Seungha tidak tahu jika wifi yang dimaksud oleh Sean adalah gadis itu bisa mengakses wifi di rumahnya dengan bebas. Seungha pikir Sean akan meminta hal lain. Misal, menyuruhnya jadi pesuruh gadis itu.
Lalu di sinilah mereka sekarang. Di ruang tamu rumah kakeknya. Sudah satu jam berlalu sejak Sean asyik berkutat dengan game yang ada di ponsel gadis itu. Melihat Sean yang sangat fokus dengan game di ponselnya, Seungha baru sadar jika gadis itu sangat menyukai game online. Selama satu jam Sean hanya fokus pada ponselnya, bahkan meliriknya saja tidak. Padahal Seungha duduk di samping gadis itu.
Selama satu jam Seungha dan Sean hanya duduk berdampingan tanpa bicara. Sean fokus pada game di ponselnya dan Seungha sibuk melihat gadis itu. Benar-benar hening, yang terdengar hanya suara-suara tembakan dari game yang dimainkan oleh Sean, atau terkadang u*****n yang keluar dari mulut gadis itu.
Mendengar Sean mengumpat, Seungha tiba-tiba merasa penasaran. Kira-kira kebiasaan mengumpat gadis itu menurun dari siapa. Rasanya kepribadian Sean sama sekali tak mirip dengan kedua orang tuanya.
Ddrrtt...
Seungha mengeluarkan ponselnya dari dalam saku kemejanya ketika benda itu bergetar. Setelah menyala, Seungha melihat satu pesan masuk dari ibunya Hyunji. Seungha bergegas membaca pesan itu lalu membalasnya. Setelah itu ia masukkan kembali ponselnya ke dalam saku.
“Sean-ah,” panggil Seungha ragu-ragu.
“Hem?” sahut Sean tanpa menoleh. Gadis itu masih fokus pada game yang sedang dimainkan.
“Begini, aku harus pergi untuk mengurus sesuatu.”
“Lalu?”
“Aku harus pergi sekarang.”
Jari-jari Sean yang sebelumnya bergerak lincah menekan-nekan layar ponselnya itu tiba-tiba berhenti. Sean kemudian menoleh menatap Seungha. “Kau mengusirku?”
Seungha menggeleng cepat. Tentu dia tidak berniat seperti itu.
“Lalu?” tanya Sean dengan dahi berkerut.
“Kau bisa tetap di sini dan melanjutkan bermain game,” jawab Seungha.
“Sendirian?”
Seungha menganggukkan kepalanya. “Ah, tapi tenang saja. Aku akan menyelesaikannya dengan cepat lalu segera kembali.”
“Seberapa cepat?”
“Akan aku usahakan secepatnya.”
Sean terdiam. Gadis itu menggigit bibir bawahnya lalu berpikir. Sementara Seungha menatapnya cemas.
“Oke,” sahut Sean kemudian.
Seungha bergegas pergi setelah mendengar jawaban Sean. Sebenarnya, pemuda itu merasa tidak tega meninggalkan Sean sendirian di rumahnya, tapi karena ibunya Hyunji minta bantuannya dia terpaksa harus pergi.
Seungha hanya berharap urusannya dengan ibunya Hyunji cepat selesai agar dia bisa kembali menemani Sean. Gawat kalau dia pergi terlalu lama, bisa-bisa Sean marah lagi padanya.
***
Brakk!!!
Sean membuka pintu pagar rumah kakeknya dengan keras. Sambil bersungut-sungut gadis itu masuk ke dalam rumah.
Sampai di kamarnya, Sean mengibaskan rambutnya lalu berkacak pinggang. Dari raut wajahnya gadis itu terlihat jelas sedang kesal sekarang.
Bagaimana Sean tidak merasa kesal? Seungha bilang hanya akan pergi sebentar, tapi nyatanya pemuda itu sudah pergi selama 2 jam dan tidak ada tanda-tanda segera kembali. Sean merasa seperti anjing penjaga di rumah itu karena ditinggal Seungha sendirian.
Ddrrttt....
Sean mengambil ponselnya dari saku celana jeans yang ia kenakan. Di layar terpampang notifikasi pesan dari Seungha. Pemuda itu mengirim pesan setelah dua jam.
Sean segera membuka pesan itu.
Seungha :
Maaf, tapi aku tidak bisa kembali dengan cepat.
Kau bisa pulang.
Aku sedang membantu menyiapkan pesta kejutan untuk Hyunji.
Aku benar-benar minta maaf.
Sean berdecak sebal setelah membaca pesan dari Seungha. Gadis itu menjadi semakin kesal setelah melihat foto yang dikirim oleh pemuda itu.
Dalam foto itu terlihat Seungha bersama beberapa orang yang tidak Sean kenal sedang meniup balon warna-warni.
“Wah....” Sean mendesah tak percaya. “Jadi, dia meninggalkanku karena menyiapkan pesta kejutan untuk Hyunji?”
“Apa mereka pacaran???”
Sean tiba-tiba saja merasa kesal. Dia ditinggalkan sendiri di rumah Seungha dan ternyata pemuda itu sibuk menyiapkan pesta kejutan untuk Hyunji. Sepertinya Seungha punya bakat menjadi seorang playboy. Setelah kemarin mencoba merayunya, hari ini pemuda itu menyiapkan pesta untuk gadis lain.
Sean meniup poninya. Bukannya dia merasa cemburu karena Seungha menyiapkan pesta kejutan untuk Hyunji. Sean hanya kesal karena Seungha sudah membuatnya menunggu seperti orang bodoh selama dua jam.
“Cha Seungha, tamat riwayatmu!”
Sean menggenggam erat ponselnya, lalu sebelah tangannya mengepal kuat. Terlihat sekali mata Sean berapi-api sekarang.
***
“Uhuk...uhuk....” Seungha yang sedang meniup balon itu tiba-tiba terbatuk, membuat balon yang sedang ia tiup terbang entah ke mana.
“Kenapa?” tanya seorang pria paruh baya dengan kaos abu-abu yang ikut meniup balon bersama Seungha.
“Tidak.... uhuk.... tahu,” jawab Seungha masih terbatuk-batuk.
“Mungkin ada yang membicarakanmu,” sahut pria paruh baya yang lain.
“Iya, katanya memang begitu kalau kau tiba-tiba terbatuk tanpa sebab.” Dua pria paruh baya itu kemudian tertawa.
Seungha susah payah menelan ludahnya. Perasaannya tiba-tiba saja tidak enak. Apa mungkin Sean yang membicarakannya?
Pemuda itu kemudian menggelengkan kepala saat bayangan Sean sedang mengumpat padanya berputar di depan matanya.
Seungha buru-buru mengecek ponselnya. Ingin lihat apakah Sean sudah membalas pesannya.
Raut wajahnya berubah cemas saat mendapati Sean belum membalas pesannya, padahal sudah dibaca.
“Aish.... Sial.”
Perasaannya semakin tak enak sekarang.
***
Sore itu setelah mandi Sean sama sekali tidak melihat kakek dan neneknya di rumah. Padahal sebelum mandi tadi, dia sempat melihat mereka sedang mengobrol di teras belakang.
Sean sudah mencari keberadaan mereka ke seluruh penjuru rumah. Halaman depan, ruang tamu, kamar, hingga ke halaman belakang, tapi Sean tidak menemukan tanda-tanda keberadaan kakek dan neneknya.
“Mereka pergi ke mana?” Sean bertanya sendiri sambil mengusap rambutnya yang basah dengan handuk.
Tidak biasanya kakek dan neneknya pergi keluar di jam-jam ini. Biasanya di jam-jam ini neneknya akan sangat sibuk di dapur menyiapkan makan malam. Lalu sang kakek akan menonton televisi atau duduk bersantai di teras depan sambil mendengarkan musik dari radio tuanya.
“Mungkin mereka jalan-jalan.” Sean menjawab sendiri pertanyaannya tadi. Gadis itu kemudian berlalu masuk ke dalam kamar. Mengambil hair dryer di atas lemari lalu menyalakannya.
Sean duduk bersila di depan cermin sambil mengeringkan rambutnya.
“Huh, menyebalkan,” keluh Sean saat ia ingat ditinggalkan sendirian oleh Seungha tadi.
Gadis itu kemudian mengumpat. “Sialan.”
Sean benar-benar kesal mengingat kejadian tadi. Duduk selama dua jam di ruang tamu dan menunggu Seungha seperti orang bodoh. Belum lagi saat neneknya Seungha tiba-tiba pulang. Sean benar-benar malu tadi. Sungguh.
“Jika bertemu nanti aku akan menghabisimu!” ucap Sean berapi-api sambil menggenggam erat hair dryer di tangannya.
Sean mematikan hair dryer itu setelah rambutnya setengah kering. Ia kemudian mengambil ponselnya yang tadi diletakkan di dekat cermin. Begitu benda itu menyala Sean melihat notifikasi pesan dari Seungha.
“Sepertinya dia punya nyawa yang banyak seperti kucing, lihat setelah yang dia lakukan masih berani dia mengirim pesan,” cibir Sean sambil membuka pesan pesan dari Seungha.
Seungha :
Sean, aku benar-benar minta maaf.
Aku tidak berniat meninggalkanmu sendiri.
Kau tahu itu, kan?
Sean?
Yoo Sean.
Tolong jangan marah.
Sean berdecak sinis setelah membaca pesan dari Seungha. Gadis itu meletakkan lagi ponselnya ke tempat semula, dia mengabaikan pesan Seungha. Biar saja Seungha diselimuti rasa takut sekarang. Salah siapa dia meninggalkannya sendiri tadi.
Selesai menyisir rambutnya, Sean keluar dari kamar. Gadis itu berjalan menuju dapur untuk mencari keberadaan sang nenek, tapi sampai di sana Sean tidak menemukan siapa pun. Dari dapur Sean beralih ke teras depan. Di sana juga tidak ada siapa-siapa. Gadis itu kemudian kembali masuk ke dalam rumah, menatap jam dinding yang menempel di atas TV. Jam sudah menunjukkan pukul 7 malam, dan nenek kakeknya belum juga kembali.
“Mereka pergi kemana , sih?” tanya Sean mulai cemas. Ia memang sering di tinggal sendirian di rumah, tapi itu saat pagi atau siang hari. Sekarang hampir malam dan dia takut sendirian di rumah.
Jika di Seoul, Sean mungkin tak akan takut sedirian di rumah saat malam hari, tapi sekarang dia tinggal di desa yang dikelilingi hutan dan gunung. Beberapa hari yang lalu Sean sempat mendengar warga desa mengatakan bahwa mereka menemukan jejak kaki beruang di pekarangan rumah. Masuknya hewan buas seperti beruang ke pemukiman warga, sangatlah mungkin terjadi, mengingat desa ini cukup dekat dengan hutan dan gunung. Sean takut jika beruang yang warga desa bicarakan waktu itu kembali lagi dan kali ini datang ke rumahnya.
Sean tiba-tiba bergidik ngeri membayangkan hewan berbulu dengan tubuh besar itu berjalan mengeliling halaman rumahnya.
Gadis itu buru-buru memakai sepatunya lalu segera berlari keluar. Sebelum hari semakin gelap, Sean berniat mencari kakek dan neneknya. Dia tidak bisa berdiam diri sendirian di rumah dan di selimuti rasa takut seperti ini.
Kriet...
Sean menghentikan langkahnya setelah membuka pintu pagar rumahnya. Gadis itu terdiam menatap seseorang yang saat ini berdiri beberapa langkah di depannya. Ada rasa lega yang Sean rasakan saat melihat sosok itu di depannya.
Seungha berdiri di sana sambil tersenyum seperti orang bodoh.
Sean merasa cairan hangat mulai keluar dari pelupuk matanya saat melihat pemuda itu. Anehnya, rasa takut yang Sean rasakan menghilang dalam sekejap saat melihat Seungha.
“Kau menangis?”
Sean buru-buru mengusap air matanya saat Seungha mendekat ke arahnya.
“Kenapa kau menangis?” tanya pemuda itu kawatir sambil menyetuh pipi Sean dengan kedua tangannya.
“Aku kelilipan,” jawab Sean lalu menepis ke dua tangan Seungha dari pipinya.
Meski Sean bilang begitu, Seungha tetap menatap Sean khawatir. Pemuda itu tahu kalau Sean hanya menjawab asal karena malu. Ingat Sean itu punya harga diri yang tinggi. Gadis itu pasti akan malu jika ketahuan sedang menangis oleh Seungha.
“Lalu kenapa kau tiba-tiba berlari ke luar rumah?”
Sean mengusap poninya ke belakang terlalu lega melihat ada Seungha, dia lupa jika tadi berniat mencari kakek dan neneknya.
“Kau tahu di mana kakek dan nenekku?” Sean balik bertanya. Barang kali Seungha tahu keberadaan mereka.
“Ah, kau mencari mereka?”
Sean mengangguk. “Kau tahu di mana mereka?”
“Mereka ada di aula desa bersama warga desa yang lain.”
Sean mengerutkan dahinya. “Aula desa?”
“Iya. Kau mau ikut ke sana?”