Bagian 37

1246 Kata
Kita bertemu banyak orang asing setiap harinya. Sebagian besar dari mereka hanya lewat atau pergi begitu saja, tapi terkadang ada keinginan dalam diri kita untuk mengenal lebih dekat salah satu dari orang asing yang kita temui. Mungkin itu naluri alami kita sebagai mahluk sosial. Itulah yang Seungha rasakan saat pertama kali bertemu dengan Sean. Awalnya mereka memang dua orang asing yang tak sengaja bertemu, dan sejak pertemuan pertama mereka segala hal tentang Sean sangat menarik perhatian Seungha. Dia ingin mengenal gadis bermata indah itu lebih dekat. Meski awalnya Sean selalu menjaga jarak dan menolak kehadiran Seungha, tapi momen-momen saat mereka bersama kemudian membuat mereka menjadi lebih dekat. Kata orang asing yang sebelumnya melekat pada diri mereka berdua, perlahan mulai berubah. Katakanlah usaha memang tak pernah menghianati hasil, dan itu benar adanya. Usaha yang selama ini Seungha lakukan untuk mendekati Sean terbukti tidak sia-sia. Tembok pembatas tak terlihat yang Sean bangun antara gadis itu dan Seungha perlahan mulai runtuh. Dan begitulah mereka mulai menghabiskan waktu bersama. Memang terlihat seperti kombinasi yang aneh saat dua orang itu bersama—kecuali visual mereka. Kepribadian Sean dan Seungha itu sangat bertolak belakang. Seungha adalah orang yang ceria dan ramah, sedangkan Sean adalah gadis dingin dan kasar—walau sebelum kecelakaan itu Sean tidak seperti sekarang. Jadi, waktu yang mereka habiskan bersama lebih sering diisi dengan pertangkaran dan perdebatan. Namun, anehnya perdebatan itu seolah jadi tak berarti karena mereka justru berakhir menjadi semakin dekat. Sean duduk diam mengamati hujan yang turun siang itu dari teras depan rumahnya. Di sampingnya ada Seungha dengan posisi yang sama. Hanya ada mereka berdua di rumah kakek Sean. Para orang tua di desa sedang pergi entah ke mana. Seungha bilang itu acara jalan-jalan rutin yang biasa dilakukan oleh para orang tua. Dan karena takut Sean merasa bosan ditinggal sendirian, nenek Jae Hwa meminta Seungha untuk menemani gadis itu. Lalu berakhirlah mereka dengan duduk diam di teras sambil mengamati hujan yang turun. “Hah....” Mereka menghela napas bersamaan lalu saling melirik, hanya sebentar. Setelah itu mereka kembali menatap rintik hujan yang turun. “Jadi, kenapa kau tidak menyukai hujan?” tanya Seungha memecah keheningan. Sean menoleh sekilas ke arah Seungha, lalu kembali pada rintik hujan di depannya. Bayangan saat ia mengalami kecelakaan setahun lalu berputar di depan matanya. Tubuhnya terpental membentur aspal di bawah derasnya hujan yang turun. Matanya setengah terpejam menatap sebuah benda besar yang Sean rasa baru saja menabraknya. Sebelum benda itu menabraknya Sean sempat mendengar suara deru mesin dan juga klakson. Meski hampir kehilangan kesadarannya, Sean bisa merasakan perihnya rintik air hujan yang mengenai tubuhnya. Setiap kali kenangan itu muncul, bisa Sean rasakan seluruh tubuhnya menegang, rasa sakit itu kembali menyerang setiap inci bagian tubuhnya. Begitu jelas rasanya sampai Sean mengepalkan kedua tangannya dengan erat untuk menahan rasa sakitnya. “Aku benci tubuhku basah,” jawab Sean. Seungha melirik kedua tangan Sean yang terkepal erat. Dari sana dia tahu mungkin bukan itu alasan Sean membenci hujan. “Kau bilang hujan mengingatkanmu pada kenangan menyakitkan.” Sean terdiam, kali ini gadis itu memeluk erat kedua lututnya. Menutup rapat mulutnya, seolah enggan berbagi cerita tentang kenangan menyakitkannya dengan orang lain. “Kau sendiri kenapa membeci hujan?” Giliran Sean bertanya pada Seungha. Gadis itu tahu jika pemuda di sampinya juga tak menyukai hujan. “Karena aku membunuh temanku saat hujan turun.” Sean tersentak, refleks menoleh ke arah Seungha dengan mata dan mulut yang terbuka lebar. Sean memang tahu kalau Seungha itu bermuka dua dan punya kepribadian yang aneh. Namun, Sean tak menyangka jika pemuda itu bisa membenuh seseorang. “Bukan membunuh seperti yang ada dalam bayanganmu,” lanjut Seungha, seolah pemuda itu mengerti apa yang sedang Sean bayangkan. Sean mengerutkan dahinya. “Lalu?” “Kami mengalami sebuah kecelakaan.” Seungha menjeda kalimatnya, lalu mengambil satu tarikan napas panjang. Sudah lama ia tak pernah membahas tentang kepergian Dae Won, tapi hari ini saat ia melihat hujan turun dan ada Sean di sampingnya, Seungha ingin berbagi kenangan menyakitkan itu dengan Sean. “Hari itu harusnya aku bisa mencegahnya agar tidak pergi, tapi dengan bodohnya aku malah ikut bersama Dae Won. Lalu kecelakaan itu terjadi, dan hanya aku yang selamat.” Sean menatap Seungha lekat-lekat. Mengamati raut wajah pemuda itu, ini pertama kalinya Sean melihat kesedihan dalam raut wajah Seungha. Selama ini pemuda itu tampak selalu ceria. Jadi, Sean agak terkesiap melihat raut wajah yang tampak begitu sedih itu saat menceritakan kepergian temannya. “Jika itu kecelakaan, maka kematiannya bukan sepenuhnya salahmu. Itu takdir,” kata Sean. Seungha menarik kedua sudut bibirnya ke atas. Pemuda itu tersenyum, tapi sorot matanya tetap terlihat sedih. “Itu yang orang-orang katakan padaku. Bahwa Dae Won meninggal bukan karena salahku, itu sudah takdirnya dan aku harus bersyukur karena selamat dari maut. Namun, bagaimana dengan keluarga Dae Won? Mereka melihatku selamat, tapi mereka kehilangan putra mereka yang berharga. Rasanya pasti sangat tidak adil. Karena itu aku merasa bersalah. Hanya aku yang selamat, sedangkan Dae Won tidak.” Sean kembali terdiam. Dia sedikit paham apa yang Seungha rasakan. Tentu pemuda itu merasa bersalah karena hanya dirinya yang selamat sedangkan temannya tidak. Dae Won... Sean ingat, Seungha pernah menyebut nama itu saat mengigau ketika sedang sakit. Dia pasti sangat merasa bersalah, bahkan di dalam mimpi pun juga begitu. Sean menghela napas. Selama ini dia pikir Seungha hanya punya sisi menyebalkan, tapi hari ini Sean sadar, jika pemuda itu juga punya sisi yang menyedihkan sama seperti dirinya. “Kenapa?” Pertanyaan Seungha itu menarik kesadaran Sean kembali. “Ha?” “Kau barusan menghela napas.” “Ah, aku hanya tidak menyangka saja kau punya cerita seperti itu.” Pemuda itu tertawa pelan lalu mengacak poni Sean. Jika biasanya gadis itu akan mengamuk setiap kali Seungha mengacak poninya, kali ini Sean hanya diam saja menerima perlakuan itu. Mungkin karena terlalu terkejut, ternyata Seungha punya sisi yang tak ia bayangkan. “Setiap orang itu punya sisi yang menyedihkan,” kata Seungha kemudian. “Kau pikir aku tak punya sesuatu yang menyedihkan dalam hidupku karena selalu terlihat ceria?” Sean refleks menganggukkan kepalanya. Ia memang berpikir seperti itu. Seungha terlihat seolah tak punya hal menyedihkan dalam hidupnya karena selalu terlihat ceria. Seungha kembali tertawa. “Hey, setiap manusia itu pasti punya hal yang menyedihkan. Entah besar atau kecil. Itu hal yang wajar.” “Kau benar,” sahut Sean pelan. Gadis itu kemudian kembali menatap rintik hujan yang turun, begitu juga dengan Seungha. Keduanya kemudian sama-sama tenggelam dalam kenangan menyakitkan mereka bersama hujan. Terdengar suara helaan napas Sean di antara suara gemercik rintik hujan yang turun. Setelah mendengar cerita Seungha tentang alasan pemuda itu tak menyukai hujan, Sean berpikir apakah dia harus melakukan hal yang sama. Menceritakan tentang alasannya tak menyukai hujan dan bagaimana dia kehilangan mimpinya pada Seungha. Sean lantas melirik Seungha. Pemuda itu masih menatap lurus ke arah rintik hujan yang turun. Sean tampak ragu untuk mengatakan suatu. Benarkah dia harus berbagi cerita menyedihkan tentang dirinya pada Seungha? Bagaimana jika pemuda itu mengejeknya nanti? Pertanyaan-pertanyaan itu mengganggu pikiran Sean dan membuatnya ragu. "Ada apa?" tanya Seungha sadar Sean terus menatapnya. "Tidak apa-apa," jawab Sean lalu mengalihkan pandangannya. Gadis itu memutuskan untuk tak berbagi kenangan menyakitkan itu dengan Seungha. Tidak untuk sekarang, mungkin nanti saat Sean siap berbagi kenangan itu, dia akan menceritakannya pada Seungha. Sama seperti yang pemuda itu lakukan. "Sean-ah?" panggil Seungha membuat Sean kembali menatapnya. "Hem?" Pemuda itu juga menatap Sean. Cukup lama mereka bertatapan, sampai kemudian pertanyaan yang keluar dari mulut Seungha membuat Sean salah tingkah. "Kau mau ikut denganku besok?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN