Bagian 38

1391 Kata
Entah bagaimana alarm pagi yang disetel Sean di ponselnya tidak berbunyi. Padahal Sean yakin sudah menyetel alarm sebelum ia tertidur kemarin malam. Sean juga yakin bahwa dia tidak lupa mengecas ponselnya. Akibatnya, pagi ini, Sean harus buru-buru mandi dan ganti baju. Lalu memasukkan barangnya ke dalam tas ransel kecil miliknya sebelum Seungha datang menjemputnya. Pemuda itu bilang akan mengajaknya pergi ke suatu tempat, tapi dia tidak memberitahu ke mana mereka akan pergi dan itu membuat Sean penasaran. Selesai merapikan pakaiannya di depan cermin Sean bergegas keluar kamar, memakai sepatunya lalu segara berlari ke keluar rumah. Ketika gadis itu membuka pintu pagar, Seungha sudah berdiri di depan rumahnya dengan sebuah tas ransel berwarna abu-abu di punggungnya. Pemuda itu tersenyum. “Kau bangun kesiangan?” tebak Seungha. Sepertinya terlihat jelas jika Sean sedang terburu-buru. “Alarmku sama sekali tidak berbunyi,” jelas Sean sambil merapikan rambutnya. “Mungkin kau lupa menyetelnya.” “Tidak. Aku yakin sudah menyetelnya sebelum tidur. Ponselku juga tidak mati.” “Mungkin kau tidak sadar mematikannya saat alarm itu berbunyi.” Benar. Mungkin Sean tidak sadar sudah mematikan alarmnya saat berbunyi. Hanya itu alasan yang mungkin terjadi. “Kau benar,” ucap Sean. Gadis itu berbalik untuk menutup kembali pintu pagar rumahnya. “Sebenarnya kita mau ke mana?” “Ke tempat yang kau sukai.” Sean menatap Seungha penasaran. Sementara pemuda itu hanya tersenyum. Benar-benar mencurigakan. *** Sean menatap Seungha yang duduk di sampingnya lalu bergantian menatap Hyunji yang duduk di sebelah kiri pemuda itu. Rasa curiganya beberapa waktu lalu terbukti benar. Sean pikir dirinya hanya akan pergi berdua saja dengan Seungha, tapi ternyata pemuda itu mengajaknya ikut dalam acara jalan-jalan keluarga Hyunji. Seungha benar-benar tidak bermodal. Memang apa yang bisa diharapkan dari pemuda menyebalkan ini. Sean membatin lalu mengalihkan pemandangannya ke luar jendela. “Jadi kau cucunya nenek Jae Hwa?” tanya ibu Hyunji sambil melirik Sean dari kaca spion. “Ya, saya cucunya nenek Jae Hwa,” jawab Sean sambil membungkukkan badannya. “Kami sudah berjanji pada Hyunji mengajaknya jalan-jalan ke pantai saat liburan musim panas, dan dia bersikeras mengajak Seungha ikut dan kami setuju,” jelas wanita paruh baya bernama Sumin itu masih menatap Sean dari kaca spion. “Ah, begitu.” Sean menganggukkan kepalanya. Rasanya dia jadi tamu tak diudang dalam acara jalan-jalan keluarga ini. “Lalu kemudian Seungha minta izin mengajak satu temannya lagi. Yah, kami tidak masalah. Lebih banyak yang ikut acara jalan-jalan ini akan jadi lebih seru.” Sumin tersenyum. Ketika wanita paruh baya itu tersenyum, Sean bisa lihat kalau Hyunji sangat mirip dengan sang ibu. “Kemarin Seungha menawari saya untuk ikut pergi ke suatu tempat. Saya tidak tahu kalau akan ikut jalan-jalan bersama Hyunji dan keluarganya.” Wanita paruh baya itu menoleh ke belakang. “Hyunji juga mengenalmu?” “Iya, kami saling kenal. Apa ada yang aneh?” tanya Sean karena ibu Hyunji terlihat terkejut putrinya mengenal dia. “Hyunji itu hanya menempel pada Seungha, dia juga tidak terlalu kenal dengan anak sebayanya di desa. Makanya aneh kalau dia kenal denganmu.” “Ibu!” seru Hyuji protes dengan ucapan sang ibu. “Aku kenal semua orang di desa kok. Ibu saja yang tidak tahu.” Gadis berusia 17 tahun merengut lalu membuang muka ke arah jendela. “Kenapa? Kau memang selalu menempel pada Seungha, kan?” Melihat Hyunji yang merengut, Sumin semakin bersemangat menggoda putri semata wayangnya itu. “Bahkan kau lebih menyukai Seungha dibanding ayah, benar?” Kim Junsik, ayah Hyunji yang sedang fokus menyetir itu juga ikut menggoda putrinya. “Ayah!!!” Lalu semua orang dalam mobil itu tertawa—kecuali Sean. Gadis itu merasa aneh, karena Sean sudah lama tak berada dalam situasi seperti ini. Bercengkrama, bergurau bersama ayah, ibu dan kedua adik kembarnya. Sejak kecelakaan itu dunianya memang berubah. Tak ada lagi kecerian di sekitar Sean. Semua orang di rumah memang berusaha menghiburnya, tapi rasanya aneh. Mereka seperti hanya berusaha menjaga perasaannya. Tiba-tiba gadis itu merindukan kehangatan keluarganya saat sebelum kecelakaan itu terjadi. Semua orang terlihat ceria dan saling peduli. Suara tawa yang selalu mengiringi perjalanan mereka. Sean merindukannya. “Sean-ah,” panggil Sumin yang membuat Sean tersadar dari lamunannya. “Ya?” “Sejak kapan kau tinggal di desa? Bibi tidak pernah melihatmu sebelumnya.” “Sekitar satu bulan.” Mulut Sumin terbuka lebar, tidak meyangka Sean sudah cukup lama tinggal di desa. “Kenapa bibi tidak pernah melihatmu? Padahal jarak rumah nenekmu dan rumah bibi tidak terlalu jauh.” “Saya memang jarang ke luar rumah,” kata Sean lalu tersenyum. “Ohh, kau ke tinggal di sini untuk berlibur?” Sean melirik Seungha sekilas sebelum menjawab. Pemuda itu juga meliriknya. “Ya, saya datang ke mari untuk berlibur,” kata Sean kemudian. “Berapa lama?” “Sampai musim panas ini berakhir.” “Ah, lama juga, ya. Kalau begitu, semoga kau betah. Dan kalau butuh sesuatu kau bisa datang kke rumah bibi.” Sumin menoleh ke belakang lalu tersenyum ramah pada Sean. “Ya, terima kasih bibi.” *** Setelah berkendara selama hampir satu jam, akhirnya Sean, Seungha dan keluarga Hyunji sampai di pantai Songho. Begitu mobil berhenti di tempat parkir Hyunji segera berlari keluar menuju pantai. Gadis kelas dua SMA itu terlihat sangat senang, seolah ini adalah pertama kalinya dia menginjakkan kakinya di pantai. Sean dan Seungha keluar bersama, mereka kemudian membantu ayah dan ibun Hyunji mengeluarkan barang-barang dari dalam bagasi. “Biar saya bantu,” ucap Sean sambil mencoba membawa tikar yang dibawa ibu Hyunji, tapi wanita paruh baya itu menolaknya. “Tidak usah, bibi dan paman bisa membawa semua ini sendirian. Kalian bermain saja di sana bersama Hyunji.” “Benar, kalian menyusul Hyunji saja. Paman khawatir kalau tidak segera di susul dia akan melompat ke dalam air dengan celana jeansnya,” sahut Jungsik lalu tertawa. “Ayo.” Seungha mengajak Sean meyusul Hyunji. Mereka kemudian berjalan berdampingan melewati hamparan pasir di sepanjang pantai. Karena sudah masuk liburan musim panas, pantai itu cukup ramai oleh pengunjung. Sean melihat beberapa anak kecil berlari melewati mereka sambil tertawa riang. Sean refleks menyungging senyum melihat tingkah anak-anak itu. Mereka terlihat menggemaskan di mata Sean. Lalu mata Sean beralih pada Hyunji. Tingkah remaja kelas dua SMA itu tak jauh berbeda dengan anak-anak kecil di sana. Hyunji berlari riang ke arah air, lalu saat ombak datang gadis itu berlari menjauh sambil berteriak. “Wah!!!” Hyunji berseru dengan suara keras lalu melompat-lompat saat ombak menerjang kakinya. Entah sejak kapan gadis itu melepas sepatunya dan dibuang entah ke mana. “Wah... Pantai!!!” “Jangan terlalu dekat dengan air, Sean!” “Ayah benar-benar menepati janji, kan? Ayah mengajakmu ke pantai setelah kompetisimu selesai.” “Ayah yang terbaik!” “Lalu bagaimana dengan ibu?” “Ibu juga yang terbaik!” “Hahahahaha.” Melihat Hyunji begitu gembira bermain air di depan sana, Sean melihat bayangan dirinya berlari ke arah pantai sambil tersenyum, ada ayah dan ibunya juga si kembar. Mereka tertawa bahagia. Lalu kenangan liburan bersama keluarganya berputar di depan mata Sean. Begitu jelas kenangan itu sampai membuat Sean terlarut di dalamnya. Sean tertegun melihat bayangan dirinya berlarian di tepi pantai. Dia benar-benar terlihat sangat bahagia saat itu. Berlarian sambil tertawa. “Ternyata aku sangat bahagia dulu,” gumam Sean tanpa sadar. “Kau bilang apa?” tanya Seungha. “Ha?” Sean menoleh pada Seungha. “Kau bilang apa tadi?” “Ah, bukan apa-apa,” kata Sean sambil menggelengkan kepalanya. Gadis kembali melihat Hyunji yang bersiap melompat ke dalam air. “Lebih baik kau pergi ke sana sebelum dia benar-benar melompat ke dalam air dengan celana jeans-nya.” “Aish, bocah itu.” Seungha segera berlari menyusul Hyunji. Sementara Sean masih di tempatnya berdiri mengamatai mereka berdua. Gadis itu kembali mengingat kenangan yang tadi berputar di depan matanya. Dia benar-benar terlihat bahagia waktu itu, ayah, ibu dan kedua adik kembarnya juga. Mereka semua sangat bahagia, tapi keadaan sekarang sangatlah berbeda, dan Sean penyebabnya. Semua kegembiraan itu menghilang bersama mimpinya yang diambil paksa. Bukankah, hidup ini sangat tidak adil. Takdir mengambil hal berharga dalam hidupnya dan juga kegembiraannya. Lalu menyisakan Sean dengan segela penderitaan akan kehilangan. Gadis itu lantas menatap laut di depannya. Menyaksikan ombak yang datang bergulung-gulung tenang menuju pantai. Lalu suara ombak yang terdengar seolah memukul-mukul garis pantai. Sean kembali membayangkan dirinya berlarian di sana sambil tertawa bahagia. “Apa aku bisa kembali seperti itu.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN