Tepat ketika nyanyiannya berakhir, bersamaan dengan riuh tepuk tangan penonton mata Sean dan Seungha bertemu. Gadis itu kemudian melihat bibir Seungha bergerak pelan, seperti mengatakan sesuatu padanya.
Cantik.
Sean yakin itu yang Seungha katakan padanya. Gadis itu kemudian tertegun menatap Seungha yang sekarang tersekarang tersenyum padanya. Berdiri jauh di belakang warga desa yang sekarang berkerumun di depan Sean.
Sean merasa sesuatu dalam dirinya berdesir. Dia sudah sering melihat Seungha tersenyum, tapi kali ini rasanya berbeda—pemuda itu terlihat memesona dengan senyumnya.
Cukup lama Sean menatap Seungha, hingga saat musik benar-benar berhenti kesadarannya kembali naik ke permukaan. Sean segera menyerahkan mikrofon yang ia pegang pada Hyunji, lalu buru-buru berlari menuju tempat Seungha berdiri sambil menutupi wajahnya.
Sean benar-benar malu sekarang. Nyanyiannya memang sudah selesai, tapi warga desa masih terus bersorak sambil menatapnya.
“Kau malu?” tanya Seungha setelah Sean berdiri di sampingnya
Sean melirik Seungha. “Menurutmu?”
“Sepertinya kau sangat malu. Wajahmu sampai memerah mirip seperti kepiting rebus,” kata Seungha sambil mengibaskan tangannya di depan wajah.
Sean mendelik sebal ke arah Seungha. Coba saja Seungha disuruh maju ke depan lalu bernyanyi sepertinya. Sean yakin pemuda itu tak akan jauh berbeda dengannya.
“Bukannya kau sering tampil di depan banyak orang?”
Sean mendengus lalu membuang muka ke arah lain. “Menari dan bernyanyi itu berbeda. Aku memang tidak pernah gugup saat menari di depan banyak orang, tapi ini pertama kalinya aku bernyanyi di depan banyak orang. Lagi pula aku juga tidak pandai bernyanyi. Beruntung telingamu tak berdarah setelah mendengarkan nyanyianku.”
“Nyanyianmu tidak seburuk itu, kok.”
Sean kembali menoleh pada Seungha. “Jangan berbohong hanya untuk menghiburku.”
“Aku tidak bohong.” Pemuda itu kemudian tersenyum.
Lagi.
Sean merasa sesuatu dalam dirinya berdesir saat melihat Seungha tersenyum lagi padanya.
“Kau bernyanyi dengan baik.” Kali ini Seungha mengusap puncak kepala Sean, membuat gadis itu agak tersentak karena kaget.
“Jangan menyentuhku seenaknya,” protes Sean sambil menyingkirkan tangan Seungha dari kepalanya.
Seungha tertawa. Tidak kapok, tangannya kembali terulur untuk mengacak poni Sean.
“Yak!” pekik Sean sambil mendelik pada Seungha.
Pemuda itu tertawa semakin keras. Puas membuat Sean merasa kesal.
Sean menatap sebal ke arah Seungha. Melihat pemuda itu tertawa membuat Sean ingin menjambak rambutnya. Namun, semua orang di sana sedang menatap mereka karena teriakannya tadi. Jadi, Sean menahan keinginannya untuk menjambak rambut Seungha, tapi Sean pasti akan mencari kesematan untuk menjambak pemuda itu lain kali. Pasti.
***
Sean pulang bersama Seungha. Awalnya gadis itu ingin pulang bersama kakek dan neneknya, tapi Seungha menahan Sean untuk membantu pemuda itu membereskan aula desa.
Awalnya Sean menolak, tapi karena Seungha terus memohon ia akhirnya setuju untuk ikut membantu. Karena dikerjakan oleh banyak orang, Sean pikir acara beres-beres itu akan cepat selesai, tapi ternyata tidak. Mereka selesai membereskan aula hampir tengah malam.
Sean dan Seungha berjalan beriringan menyusuri jalanan desa. Jika biasanya Sean selalu menjaga jarak dengan Seungha, kali ini Sean berjalan dengan terus mendekat ke arah pemuda itu.
Sean takut. Mereka pulang hampir tengah malam. Desa ini dikelilingi hutan dan gunung, bagaimana jika tiba-tiba ada binatang buas yang melompat ke depan mereka?
Sean menggelengkan kepalanya. Lalu membuang jauh-jauh bayangan bintang buas yang tiba-tiba muncul di depan mereka. Sean meyakinkan dirinya sendiri bahwa mereka pasti pulang dengan aman dan selamat.
Seungha tiba-tiba menghentikan langkahnya, membuat Sean juga ikut berhenti melangkah.
“Kenapa?” tanya Sean menatap Seungha sekilas lalu kembali waspada dengan jalanan di sekitarnya.
“Apa kau sangat ingin menempel padaku?” Seungha balik bertanya.
Sean mengernyit, tak mengerti maksud Seungha. “Kau bilang apa?”
“Kau berjalan terlalu dekat denganku,” jelas Seungha.
Sean otomatis menggeser tubuhnya agak menjauh dari pemuda itu. “Oh, maaf.”
“Lalu ini.” Seungha menunjuk tangan Sean yang memegang erat ujung kemejanya. “Kau takut?”
“Takut? Siapa aku?” Sean melepas pegangannya pada ujung kemeja Seungha lalu tertawa. Tawa yang terdengar canggung. “Kau bercanda?”
Seungha melipat kedua tangannya di depan d**a. Pemuda itu menatap lekat-lekat wajah Sean sambil agak mencondongkan badannya ke arah gadis itu.
“Apa? Kenapa?” tanya Sean gugup saat Seungha tiba-tiba mendekat.
“Sebenarnya kau takut, kan?”
“Tidak.” Sean mendorong dahi Seungha dengan jari telunjuknya.
“Kau yakin?”
“Tentu, seratus persen yakin,” kata Sean percaya diri—padahal dalam hati ia memang merasa takut.
“Oke, kalau begitu dari sini kau bisa pulang sendiri, kan? Arah rumah kita berbeda.”
Sean mengerjap dan mulutnya terbuka lebar. “Kau bercanda?”
“Tidak. Kau yang bilang sendiri kalau tidak takut. Jadi, tidak masalah kalau kau pulang sendirian. Kau kan gadis yang PEMBERANI.”
Sean menatap Seungha kesal sambil mengumpat dalam hatinya. Lihatlah raut wajah pemuda itu, sangat mengesalkan sekarang. Seolah sedang mengejeknya.
Dari Seungha, Sean beralih menatap jalanan ke arah rumahnya. Gadis itu susah payah menelan ludahnya. Memang Sean hanya perlu berjalan sejauh 50 meter lagi untuk sampai ke rumah, dan jalanan itu terlihat cukup terang karena lampu penerangan di tepi jalan, tapi tepat di sisi lain jalanan itu ada sawah yang membentang luas dan terlihat sangat gelap sekarang.
Bagaimana kalau ada binatang buas yang tiba-tiba muncul dari sawah itu?
Sean kembali menelan ludahnya saat menatap hamparan sawah di sisi lain jalan. Di sana sangat gelap dan menyeramkan.
Seketika Sean menyesal karena telah bersikap sok berani di depan Seungha. Harusnya dia bilang saja kalau takut dan tidak perlu jadi gadis yang sok pemberani. Sekarang kalau Sean bilang takut pun, percuma. Memang Seungha akan mengantarnya pulang jika dia bilang takut, tapi pasti pemuda itu juga akan menertawakannya. Karena telah bersikap sok berani.
Aish, sial.
Ayo pikirkan cara agar dia mengantarmu sampai depan rumah.
“Oke nona pemberani,” panggilan Seungha yang menyebalkan itu menyadarkan Sean dari lamunannya. “Kita berpisah di sini, sampai jumpa besok.”
Baru hendak melangkahkan kakinya, Sean menahan tangan pemuda itu.
“Apa lagi?”
“Kakiku kram.”
***
Berkat ide kaki kram yang terlintas di kepala Sean, akhirnya Seungha mengantarkannya pulang. Namun, Sean agak menyesal menggunakan ide kaki kram itu sekarang. Ide kaki kram itu membuatnya digendong oleh Seungha.
Berada di punggung Seungha dengan kedua tangan merangkul leher pemuda itu dari belakang, sangat membuat Sean tidak nyaman. Apa lagi dadanya yang menempel dengan pemuda itu. Sean yakin Seungha bisa mendengar detak jantungnya. Untung saja, dia pandai mengendalikan diri, jadi kemungkinan berdebar karena posisi ini tidak terjadi.
“Sebenarnya, kau pura-pura kram, kan?” tanya Seungha.
Sean diam tidak menjawab.
“Sebenarnya kau merasa takut, benar?” tanya Seungha lagi.
Dan Sean masih diam.
“Kenapa? Kau malu? Bukankah rasa takut itu emosi dasar yang dimiliki setiap manusia? Aneh, jika kita tak punya emosi itu.”
Sean menghela napas sebelum akhirnya menjawab pertanyaan Seungha. “Aku pernah hampir mati sekali, jadi aku pikir tidak ada yang membuatku takut—kecuali anjing.”
“Tapi kemarin, aku dengar ada seekor beruang masuk ke dalam halaman rumah warga. Lalu aku sadar, ternyata ada binatang lain yang lebih menyeramkan dari anjing.”
Seungha tiba-tiba tertawa. Kalimat sendu Sean itu ternyata berakhir lucu. “Jadi kau takut ada beruang yang muncul?"
Seungha menurunkan Sean ketika mereka sampai di depan pagar rumah gadis itu. Dia kemudian berbalik menatap Sean. “Aku pikir kau itu gadis pemberani, tapi ternyata tidak. Kau jadi penakut karena kebohongan itu.”
Sean menatap Seungha bingung. “Kebohongan?”
“Orang-orang berbohong soal ada beruang yang berkeliaran di malam hari agar anak-anak mereka tetap berada di rumah.”
Sean mengerjapkan matanya. Dia tidak percaya, ternyata obrolan soal beruang yang dia dengar beberapa hari lalu adalah sebuah kebohongan.
“Jadi, kau tak perlu takut beruang tiba-tiba muncul dan menerkammu. Desa ini memang di keliling hutan dan gunung, tapi aku jamin desa ini sangat aman.”
Sebelah tangan Seungha terulur untuk mengusap puncak kepala Sean. Lalu setelahnya memutar tubuh gadis itu dan mendorongnya masuk ke dalam halaman.
“Sudah malam, masuk dan cepat tidur.”
Seungha menutup pintu pagar kayu itu lalu melangkah pergi. Sementara Sean masih berdiri di halaman dengan raut wajah terkejut.
“Jadi itu Cuma kebohongan,” kata Sean tidak percaya.