Bagian 35

1744 Kata
Mata dan mulut Sean terbuka lebar saat dirinya dan Seungha sampai di dalam aula desa. Tempat yang biasanya digunakan warga untuk melakukan rapat atau musyawarah itu disulap sedemikian rupa menjadi tempat pesta. Sean melihat balon warna-warni yang diletakkan di setiap sudut ruangan dan juga beberapa bergerak bebas di atas lantai. Pandangan Sean kemudian beralih ke tengah ruangan. Ia melihat kakek dan neneknya asyik menari bersama warga seusia mereka di tengah sana. Melihat nenek dan kakeknya yang menari bersama, Sean seperti melihat dua anak remaja yang baru jatuh cinta. Sungguh lucu. Saling berpegangan tangan sambil bergerak mengikuti irama lagu yang mengalun. Dari kakek dan neneknya, Sean beralih menatap gadis yang menjadi tokoh utama malam ini. Di depan sana Hyunji tengah asyik bernyanyi bersama teman-temannya. Gadis itu menyanyi sambil tersenyum ceria. Tatapan mata keduanya bertemu. Hyunji kemudian melambaikan tangannya dengan semangat ke arah Sean sambil tersenyum lebar. Sean mengalihkan pandangannya, menatap ke sekeliling ruangan. Hati Sean mencelos. Tiba-tiba terasa sakit, saat sadar ia ditinggalkan sendirian di rumah sementara kakek dan neneknya bersenang-senang di sini. Sean pikir kakek dan neneknya berbeda dengan kedua orang tuanya, tapi ternyata mereka sama saja. Tak ada yang benar-benar peduli padanya. Dia selalu ditinggalkan sendirian. Apanya yang menyuruhku bahagia, batin Sean mengingat ucapan sang kakek yang menyuruhnya untuk bahagia. Mata Sean kemudian tertuju pada sebuah banner besar yang terpasang di atas dinding di belakang Hyunji. Sebuah ucapan selamat tertulis dengan besar di banner itu. SELAMAT UNTUK KIM HYUNJI TELAH MENDAPATKAN JUARA DUA KATEGORI CONTEMPORARY SOLO DALAM SHINE BALLET COMPETITION. MESKI TIDAK MENJADI JUARA PERTAMA, KAMI MENCINTAIMU. HYUNJI YANG TERBAIK. “Sean-ah, selamat!” “Eonni, kau yang terbaik.” “Sean kita memang balerina berbakat.” “Noona, kau sangat keren.” “Ayah dan ibu bangga padamu.” Kenangan saat Sean dan keluarganya merayakan kemenangannya dalam sebuah kompetisi berputar di depan mata Sean. Begitu jelas, sampai Sean pikir dia sedang melihat sebuah potongan adegan dalam film keluarga. Tiba-tiba telinga Sean berdengung, bersamaan dengan rasa sesak di dadanya. Tangan Sean dengan cepat memegangi kepalanya yang tiba-tiba berdenyut. “Kau tidak apa-apa?” tanya Seungha cemas. Sean diam tak menjawab pertanyaan Seungha. Gadis itu justru berbalik lalu berlari keluar. Membuat Seungha dan Hyunji yang melihatnya kebingungan dengan tingkah Sean. *** Melihat Sean yang tiba-tiba berlari keluar, Seungha bergegas menyusul gadis itu dengan wajah khawatir. Ia takut terjadi sesuatu pada Sean. Sesaat setelah Sean pergi, Seungha baru sadar jika mungkin gadis itu merasa tak nyaman berada di dalam sana. Melihat warga desa tengah merayakan keberhasilan Hyunji yang mendapatkan juara dua dalam kompetisi balet beberapa waktu lalu, mungkin saja membuat Sean kembali teringat kenangan masa lalu gadis itu. Bodohnya Seungha, kenapa ia baru sadar setelah Sean berlari keluar. Harusnya dia ingat kalau Sean selalu sensitif dengan hal-hal yang berkaitan dengan balet. Seungha menarik napas lega saat menemukan Sean duduk di gazebo dekat aula desa. Pemuda itu sempat takut Sean pergi terlalu jauh dan akhirnya malah tersesat. Jalanan desa saat siang dan malam hari itu jauh berbeda dan Sean baru hafal sebagian rute jalan di desa. “Kau tidak apa-apa?” tanya Seungha setelah menjatuhkan pantatnya di samping Sean. Pemuda itu bisa melihat Sean buru-buru menghapus air matanya saat ia duduk di sana. “Tidak apa-apa,” jawab Sean dengan suara setengah serak. Benar, gadis itu baru saja menangis. Meski Sean bilang tidak apa-apa, Seungha tetap saja merasa khawatir. Dia tahu kalau Sean tadi hanya asal menjawab. “Maaf,” kata Seungha lirih. “Maaf untuk apa?” “Semuanya. Perbuatanku kemarin, lalu saat meninggalkanmu sendirian tadi dan juga yang baru saja terjadi,” jelas Seungha. Pemuda itu benar-benar merasa bersalah. Setelah membuat Sean marah dan kesal, sekarang dia malah membuat gadis itu sedih. “Harusnya aku tidak mengajakmu kemari, maaf,” kata Seungha kembali mengucapkan kata maaf untuk kedua kalinya. “Kenapa?” Sean bertanya sambil menoleh pada Seungha. Pemuda itu juga menoleh, menatap iris mata Sean yang selalu menarik perhatiannya. Cantik. Itu kata yang selalu terlintas di otak Seungha setiap kali menatap kedua mata Sean. Seungha lalu mengalihkan pandangannya, menatap lentera yang tergantung pada sebuah pohon besar di dekat gazebo. “Karena mengajakmu kemari dan membuatmu sedih.” “Kau tahu apa yang membuatku sedih?” “Karena melihat semua yang ada di dalam sana membawamu kembali pada kenangan menyakitkan?” Itu hanya tebakan Seungha. Suasana di dalam sana mungkin saja membawa Sean pada kenangan gadis itu tentang balet. “Bukan kenangan menyakitkan, seharusnya.” Sean menjeda kalimatnya sebentar lalu melanjutkan, “aku hanya teringat ketika diriku berada dalam posisi yang sama dengan Hyunji. Merayakan kemenanganku dalam sebuah kompetisi bersama seluruh keluarga. Kami bersenang-senang dan tertawa bahagia. Itu kenangan yang berputar di depan mataku.” Seungha tampak tertegun mendengar cerita Sean. Dia tidak menyangka gadis itu akan bercerita padanya seperti sekarang. Sampai beberapa jam yang lalu, Sean masih gadis dingin dan kasar, tapi sekarang Sean bahkan berbagi sebuah cerita dengannya. “Kau pikir aku pergi keluar karena merasa tidak nyaman?” Seungha mengangguk. Dia memang berpikir seperti itu. “Kepalaku tiba-tiba terasa sakit, jadi aku berlari keluar,” jelas Sean sambil memegang sisi kepalanya. Seungha menatap gadis itu lekat-lekat. Memperhatikan raut wajah Sean dengan teliti. Meski terlihat tenang, Seungha merasa Sean sedang menyembunyikan perasaannya sekarang. “Kau yakin?” tanya Seungha yang dijawab dengan anggukkan oleh Sean. “Kalau kau merasa tidak nyaman, aku akan mengantarmu pulang sekarang.” Seungha melihat Sean menggelengkan kepalanya. “Aku hanya butuh udara segar, kita bisa kembali ke dalam setelah ini.” Setelah itu keheningan menyelinap di antara mereka. Hanya suara musik dari dalam aula yang samar-samar terdengar serta suara jangkrik dan serangga-serangga lainnya. Tanpa Seungha dan Sean sadari, Hyunji melihat mereka berdua dari kejauhan. Kedua tangan gadis itu mengepal erat. *** “Kau yakin tetap ada di sini?” Sean menoleh menatap Seungha yang berdiri di sampingnya. Sudah tiga kali Seungha bertanya seperti itu dan membuat Sean kesal. Gadis itu kemudian kembali menganggukkan kepalanya dengan malas. “Kau yakin?” Sungguh Sean ingin memukul kepala Seungha sekarang. Pemuda itu benar-benar menyebalkan. “Bisa kau berhenti?” pinta Sean menatap sebal ke arah Seungha. Pemuda itu meringis. “Aku hanya khawatir.” Sean mendengus pelan lalu mengalihkan pandangannya pada meja panjang di dekatnya. Di atas meja itu ada banyak makanan. Sean lantas menyentuh perutnya, ia lalu mendengar sebuah suara berasal dari sana. Beruntung ada alunan musik yang cukup keras, jadi suara dari perutnya yang kelaparan bisa ter-samarkan dan Seungha tak bisa mendengarnya. Cukup sekali pemuda itu mendengar suara perutnya yang keroncongan. Baru hendak melangkah menghampiri meja yang penuh makanan tadi, Sean melihat Hyunji menghampiri mereka. Gadis SMA itu terlihat cantik mengenakan dress selutut berwarna merah muda. Rambut panjangnya di biarkan tergerai. “Oppa!” Seperti biasa gadis itu selalu bergelayut manja di lengan Seungha. Sean yang melihatnya hanya mendesis pelan lalu membuang muka. “Terima kasih sudah menyiapkan pesta ini untukku. Oppa yang terbaik,” kata Hyunji semangat sambil mengacungkan jempolnya. Seungha perlahan menyingkirkan tangan Hyunji dari lengannya. “Aku hanya membantu saja. Semuanya adalah ide ibumu.” “Biar begitu aku tetap berterima kasih karena kau sudah membantu ibu.” “Bukan hanya aku, paman-paman yang lain juga ikut membantu.” Sean menggaruk telinganya sambil mengentakkan-entakkan kakinya ke lantai dengan pelan. Mendengarkan percakapan dua orang di dekatnya itu membuat Sean semakin lapar. “Eonni.” Sean terjungkit kaget saat Hyunji tiba-tiba meraih kedua tangannya. Sean lalu menatap ngeri pada gadis dengan dress merah muda itu. Hyunji sedang menatapnya sambil tersenyum. Senyum yang mencurigakan. “Aku sangat senang kau datang kemari,” kata Hyunji. “Aku juga senang,” balas Sean sambil tersenyum canggung. Tidak, Sean sama sekali tak merasa senang. Jika bukan karena melihat makanan-makanan lezat di atas meja tadi, Sean mungkin akan kembali keluar. “Karena kau ada di sini, bagaimana kalau nyanyikan satu lagu untukku?” Kedua pupil mata Sean membesar. “Ha?” “Tolong nyanyikan satu lagu untukku,” pinta Hyunji dengan suara imut sambil menunjuk mesin karaoke yang ada di depan sana. Sean menelan ludahnya. Seumur hidupnya, Sean tidak pernah menyanyi di depan orang sebanyak ini. Sean hanya menyanyi di tempat karaoke, itu pun hanya di depan teman-temannya saat masih sekolah dulu. “Ayolah, ya?” Tanpa menunggu jawaban Sean, Hyunji sudah lebih dulu menarik tangan gadis itu untuk ikut maju ke depan bersamanya. Sean menatap Seungha. Meminta pertolongan pada pemuda itu untuk diselamatkan, tapi Seungha hanya meringis sambil melambaikan tangan padanya. Sialan. *** Saat Sean menoleh padanya dan meminta pertolongan untuk diselamatkan agar tak jadi menyanyi, Sebenarnya Seungha ingin membantu gadis itu. Namun, saat melihat warga desa yang bertepuk tangan ketika Sean maju ke depan bersama Hyunji, Seungha mengurungkan niatnya. Apa lagi saat melihat kakek dan nenek Sean yang tampak senang melihat cucunya maju ke depan. Jadi, Seungha membiarkan Hyunji membawa Sean maju ke depan sana. Dari bagian paling belakang, Seungha memperhatikan Sean yang sekarang berdiri di depan sana dengan gugup. Tangan gadis itu tampak gemetar saat memegang mikrofon. Seungha kemudian tersenyum saat melihat raut wajah Sean yang sedang gugup. Gadis itu tampak manis. Benar-benar berbeda dengan Sean yang biasa Seungha lihat. Jika biasanya Sean terlihat dingin, angkuh dan seperti tidak takut apa pun, saat ini Sean mirip anak anjing yang ketakutan karena terpisah dari tuannya. Ternyata ada baiknya membiarkan Hyunji membawa Sean maju ke depan sana. Seungha bisa melihat sisi manis dari Sean. Orang-orang di dalam aula itu, termasuk Seungha bertepuk tangan ketika alunan musik mulai terdengar. Dari intro lagu yang terdengar Seungha tahu judul lagu yang dinyanyikan oleh Sean, ‘Atlantis Princess' dari BoA. Tanpa banyak melakukan gerakan, Sean bernyanyi dengan baik di depan sana. Jika tadi suara gadis itu sempat terdengar sumbang karena gugup, sekarang Sean benar-benar bernyanyi dengan baik. Bahkan Seungha tidak menyangka Sean bisa bernyanyi sebaik itu. Dari bagian paling belakang Seungha tampak fokus melihat Sean bernyanyi. Suara merdu gadis itu menyelinap masuk ke dalam pendengaran Seungha. Membuai Seungha hingga pemuda itu mulai tenggelam dalam suara Sean. Seungha seolah tak bisa melepaskan pandangannya dari Sean yang sedang bernyanyi di depan sana. Padahal di samping gadis itu juga ada Hyunji, tapi seolah hanya Sean yang terlihat di mata Seungha. Bahkan di mata Seungha di dalam aula itu hanya ada dirinya dan Sean yang sedang bernyanyi. Sampai saat lagu yang dinyanyikan oleh Sean berakhir, Seungha tak melepaskan pandangannya dari gadis itu. Kemudian mata mereka saling bertemu. Seungha dan Sean saling bertatapan di antara riuh suara tepuk tangan penonton setelah penampilan Sean selesai. Mereka saling menatap cukup lama hingga Seungha mengatakan sesuatu pada Sean tanpa bersuara. “Cantik.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN