannya dan hanya bisa menangis tanpa mengedipkan matanya. Agni yang melihat hal itu langsung memeluk Birendra dan terus berusaha untuk menenangkannya. Ia tahu kalau Birendra terlahir dengan segudang keistimewaan yang tidak semua orang miliki. Kemampuannya lah yang membuat Birendra kecil memiliki sedikit teman karena anggapan kalau Birendra adalah orang aneh yang suka bicara sendiri, dan terkadang Birendra akan menangis dengan histeris. “Sayang … gak apa-apa ya Nak. Ada Ibu disini, Ibu janji Ibu akan menjaga kam

