Sean duduk berselonjor dengan kedua tangannya berada di belakang untuk menopang tubuhnya. Kedua matanya terpejam menikmati semilir angin berembus menerpa wajahnya. Angin pantai yang berembus siang itu membuat udara di sekitar terasa lebih sejuk, tidak sepanas tadi.
Sean kemudian membuka matanya, melirik Seungha yang berbaring di sampingnya. Pemuda itu berbaring dengan sebelah tangan dijadikan bantal dan sebelahnya lagi menutup matanya. Melihat Seungha yang begitu tenang, Sean menebak pemuda itu mungkin saja tertidur. Yah, setelah bermain air seperti anak kecil tadi wajar jika Seungha sekarang tertidur karena lelah.
“Benar, kalau kau menutup mulutmu, suasananya jadi sangat tenang,” Sean bergumam sambil menatap Seungha.
“Aku bisa mendengarnya.” Seungha tiba-tiba bersuara. Pemuda itu tidak tidur ternyata.
“Baguslah kalau kau dengar. Kau tahu, kau itu terlalu cerewet untuk seorang laki-laki.”
Masih dengan sebelah tangan menutup matanya, Seungha tertawa. “Dae Won juga bilang begitu. Aku terlalu cerewet, katanya.”
Sean mengalihkan pandangannya sambil mendesah. Dia memang turut berduka cita Seungha kehilangan temannya, tapi tak bisakah pemuda itu berhenti membahas orang yang sudah meninggal. Benar-benar merusak suasana saja.
“Hei.”
“Apa?” sahut Sean tanpa menoleh.
“Sekarang kita benar-benar berteman, kan?”
“Kalau bukan teman, kau pikir aku mau diseret pergi ikut acara jalan-jalan orang lain?”
Seungha tertawa pelan. “Hanya rasanya tidak seperti nyata saja, kau dan aku sekarang berteman.”
“Lalu apa alasanmu mau berteman denganku?” Seungha bangun lalu duduk bersila. Pemuda itu menatap Sean penuh harap. Berharap gadis itu akan mengatakan alasan yang bagus, kenapa mau berteman dengannya. “Jangan bilang kalau kakek dan nenekmu yang menyuruh. Alasan yang lain, yang lebih spesifik.”
“Tidak ada.”
Raut wajah Seungha berubah kecewa. Pemuda itu kemudian mencoba bertanya sekali lagi. “Benar-benar tidak ada?”
Sean mengangguk yakin.
Seungha mendesah seolah baru saja mengangkat beban berat, lalu kembali berbaring. “Kau sangat kejam.”
Sean mendengkus lalu mencubit pinggang Seungha, membuat pemuda itu berteriak kesakitan.
“Aaaaa!”
***
Mereka pulang saat hari menjelang sore. Sumin menggantikan suaminya menyetir selama perjalanan pulang, sementara pria paruh baya itu bersama Hyunji dan Seungha tertidur.
Sean berkali-kali mendorong kepala Seungha yang terjatuh di pundaknya. Padahal Hyunji juga duduk di samping pemuda itu, kenapa Seungha tidak jatuh saja ke atas pundak Hyunji, kenapa selalu ke arahnya.
“Singkirkan kepalamu,” gerutu Sean sambil kembali mendorong kepala Seungha menjauh.
Sumin tertawa melihat Sean berkali-kali mendorong kepala Seungha dari kaca spion. “Dia pasti kelelahan.”
Sean tersenyum canggung, lalu akhirnya membiarkan kepala Seungha bersandar di pundaknya. Dasar merepotkan.
“Sean-ah.”
“Ya?”
“Berapa usiamu?”
“20 tahun.”
“Kalau begitu, kau seorang mahasiswa?”
Sean menggeleng. “Saya tidak kuliah.”
Sumin melirik Sean sekilas dari kaca spion. “Kenapa?”
Sean mengusap pelipisnya. Air wajahnya tampak berubah. “Sebenarnya, sebelum kecelakaan itu saya diterima sebagai mahasiswa baru Seoul National University.”
Mulut Sumin terbuka lebar. “Wah, kau benar-benar hebat. Lalu kenapa tidak dilanjutkan? Bukannya sangat sulit masuk ke sana?”
Sean mengulas senyum. “Karena saya tidak bisa menari lagi.”
Sean mengambil jurusan performing arts. Ia diterima sebagai mahasiswa terbaik dan juga mendapat beasiswa, tapi karena kecelakaan itu, beasiswa yang Sean dapatkan menjadi sia-sia. Karena Sean yang tidak bisa menari lagi, ia akhirnya melepaskan beasiswanya.
Apanya yang melanjutkan kuliah, Sean harus berhenti bahkan sebelum memulainya.
“Ah, maaf. Bibi tidak bermaksud menyinggungmu,” ucap Sumin merasa bersalah.
Sean kembali tersenyum. “Ya, saya tahu.”
Sean lalu mengalihkan pandangannya ke luar jendela, menatap deretan pepohonan di sepanjang jalan. Sean menghela napas pelan. Ia tahu suatu hari akan mendengar pertanyaan seperti ini, ‘kuliah di mana?’, ‘kenapa tidak kuliah’ meski sudah tahu, tapi mendengarnya secara langsung masih membuat Sean merasa tidak nyaman, walau dia tahu Sumin tak bermaksud apa-apa dengan pertanyaan-pertanyaan tadi.
Sean menurunkan kaca jendela mobil sampai setengah. Ia memejamkan mata, menikmati angin berembus menerpa wajahnya. Lalu sedetik kemudian Sean kembali membuka matanya. Pertanyaan yang sering ibunya tanyakan tiba-tiba terlintas di pikiran Sean.
Apa kau tidak mau kuliah?
Kau tidak mau bekerja?
Sean kembali mendesah pelan. Sebelumnya pertanyaan-pertanyaan itu tak pernah mengganggunya, bahkan Sean seolah tak peduli, tapi tiba-tiba saja terlintas di pikiran Sean dan mulai membuatnya terganggu.
“Sean-ah,” panggil Sumin membuat tersadar dari lamunannya.
“Ya?”
“Kau masih muda, bibi tidak berniat menyuruhmu untuk kuliah. Bibi tidak punya hak untuk itu. Bibi hanya ingin bilang, lakukan hal yang kau sukai, hal yang membuatmu senang. Jangan pedulikan omongan orang lain. Yang terpenting adalah kau merasa bahagia.”
Wanita paruh baya itu tersenyum menatap Sean dari kaca spion.
“Ya, terima kasih.”
***
Sean melambaikan tangannya pada mobil ayah Hyunji yang kembali melaju setelah menurunkannya di depan rumah kakeknya. Gadis itu kemudian berbalik hendak membuka pintu pagar rumah, tapi langkahnya terhenti melihat mobil SUV putih milik ayahnya terparkir di depan rumah kakeknya.
Sean mendesah. Dia tidak mengerti kenapa orang tuanya tetap datang setelah ia larang. Rasa lelahnya bertambah 10 kali lipat hanya dengan membayangkan mereka akan kembali bertengkar nantinya.
Meski lelah, dan enggan bertemu orang tuanya Sean akhirnya membuka pintu pagar itu dan melangkahkan kaki masuk ke dalam.
Kriet...
“Eonni....!” Soo Jin menghambur memeluk Sean begitu dirinya menginjakkan kaki di halaman depan.
“Noona!”
Sean melihat Seo Jun yang duduk di teras melambaikan tangan padanya. Gadis itu kemudian melirik ibu dan neneknya sibuk memotong sayuran di dekat Seo Jun, lalu ayah dan kakeknya menyiapkan alat pemanggang. Sean menebak mereka akan makan besar nanti malam.
Sean menghela napas lalu mendorong tubuh Soo Jin menjauh. “Aku lelah.”
“Eonni, aku dengar kau pergi jalan-jalan ke pantai? Bagaimana kalau besok kita semua juga pergi jalan-jalan? Sudah lama kita tidak pergi jalan-jalan bersama,” kata Soo Jin dengan riang. Gadis kelas 2 SMA itu tampak sangat bersemangat bicara tentang jalan-jalan.
Sean mengabaikan perkataan Soo Jin dan berlalu melewati gadis itu. Sean sangat lelah, dan tidak punya tenaga untuk meladeni Soo Jin. Hari ini tenaganya habis untuk mengurus Hyunji dan Seungha di tambah paman Junsik yang berubah menjadi anak kecil saat bertemu dengan air. Bahkan bibi Sumin juga kewalahan mengurus mereka bertiga.
Soo Jin tampak kecewa melihat Sean mengabaikannya dan berlalu masuk ke dalam rumah. Padahal gadis itu sangat senang bertemu dengan sang kakak, tapi Sean terlihat tak peduli. Bahkan tersenyum padanya tidak. Soo Jin tahu kakaknya berubah sejak kecelakaan yang dialaminya. Sean yang sebelumnya gadis ceria dan periang menjadi sangat dingin dan pemurung. Soo Jin juga tahu, kalau Sean sangat terluka setelah tak bisa menari balet lagi dan melewati masa-masa sulit, tapi ini sudah setahun berlalu. Apa Sean tidak mau kembali seperti dulu? Suasana di rumah jadi sangat tidak nyaman karena semua orang berusaha menjaga perasaan Sean. Di tambah lagi setiap hari ia mendengar ibunya dan Sean selalu bertengkar. Soo Jin lelah dengan keadaan ini. Ia ingin semuanya kembal normal.
***
Sean mengambil ponselnya yang tadi di-charge sebelum ia mandi, lalu membawa benda pipih persegi panjang itu. Sean membaringkan tubuhnya ke atas kasur lantai. Setelah mandi badannya terasa jauh lebih segar dan rasa lelahnya sedikit berkurang.
Sean mendengar tawa yang begitu riang dari halaman depan, tapi dia tidak berminat bergabung ke sana. Ia masih lelah dan ingin istirahat sebentar sebelum keluar untuk makan malam. Sean hanya ingin mengurangi frekuensi terjadinya pertengkaran dengan kedua orang tuanya, makanya Sean hanya akan keluar saat makanan sudah siap. Lagi pula setelah apa yang ia lewati hari ini Sean tidak punya tenaga untuk bertengkar atau pun sekedar berdebat dengan kedua orang tuanya.
Sean membuka aplikasi kakao talk miliknya. Ada pesan masuk dari Seungha dan beberapa temannya. Jarinya bergerak men-scroll pesan-pesan itu. Melihat pesan-pesan itu, Sean baru sadar jika setahun ini banyak sekali pesan dari teman-temannya yang abaikan.
Jarinya berhenti saat melihat grup chat dengan teman sekolahnya dulu. Sudah setahun lebih Sean tak membukanya, hingga ada ribuan pesan dalam grup itu. Tiba-tiba saja Sean merasa penasaran, bagaimana kabar teman-temannya sekarang? Sejak kecelakaan itu Sean tidak pernah bertemu dengan mereka.
Sean lantas membuka grup chat itu. Begitu masuk ia di bawa ke pesan paling atas. Jarinya kemudian kembali bergerak men-scroll layar melewati pesan-pesan yang sebenarnya tidak penting karena hanya berisi candaan. Meski sudah setahun berlalu setelah kelulusan mereka dari SMA, teman-temannya masih terlihat akrab satu sama lain, kecuali dirinya. Setelah kecelakaan itu Sean memang memutus hubungan dengan teman-temannya.
Jari Sean terus bergerak hingga ke pesan terakhir. Itu sebuah foto. Foto teman-teman yang melakukan reuni. Teman-temannya terlihat tak berubah kecuali penampilan mereka yang tampak lebih dewasa.
“Mereka terlihat bahagia,” gumam Sean menatap foto reuni teman-teman sekolahnya.
Lalu Sean membayangkan dirinya ada dalam foto itu bersama teman-teman sekolahnya. Yah, harusnya dia bisa bergabung dengan mereka, menghabiskan waktu bersama, bersenang-senang, melepas kerinduan.
Jika saja kecelakaan itu tidak terjadi. Jika saja pengendara motor sialan itu tidak menabraknya, semuanya tak akan jadi seperti sekarang. Sean tidak akan kehilangan impiannya dan juga teman-temannya.
“Ssibal,” umpat Sean lalu meletakkan ponselnya.
Ia menyesal telah membayangkan hal yang tak akan pernah terjadi. Sekeras apa pun berusaha Sean tidak akan bisa kembali ke masa lalu. Tentu saja waktu tidak akan dapat berputar mundur, karena hukum waktu itu berjalan maju dan tidak akan pernah bisa kembali ke masa lalu.