Bagian 39

1459 Kata
Sean duduk di atas tikar bersama ibu Hyunji. Mengamati dari kejauhan tiga orang yang berubah menjadi anak kecil saat bertemu dengan air. Berlarian ke sana ke mari, saling mengejar dan saling melemparkan diri masuk ke dalam air. Benar-benar terlihat seperti anak-anak. “Kau tak ikut bermain bersama mereka?” tanya Sumin. Sean mengalihkan pandangannya pada wanita paruh baya yang duduk di sampingnya. “Tidak.” “Kenapa?” “Saya tidak suka tubuh saya basah,” ucap Sean lalu tersenyum canggung. “Mereka terlihat seperti anak kecil yang tidak pernah bermain air, benar?” Sean mengangguk setuju. Hyunji naik di atas flamingo float yang didorong oleh ayahnya dan Seungha. Lalu ketika flamingo float itu terbalik hingga Hyunji jatuh ke dalam air, dua laki-laki itu tertawa keras. Semantara Hyunji mengamuk karena dibiarkan jatuh jungkir balik ke dalam air. Lalu ketiganya tertawa dengan riang. “Oh, di kakimu itu?” “Ah, ini bekas luka dari kecelakaan setahun lalu,” kata Sean lalu menutupi bekas luka di kaki sebelah kanannya dengan tangan. “Kecelekaan?” Raut wajah Sumin tampak terkejut. “Iya, saya ditabrak oleh sepeda motor, itu yang saya dengar dari orang tua saya. Sejujurnya saya tidak ingat persis bagaimana kejadiannya karena waktu itu hujan deras dan kecelakaan itu terjadi dengan cepat.” “Bukankah kau seorang penari balet, lalu sekarang?” “Saya tidak bisa menari lagi, jadi saya berhenti,” ucap Sean lalu memaksa dirinya tersenyum. Sumin menutup mulutnya dengan kedua tangan sambil menatap khawatir ke arah Sean. “Kau baik-baik saja?” “Ya?” Sean menatap terkejut wanita paruh baya itu. Sumin mengusap pelan bahu Sean, matanya terlihat berkaca-keca. “Pasti sangat berat untukmu. Kau harus berhenti menari karena cedera itu.” Sean tertegun menatap Sumin yang sekarang mengusap pelupuk matanya yang berair. Sean bukannya terkejut karena ibu Hyunji yang tiba-tiba menangis, tapi ia terkejut karena pertanyaan wanita itu. Sejak kecelakaan itu, baru ibu Hyunji yang bertanya apakah dirinya baik-baik saja. Bahkan kedua orang tua Sean tidak pernah bertanya seperti itu. Mereka selalu mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja, tapi tidak pernah sekalipun bertanya tentang keadaannya. “Apa yang kalian bicarakan?” tanya Junsik mengambil tempat di samping istrinya. Seungha dan Hyunji datang kemudian. “Keringkan dulu badanmu,” omel Sumin sambil melempar handuk pada suaminya. “Tikarnya jadi basah, kan.” “Kau tidak jalan-jalan?” tanya Seungha. Pemuda itu menatap Sean. “Oh, benar. Seungha-ya ajak Sean jalan-jalan, ya? Kasihan dia hanya duduk di sini sejak tadi. Pasti merasa bosan.” Sumin mendorong tubuh Sean untuk berdiri. Sementara Seungha mearih kemejanya yang tergeletak di atas tas ransel di atas tikar, lalu memakainya. Pemuda itu juga mengeluarkan kamera analog dari dalam tas ranselnya. “Ayo,” ajak Seungha. Ingin menolak, tapi akhirnya Sean mengekor di belakang pemuda itu. “Aku ikut!” seru Hyunji yang baru saja duduk lalu bangkit lagi untuk bersiap pergi dengan Sean dan Seungha, tapi Sumin dengan cepat menarik tangannya, membuat gadis itu duduk kembali. “Kau di sini saja dan makan.” Sumin menyuapkan sepotong buah apel ke dalam mulut Hyunji. Putrinya itu terlihat kecewa karena dilarang pergi. *** Sean dan Seungha berjalan menyusuri garis pantai Songho. Melewati orang-orang yang sedang bermain pasir atau berjemur di sana. Sean melirik ke arah laut, permukaannya bergelombang. Lautan itu tampak berkilau karena terpaan sinar matahari. Sungguh pemandangan indah yang memanjakan mata. Sean beralih menatap Seungha, pemuda itu sedang sibuk dengan kameran analog yang dikalungkan di lehernya. Ini pertama kalinya Seungha mengacuhkannya saat mereka sedang bersama. Sepertinya kamera analog itu jauh lebih menarik dibandingkan dengan Sean. “Lehermu merah,” kata Sean sambil menunjuk leher Seungha. Bukan hanya leher, tapi hampir seluruh wajahnya juga tampak memerah. “Ah, ini.” Seungha mengusap lehernya. “Karena mataharinya sangat terik.” Tentu saja. Hari itu cuacanya sangat panas dan matahari bersinar cukup terik sampai bisa membakar kulit. “Kau tidak pakai sunblock?” Pemuda itu menggeleng. “Tidak.” Sean mendesah lalu mengeluarkan sesuatu dalam tas ranselnya. Gadis itu membuka tutup sunblock dalam kemasan tube, mengeluarkan isinya lalu mengoleskannya pada leher Seungha. “Apa yang kau lakukan?” tanya Seungha kaget saat Sean tiba-tiba mengusap lehernya. Mata pemuda itu terlihat gugup. “Mengolesimu sunblock, kau tidak tahu betapa bahayanya sinar UV? Kau mau pulang-pulang wajahmu jadi mirip kepiting rebus karena terbakar sinar matahari?” omel Sean. Gadis itu hendak kembali mengoles sunblock ke leher Seungha, tapi pemuda itu menahan tangannya. “Kenapa?” “Akan aku lakukan sendiri,” kata Seungha mengambil sunblock di tangan Sean. Pemuda itu lantas mengolesi wajah dan leher dengan dengan sunblock tersebut. “Yang banyak.” “Iya.” Mata Seungha bergerak gugup sambil sesekali melirik Sean. Gadis itu sedang menatap Seungha dengan tangan terlipat di depan d**a. “Sudah.” Seungha menyerahkan kembali sunblock milik Sean. Gadis itu memasukkan kembali sunblock-nya ke dalam tas. Sean kemudian melirik kamera analog yang tergnatung di leher Seungha. “Kamera itu milikmu?” “Bukan.” “Lalu?” “Milik kakekku. Aku menemukannya di gudang beberapa hari lalu.” “Oh...” Sean menganggukkan kepalanya. “Kau bisa menggunakannya?” “Aku baru mau mencobanya,” kata Seungha lalu mengarahkan kameranya pada Sean. “Apa yang kau lakukan?” “Aku mau kau jadi orang pertama yang aku foto.” Sean terdiam menatap pemuda yang saat ini tengah membidiknya dengan kamera. Sesuatu dalam dirinya tiba-tiba berdesir, jantungnya berdebar kencang. Ditambah dengan embusan angin musim panas membuat bulu kuduk Sean meremang. “Fotonya akan lebih bagus kalau kau tersenyum.” Seungha menurunkan kamernya setelah memotret Sean beberapa kali. “Kau memotretku?” tanya Sean setelah tersadar. Seungha menganggukkan kepalanya. “Bukannya tadi aku bilang, kalau aku mau kau jadi orang pertama yang aku foto.” Mata Sean mengedip gugup lalu menghindari tatapan Seungha. “Aku pernah bilang, kan kalau aku tidak suka difoto.” “Sudah terlanjur. Aku sudah dapat beberapa fotomu,” ucap Seungha sambil mengangkat kameranya. Sean mendesah seolah baru saja mengangkat beban yang berat. “Ayo, di sini panas.” Dengan langkah kesal, Sean mengekor di belakang Seungha. Sean sama sekali tidak mengerti, kenapa pemuda itu selalu berbuat sesukanya. Kemarin menyentuhnya, sekarang memotretnya. Dasar menyebalkan. Sean kemudian menyentuh dadanya. Ia merasakan jantungnya masih berdebar kencang. “Apa ini efek samping dari kecelakaan waktu itu?” Dokternya dulu sempat bilang mungkin akan ada komplikasi setelah kecelakaan itu. Mengingat dirinya terpental cukul jauh dan membentur aspal dengan keras. Sean juga sempat tidak sadarkan diri selama beberapa hari setelah operasi. “Tapi hasil pemeriksaan terakhir menunjukkan kondisiku baik-baik saja,” gumam Sean pelan. *** “Di sini lebih teduh.” Sean dan Seungha duduk di bawah payung yang di pasang di sepanjang pantai. Sean melirik Seungha yang masih sibuk mengutak-ngatik kameranya. “Jangan memotretku lagi,” kata Sean memberi peringatan. Seungha menoleh pada Sean, gadis itu sedang mentapnya sambil merengut. “Kenapa?” “Aku tidak suka di foto,” tegas Sean. “Kenapa? Padahal kau terlihat cantik.” Bola mata cokelat milik Sean bergerak gugup, pipinya terasa menghangat. “Pokoknya jangan memotretku!” Sean lantas mengalihkan pandangannya pada beberapa anak kecil yang sedang bermain pasir. Anak-anak itu berada tak jauh dari tempat Sean dan Seungha duduk. Sean diam-diam menyentuh dadanya. Jantungnya kembali berdebar kecang di antara suara tawa riang anak-anak itu. Sean kembali menoleh ke arah Seungha saat mendengar suara jepretan kamera. “Kau memotretku?” Seungha menurunkan kameranya lalu menatap Sean dengan dahi berkerut. “Aku sedang memotret mereka.” Seungha menunjuk ke arah anak-anak yang sedang bermain pasir. “Oh....,” sahut Sean lalu mengalihkan pandangannya. Tanpa gadis itu sadari, diam-diam Seungha mengarahkan kamera ke arahnya. Seungha kembali memotret Sean. Saat membidik Sean dengan kameranya, samar-samar pemuda itu tersenyum. Sean terlihat sangat cantik. Merasa puas berhasil memotret Sean diam-diam, Seungha segera menurunkan lagi kameranya sebelum Sean sadar. Gadis itu mungkin akan marah jika tahu sedang dipotret diam-diam. “Ini akhir pekan, orang tuamu akan datang berkunjung?” “Aku menyuruh mereka untuk tidak datang,” sahut Sean malas. “Kenapa?” Sean menoleh pada Seungha lalu membuang napas di depan pemuda itu. Seolah mengatakan kalau pemuda itu terlalu cerewet. “Karena ujung-ujungnya kami akan bertengkar lagi seperti waktu itu,” gerutu Sean. “Jadi dari pada bertengkar, aku melarang mereka datang.” “Kau tak merindukan mereka?” Sean kembali membuang napas. Ingin membuat Seungha berhenti bicara, tapi pemuda itu terlalu cerewet. “Tidak.” “Kenapa?” “Untuk apa merindukan orang yang selalu mengabaikan pesanku.” Seungha terdiam, matanya menatap Sean ragu, tapi yang ditatap sedang menatapnya jengkel karena Seungha terlalu cerewet. “Mereka pasti tidak bermaksud mengabaikanmu.” Sean mendesah, mengalihkan pandangannya pada laut di depan mereka. “Jangan mengacaukan suasana hatiku. Aku tidak mau membahas mereka.” “Oh... Oke,” kata Seungha lalu mengatupkan mulutnya rapat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN